TINI SUKETI

TINI SUKETI
133. Wisuda Evi



Hal apa pun yang terjadi pada seorang manusia, baik atau buruk yang menimpa, hidup tetap berjalan.


Sejak dulu, kekayaan memang tak pernah menjadi patokan kebahagiaan. Namun, sejatinya dalam kehidupan, semua manusia memiliki impian yang ingin diwujudkan.


Seperti ucapan Tini suatu kali, “Harta memang bukan segalanya, tapi kalau bisa punya banyak, kenapa enggak?”


Modal rupiahnya pergi ke kota sangat kecil, tapi niatnya cukup besar. Ingin mengubah nasib adik-adiknya. Nasib adik-adiknya, bukan nasibnya.


Dan tanpa pernah Tini pikirkan, Tuhan selalu memberi balasan, bagi sesiapa yang melakukan kebaikan, tanpa setitik pun pamrih di dalamnya.


Tini yang selalu dipandang aneh, tapi tak pernah menganggap orang lain aneh. Setiap mendengar orang berkata hal aneh padanya, jawabannya cukup sederhana. “Berdoa aja semoga hidupmu enggak seaneh hidupku.”


Satu hal yang pasti soal prinsip hidup Tini. Ia tak pernah menyalahkan siapa pun atas suatu hal buruk yang terjadi dengannya.


Sebelum berpisah usai makan malam bersama, Tini mengatakan pada teman-temannya. “Orang baik ngasi aku kebahagiaan. Orang yang salah ngasi aku pelajaran. Orang-orang terbaik ngasi aku kenangan indah.”


Mak Robin pindah seminggu kemudian. Wanita itu tengah berbahagia dengan pencapaian terbesarnya. Bukan hanya memiliki rumah, tapi juga bertemu setiap hari dengan suaminya. Memasak makanan dan menyajikannya buat Pak Robin.


Setelah bertahun-tahun hidup terpisah untuk mencari nafkah keluarga, Pak Robin akhirnya patut berbangga. Mampu memberikan hunian sederhana pada keluarga kecilnya.


Dan seminggu berikutnya, Tini menelepon Evi untuk bertanya soal wisuda gadis itu.


“Kamu, kok, nggak ada ngabarin? Kan, minggu depan wisuda. Yang dampingi kamu siapa?” tanya Tini.


“Aku demam. Jadi, banyak tiduran,” sahut Evi di seberang telepon.


“Demam tapi cepet banget jawab telfonnya,” ujar Tini.


“Aku demam, Mbak. Bukan koma,” balas Evi.


“Oh, iya juga.” Tini mengangguk meski Evi tak melihatnya. “Jadi, siapa yang dateng?”


“Aku mau semua keluargaku hadir. Meski nggak bisa masuk semua karena undangan terbatas, tapi aku mau kita makan sama-sama sekeluarga. Dayat sama Bapak nginep deket kos-kosanku. Kamu sama Mas Wibi dateng, ya. Kan, nggak jauh,” ujar Evi.


“Sabtu depan, ya? Yo uwis, Jumat sore mudah-mudahan aku sama Mas Wibi udah berangkat.”


Percakapan itu berakhir dan Tini langsung melingkari tanggal di kalender mejanya. Sore itu, ia pulang kerja dijemput Wibi.


“Minggu depan kita dateng ke wisuda Evi, ya, Mas. Bisa? Aku udah janji sama Evi. Kita enggak perlu masuk. Biar Bapak sama Dayat aja. Yang penting kita dateng untuk foto keluarga dan makan siang sama-sama,” jelas Tini saat berada di mobil.


“Oh, iya. Evi wisuda, ya? Kita kasi kado apa?” Wibi malah balik bertanya.


“Berarti bisa, ya? Jumat sore kita langsung berangkat,” tegas Tini sekali lagi. Wibi mengangguk setuju.


"Kado untuk Evi apa?" tanya Wibi lagi.


"Kado apa? Aku malah enggak mikir buat ngasi apa-apa," kata Tini.


"Terserah kamu. Hadiah kelulusan untuk Evi. Nanti aku yang kasi uangnya," pesan Wibi.


Jumat sore yang ditunggu itu pun tak terasa datang begitu cepat. Kesibukan Tini di kantor dan Wibi yang mulai mengoperasikan kantor barunya secara resmi, menelan banyak waktu mereka.


Sepasang pengantin baru itu pun, berangkat terburu-buru. Hampir tengah malam baru mereka tiba di hotel dan keduanya terkapar karena kelelahan.


Ringtone lagu Radja yang di-remix terdengar mengentak suasana pagi yang masih gelap. Tini meraba-raba ponselnya di nakas dan matanya setengah memicing melihat layar.


“Udah jam berapa?” tanya Wibi ikut terbangun.


“Jam empat,” sahut Tini dengan suara parau, seraya menggeser tombol terima panggilan.


“Halo? Iya—iya. Nanti pokoknya kalau kamu keluar ruangan, aku sama Mas Wibi udah ada di sana,” kata Tini.


“Berangkat jam berapa?” tanya Wibi, memeluk Tini dengan kaki dan tangannya bak sebuah guling.


“Evi minta, kita jam sebelas siang sampe di kampusnya,” jawab Tini, meletakkan ponselnya kembali. “Aku dibikin kaya guling,” gumam Tini, mencubit pelan dada Wibi lalu menyembunyikan wajahnya.


