TINI SUKETI

TINI SUKETI
144. Sempurna Buat Masing-masing



“Aku udah rapi belum?” tanya Wibi, berdiri di depan kaca.


“Udah rapi,” jawab Tini dari tepi ranjang. “Kalau aku, Mas? Udah rapi belum?”


Wibi memutar tubuh memandang Tini. “Kamu nggak cuma rapi, tapi juga seksi. Ayo, berangkat. Nanti Evi kelamaan nungguin kita.” Wibi merentangkan tangannya mengajak Tini.


Tini merangkul pinggang suaminya. Dan Wibi melingkarkan tangannya di bahu Tini. Berdua-duaan mereka menuju carport tempat di mana mesin mobil sudah menyala.


Dayat berdiri di sebelah pintu penumpang dan membuka pintu untuk kakaknya. "Hari ini Mang Dayat akan melayani, Nyonya Suketi.” Dayat sedikit menunduk dan menggeser tubuhnya.


“Mamang—Nyebut diri Mamang padahal aslinya seneng udah dikasi nyetir mobil dan dibikinin SIM. Atau kamu kuliah sambil bawa taksi aja, Yat. Lumayan buat nambah-nambah jajan,” kata Tini seraya masuk ke mobil dibantu Wibi.


“Anggap aku nggak denger ucapan menyakitkan barusan. Mang Dayat mau konsentrasi nyetir ke restoran. Mbak Evi juga udah mau nyampe di sana," kata Dayat.


Malam itu mereka memiliki janji makan bersama di sebuah restoran yang dipilih oleh Evi. Gadis itu berencana mengenalkan pacarnya secara resmi pada keluarganya yang berada di Jakarta lebih dulu.


“Semoga restoran yang dipilih Evi menunya enggak aneh-aneh, ya. Lidahku ini masih tradisional banget,” ujar Tini dari kursi belakang.


“Ini, kan, untuk meningkatkan selera dan kelas Mbak Evi. Kalau enggak suka, Mbak jangan ngomong-ngomong. Diem aja. Santai ….” Dayat menjawab seraya melirik Tini dari spion.


“Tenang … nanti aku yang pilihin menunya. Aku juga penasaran dengan restorannya. Belum pernah. Kayanya enak,” timpal Wibi dari sebelah Dayat.


Restoran yang dipesan Evi ternyata restoran besar yang cukup ramai. Halamannya dipenuhi jajaran mobil. Bahkan saat mereka tiba, tak ada lagi lahan parkir kosong buat mereka. Seorang pria dengan seragam hitam-hitam menghampiri dan mengatakan tersedia jasa valet parking.


“Ya, udah, Yat. Kita valet aja. Kasi kuncinya ke Bapak itu,” pinta Wibi, menunjuk seorang pria seraya turun dari mobil. Ia menuju pintu penumpang dan membukakan pintu untuk Tini.


“Dari ramainya restoran ini sepertinya makanannya enak,” ucap Dayat saat mereka bertiga sudah tiba di depan pintu masuk.


“Meja atas nama Evi,” kata Wibi pada seorang wanita yang berdiri dengan sebuah nota dan pena di tangannya.


“Atas nama Evi ….” Wanita itu mengecek daftar di tangannya. “Meja nomor delapan, di bagian indoor ber-AC,” ujar wanita itu menunjuk sisi lain restoran yang disekat dengan pintu kaca lainnya.


“Kira-kira pacarnya Mbak Evi seganteng apa, ya?” Dayat berbisik pada Tini.


“Memangnya kenapa?” Tini balik bertanya dalam bisikan. Wibi berjalan di depan mendahului mereka melewati jajaran meja yang dipenuhi dengan pengunjung.


“Namanya Alex. Dari nama aja, udah bikin aku minder. Namanya berkesan cocok hidup di era web 4.0,” kata Dayat.


“Namamu memangnya kenapa? Cocoknya hidup di era apa?” kesal Tini merapatkan giginya memandang Dayat.


“Era pujangga lama, Mbak. Mang Dayat …,” gumam Dayat, mengerucutkan bibirnya.


“Tapi bikin namamu itu, Bapak sampe sembelih kambing. Aku dan Evi enggak, karena Bapak nggak ada uang. Buat kamu diusahakan. Harusnya kamu ngerasa spesial. Atau kamu mau ganti nama?”


“Ya, enggak,” sahut Dayat.


“Anak sekarang, kok, ada-ada aja. Dibilang anak-anak tapi udah tua. Bukannya mikirin kuliah, malah sibuk mikirin nama. Kamu kuliah yang bagus sampai magister. Namamu bakal kinclong kalau disandingkan dengan gelar M.H.”


“Lebih bagus gelarnya bos Pak Santoso. LLM. Auranya lebih berwibawa,” kata Dayat lagi.


Wibi berhenti di depan sekat kaca dan membuka pintu. Saking asyiknya berdebat, Tini dan Dayat menabrak Wibi.


Tini mengusap-usap perutnya dan Dayat nyengir menatap Wibi yang berbalik memandang mereka.


“Kalau mau pakai LLM, bawa gitarmu buat ngamen di luar negeri,” sambung Tini dengan raut kesal pada Dayat yang tak henti-henti membalas ucapannya.


“Udah selesai debatnya? Itu Evi udah manggil kita. Akur dulu beberapa jam. Nanti di rumah sambung lagi,” kata Wibi, menatap Dayat dan Tini bergantian.


Kedua kakak beradik itu pun mengangguk dan ikut melangkah masuk ke ruang restoran khusus non-smoking.


“Mas Wibi … Mbak Tini, kenalin ini Alex,” ucap Evi, setibanya Wibi dan Tini di meja nomor delapan.


