TINI SUKETI

TINI SUKETI
101. Tugas yang Sesungguhnya



Pikiran Tini terbagi-bagi dengan sangat rumit. Sebagian pikirannya membayangkan keriuhan yang sedang dihadapi adik-adiknya dalam merencanakan resepsi, sebagian lagi terbagi antara tugas di kantor yang masih belum jelas bentuknya, sebagian lagi terbagi pada keinginan bertemu Dijah untuk menumpahkan seluruh ceritanya.


Lain lagi soal Wibisono yang mengatakan padanya kalau sudah memberi uang muka pada pemilik satu rumah yang ditaksirnya. Clue dari pria itu cuma satu kalimat, ‘Dekat dengan sebuah TK’.


Hati Tini langsung jumpalitan. Dia tahu betul dengan TK yang dimaksud oleh Wibi. Jika memang perkiraannya benar, rumah yang sudah dibayar uang mukanya itu hanya berjarak seratus meter dari rumah Dijah.


Tini tak sabar memberitahu Dijah kalau sebentar lagi dia bisa membawa sepiring ubi goreng ke rumah sahabatnya itu sebagai modal mereka bergunjing selama empat jam.


Pagi itu dia sudah berdandan rapi. Mode yang diterapkan Tini pagi itu adalah wanita karier kalem. Dia merasa perlu memompa percaya dirinya lebih dulu lewat dandanan rapi.


Sesaat sesudah mengunci pintu kamar, Tini melihat semua penghuni kos berada di depan kamar mereka masing-masing.


Boy yang setiap pagi harus pergi ke supplier roti dan selai untuk belanja stok dagangannya. Asti yang duduk di depan kamarnya menunggu jemputan Bayu. Dara yang bersiap berangkat ke kampus, juga Mak Robin yang tengah memanaskan mesin motornya bersiap mengantarkan Robin ke sekolah.


“Walau kita berjauhan kayak gini, aku mau ngasi pemberitahuan. Beberapa hari ke depan, mungkin bahan pakaian yang dikirim Evi bakal nyampe. Nah, kalau nyampe dan udah ada di tanganku, kita bakal rapat di rumah Dijah. Aku udah nanya ke Dijah, dia jawab oke. Sekarang ini aku ngurus kerjaanku dulu. Mas-ku juga mau balik ke Surabaya lusa. Jadi dipastikan rapat itu akan diadakan sesudah lusa. Oke? Understand everybody?” tanya Tini, memandang semua penghuni kos yang terperangah menatapnya.


“Semuanya diam artinya setuju. Aku berangkat dulu,” ucap Tini, melangkah meninggalkan halaman kos-kosan.


“Padahal bisa jalan ke depan gang sama-sama. Tapi nggak mau nunggu sama sekali,” ucap Boy dengan nada muram.


“Jangan nangis kau, Boy!” seru Mak Robin dengan nada geli. “Kalo si Tini sesantai itu, pasti ada yang nunggu dia di depan sana. Jangan main drama kau pagi-pagi,” tukas Mak Robin pada Boy.


Dan memang benar dengan yang dikatakan Mak Robin. Di depan gang, mobil Wibisono sudah terparkir di tepi jalan. Pria itu mau mengantarkan calon istrinya ke kantor sebelum dia sendiri menyelesaikan urusannya.


“Morning,” ucap Tini saat membuka pintu mobil. Tini mencampakkan tasnya lebih dulu ke dalam mobil dan tangan kirinya memegang pintu mobil sebagai penahan. Wibisono segera mengulurkan tangannya untuk membantu Tini naik ke kursi depan.


“Apa aku harus ganti pakai sedan aja, ya? Biar mobilnya lebih rendah," gumam Wibi bercanda.


“Enggak usah, Mas. Ngerepotin ganti ke mobil sedan. Mending beli dingklik aja buat pijakan aku naik. Lebih praktis,” jawab Tini, tersenyum manis.


Wibisono tertawa kecil mendengar jawaban Tini. “Kamu memang lucu,” kata Wibi, meremaas tangan Tini dan meletakkan punggung tangan calon istrinya itu di pipi. Tini terlihat langsung membasahi bibirnya.


“Kita langsung ke kantor kamu, kan? Udah sarapan?” tanya Wibi saat mulai melajukan mobil.


“Udah sarapan. Mas udah, kan?” tanya Tini gantian. Wibi mengangguk seraya kembali meremaas tangannya. Seketika ia kembali membasahi bibir.


Hati Tini bak taman yang dipenuhi berbagai macam bunga. Kecuali bunga bangkai dan bunga tahi ayam. Wibi yang menjemput dari kos-kosan dan mengantar ke kantor menjadi sebuah doping khusus baginya. Apalagi penampilan Wibi pagi itu sangat tak bisa diabaikan. Kalau saja tak memikirkan nasib kuliah Dayat ada di tangannya, rasanya Tini ingin berada di bawah ketiak Wibi sepanjang hari.


