
“Aku ngambil cuti lagi, potong cuti tahun depan. Untung Mas Reza yang di kantor santai-santai aja. Aku udah khawatir kalau ditolak. Terpaksa bikin alasan yang lain,” jelas Tini sambil menyendokkan sayur yang baru matang ke dalam mangkok.
“Kok, bisa langsung dikasi tanpa ditanya macem-macem? Biasanya perusahaan bakal banyak tanya kalau karyawan ngambil cuti sebelum waktunya,” timpal Wibi, menghampiri Tini dan membantu membawakan mangkok berisi sayur panas.
“Karena bulan lalu perusahaan yang berada di bawah pengelolaan timku, memperpanjang kontrak kerja sama. Gimana? Aku keren, kan?” tanya Tini, mengatur piring dan alat makan di depan Wibi yang sudah duduk menunggunya.
“Kamu memang keren kalau soal itu. Berbakat,” sambut Wibi. “Ayo, cepat duduk. Aku udah laper. Semuanya masih panas, bikin aku makin laper,” ujar Wibi.
“Jadi, minggu depan kita berangkat? Kalau gitu, besok Mas harus temenin aku belanja pakaian musim dingin.” Tini mulai mengisi piring Wibi dengan nasi putih.
“Belanja di mana? Di tempat yang kemarin juga? Ukurannya enggak ada buat kamu. Mending kita ke toko pakaian musim dingin khusus anak-anak aja. Pasti ada yang cocok,” canda Wibi.
“Jangan bikin aku ngambek, ya. Malem ini jadwal Mas minta dimanjain.” Tini meletakkan piring Wibi yang sudah berisi lengkap menu lauk pauk. Ia juga meletakkan mangkuk berisi sambal dan toples kerupuk ke dekat suaminya.
“Jangan, dong. Jadwal manjain aku jangan diganggu. Kan, katanya mau cepat punya bayi,” sahut Wibi, memeluk Tini seraya meremaas dadanya.
“Untung Dayat belum pulang,” ujar Tini, menunduk melihat tangan Wibi yang masih memijat lembut dadanya.
“Dayat ke mana memangnya?” Wibi yang baru menyadari Dayat belum menampakkan batang hidungnya di pukul delapan malam, menoleh ke arah tangga.
“Pergi nemenin si Ina mutusin pacarnya,” jawab Tini.
“Ina? Gadis tetangga depan yang sering pergi ke kampus sama Dayat? Mutusin pacarnya? Memang udah pacaran sama Dayat?” Wibi memberondong Tini dengan pertanyaan saking herannya dengan kalimat, ‘menemani mutusin pacar’.
“Enggak. Bukan gitu. Dayat enggak pacaran sama Ina. Dayat bilang, Ina itu auranya nggak cocok dijadikan pacar. Embuhlah, Mas. Kayaknya Dayat cuma dipinjam sebentar buat jadi pacar bohongan si Ina. Drama remaja masa kini,” jelas Tini, meringis.
Selesai makan malam, tanpa alunan gitar Dayat yang biasa sayup-sayup mereka dengar dari balkon, rumah terasa sangat sepi.
Tini dan Wibi hari itu sama-sama sibuk bekerja. Mereka sudah kembali terhanyut dalam ritme kehidupan pasangan yang keduanya berkarir di luar rumah. Banyak orang yang menyarankan Tini berhenti bekerja dengan alasan bahwa kesulitannya untuk hamil, mungkin disebabkan oleh stres dan capek karena urusan kantor.
Namun, saat kembali memikirkan hal itu, Tini kurang menyetujuinya. Ia sama sekali tak merasa lelah ataupun tertekan bekerja di kantornya sekarang. Malah ia khawatir akan terlalu fokus menunggu hamil jika tak sibuk dengan urusannya sendiri.
Wibi menanggalkan semua pakaian dan menyisakan secarik dalaman setibanya di kamar. Tini sedang duduk di depan lemari yang terbuka dan menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
“Kamu ini bergerak terus. Padahal pulang kerja tadi langsung masak. Ini sekarang udah sibuk beresin lemari. Santai sedikit, Tin. Males itu nggak baik, terlalu rajin juga enggak baik,” kata Wibisono, berdiri di belakang istrinya.
“Males memang enggak baik. Nah, kalau rajin itu nggak baik, nggak baik untuk siapa?” Tini belum melihat ke belakang.
“Enggak baik untuk aku,” sahut Wibi, menunduk dan melingkarkan tangannya di perut Tini.
“Ya, ampun, astaga, aku belum mandi. Aromaku masih bercampur dengan aroma jalanan ibukota,” pekik Tini, tak berdaya saat Wibi menyeretnya ke ranjang dan menggumulinya.
“Aroma apa pun nggak akan mengubah rasanya,” ucap Wibi, menindih Tini dan menciumi lehernya. Tangannya membuka kancing kemeja Tini dan langsung menurunkan tali tipis tank top yang biasa dipakai Tini dibalik kemeja kantornya.
Tini memejamkan mata, menikmati kecupan tiap kecupan yang didaratkan Wibi di leher dan perlahan turun ke dadanya.
