
Mungkin sudah puluhan kali Tini memperbaiki sisiran rambutnya. Dari kanan ke kiri, kiri ke kanan. Merapikan tiap lembaran rambut yang menempel di pipinya karena hembusan kipas angin. Setengah jam duduk di seberang Wibi, membuat rambut Tini, menjadi semakin lurus dan mengkilap.
Usai mengusap rambutnya, Tini beralih ke map yang berada di depannya. Map berisi lembaran kertas daftar nama perusahaan asuransi perjalanan yang dianggapnya paling unggul, berkali-kali di setrikanya dengan telapak tangan. Map itu pun semakin mengkilap.
Perut Tini yang tadi lapar, mendadak kenyang. Ia makan dan mengunyah sangat perlahan. Dalam hatinya, Tini tertawa terbahak-bahak. Cara makannya itu, membuat ia teringat akan almarhum Mbah Kakungnya yang sering makan nasi lembek karena tak ada giginya.
Air mineral dan es teh manis yang dipesan untuknya pun hanya diminum sedikit. Walau tenggorokannya terasa kering, tapi Tini menahan diri untuk tak minum terlalu banyak. Tini khawatir akan ke toilet berkali-kali. Ia tak mau kehilangan waktu semenit saja beranjak dari depan Wibi.
Tini menajamkan telinganya. Membuat matanya sejeli mungkin. Memperhatikan gerakan Wibi sekecil apa pun. Kali ini Tini tidak terang-terangan dan tak mau terburu-buru. Tini sudah pengalaman dan penuh perhitungan.
Ia sedang mencoba menguasai situasi. Tini memperhatikan Agus yang ketika berbicara kepada Heru, Wibi atau Bara, selalu menganggukkan sedikit kepala kepadanya.
Seperti saat Agus melontarkan sebuah pendapat atau pertanyaan. Pria itu bermaksud mengajak Tini masuk ke dalam pembicaraan. Dan Tini akan menjawab seelegan mungkin.
"Belakangan, produk asuransi perjalanan memang sangat diminati masyarakat. Yang datang bukan dari perusahaan aja. Tapi juga calon pelancong yang udah paham kalo perjalanan itu memang wajib diproteksi. Gitu, kan, Tin?" Agus sedikit menyerongkan tubuhnya untuk menatap Tini, lalu mengangguk kecil.
Tini menarik senyum yang paling manis. Senyum yang sudah disetel dengan mode profesional, tanpa membubuhkan perasaan.
"Bener, Pak Agus. Kemarin ada tiga nasabah yang dateng cuma mau bikin asuransi perjalanan. Mau keliling Eropa jadi ambil yang gold. Yang paling lama masa berlakunya. Itu sudah meng-cover semua rumah sakit terbaik kalau terjadi sesuatu yang darurat. Termasuk juga klaim untuk bagasi yang rusak atau hilang." Tini kembali mengangguk kecil kepada Agus. Kemudian dia menyapukan pandangannya kepada ketiga laki-laki lain yang sedang menyimaknya berbicara.
"Yang kamu tawarkan ke nasabah itu, perusahaannya sudah kamu masukkan ke daftar?" tanya Agus, melirik map yang berada di bawah kedua tangan Tini yang sedang menaut.
"Oh, sudah. Semua sudah saya cantumkan di sini. Nanti Pak Wibi bisa cek. Sudah lengkap," tukas Tini, dagunya menoleh ke arah Wibi dan lagi-lagi tersenyum sangat profesional.
Bedanya dengan senyum yang diberikannya kepada Agus, Tini membubuhkan misteri di dalam senyumannya untuk Wibi. Senyuman itu tidak berlama-lama. Hanya sekilas saja. Dagunya kembali ia tolehkan ke depan. Memandang Agus, Heru, dan Bara bergantian.
Dari ujung meja, Tini bisa melihat kalau Bara mengernyit dan menatapnya dengan curiga. Tapi, Tini sadar, sepertinya Bara belum menyadari situasi.
Bisa jadi, Bara tadi menanyakan soal status pernikahan Widi hanya berupa ketidaksengajaan. Tini paham betul bahwa Bara sejatinya adalah pria yang sulit berbohong ataupun bersandiwara.
Apa yang keluar dari mulut Bara, begitu juga apa yang ada di hatinya. Tini melihat bagaimana Bara mengernyit, memandangnya penasaran.
"Jadi kalian semua selalu berhubungan selama ini?" tanya Wibi pada Agus.
"Aku dan Agus, ya, sering ketemu. Tapi, enggak sering banget. Aku sibuk, Agus juga sibuk. Tapi, kalo ada sesuatu yang aku rasa perlu untuk ketemu Agus, ya, kita ketemu. Ngobrol sambil ngopi," terang Heru. "Bara juga sering ikut. Kamu inget, kan, sama Bara?" Heru menepuk bahu Bara.
Wibi tertawa.
Saat Wibi tertawa hampir saja Tini kembali berceloteh dalam bahasa daerahnya. Untungnya dia ingat, kalau Wibi bisa mengerti bahasanya.
Tini tak tahan untuk tidak mengatakan kalau tawa Wibi begitu renyah di telinganya. Tiap baris perkataan Wibi bagai syair lagu saking bagusnya suara pria itu di telinga Tini.
"Ya, ingetlah sama Bara. Semua temen kampus seangkatan yang kenal kamu, pasti kenal Bara. Yang dulu kamu berantem sampai ke Kantor Polisi, Bara, kan, yang ikut dateng sama Eyang kalian? Aku nggak mungkin salah." Wibi ikut tertawa menepuk-nepuk bahu Heru.
