
Sudah empat hari sejak janji Dean pada Tini untuk membantunya menyelesaikan masalah jual beli lahan. Tini belum ada menerima kabar apa pun. Perasaannya campur aduk.
Dalam satu hari, Evi beberapa kali meneleponnya bertanya soal ini dan itu yang menyangkut soal resepsi pernikahan. Dua hari yang lalu, gadis itu berkata di telepon, “Kartu undangan udah selesai, Mbak. Sekarang sedang dikelompokkan Dayat berdasar lokasi pengantaran. Jatah kartu undangan buatmu, siang nanti langsung aku kirim. Lokasinya tetep aku bikin di rumah aja. Soal itu nggak usah dikhawatirkan. Yang penting Mbak Tini sehat-sehat,” pesan Evi.
Acara resepsi pernikahannya kurang lebih enam minggu lagi. Hari itu Tini kebagian jadwal mendatangi kantor pusat produk yang menjual makanan ringan. Ia sudah membuat janji dengan direktur bagian produksi di cafe lantai dasar gedung perkantoran.
Tini sudah menunggu selama setengah jam. Direktur bagian produksi itu seorang laki-laki berusia menjelang empat puluh. Tini tak asal menebak soal usia itu. Dia mengetahui dari Larasati kalau pria yang sedang ditunggunya memiliki anak sulung yang duduk di bangku kelas enam SD. Secara tersirat, pria itu juga digambarkan sebagai pria yang bermulut tajam. Larasati berpesan pada Tini agar sedikit lebih sabar menghadapi sang direktur produksi.
Pesan Larasati membuat Tini penasaran sekaligus khawatir. Manusia seperti apa yang sedang ditunggunya? Tini merasa memiliki banyak kelebihan, tapi sabar, bukan salah satunya.
“Rindu … rindu-serindu-rindunya ….”
Tini berdendang dan baru akan menarik napas untuk baris kedua saat seorang pria menarik kursi di depannya. Wajah Tini tak bersemangat. Dia menjabat tangan pria itu diiringi senyuman paling manis yang bisa dibuatnya. Dia sangat merindukan Wibisono. Enam Minggu lagi terasa sangat lama. Walau komunikasinya dengan pria itu sangat lancar, tetap saja hal itu masih terasa kurang. Kerinduan itu membuat Tini sedikit uring-uringan.
“Padahal saya udah bilang sibuk banget. Kamu malah maksa mau ketemu hari ini,” ujar pria itu.
“Ha?” Tini masih belum sadar dari keterkejutannya.
“Saya udah bilang ke sekretaris saya, kalau pabrik kita lagi nggak nerima penawaran bahan baku dari perusahaan lain. Terutama Cahaya Mas. Kita udah punya langganan. Harusnya di-skip aja.”
“Ha? Di-skip?” ulang Tini.
“Iya. Saya malas. Kamu pegawai baru, ya? Kamu apa nggak tau bahan baku Cahaya Mas itu terlalu mahal? Untuk kelas yang sama, bahan bakunya terlalu mahal. Apa si Hartono … enggak pernah survey pasar? Keluarga-keluarga kaya yang mengelola perusahaan, kekurangannya, ya begini. Suka sok tau kalau ngasi harga. Enggak mikirin harga jual kita berapa.”
“Hah? Maksudnya, Pak?” Tini terkaget-kaget karena langsung dicerca tiada henti.
“Maksud saya … itu si Hartono. Itu perusahaan Pak Hartono dan anaknya yang sombong minta ampun. Kamu tau, kan, anaknya yang pengacara? Grup Cahaya Mas makin nggak becus sejak dia yang jadi direkturnya,” tukas direktur produksi itu.
“Eh, tunggu—tunggu. Tarik napas dulu, Pak. Pesan minum kalau perlu. Enggak lucu kalau lagi asyik-asyiknya—” Tini menghentikan ucapannya. “Enggak lucu kalau sedang asyik-asyiknya menghina orang lalu tersedak dan mati saking semangatnya,” sambung Tini dalam hati.
“Jadi, sebelum kamu panjang lebar presentasi proposal ke saya, mending saya ngomong duluan. Kayanya saya males pakai produk Cahaya Mas. Saya kurang suka dengan si Danawira itu. Sombong minta ampun.”
“Pak—Pak, kalau nggak mau pakai produknya nggak apa-apa. Tapi jangan membawa hal-hal yang bersifat pribadi. Rasanya nggak bijak. Soal produk yang tidak cocok dengan pabrik Bapak, itu artinya Bapak bukan target konsumen Cahaya Mas. Tidak suka atau tidak cocok terhadap sesuatu itu hal yang biasa. Yang tidak biasa itu, bawa-bawa hal pribadi sebagai alasan dan mengait-ngaitkannya dengan produk perusahaan. Kok, malah saya yang lebih bijak. Ya, udah. Saya permisi dulu.” Tini berdiri menyampirkan tasnya ke bahu.
Tini kembali melanjutkan, “Saya digaji Cahaya Mas. Jadi, saya nggak nyaman Bapak jelek-jelekin atasan saya. Atasan saya nggak jelek. Saya sebagai bawahannya nggak keberatan kalau beliau sombong. Sebagai informasi pertama, saya ke sini karena sekretaris Bapak yang menyampaikan kalau Bapak bersedia ditemui. Kalau dari awal ngomongnya nggak mau, nggak apa-apa. Informasi kedua, Pak Danawira itu bukan Direktur Cahaya Mas. Terus, ini perusahaan Bapak? Bukan, kan? Cuma menjabat direktur produksi? Pantes ngomongin Pak Hartono dan anaknya sampe sesak napas gitu,” ucap Tini. “Saya permisi dulu. Have a nice day,” sambung Tini, melenggang pergi meninggalkan meja café di mana direktur produksi sedang terperangah menatapnya.