Malam memanjakan itu dijadikan sebutan untuk Jumat malam, bagi mereka. Malam di mana hari terakhir dalam seminggu untuk bekerja. Keesokannya adalah hari Sabtu di mana mereka bisa bangun pagi tanpa perlu tergesa-gesa karena khawatir terlambat ke kantor masing-masing.
Wibi telah melucuti pakaian istrinya. Melepaskan sebuah dalaman yang masih ia kenakan. Pukul sembilan malam, ia mengerang lirih menikmati saat-saat bagian bawah tubuhnya dimanjakan. Merasa kalau bagian bawah tubuhnya segera meminta penyelesaian, Wibi menukar posisi mereka. Dalam syahdu malam yang dirasanya masih seperti pengantin baru, Wibi memacu gerakannya menuju kepuasan bersama.
Hari Sabtu sore, mereka kembali kedatangan tamu. Evi muncul dengan sebuah tas pakaian di depan pintu rumah mereka. Dayat meminta Evi untuk datang menemaninya di rumah selama Tini dan Wibisono pergi liburan ke Amsterdam.
“Kenapa mesti pakai acara ditemenin? Masa ditinggal dua minggu aja kamu nggak berani,” kata Evi pada Dayat.
“Rumah segede ini ditinggal sendiri bukan masalah takut hantu atau jin. Aku kesepian. Sudah biasa ramai, ada Mas Wibi dan Mbak Tini. Tiba-tiba sepi. Enggak enak,” kata Dayat.
“Halah, alesan. Jadi, kamarku udah disiapin?” tanya Evi.
“Udah,” jawab Tini. “Karena dia yang manggil kamu, dia yang beresin semuanya. Memangnya kamu nggak jauh kalau berangkat kerja dari sini?” tanya Tini pada Evi.
“Ya, jauh. Tapi nggak apa-apa. Nanti kalau aku nggak mau, dia bakal telepon Bapak. Terus Bapak bingung ninggalin paguyubannya. Biaya penitipan Puput di hotel ayam juga lumayan." Evi terkekeh-kekeh.
“Titip jaga Dayat, ya, Vi. Nanti pulang dari jalan-jalan, Mas beliin oleh-oleh yang banyak,” ujar Wibisono.
“Ah, amanlah, Mas. Pulang sehat-sehat dan tanpa kekurangan suatu apa pun. Udah cukup,” sahut Evi.
“Nanti aku ceritain gimana perjalanannya,” timpal Tini.
“Kalau kamu nggak pingsan. Jangan-jangan kamu pingsan sepanjang perjalanan. Jangan lupa bawa stok obat anti mabuk perjalanan,” pesan Evi.
Tengah mereka sibuk tertawa-tawa, Wibi tiba-tiba terdiam, lalu merogoh saku celananya.
“Mbak Vita,” ucapnya menatap Tini.
“Halo?” sahut Wibi. Beberapa saat diam mendengarkan ucapan kakaknya di seberang telepon. “Piye? Wis digowo nang rumah sakit? Ugo bapak? Piye sidane? Sopo sing meh nunggoni? Ya, opo gak omong wit wingi-wingi?" (Gimana? Sudah dibawa ke rumah sakit? Bapak juga? Jadi gimana? Siapa yang jaga? Kenapa nggak bilang dari kemarin-kemarin?)
Tini menaikkan alisnya untuk bertanya. Tanpa suara, Wibi mengatakan, “Ibu sakit.”
"Sesuk esuk aku karo Tini menyang suroboyo, jane ki nek ono opo-opo kuwi omong to." (Besok pagi aku sama Tini langsung ke Surabaya. Harusnya bilang kalau ada apa-apa.)
“Kenapa, Mas?” tanya Tini tak sabar usai Wibi mengakhiri pembicaraan.
Wajah Wibi terlihat khawatir dan serba salah. “Dua hari lagi kita mau berangkat. Ibu ternyata udah masuk rumah sakit selama seminggu. Enggak ada yang ngasi tau. Katanya dilarang Ibu, biar aku nggak kepikiran. Kalau udah gini malah jadi kepikiran. Mana dua hari lagi mau berangkat.” Wibi menghela napas panjang.
“Ya, udah. Besok kita ke Surabaya jenguk Ibu. Itu Bapak kenapa? Sakit juga?” tanya Tini.
“Bapak sakit karena nungguin Ibu di rumah sakit. Mbak Vita sama Mas Angga sedang di Kalimantan.” Wibi bicara dengan alis menaut karena gelisah.
“Aku nggak apa-apa, Mas. Duluin Ibu. Kasian di rumah sakit sendirian. Enggak enak, Mas. Kami bertiga udah biasa gantian nungguin Ibu di rumah sakit dulunya. Nanti kalau ada apa-apa, kita malah nyesel,” kata Tini.
Evi dan Dayat saling pandang, lalu mengangguk-angguk memandang Wibi.
Wibi ikut mengangguk. “Besok kita berangkat, ya,” Wibi mengusap punggung Tini, lalu memijat bahu istrinya dengan lembut. Ia memang biasa menggunakan cara itu untuk menenangkan siapa pun yang sedang resah. Termasuk menenangkan dirinya sendiri.
To Be Continued