TINI SUKETI

TINI SUKETI
39. Persekutuan



Bara memang sudah berada di pihak Tini saat itu. Ia mengatakan pada Mima, “Ayah mandi dulu. Mima sama Budhe Tini dulu, ya? Atau sama Ibu?” tanya Bara, menolong posisi Tini yang nyaris tertimpa gengsi karena diabaikan Mima. Sayangnya balita yang belum bisa berbicara jelas itu, hanya mengeratkan pelukannya di leher ayahnya. Bara tertawa.


“Lucu banget, ya, Ra.” Wibi mengusap punggung Mima yang membelakanginya.


“Keponakan Mas Wibi usianya berapa?” tanya Tini, ikut berdiri karena Bara dan Wibi masih berdiri di belakang sofa.


“Keponakanku ada tiga. Yang usianya paling kecil usianya setahun. Cewek juga. Aku suka anak perempuan. Lucu aja gitu, kalau pake asesoris rambut lucu-lucu,” jelas Wibi.


“Oke. Anak perempuan. Aku banyakin makan sayur lagi, Jah.” Tini berbisik dan mengangguk samar pada Dijah.


Wibi kembali menggoda Mima yang mengintipnya dari balik leher Bara.


“Mbaknya Mas Wibi tinggal di mana? Di Surabaya juga?” tanya Tini lagi.


“Iya, Mbak Tini ... kakak aku tinggalnya di Surabaya juga. Rumahnya deketan sama orang tua. Dua kilometer aja,” sahut Wibi.


“Jangan panggil Mbak,” kata Tini. “Panggil nama aja,” sambungnya lagi.


“Boleh—boleh,” jawab Wibi.


“Jadi ... selama ini Mas Wibi masih tinggal bareng orang tua?” Tini berbicara santai dengan Wibi. Wibi baru menarik napas mau menjawab, tapi suara dua orang laki-laki mendekat ke ruang keluarga.


“Eh, Mima! Digendong sama Pakde dulu,” kata Heru, mengulurkan kedua tangannya pada Mima.


Karena kedatangan Heru dan Agus ke ruang keluarga percakapan Tini dan Wibi pun terputus. Selama ini, Tini selalu menyukai dan kagum akan Heru. Tapi hari itu dia rasanya ingin mencekik Heru.


Sialnya Mima seketika masuk ke dalam gendongan pakdenya. Mima bergelayut manja kemudian menatap Tini dengan senyumnya yang menggemaskan. Seakan balita itu memang ingin mengejek Tini. Tini sedikit sebal pada Mima. Untungnya Mima anak Dijah.


Seakan mengerti dengan yang dipikirkan oleh sahabatnya, Dijah mencolek Tini . “Bukan salah anakku, ya, Tin.” Dijah dan Tini lalu bertukar pandang dan terkikik-kikik.


“Ayo, duduk dulu. Di sana kosong,” kata Bara, menunjuk sofa yang terletak di sisi kanan Tini.


Sofa itu berbentuk L. Heru dan Wibi duduk bersebelahan di sisi kanan. Tini dan Dijah duduk di sofa persis depan televisi. Sedangkan Bara dan Agus, masih berdiri di belanang sofa yang ditempati Dijah dan Tini.


“Enggak pengen Bi? Kayak Bara gini,” kata Agus, melirik Mima di pangkuan Heru. Pria itu sedang membicarakan topik rumah tangga dan keluarga dengan Wibi.


Tini mendengar perkataan Agus yang samar-samar, ia menyikut Dijah untuk memberi kode. Ternyata kode itu dilihat oleh Bara. “Aku sekarang udah masuk ke persekutuan. Aku harus dikasi kode juga. Jangan pake bahasa yang aku nggak ngerti. Nanti nggak aku bantu,” ancam Bara, meletakkan kedua sikunya di sandaran sofa dan berbicara dengan suara rendah pada Tini dan Dijah.


“Mas-mu ini kenapa, Jah?” tanya Tini dengan suara pelan.


“Mas-ku mau ikutan,” sahut Dijah, mengusap pipi Bara.


“Jadi ini gimana? Aku harus ngomong apa? Itu tiga laki-laki ngobrol sambil momong bayi, udah kayak ibu-ibu di posyandu aja.” Tini melemparkan tatapan kesal.


“Tanya kerjaan yang tadi. Kartu nama—kartu nama kamu,” bisik Bara.