“Belum lagi aku mangap mau ngomong, udah dicecar habis-habisan. Sekalian aku cecar juga. Bener-bener menguji kesabaran. Kaya dia aja yang punya mulut.” Tini terus mengomel sepanjang menuju parkiran mobil. Ia sangat lega berhasil membalas semua ucapan pria itu.
Pukul lima sore, Tini kembali tiba di lobi kantornya. Baru beberapa langkah dari pintu kaca, seorang pria memanggilnya.
“Mbak Suketi!” seru seorang pria.
Tini menghentikan langkah dan memutar tubuhnya. “Oh, Pak Santoso,” sahut Tini.
Tini mengangguk dan ikut menjajari langkah Santoso menuju ke sebuah sofa.
“Ini surat-suratnya, Mbak Suketi. Silakan dicek dan kalau sudah cocok, silakan ditandatangani. Semua dokumen sudah dicek keabsahannya. Soal itu Mbak Suketi tidak usah ragu.” Santoso menyodorkan map berisi lembaran kertas yang cukup tebal.
“Jadi, nggak perlu uang muka? Saya langsung bayar lunas?” tanya Tini sedikit heran karena si Mbah pemilik tidak menerornya dengan uang muka.
“Pokoknya semua aman terkendali. Mbah Cantik, sudah saya kendalikan. Oh, ya, Dayat titip pesan. Katanya, dia menganggap saya seorang panutan. Saya senang dan merasa tersanjung.”
“Hah? Dayat? Udah ketemu Dayat?” tanya Tini sedikit bingung.
“Sudah—sudah, Mbak. Saya juga berkenalan dengan Mbak Evi dan Pak Joko. Oh, ya, Puput juga. Benar-benar ayam jago yang sangat sehat dan pengertian. Beruntung sekali suasana pagi rumah Pak Joko diramaikan oleh suara Puput setiap harinya,” ucap Santoso setengah menerawang.
Tini masih bingung dengan apa yang terjadi. Ia menandatangani lembaran kertas dan kuitansi secepat mungkin dan kembali menyerahkannya pada Santoso.
“Lahan itu sudah menjadi milik Mbak Suketi. Surat-surat ini akan saya kirim ke notaris Danawira’s untuk dibalik nama. Kalau boleh tau … lahan perbukitan itu bakal dijadikan apa?” tanya Santoso, merapikan kertas-kertas.
“Dijadikan TPU, Pak,” sahut Tini.
Santoso diam sejenak mencerna maksud Tini. Pria itu kemudian terlonjak bertepuk tangan. “Luar biasa. Sangat menginspirasi. Kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat Mbak Suketi,” ujar Santoso mengulurkan tangan. “Jangan lupa kartu undangan yang sebesar nampan itu dikirim ke kantor Danawira’s.”
Tini ikut bangkit dari sofa dan menyambut uluran tangan Santoso. Tini tersenyum janggal saat mendengar kata-kata kartu undangan sebesar nampan. Ia sudah bisa menebak mulut siapa yang mengatakan hal itu pada Santoso.
Santoso meninggalkan Tini dengan lembaran kertas yang berada di dalam clear holder transparan. Ia memandangi kuitansi bertanda tangan dan sidik jari si Mbah yang sudah menerima uang ratusan juta. Di dalam clear holder itu juga terdapat selembar blangko pemindahbukuan dari sebuah bank swasta. Tini tersenyum menatap benda di tangannya.
“Untung tadi aku udah mencerca si direktur produksi yang menghina Pak Danawira. Aku jadi merasa sedikit balas budi,” gumam Tini, merogoh saku jasnya dan mengambil ponsel. Sejenak Tini mencari nomor ponsel Dayat dan langsung menghubungi adiknya.
“Halo? Yat? Ada yang datang ke rumah, ya? Gimana—?”
“Wah, iya, Mbak. Namanya Pak Santoso. Bapak kira itu pria lain yang mau ngelamar Mbak Tini. Belum apa-apa Bapak udah ngomong Mbak Tini udah jadi milik orang lain.” Dayat tertawa terbahak-bahak di seberang telepon.
“Kok, bisa? Asal aja kalau ngomong. Bukannya nanya dulu. Kalian—”
“Ternyata Pak Santoso itu pengacara hebat. Dia berdua bareng staf junior. Minta dianterin ke rumah Mbah Cantik. Dan Mbah Cantik terhipnotis hanya dengan kata-kata manis. Sat-set-sat-set, Mbah Cantik tanda tangan. Luar biasa, Mbak. Aku mau jadi pengacara. Pak Santoso adalah panutanku. Dia pesan ke aku jangan pacaran dulu. Kalau kuliah di kota, LDR dengan gadis sini nggak akan berhasil dan katanya cuma ngabisin duit. Pak Santoso itu pinter ngomong dan merayu Mbah Cantik. Tapi Mbak Evi kayanya kebal.”
“Hei—hei! Denger dulu—”
“Aku udah janjian ke Pak Santoso kalau kami akan bertemu lagi suatu hari nanti. Aku mau berguru darinya. Pak Santoso bilang masih ada suhu tertinggi di kantornya. Aku diminta kuliah yang bener. Dia bakal nunggu di Danawira's Law Firm.”
To Be Continued