TINI SUKETI

TINI SUKETI
104. Nostalgia Versi Tini



“Jadi bisa langsung saya jelaskan maksud kedatangan saya? Kemarin memang sudah saya jelaskan sedikit. Tapi sepertinya lebih enak kalau saya jelaskan lagi secara langsung.” Tini meletakkan map yang sejak tadi dipegangnya ke atas meja.


“Boleh—boleh—boleh. Gimana?” sambut Pak Riyadi. “Eh, tunggu—tunggu—tunggu, kemarin saya sudah cukup jelas soal bahan bakar ini. Kamu bisa perjelas sambil lihat ke bagian produksi. Gimana? Temen kamu belum lihat di sini produksi apa aja. Atau kamu udah cerita? Ayo, kita langsung ke belakang. Met, bawain minumannya. Pabrik cukup luas. Jangan bikin nona-nona ini kehausan di tengah jalan,” pinta Pak Riyadi pada Pak Selamet.


Pak Selamet memasukkan botol air mineral ke dalam kantongan dan dengan sigap membuka pintu. “Ayo, ikut saya,” ajak Pak Selamet.


Reny berdiri menggandeng lengan Tini menuju pintu yang sudah dibukakan Pak Selamet.


“Kamu ini, Met. Kalau ada wanita cantik—cantik—cantik, kaya gini, langsung sigap.” Pak Riyadi menyusul keluar.


Pabrik itu tak banyak berubah. Hanya beberapa mesinnya yang terlihat baru. Pabrik itu memproduksi berbagai benda plastik.


Mereka berjalan melewati barisan pegawai yang sedang bekerja dengan tekun. Seperti yang diketahui Tini, setiap ada pimpinan, para pekerja pasti menunduk berusaha untuk terlihat lebih tekun.


“Semakin banyak mesinnya, ya, Pak.” Tini dan Reny berjalan di sebelah Pak Riyadi.


“Semakin banyak, Tin. Itulah salah satu yang mau saya tanyakan. Biodiesel itu dari kelapa sawit aja? Apa mungkin—apa mungkin kita memanfaatkan hal itu secara berkesinambungan. Apa mungkin?” tanya Pak Riyadi.


Beberapa pegawai menunduk. Dan beberapa lagi menoleh dan menatap wajah Tini seakan mencoba mengenali. Salah seorang wanita menepuk seorang wanita lainnya sambil berbisik.


“Itu Tini!” ucap seorang wanita. Saking kerasnya ucapan itu, Tini menoleh. Seorang wanita yang merupakan teman Kusmini terlihat terkejut melihat Tini.


Tini menggeser pandangannya ke sebelah wanita itu. Ia lalu beradu pandang dengan bekas sahabatnya. Siti Kusmini. Wanita itu tengah mengandung. Raut wajahnya tampak sangat lelah. Siti Kusmini berusia dua tahun lebih muda darinya. Tapi di depan mesin produksi, wajah wanita itu terlihat jauh lebih tua dari usianya.


Tini melanjutkan penjelasannya pada Pak Riyadi, “Biodiesel dapat dibuat dari berbagai bahan baku, menggunakan bermacam-macam teknik, termasuk esterifikasi dan trans-esterifikasi. Salah satu minyak nabati penghasil bahan bakar biodiesel adalah minyak kelapa sawit. Sebagai sumber minyak nabati yang paling produktif, satu hektar tanaman kelapa sawit mampu menghasilkan 3,5 ton minyak nabati. Ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan tanaman paling produktif kedua setelah kelapa sawit, yaitu tanaman kanola yang satu hektarnya hanya mampu menghasilkan 0,8 ton minyak nabati.”


Suara Tini begitu mantap saat menjelaskan hal itu. Beberapa teman memandangnya dan melambai. Beberapa lagi yang merupakan teman Siti Kusmini terlihat menunduk. Termasuk Siti. Wanita itu kembali menunduk. Wanita itu terlihat berusaha keras mengabaikan keberadaan Tini di sana.


“Tini udah beda, ya. Tini udah jadi bos sekarang,” ucap salah seorang yang entah siapa. Ucapan itu datang dari arah belakangnya. Sayang Tini tak tahu siapa yang mengatakan hal itu barusan. Jika ia tahu, ia berniat memberi wanita itu selembar seratus ribu.


Reny tersenyum-senyum melihat hal yang terjadi di sekitarnya. Wanita itu kemudian mengeluarkan brosur dan menyerahkannya pada Tini. Sebagai seorang senior di kantor, Reny mengagumi kemampuan Tini mensosialisasikan produk Cahaya Mas. Memang tak salah kalau Pak Wimar yang merekrutnya langsung, pikir Reny.


Pak Riyadi mengajak Tini dan Reny mengitari pabrik itu. Langkah Tini perlahan-lahan tiba di dekat Siti Kusmini. Wanita yang sedang menunduk itu terlihat melirik Tini dengan ekor matanya. Pak Selamet ternyata menyadari hal itu.


“Mbok, ya, kalau mau nyapa sahabat lama, ya, disapa aja. Jangan gengsi," ucap Pak Selamet terkekeh-kekeh.


Tini cukup terkejut dengan hal yang baru dikatakan oleh Pak Selamet. Tapi ia menanggapi hal itu dengan santai.


“Sahabat lama? Memangnya ada, Pak?” Tini balik bertanya pada Pak Selamet. Mendengar jawaban Tini, Pak Selamet terlihat makin senang. Pria itu mengeluarkan botol air mineral dan menyodorkannya pada Tini.


