TINI SUKETI

TINI SUKETI
112. Keterkejutan



“Selamat atas pernikahanmu,” ucap Jono. “I’m so happy for you (Aku ikut bahagia),” sambung Jono.


“Terima kasih. Saya juga mendoakan semoga karier Mr. Omaar semakin gemilang di tempat yang baru. Pagi ini saya nggak bisa ngobrol terlalu lama. Saya harus masuk ke kantor. Maklum, di sini saya masih probesyen. (probation/masa percobaan)” Tini membuat gesture merapikan tali paper bag di pangkuannya.


Jono segera mengangguk tanda mengerti. Pria itu berdiri dan langsung menuju kasir untuk membayar dua cangkir kopi yang masih diminum setengahnya. Sekali lagi Jono menjabat tangan Tini dan mengucapkan selamat. Serta sekali lagi juga Jono berjanji akan datang.


Mengantar kartu-kartu undangan itu bukan hal yang berat buat Tini. Dalam tiga hari berikutnya, ia sudah mengunjungi beberapa tempat kerjanya yang lama. Belasan kartu undangan telah disebar pada teman yang masih keep in touch dengannya.


Tini meyakini bahwa sebagian besar teman-temannya tak akan datang ke pesta pernikahannya. Alasannya tentu saja karena letak Desa Cokro yang jauh. Tapi Tini merasa perlu mengumumkan pada semua orang yang dikenalnya bahwa ia akan menikah. Itu hari bahagianya. Meski ada orang lain yang belum tentu berbahagia dengan kebahagiaan yang dirasakannya. Tini tak peduli. Ia merasa tetap harus pamer.


Di tangannya tersisa kartu undangan untuk kerabat dan teman yang dianggapnya cukup penting. Usai jam makan siang, Tini baru kembali dari sebuah hotel usai mengikuti seminar mewakili tim marketing kantornya. Sisa waktu kosong itu ia manfaatkan untuk singgah di kantor Agus.


Tini melintasi meja satpam yang sedang kosong. Seperti biasa, satpam kantor itu selalu tidak ada kalau sedang dibutuhkan untuk bertanya. Tini langsung masuk menuju ruangan tempat di mana timnya dulu berada.


“Haloooo … apa ada orang di sini?” Tini menyapa dari bawah ambang pintu kaca yang sedikit terbuka.


Tiga orang yang sedang menatap komputer di meja mereka masing-masing seketika menoleh ke arah pintu dan terdiam beberapa saat.


“Pintu yang nggak ditutup rapat ini pasti kerjaannya si surat.” Tini melangkah masuk.


“Mbak Tini makin cantik,” seru Dwi dari mejanya. “Ayo—ayo, duduk sini.” Dwi bangkit dan menarik kursi agar Tini duduk di depan mejanya.


“Bulu idungmu pasti sering keras,” kata Tini pada Dwi.


“Kok, Mbak Tini tau?” Dwi bingung sekaligus geli dengan pertanyaan Tini.


“Meja itu persis menghadap AC,” kata Tini, menunjuk AC yang terletak persis di seberang meja yang ditempati Dwi. Kini gadis itu menempati meja Tini.


“Ada kabar apa, Mbak?” Bowo berdiri dari duduknya dan berjlan mendekati Tini.


Tiga kartu undangan cantik baru saja dikeluarkan Tini dari paper bag dan dibagikannya ke tangan Bowo, Dwi dan Mail yang baru mendekat.


“Kejutan banget ini,” seru Dwi, membuka kartu undangan.


“Dateng, ya,” pesan Tini, memandang tiga orang teman-temannya.


“Jauh ini, Mbak,” kata Mail, meneliti alamat dan denah yang tertera.


“Aku mau ke dalem nemuin Pak Agus. Dia masih sama Ayu, kan?” tanya Tini pada Dwi. Gadis itu mengangguk membenarkan. “Nanti kalian bisa datang ke resepsiku sama Pak Agus. Nebeng mobilnya. Dia pasti bolehin. Nanti aku yang ngomong,” kata Tini lalu berdiri menuju pintu.