“Dingin, Tin. Aku udah erupsi ini,” ucap Wibi, terkekeh.


“Ngeledek terus,” balas Tini, mencubit pelan perut Wibi. Pria itu semakin tertawa.


“Enggak mau ciuman. Pagi-pagi bau sugeng,” balas Tini.


Wibi tergelak. “Kalau gitu aku main-main ke sini dulu,” kata Wibi, mengangkat piyama berbentuk terusan yang dikenakan Tini.


“Semoga bulan depan aku udah isi, ya, Mas.” Tini memandang Wibi yang sudah melorot ke dadanya.


“He’eh,” jawab Wibi kemudian memusatkan konsentrasinya. Tak lama terdengar suara bibir yang berdecak dan basah.


Suasana pagi di kamar hotel yang ditempati Tini dan suaminya dikepung dengan suara desaah lembut dan lirih merintih. Percintaan itu selalu disertai dengan iringan harapan untuk segera mendapat keturunan.


Seperti yang dijanjikan Tini pada Evi, pukul sebelas siang, sepasang suami istri itu tiba di kampus Evi. Tini tak turun dari mobil sampai Dayat menghubunginya.


“Mbak, di mana? Ke gedung samping. Kami semua udah di luar gedung. Kata Mbak Evi ke sini aja, biar kita foto keluarga murah meriah.” Dayat lalu mengantongi ponselnya dan memeluk bahu Pak Joko yang sedang memandang berkeliling.


“Enggak terasa Evi udah lulus,” gumam Pak Joko.


“Bapak nggak terasa, Mbak Tini pasti terasa,” sahut Dayat ikut-ikutan memandang berkeliling.


“Hei … Evi … selamat, ya, Beib. Sukses terus,” seru seorang wanita yang baru datang, lalu menjabat tangan Evi dan mencium pipi kiri dan kanan. Wanita itu juga memakai toga.


“Siapa itu, Mbak?” tanya Dayat.


“Temenku. Kenapa? Cantik?” tanya Evi, memandang Dayat.


“Bukan soal itu. Aku cuma menganalisa kata-katanya. ‘Sukses terus, ya.’ Padahal sukses sekali aja belum,” ucap Dayat.


PLAKK


Tini yang baru datang langsung menepuk lengan Dayat. “Sama Mbaknya nggak sopan!”


Dayat terkejut dan menoleh kakaknya. “Sakit. Aku bercanda aja padahal,” kata Dayat, memberengut.


Wibi tertawa melihat keributan kecil itu, lalu cepat-cepat menjabat tangan bapak mertua. Tini pun meletakkan punggung tangan Pak Joko di dahinya.


"Hadiah kelulusan buat kamu, Vi. Dari kami berdua." Tini menyodorkan kotak baldu kecil pada Evi.


Sejurus kemudian, mata Evi berbinar saat melihat isi kotak. Ia diberi sebuah gelang emas mungil bertuliskan namanya.


"Cantik, Mbak." Evi mengangkat gelangnya. "Makasi, Mas Wibi. Makasi, Mbak," ujar Evi.


"Aku bantu makein ke kamu aja, Mbak. Kado dariku yang tak ternilai itu, ya, ini. Perhatian dan kasih sayang," jelas Dayat. Ia memakaikan gelang emas pemberian Tini ke tangan Evi.


“Ayo, kita foto. Itu namaku udah di susun di papan bunga. Foto di sini murah meriah. Rasanya nggak komplit kalau nggak liat foto kita ikut dipajang di sini.” Evi menunjuk papan tempat tersangkutnya puluhan foto para wisudawan yang fotonya sudah selesai.


Sesi foto itu terjadi beberapa kali. Setelah berfoto, mereka harus menunggu beberapa saat untuk hasilnya. Tiga bersaudara itu disertai Wibi dan Pak Joko kembali terlibat pembicaraan absurd.


“Nyari apa?” tanya Tini pada Dayat yang melongok semua penjuru dari tempatnya berdiri.


“Nyari sesuatu yang bisa dibeli,” sahut Dayat.


“Enggak ada yang jual keong atau ikan cuupang di sini. Ini wisuda mahasiswa. Bukan anak TK,” ujar Tini.


Dayat mendengkus. “Udah selesai fotonya, Mbak? Aku laper,” kata Dayat, memandang Evi sambil mengusap perutnya.


“Udah, nih. Yuk, langsung pergi makan.” Evi memegang lembaran foto yang sedang dilihat-lihatnya. Tini dan Dayat juga langsung mengambil lembaran foto itu dari tangan Evi.


“Pakai batik gini, aku udah kayak pejabat muda, ya.” Dayat berbinar memandang fotonya sendiri.


“Kami memang pasangan serasi,” gumam Tini yang juga memandang fotonya dan Wibi.


“Toganya pas banget di badanku. Jadi kebaya yang aku pakai nggak sepenuhnya tenggelam karena toga. Ternyata aku cantik,” ucap Evi, mengusap fotonya.


“Coba sini, Bapak juga mau liat foto Bapak,” kata Pak Joko.


“Sama aja, kok,” jawab anak-anaknya nyaris bersamaan, tanpa menoleh. Wibi meringis, lalu memeluk bahu Pak Joko dan mengajak bapak mertuanya untuk jalan lebih dulu.


To Be Continued