Heru tertawa. "Iya-iya kamu nggak salah. Itu memang Bara. Waktu kita semester awal, Bara masih kelas satu SMP. Aku sama Baru itu bedanya enam tahun. Lumayan jauh. Kita kelas tiga SMA, Bara masih kelas enam SD. Masih kecil banget, masih ingusan," ledek Heru pada Bara. Yang sedang diledek hanya mencibir seraya mengaduk tehnya.
"Jadi bisa deket gini semuanya. Terus, kalau Mbak Tini kayaknya kelihatan akrab juga sama Heru dan Bara. Kenal di mana?" tanya Wibi memandang Tini.
Tini sadar sedang dipandangi oleh Wibi. Tapi, ia menguatkan dirinya untuk tidak menoleh. Tini lagi-lagi mengumpat di dalam hatinya. Demi apa pun yang ada di dunia ini, rasanya Tini ingin menoleh dan beradu pandang dengan Wibisono.
"Oh, jadi hubungan kita itu sebenarnya nggak sengaja jadi seakrab ini. Mbak Tini ini, temennya istri Bara. Sempat satu kos-kosan dengan istrinya Bara. Bara nikah terus aku tawarin untuk jadi pegawainya Agus. Ternyata sampai sekarang betah. Betah, kan, Mbak?" goda Heru
"Oh, gitu." Wibi mengangguk pelan lalu mengangkat gelas jusnya. "Jadi deket juga, dong, dengan anak Bara?" tanyanya lagi. Memandang Bara dan Tini bergantian.
"Dua-duanya deket. Dan manggilnya Budhe Tini. Deket banget, kan, Budhe?" Tanya Bara dengan tatapan jahil.
Menjawab godaan Bara, Tini tidak tertawa. Hanya sebuah senyuman terkulum. Dengan anggu ia menoleh ke arah Wibi. "Iya. Lumayan deketlah. Dengan Dul, dengan Mima. Apalagi Mima. Ya, ampun. Kalau udah main denganku pasti sampai lupa waktu. Setiap dateng ke kos-kosan. Pasti nggak mau diajak pulang." Tini tertawa menutup mulutnya dengan Anggun
Bara berjengit mendengar hal itu. Sejak kapan pula Mima tidak mau pulang dari kos-kosan.
Mendengar perkataan Tini, Wibi mengangguk dan tersenyum. "Oh, ya. Anak Bara yang bungsu usia berapa, Ra?" tanya Wibi. Kali ini ia memandang serius wajah Bara menantikan jawabannya.
"Sepuluh bulan, Mas. Sedang lucu-lucunya," ujar Bara.
"Sama. Keponakanku usia segitu sedang lucu-lucunya. Biasanya begitu. Keponakan malah nggak mau sama orang lain. Maunya sama ibunya terus, Mbakku," kata Wibi.
Gayung bersambut. Tini harus memenangkan topik percakapan saat itu. Seorang laki-laki yang membicarakan soal anak kecil termasuk dari ciri-ciri pria yang dimasukkan Tini ke dalam spesifikasi yang dicarinya.
"Memang seharusnya usia segitu wajar, kok, kalau nggak mau sama orang. Anak-anak lebih peka terhadap orang yang menggendongnya. Mima juga nggak mau dengan sembarangan orang. Cuma dengan Budhe Tini-nya Mima lebih dekat. Kalau udah nemplok pasti betah," ujar Tini sambil menggeser letak rambutnya ke sisi kanan bahu.
Bara nyaris mengatakan 'Astaga' atau 'Ya, ampun' saat Tini mengatakan hal barusan.
Kali ini Bara sudah mengerti duduk persoalannya. Bara mendengus dan menatap wajah Tini dari kejauhan. Tini yang mengetahui sedang ditatap Bara dengan raut penuh curiga, memasang wajah datar. Tini memasang raut, 'apa salahku?' yang dilontarkannya kepada Bara di sudut meja.
Urusan dengan Bara bisa diselesaikan belakangan. Tapi tidak hari itu. Masih banyak waktu ia bisa menemui Bara di rumahnya.
Tapi tidak dengan Wibi. Tak ada waktu lagi. Saat itu pertanyaannya hanyalah, iya atau tidak.
Karena pertemuan kedua, ketiga, keempat dan selanjutnya, berawal dari kesan pertemuan pertama.
"Gimana kalau sore ini main ke rumahku? Rumahku dengan rumah Bara itu dekat-dekatan. Jadi nanti kamu bisa mampir untuk kenalan dengan anak-anak Bara," usul Heru.
"Ya, ampun!" pekik Tini. Wibi yang baru saja membuka mulutnya hendak menjawab perkataan Heru, seketika terdiam. Termasuk juga Agus, Bara dan Heru.
"Kenapa, Mbak Tini?" tanya Heru.
"Aku lupa sore ini Dijah istrinya Bara, minta bantuanku untuk ngajarin dia makeup." Tini tertawa manis dengan menutup mulutnya.
"Ya, kebetulan kalo gitu. Sekalian aja barengan dengan kita. Gimana Wib?" tanya Heru. "Kamu juga, Gus!" ajak Heru.
"Oh, boleh--boleh." Agus tersenyum sumringah. "Ayo, Wib. Jarang-jarang main ke rumah Direktur The Term." Agus tertawa.
Dibalik senyum tiga orang laki-laki, ada seringai curiga dari sudut meja sedang memandang Tini.
"Mas Bara, ayo! Budhe Tini kangen banget sama Mima. Kalo udah ketemu Mima, pasti lupa mau ngobrol sama ibunya," tukas Tini, mengulas senyum penuh arti pada Bara.
"Pasti lupa ngobrol …," gerutu Bara.
To Be Continued