“Nanti selesai dari ruangan Pak Agus mampir ke sini, ya,” pesan Dwi. Tini mengangguk kemudian berbelok ke kanan.


Sepengetahuan Tini, Ayu sekarang menjadi sekretaris buat Agus. Gadis muda itu memiliki meja di sisi kanan sebelum pintu ruangan Agus.


“Yu, Pak Agus ada, kan? Aku tadi ngeliat mobilnya,” tanya Tini saat berada di depan ruangan Agus.


Ayu sedikit terkejut dengan kehadiran Tini. “Mbak Tini … apa kabar?” Pandangannya meneliti tampilan Tini.


“Oh, aku mau nyampein ini.” Tini menyodorkan kartu undangan pada Ayu. “Kalian belum menikah, kan? Jadi aku kasi undangan pribadi aja, ya. Seorang dapet satu. Nanti kalau udah jadi pasangan, undangan selametan anakku aku bagiin satu aja,” canda Tini santai setengah tertawa kecil.


Ayu sedang menatap undangan di tangannya dan Tini melenggang melewati meja dan mengetuk pintu ruangan.


Tok Tok Tok


“Ehem!” jawab Agus dari dalam.


“Dari dulu tenggorokannya nggak sembuh-sembuh,” gumam Tini, menekan handle pintu dan melangkah masuk.


Agus masih menunduk menatap laptopnya.


“Pak,” sapa Tini.


Agus terkesiap dan langsung mengangkat pandangan. Pria itu perlu waktu beberapa detik untuk membuat raut terkejut di wajahnya. “Tin, dari mana? Ayo, duduk,” ucap Agus. Ia menunjuk kursi di seberangnya.


“Makasi,” ucap Tini. “Saya baru pulang seminar di hotel Swess Bill, karena seminar hari terakhir, jadi selesainya lebih cepet.”


Tini memandang tahi lalat Agus yang ikut melengkung karena senyuman pria itu. Dulu rasanya luar biasa tiap mendapat senyuman Agus yang terkesan mahal. Tapi sekarang rasanya biasa saja. Malah Tini berpikir, kenapa harus sepelit itu hanya dengan sebuah senyuman yang menyenangkan hati orang lain? Bagaimana kalau saja ia terus bertahan menanti Agus? Pria yang terkadang harus selalu dijaga suasana hatinya. Bisa-bisa setengah usia pernikahannya hanya dihabiskan karena rasa khawatir akan Agus yang mengambek.


“Saya ada keperluan sebentar, Pak. Enggak bisa lama-lama karena dari sini saya mau ke kantornya Mas Heru dan Mas Bara. Mau ketemu dengan temen saya yang kerja di sana,” ucap Tini.


“Apa ada yang bisa aku bantu, Tin?” tanya Agus, menyatukan dua tangannya di atas meja dan menatap Tini dengan sangat serius.


Tini menyodorkan satu undangan yang sudah dipegangnya dari tadi. “Saya mau undang Pak Agus ke pernikahan saya. Harus dateng sama Ayu. Tadi saya juga udah bilang ke Dwi, Bowo dan Mail kalau Pak Agus pasti mau berangkat barengan.” Tini melebarkan senyumnya.


“Kamu ….” Agus membuka kartu undangannya sambil menatap Tini. “Kamu menikah?” tanya Agus, lalu membuka lembaran pertama kartu di tangannya.


“Iya, Pak. Saya menikah. Akhirnya. Jangan lupa disempatkan datang, ya.”


“Tini .... Ini Wibi?” tanya Agus dengan wajah tak percaya.


Tini mengangguk elegan. “Bener, Pak. Wibisono.”


“Wibisono?” ulang Agus.


“Hapsoro Wibisono,” tegas Tini.


“Temenku dan Heru? Yang kemarin kita ketemuan sama-sama?”