“Aku enggak diken—"


“Ini adikku, Mas. Namanya Hidayat. Sekarang lagi kuliah bidang hukum. Ini adik kami satu-satunya laki-laki. Ganteng nggak, Mas?” seloroh Evi, memandang pacarnya.


“Ganteng. Cocok kerja di bidang hukum,” sahut Alex, mengulurkan tangan pada Dayat seusai menjabat Wibi dan Tini.


“Siapa yang mau ngeluh? Ganteng, ya, pacar Mbak Evi. Mirip artis Korea,” kata Dayat.


“Kalau udah dipuji, pujian dari kamu juga pasti lancar,” timpal Tini, menempati kursi yang disodorkan Wibi padanya.


Ternyata Evi benar-benar konsisten atas tipenya terhadap seorang laki-laki. Pria yang dibawanya untuk diperkenalkan pada keluarga adalah seorang pria berkulit putih mulus dan bermata sipit. Alex adalah manager wilayah perusahaan tempat Evi bekerja sekarang.


Alex dan Evi sudah memesan menu makanan yang paling direkomendasikan di restoran itu beberapa saat yang lalu untuk menghemat waktu. Sedangkan menu minuman ditambahkan bersama menu yang dipesan Wibi untuk istrinya.


“Enggak ada menu yang tradisional banget. Tapi yang aku pesan tadi, kamu pasti suka,” bisik Wibi pada Tini.


“Semoga kita lancar bahasa Mandarin keluarnya dari restoran ini,” sahut Dayat, menyenggol bahu Tini.


“Ini restoran sea food. Enggak semuanya masakan Cina. Bisa dibaca di pintu masuk,” jawab Tini.


Di seberang meja, Evi melontarkan tatapan yang berarti, ‘Aku tahu apa yang kamu bilang’ pada Dayat. Pemuda itu hanya membalasnya dengan terkekeh-kekeh.


Sembari menunggu menu yang dipesan datang, mereka bercakap-cakap tentang kegiatan selama tak bertemu. Evi sedikit menjelaskan kalau Alex sering bertugas ke luar kota. Evi juga menjelaskan tentang pekerjaan Wibi dan Tini. Sebagai adik paling kecil dan belum berkecimpung di dunia pekerjaan yang sebenarnya, Dayat tekun menyimak percakapan yang terkadang disahutinya dengan anggukan-anggukan kecil tanda mengerti.


Tiga orang pelayan datang dengan nampan besar. Mengatur banyak menu di piring-piring putih ke atas meja, lalu membagikan piring serta mangkok ke masing-masing orang. Tini melongok setiap isi piring dengan tatapan penuh selera.


“Semuanya keliatan enak,” ucap Tini pada suaminya.


“Jadi, mau yang mana aja?” tanya Wibi, mengambil piring Tini dan mengisinya dengan lauk ikan pari bakar sambal dabu-dabu.


“Mau icip-icip semuanya, Mas,” jawab Tini sumringah.


Ternyata pilihan restoran yang tadi sempat dicemaskan oleh Tini, malah membuatnya tekun menikmati hidangan.


“Gimana? Enak?” tanya Wibi yang sepertinya memiliki misi membuat Tini makan sebanyak-banyaknya selama kehamilan.


“Enak, Mas. Enak semua,” jawab Tini tanpa menoleh.


“Artinya kamu lolos review awal, Mas,” kata Evi pada Alex. “Mbak Tini doyan menu makanannya,” tambahnya lagi.


Wibi meringis melihat Tini menuangkan sisa kuah tom yam ke dalam mangkuknya yang telah kosong.


“Mas, sini,” Tini mencondongkan tubuhnya pada Wibi mau berbisik. Suaminya langsung menunduk dan meletakkan telinganya di depan mulut Tini.


“Makanku banyak. Mas harus ikut bayar. Enggak enak sama Alek,” bisik Tini.


“Alex, namanya pake ‘x’,” sahut Wibi, tersenyum.


“Sama aja,” jawab Tini, kembali mengalihkan perhatiannya pada mangkok berisi tom yam. “Maaf, ya, Lek. Makan Mbak agak banyak. Sedang dalam tahap bebas makan tanpa rasa bersalah,” kata Tini.


“Santai aja, Mbak. Nanti mana yang suka, kita pesan lagi buat di rumah.”


Tini baru saja mau tertawa, tapi kemudian ia langsung terdiam memegang perutnya. “Waduh, anakku kayanya kekenyangan. Perutku sakit,” ucap Tini.


“Jangan-jangan Mbak Tini mules karena kepenuhan perutnya. Sana, ke WC,” kata Dayat dalam bisikan.


“Di depan mangkok tom yam ngomongin WC,” omel Tini pada Dayat. “Mas, kayanya aku mau lahiran ini,” ucap Tini, mencengkeram lengan Wibi.


“Ciri-cirinya udah sama dengan yang kita baca-baca selama ini?” Wibi mengusap-usap punggung Tini.


"Udah mules gini aku enggak inget udah baca apa aja," keluh Tini, memegang perutnya.


“Itu udah keringetan banyak. Mas, ke rumah sakit aja.” Evi bangkit memutari meja dan memegang perut Tini.


“Sekarang, Mas. Ke rumah sakit.” Tini meringis. “Nanti kalau lahir di sini nyari namanya susah. Aku taunya cuma Han Wen aja,” ucap Tini, meraih tasnya dan bangkit dari kursi.


“Bisa jalan?” tanya Wibi.


“Ini, kan, aku lagi jalan. Memangnya aku dari tadi ngapain? Bantu pegangin aku, Mas. Sakit banget ini,” omel Tini pada suaminya yang terlihat serba salah.


To Be Continued