“Minum dulu, pasti haus. Pabrik ini memang sangat panas. Pasti sudah nggak terbiasa lagi kerja di ruangan tanpa AC,” ucap Pak Selamet.


Tini semakin terpukau dengan tingkah Pak Selamet. Pria itu memang dulunya tidak judes sebagai mandor. Tapi pria itu juga tidak begitu akrab dan ramah dengannya. Semuanya biasa saja. Tapi hari itu Pak Selamet menunjukkan keakraban luar biasa.


Ternyata dengan dandanan wanita karier dan datang didampingi supir kantor dan mobil SUV mewah, membuat sikap Pak Selamet bisa berubah. Saat sedang berada di atas, sepertinya lebih mudah mencari orang-orang ramah. Tini tersenyum kecut. Sangat manusiawi sekali, batinnya.


Dan pada jam segitu para pegawai pabrik mulai keluar pertanda jam kerja telah berakhir. Tini sedang merapikan tasnya dan berjalan menuju parkiran mobil. Mobil kantor yang mereka tumpangi diparkir di sebelah pos satpam. Bahkan supir kantor Cahaya Mas pun keluar dari mobil dan menghabiskan waktunya mengobrol bersama satpam pabrik.


“Gimana? Sudah selesai semuanya? Kita langsung kembali ke hotel? Besok ada kunjungan dua pabrik lagi, kan?” Supir kantor itu mencerca Tini dan Reny dengan pertanyaan.


Tini sedang sibuk mengetik pesan balasan untuk Wibisono. Pria itu menanyakan bagaimana hasil kerjanya hari itu. Tini sedikit tahu maksud Wibisono dengan isi pesannya. Calon suaminya itu pasti sedikit penasaran dengan cerita kunjungannya ke pabrik itu.


“Tini …,” panggil seseorang dari dekat pos satpam.


Tini terhenyak. Ia mengenali suara itu. Pandangannya terangkat dari layar ponsel dan memandang pria yang memanggilnya. Coki. Pria itu pasti sedang menunggu istrinya pulang kerja.


“Oh,” sahut Tini. Ia memandang Coki dari ujung rambut ke ujung kaki. Memandang teliti pria yang tak dilihatnya selama enam tahun. Pria itu ternyata … tak ada bedanya. Sama saja.


Terbiasa melihat Wibisono yang rapi, Bara yang modis, Heru yang perlente, apalagi atasannya si pria pemilik saham yang terlihat sangat kinclong, melihat Coki sore itu membuat Tini tersenyum kecut.


“Apa kabar kamu? Sudah menikah?” sapa Coki.


“Kabar baik. Belum menikah. Gimana? Seneng?” tanya Tini sarkas. Sapaan yang luar biasa sekali, pikirnya.


“Mas!” panggil seorang wanita yang baru berjalan menghampiri mereka. Siti Kusmini mendekati suaminya dan langsung berdiri di sebelah pria itu.


Reny yang melihat bahwa percakapan Tini dengan kenalannya bersifat pribadi, mengajak supir kantor untuk langsung masuk ke mobil.


"Kita nunggu di mobil, ya, Tin." Wanita itu mengambil map dari tangan Tini dan pergi menuju parkiran.


“Ya, udah. Ayo, pulang,” ajak Siti pada suaminya.


“Sebentar. Aku mau ngomong sama Tini,” ucap Coki. “Tin, aku jadi merasa bersalah. Jangan sampai gara-gara aku, kamu jadi nggak mau nikah. Maafkan aku,” ucap Coki.


Tini memandang iba pada mantan pacarnya. Sandal jepit, celana jeans yang dipotong menjadi celana pendek, topi yang lusuh, serta motor yang sama dengan enam tahun yang lalu.


“Apa-apaan kamu minta maaf sama dia? Pesta kita udah dia rusak. Dia kabur nggak ada ngerasa bersalah. Sekarang kamu mau minta maaf apa?!” pekik Siti dengan suara tertahan. Beberapa karyawan yang melintas di dekat mereka ikut menoleh karena suara Siti Kusmini.


Sedetik Tini terdiam. Detik berikutnya Tini tertawa terbahak-bahak usai mendengar perkataan Siti. “Utang daging banyak, ya? So sorry,” ucap Tini kembali terkikik.


“Aku pesta dua bulan lagi. Mohon doanya, ya. Dari sekarang kalian udah bisa berembuk memikirkan bagaimana cara menyabotase pestaku nanti. Pikir pelan-pelan. Waktunya masih cukup lama." Tini memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Dan untuk kamu, Cok … aku belum nikah bukan karena kamu. Mulai malam ini kamu bisa tidur nyenyak. Kalian berdua udah aku maafkan. Dan untuk kamu, Sit … terima kasih. Thank you very much. Very—very—very much, versinya Pak Riyadi. Aku pamit dulu. Jangan berantem di rumah. Kasian calon bayimu. See you …." Tini melangkah meninggalkan pasangan suami istri itu.


Tapi beberapa langkah berjalan, Tini berbalik. "Nanti pasti aku undang. Kalian berdua harus nyanyi di pestaku. Lagunya, ‘Aku masih seperti yang dulu ….’ Bye ….!” Tini berdendang meneruskan lagu itu sampai tiba di mobil. Meninggalkan pasangan Coki dan Siti yang saling pandang. Siti Kusmini terlihat seperti akan menelan suaminya bulat-bulat.


To Be Continued