“Iya, Pak. Mas Hapsoro Wibisono. Yang kulitnya kuning langsat, bercambang dan ada lesung pipinya. Mas Wibi yang kalem dan sering senyum,” jelas Tini setengah menerawang. Saat mengucapkan itu ia jadi semakin rindu dengan Wibisono.


“Sejak kapan? Kok, bisa? Kejutan banget ini,” kata Agus.


“Belum lama, Pak. Saya langsung diajak nikah. Saya juga nggak nyangka ketemu jodohnya ternyata teman Pak Agus juga. Bisa dibilang Pak Agus orang yang sangat berjasa dalam urusan ini. Terima kasih. Makanya Pak Agus harus dateng,” tutur Tini.


“Aku masih nggak nyangka ini. Wibisono …. Temen kampusku dan Heru waktu ngambil S2 hukum. Tinggal di Semarang—”


“Tinggal di Surabaya, lho, Pak.” Tini mengingatkan.


“Oh, iya. Di Surabaya. Tapi keluarganya juga lama di Semarang. Makanya kakaknya punya usaha tahu baso. Keluarganya juga banyak di Ungaran,” jelas Agus.


“Oh, iya. Saya belum sampai ke sana. Mungkin nanti-nanti. Sekarang saya dan Mas Wibi konsen ke acara resepsi. Bapak dan Ayu kapan?” tanya Tini.


“Wibisono,” gumam Agus masih dengan nada tak percaya. “Eh, apa? Aku dan Ayu? Tiga bulan lagi aku lamaran, Tin. Mohon doanya,” kata Agus, membalas tatapan Tini.


“Amin,” sahut Tini.


“Waaaah …. Wibi. Aku masih nggak nyangka. Dari dulu Wibi selalu santai dan nggak ketebak banget jadi orang. Aku juga nggak merhatiin ternyata dia merhatiin kamu.” Agus tertawa kecil.


Agus memandang kartu undangan dengan tatapan menerawang. Wibisono yang terlihat santai dan tidak banyak bicaranya itu memang sepertinya lebih cocok dengan Tini. Beberapa lama menjalin hubungan antara pacaran dan pertemanan dengan Tini, memang belum bisa meyakinkan dirinya soal hubungan serius.


Ia menganggap Tini terkadang sulit diatur dan tak bisa mengikuti kata-katanya tanpa protes. Selama hampir dua tahun dekat, mereka sering saling mendiamkan berhari-hari karena tak ada yang mau memulai bicara setelah terjadi perselisihan.


Namun saat tiba-tiba wanita itu menyodorkan kartu undangan, entah kenapa Agus merasa dirinya sedikit kalah dari Wibisono. Perkenalan Tini dan Wibisono terjadi hampir bersamaan saat ia bertemu Ayu. Tapi Wibisono selalu bergerak lebih cepat darinya. Sejak dulu.


“Kalau gitu saya permisi dulu, Pak. Khawatir kesorean. Temen saya udah nunggu di kantor The Term,” ujar Tini berdiri dari duduknya.


Perkataan Tini membuyarkan lamunan Agus. Ia berdiri dan mengulurkan tangannya pada Tini.


“Aku bakal datang, Tin. Selamat, ya.” Agus mengguncang kecil jabat tangan mereka.


“Terima kasih, Pak Agus. Saya juga tunggu undangannya Pak Agus dan Ayu. Nanti saya dateng udah bisa pakai baju kapelan (couple-an/pasangan) sama Mas Wibi,” ucap Tini tertawa.


To Be Continued


Masalah tanggal nggak usah terlalu diambil pusing Boebooo. Santai aja. Semua sudah diatur oleh author. Boebooo nikmati aja segala kreatifitas yang disajikan juskelapa. Mau tanggal berapa pun nggak pengaruh ke isi cerita. Karena ini hanya fiksi belaka.


Perkara tanggal baik dan yang saran pakai weton-weton, Tini nggak pake itu. Karena Tini tau semua hari diciptakan baik. Tidak ada hari yang tidak baik. Makasi dukungannya Boebooo. Emmmaaahh