TINI SUKETI

TINI SUKETI
138. Asti Mengantarkan Kartu Undangan



“Tolong bantu angkat gelasnya, Yat. Susun di meja depan. Satu-satu aja bawanya. Jangan berlagak kayak pelayan rumah makan Padang.” Tini terus memberikan instruksi pada Dayat untuk membantunya menyajikan makanan ke depan.


“Es buah datang …,” seru Dayat dengan sebuah mangkok kaca besar berisi es buah.


“Pelan-pelan, Yat …. Jangan habis ngomong ‘es buah datang’ lanjutannya ‘es buah tumpah’ pelan-pelan aja jalannya,” ujar Tini lagi.


Setelah meletakkan mangkok es buah di tengah coffee table di depan televisi, Dayat menghela napas panjang.


“Kalau tadi tumpah, itu bukan karena kecerobohanku. Tapi karena omelan Mbak Tini,” sungut Dayat.


“Makasi, ya, Pak Pengacara Dayat,” kata Asti.


“Belum, Mbak. Di sini aku lebih dikenal sebagai Mang Dayat,” jawab Dayat, kembali ke dapur. Tak lama ia muncul membawa nampan berisi gelas.


“Agak sensitip Mang Dayat ini kutengok,” kata Mak Robin.


“Maklum, Mak. Tukang bantu-bantu rumah ini memang agak sensitif. Tapi rajin dan gajinya enggak gede. Jadi, memang harus dimaklumi,” sahut Tini.


“Sini biar aku bantu,” kata Asti.


“Enggak usah. Jangan. Duduk aja. Kalian baru kali ini dateng ke rumahku. Jadi, santai aja. Semua udah aku siapin,” ujar Tini. "Udah beres. Makasi, yah, adikku yang paling ganteng. Kamu bisa naik ke lantai dua melanjutkan keahlianmu," kata Tini pada Dayat.


"Apa memangnya keahlian si Dayat di lantai dua?" timpal Mak Robin.


"Tidur," jawab Tini. Dayat sudah melesat kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur siang di penghujung minggu.


“Kukira entah hapa," kata Mak Robin. "Boy tadi mana?” tanya Mak Robin.


“Pergi ke mini market sama Mas Wibi,” jawab Tini.


“Bukan beli minyak goreng, kan?” Mak Robin terkekeh.


“Bukan. Aku udah ganti sekarang pakai minyak daun jarak. Mas Wibi belanja cemilan untuk anak-anak,” ujar Tini. “Mana kartu undanganmu, As?” tanya Tini.


Asti yang ditanya langsung mengambil tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kartu undangan. “Ini kartu undangan resmi untuk Mbak Tini dan Mas Wibi. Dateng aja, duduk dan ngumpul-ngumpul. Deretan meja paling depan spesial untuk temen-temenku di kandang ayam yang selalu membersamai langkahku dan Mas Bayu,” ujar Asti.


“Aku terharu. Aku kira dateng ke resepsimu aku udah pakai dress ibu hamil. Taunya belum,” kata Tini.


“Aih, muncung si Tini inilah yang bikin aku rutin konsumsi jus timun. Asik itu-itu aja yang kau bilang. Kau tengok dulu aku sebagai contoh hidup. Kurang lama apalagi aku dikasi anak? Sampe capek sendiri orang ngata-ngatain aku dulu. Mamakku pun ikut pening. Dibawa mamakku ke dukun untuk buang sial. Enggak juga hamil. Udah berenti semua obat-obatan dan usahaku sama Bapak si Robin, baru kemudian aku hamil. Pas udah nggak kupikirkan lagi, datanglah si Robin.” Mak Robin mendengkus kesal memandang Tini.


“Yah, kalau bisa jangan sampai aku dan Mas Wibi dikira Akung dan Uti anak-anak kami, Mak. Tapi … masa, sih, kamu sampe dibawa ke dukun? Memangnya dukun di tempatmu jago? Aku, kok, nggak percaya.” Tini mencibir memandang Mak Robin.


“Kenapa rupanya kau nanya dukun di kampungku? Mau ngadu ilmu?” tanya Mak Robin seraya menyendokkan es buah ke gelas.


“Nanya aja. Soalnya aku nggak percaya. Kata ibuku dulu, itu bener buat yang percaya aja,” tukas Tini.


“Dukun di kampungku ngeri, Tin. Cakap-cakap orang sana bilang, katanya ada yang bisa manggil arwah orang yang udah meninggal,” cetus Mak Robin. Asti menegakkan duduknya saat mendengar hal itu.


“Apa iya, Mak?” tanya Asti.


“Ah, masa, sih? Kalau memang bisa aku mau ketemu. Minta tolong panggilkan arwah Hitler. Mau tanya apa memang kuburannya di Garut?”


“Ah, kalo itu nggak taulah aku. Mending kau yang nanya langsung sama Hitler,” sergah Mak Robin. Tini dan Asti terkikik melihat kegusaran Mak Robin.


Mereka semua duduk di permadani yang dibentangkan di ruang keluarga. Sofa kecil yang biasa berada di depan televisi, digeser merapat ke lemari hias.


Tak lama, terdengar pintu pagar digeser dan suara Bara yang menuntun Mima berjalan terdengar mendekat.


“Pelan-pelan aja jalannya. Ini udah nyampe. Mima apa nggak capek? Dari tadi jalan terus. Ayah udah capek nunduk terus,” kata Bara.