“Ehem! Kembali ke percakapan yang tadi, Pak Agus. Gimana map saya tadi? Sudah dibawa sama Pak Wibi, kan?” tanya Tini dengan nada suara yang kembali gemulai.


“Map berisi kertas tadi, udah sama aku, kok. Nanti aku baca-baca dulu, ya. Nanti kalau ada yang kurang jelas, aku bakal hubungi—“


“Ya, udah. Amanlah, Bi. Nanti kalo ada apa apa, kamu bisa hubungi aku aja,” sambut Agus.


“Ini Mas Wibi, kartu nama saya. Jangan sungkan untuk telepon atau chat saya. 1x24 jam ponsel saya available. Saya juga demikian. Jangan sungkan pokoknya. Ada sesuatu yang mau ditanyakan, hubungi Tini su. Agen asuransi dunia dan isinya. Apa apa yang ada di dunia mau diasuransikan bisa hubungi saya, Tini Su.”


“Wah—wah ... Sekarang semakin profesional ya. Ngeliat Mbak Tini gigih begini, aku jadi ingin mengasuransikan bagian tubuhku,” kata Heru, terkekeh-kekeh.


“Mulai, deh,” sahut Bara. “Mima? Cubit mulut pakdenya biar jangan nakal,” pinta Bara, Heru jadi ikut tertawa.


Ternyata, Agus memperhatikan Mima yang betah berada di pangkuan Heru. “Coba aku yang pegang. Kira-kira dia mau enggak, sih?” Agus mengulurkan tangannya pada Mima.


Mima mengernyit dan mendongak menatap wajah Agus. Seperti ingin menolak dengan cara yang lebih halus, Mima menyandarkan kepalanya di dada Heru. Balita itu hanya melihat wajah Agus tiga detik.


“Wah, maaf, Gus! Sepertinya masih jauh, ya, Gus. Mima aja bisa ngerasain kasih sayangku,” ujar Heru tertawa. “Oh, ya. Kamu ada masuk grup chat kampus, ka” tanya Heru tiba-tiba. Sejak tadi Heru memang tidak ingat untuk mengatakannya kepada Agus.


Nggak nggak ada lagi memangnya kenapa tanya Agus


“Wah, pantas kemarin Mira ada mention aku. Nanya sekarang Agus di mana ya? Kalau nggak salah Mira itu pernah dekat dengan kamu, kan? Heru mengernyit memandang Agus


Agus sedikit tergagap. “Ha? Mira—oh, iya, Mira,” ulang Agus sedikit gelisah. Ia melirik Tini sedikit gelisah.


“Aku cuma heran. Dia chat aku pukul sembilan malam cuma untuk nanyain kamu doang,” kata Heru. “Kamu singel, jadi aku nggak salah nyampein ini ke kamu. Kayaknya Mira udah nggak bareng suaminya lagi, deh.” Heru menatap Agus.


“Mira—oh, memangnya kenapa? Suaminya meninggal?” tanya Agus lagi. Sepertinya daya konsentrasi Agus sedang menurun karena rasa gugupnya ditanya soal wanita lain didepan Tini Suketi.


“Iya, Pak. Arti enggak bareng lagi itu memang meninggal. Suaminya di dalem tanah. Istrinya di luar tanah. Makanya nggak bareng lagi,” sindir Tini.


Mendengar hal itu Bara tak bisa untuk tak tertawa.


“Nggak meninggal, Gus. Katanya, sih, suaminya jadi TKA nggak pulang-pulang. Nikah di Arab,” kata Heru.


“Cie, ada yang dicariin,” sindir Tini.


"Eh, baru ngeh. Mira? Mira mantan Agus? Dulu terhalang restu karena bokap Mira, kan, Gus?" tanya Wibi.


"Dulu nggak direstui karena Agus belum apa-apa. sekarang pasti beda ceritanya," sambut Heru.


"Beda semua pokoknya," cetus Agus.


"Mira cantik banget, kan?" Wibi memijat pundak Agus.


Tini mendengus, lalu bergumam, "Percuma cantik kalau bau basreng. Suaminya aja bisa lupa sama dia," kesal Tini karena mendengar Wibi memuji perempuan bernama Mira.


"Hus!" tegur Dijah dalam bisikan.


"Apa, Jah? Apa kata Tini barusan?" tanya Bara yang ternyata sejak tadi masih berada di belakang Dijah dan Tini.


"Yang ini Mas nggak boleh tau," sahut Dijah kalem.


To Be Continued