TINI SUKETI

TINI SUKETI
36. Pilihan Ketiga (2)



"Kita udah di luar. Masa kamu manggil saya tetep Pak? Agus aja." Agus melirik Tini di sebelahnya.


"Tapi ini, kan, urusan pekerjaan, Pak. Saya kayaknya lebih nyaman manggil Bapak aja," jawab Tini. Ia kembali tertawa di dalam hati. Merasa puas bisa memperlakukan Agus seperti itu.


Ternyata yang dimaksud Agus makanan khas Jakarta adalah restoran Sate Kabayan. Restoran itu memang menjual segala macam menu khas Jakarta yang lezat-lezat. Agus berjalan mendahului. Tini sibuk merapikan pakaian dan menepuk-nepuk debu di depan jasnya.


Tini bukan mau menebar pesona kepada Heru. Ia tahu Heru sudah menikah dan memiliki rumah tangga yang bahagia. Tapi, wanita mana yang tak mau terlihat cantik di depan pria yang dikaguminya. Tini berkali-kali berdeham berdiri di belakang Agus.


"Hei, akhirnya nyampe juga. Ayo, duduk!" seru Heru.


Tini belum melihat wajah pria itu. Tapi suaranya saja sudah mampu membuat jiwa Tini gelisah.


"Mbak Tininya mana?" tanya Heru lagi.


"Modyar," gumam Tini. Ditanya oleh seorang Heru membuat kakinya seperti tak menjejak bumi. Ia mempersiapkan ekspresi paling wajar yang tak akan membuat Bara curiga. Suami sahabatnya itu selalu mengernyit tiap ia melakukan sesuatu yang aneh.


Agus belum duduk, ia melangkah ke sisi lain kursi dan menggesernya untuk Tini.


"Duduk di sini, Tin." Agus menepuk sandaran kursi.


Tini menoleh kursi tapi belum mengangkat pandangannya. "Makasih, Pak." Tini mengangguk.


"Eh, ada Budhe Tini," kata Bara.


Tini meringis ke arah Bara. Sedikit khawatir dengan sapaan Bara yang kadang-kadang bisa di luar dugaan.


"Ayo, Mbak Tini duduk dulu," pinta Heru.


Pada saat itulah Tini mengangkat pandangannya. Kalau bukan karena suara maskulin milik Heru yang pernah dimimpikannya, Tini mungkin tak akan tergoda untuk menoleh. Tini mengangkat wajahnya memandang Heru yang tengah tersenyum.


Namun, tatapan Tini pada Heru, tergelincir pada sosok asing di sebelah pria itu. Mungkin pria itu adalah teman semasa kuliah yang dimaksudkan oleh Agus. Pria berkulit kuning langsat yang memasang wajah serius, saat ia perlahan melangkah mendekati kursi, yang ditunjukkan oleh Agus untuk ditempatinya.


Sebuah meja persegi besar sudah dikelilingi tiga orang pria. Seorang pria yang belum pernah dilihat Tini sebelumnya duduk persis di depan kursinya. Di sebelah pria itu, Heru duduk dengan santai. Sedangkan Bara, duduk menyerong berada di depan Heru. Agus menempati kursi berada di antara Tini dan Bara.


Tini tak sempat memandang Heru. Kemeja apa yang dikenakan Heru, bagaimana raut Heru saat itu, Tini tak sempat memandangnya.


Pandangannya terpaku pada sosok pria dengan kemeja abu-abu yang digulung sampai sebatas siku. Pria dengan cambang yang melewati telinga dan lesung pipi yang terlihat menghias saat pria itu mengangguk kecil dan mengulas senyum tipis ke arah Tini.


Seketika tubuh Tini lemas. Ia menggeser berdirinya sangat perlahan. Saat meletakkan map-nya di atas meja, tak sengaja ia bergumam, "Mbok Simbok, sengkleh dengkulku ndeloki sek bewokan ngunu. ( Mbok, lemes lututku liat cambangnya.)"


"Lungguh sek, Mbak. Ben ogak sengkleh. (Duduk dulu, Mbak. Biar nggak lemes.)"


Tini mematung. Lututnya semakin lemas. Pria gagah di depannya ternyata mengerti apa yang ia ucapkan.


"Tin, kenalin, ini temanku dan Heru. Namanya Hapsoro Wibisono. Panggilnya Wibi aja," ujar Agus memandang temannya dari seberang meja.


"Wibi, ini Tini. Salah satu staf paling kompeten di kantorku," ujar Agus. Ia berharap bisa mencairkan suasana hati Tini yang seharian itu begitu dingin padanya.


Tapi, pujian dari Agus hanya lewat begitu saja di telinga Tini. Ia tak peduli.


Wibi mengulurkan tangannya pada Tini, "Saya Wibi," ucapnya kemudian.


Tini merasakan tangannya mati rasa dan dingin seketika. "Tini," ucap Tini dengan suara parau dan tercekat. Ganteng sekali dan sesuai spesifikasi, pikirnya. Tapi, mengagumi pria beristri cukup dilakukannya pada Heru. Tini sudah kapok terlalu lama tenggelam dalam pesona pria itu.


"Mas Wibi, udah berkeluarga?" tanya Bara dari sudut meja.


"Belum. Masih bebas. Heru ini termasuk yang cepat menikah di angkatan kami," jawab Wibi seraya menepuk pundak Heru.


Oh My God, bisik Tini dalam hati. Tini menoleh pada Bara dengan wajah penuh rasa terima kasih. Baru kali itu Tini merasa bahwa Bara benar-benar berguna dalam hidupnya. Ia merasa bisa mengecup Bara saat itu juga, karena telah menyuarakan pertanyaan di dalam kepalanya.


"Kita udah lama nggak ketemuan, ya, Mbak." Heru memandang Tini dengan senyumnya yang sempurna.


Sayangnya, Tini mengabaikan perkataan itu. Ucapan Heru juga lewat begitu saja di telinganya.


Tini merasa plafon restoran itu berubah menjadi pelangi. Tini mengangkat wajahnya dan melirik cambang Wibi yang ternyata jauh lebih bagus dari yang dimiliki Heru.


Heru? Heru? Siapa dia? Tini terkikik-kikik di dalam hati.


To Be Continued