“Baru sebentar aja gandeng anaknya udah kaya gitu.” Terdengar suara Dijah membalas ucapan suaminya.


“Ya, udah. Gendong aja,” kata Dijah. “Kayaknya semua udah dateng. Tapi mobil Mas Wibi nggak ada. Apa pergi? Tin ….” Dijah tiba di depan pintu dan langsung melangkah ke dalam. Dul langsung menghambur ke dalam rumah sambil meneriakkan nama Robin.


“Eh, Bay!” seru Bara, menyapa Bayu yang duduk di ruang tamu sendirian. Pria itu sedang berkutat serius dengan ponselnya.


“Mas,” sahut Bayu, mengangkat wajah dan tersenyum seraya mengangguk pada Dijah.


“Enggak ke dalem? Gabung dengan Asti?” tanya Dijah.


“Masih perlu sedikit konsentrasi, Mbak. Nanti kalo di dalem bisa nggak konsen kebanyakan ketawa,” kata Bayu.


“Tuh, kan, Mas …. Udah rame dari tadi. Aku ajak buru-buru katanya santai aja. Aku jadi ketinggalan banyak berita. Sini, Mima aku gendong ke dalem,” ujar Dijah, mengambil Mima dari gendongan Bara.


“Aku anter ke dalem,” ucap Bara, menggandeng lengan Dijah dengan Mima yang masih berada di gendongannya.


“Halo, semuanya …. Aku nganter anak istriku. Budhe … tolong lain kali segala cerita harus ditahan sampai semua tamu lengkap. Kasian istriku ketinggalan cerita terus. Aku disalah-salahin,” canda Bara, memegang kepala Dijah seraya menyodorkan Mima. Ternyata Mima tak mau melepaskan pelukannya dari leher sang ayah. Dijah tertawa senang.


“Nah, bukan aku yang nggak mau. Mima maunya sama Mas. Kalau gitu aku di sini. Mas duduk di depan sama Bayu. Nanti aku anterin minum,” kata Dijah.


“Enggak ada ngomongin yang penting, kok. Cuma ngobrol soal Hitler aja,” ujar Tini.


“Astaga … topiknya berat banget ini, Jah. Soal Hitler. Berarti lagi bahas perang dunia, ya?” tanya Bara lagi.


“Bahas dukun di kampungku,” sahut Mak Robin, menimpali.


“Jadi, kok, bisa nyampe Hitler?” Bara belum beranjak meninggalkan sekumpulan wanita yang duduk sambil mengunyah gorengan.


“Mbak Tini mau minta dukun manggil arwah Hitler, Mas.” Asti terkekeh.


“Ya, ampun, Budhe …. Kayaknya aku ke depan sekarang, Jah. Bawain minumanku ke depan, ya. Topiknya berat banget. Menyatukan Hitler dan dukun. Luar biasa banget budhenya Mima,” tukas Bara, menggeleng-geleng berjalan menuju ruang tamu.


Tak lama Wibi dan Boy kembali dengan banyak bungkusan. Sebagian jajanan langsung diserakkan di permadani untuk menemani Dul dan Robin yang bercakap-cakap sama berisiknya sambil bermain game.


Tini tengah berbicara pada Boy dengan berapi-api. Menyemangati temannya itu soal outlet baru Seempuk Setumpuk yang rencana akan kembali dibuka.


Bayu, Bara dan Wibi sudah ikut bergabung dan ikut duduk bersila di permadani. Mima sibuk jalan ke sana kemari dengan sebungkus jajanan yang sejak tadi dipegangnya. Wibi tengah asyik menggoda Mima yang sebentar mau duduk di pangkuannya, namun menit berikutnya kembali berpindah ke pangkuan Bara.


Sebagian orang yang sedang berhenti bicara, ikut menyimak pembicaraan Tini dan Boy. “Pokoknya kamu harus pede … kita-kita semua yang ada di sini akan selalu hadir untuk jadi system … system ….” Tini terdiam dengan raut berpikir keras. Ia lalu menoleh pada Wibi. “Apa itu, Mas? System-system? Dukungan itu,” ucap Tini, memandang suaminya.


“Support system? (sistem pendukung)” tanya Wibi, menatap istrinya.


“Nah … iya! Support system. Hampir aja aku ngomong sound system. Mas-ku memang yang terbaik. Cup—cup,” kata Tini, memonyongkan bibirnya pada Wibi.


Wibi tertawa, namun membalas ciuman jauh Tini dengan ikut memonyongkan bibirnya. Asti tersenyum-senyum melihat hal itu. Pandangannya sempat beradu dengan Bayu yang ternyata juga sedang tersenyum. Pikiran calon pengantin itu sepertinya langsung berkelana ke suatu tempat.


“Jadi, pestanya dua Minggu lagi, kan?” tanya Bara, memandang Bayu di sebelahnya.


Bayu mengangguk-angguk tersenyum tipis.


“Minggu depannya setelah aku pesta, Mas Boy mau ke Selandia Baru,” cetus Asti.


“Wooow … keren,” kata Tini. "Mantep banget si Boy," sambung Tini.


“Gimana? Kita jalan-jalan juga?” tanya Wibi, memandang Tini.


“Uuuhhh, aku mau—aku mau. Mas-ku memang paling tau yang aku mau. Malem nanti aku kasi apa yang Mas mau,” kata Tini terkikik-kikik.


To Be Continued