“Sudah sampai. Hari ini aku bakal keliling-keliling ke banyak tempat. Lusa aku udah harus balik ke Surabaya. Jadi … kamu kerja yang baik hari ini. Kalau ada apa-apa, kabari aku segera.” Wibi berbicara sambil membenarkan letak tali tas Tini yang tersampir di bahunya.


“Baiklah. Ternyata nggak terasa udah nyampe kantor. Rasanya, kok, cepet banget, ya? Kenapa nggak bawa jalan ngelewatin Bekasi aja biar lama nyampenya?” canda Tini, berpura-pura merapikan tali tasnya di bahu.


“Tasnya sudah rapi,” celetuk Wibi, tertawa kecil.


Tawa Wibi di pagi hari ternyata sangat merdu. Beda merdunya dengan tawa Wibi di malam hari. Tapi sepertinya tawa Wibi di siang hari pun bagus juga, batin Tini.


“Aku turun dulu,” ucap Tini, meraba handle pintu mobil. Ia hanya meraba handle, tapi tak kunjung menariknya agar terbuka.


“Nungguin sesuatu?” goda Wibi, menahan tawa. “Kalau gitu, sini aku cium dulu. Biar kerjanya lebih semangat,” ujar Wibi, mencondongkan tubuhnya ke arah Tini dan mencium pipi calon istrinya.


“Oh,” lirih Tini, meraba pipinya.


“Kalau pagi di pipi aja. Sayang lipstiknya nanti berantakan. Pulang kerja sore nanti, bakal aku upgrade.” Wibi membuka pintu mobil dari tombol pusat di sisi kanannya.


Saat melangkahkan kaki masuk ke lobi, Tini sudah membayangkan kalau pekerjaannya akan selesai sore hari. Ia akan pulang dijemput Wibisono serta berkeliling dengan calon suaminya untuk memanfaatkan waktu mereka yang sangat sempit.


Ternyata rencana tinggal rencana. Lima belas menit kemudian Tini sudah mematung menatap proposal-proposal yang sudah dicetak rapi sebanyak enam buah. Seketika bayangan pulang kerja tepat waktu menguap begitu saja.


“Ini proposal produk-produk dari pabrik perkebunan kelapa sawit milik Grup Cahaya Mas. Ada produk cokelat dan susu, kosmetik, bahan dasar sabun dan sampo, mentega dan margarin, mi instan, roti dan kue, juga deterjen laundry. Dari semua proposal ini, kamu harus meyakinkan perusahaan konsumen kita sebelumnya untuk tetap menggunakan produk kita atau menambah pemakaian produk perusahaan kita,” tutur Larasati, wanita yang merupakan kepala divisi marketing di Cahaya Mas.


“Ini semua aku yang harus menawarkan?” tanya Tini dengan raut gentar.


Ia berani-berani saja mendatangi tiap perusahaan itu untuk meyakinkan soal keunggulan produk Cahaya Mas. Apa sulitnya meyakinkan konsumen lama? Toh, selama ini mereka sudah memakai produk Cahaya Mas. Hal itu lebih mirip jika disebut bersilaturahmi menjaga konsumen agar tidak lari ke produk baru. Tapi ada sedikit ganjalan di hatinya.


“Semua ini bisa kamu pilih,” ucap Larasati. Menjejerkan semua proposal di atas meja agar bisa dilihat oleh Tini. “Semua teman-teman kamu sudah mengambil masing-masing dua. Eh—salah. Temen kamu minimal ngambil dua. Kamu terserah mau ambil berapa produk,” tambah Larasati lagi.


Ganjalannya adalah, Tini tak hanya memikirkan soal menjual atau menawarkan. Persoalan yang sesungguhnya adalah dia harus menghafalkan keunggulan semua produk itu. Dia harus benar-benar paham dengan hal yang coba ditawarkannya.


Beberapa saat mengernyit, Tini kemudian mengangguk mantap.


“Oke, sampai di sini jelas, kan? Tanya Larasati menjauhkan satu proposal yang sedang berada di sisi kanannya. “Oh, ya, karena ini proyek yang lumayan raksasa, kalian memang tidak diharuskan bisa menjual. Kasarnya, kalian hanya harus beramah tamah. Tidak ada target apa pun. Tapi … nah, kalau kalian berhasil membuat perusahaan tujuan kalian membeli, menambah stok barang, atau memperpanjang kerja sama, kalian juga bakal mendapat insentif,” beber Larasati.


“Insentif?” Tini membulatkan matanya.


“Yup, bener. Masing-masing proposal ini mengandung nilai berbeda. Yang ini bernilai 20, ini 30, ini 40,” jelas Larasati, menunjuk tiap proposal di meja.


“Dua puluh, tiga puluh apa, Bu?” Dengan raut keingintahuan, Tini menatap Larasati.


“Dua puluh juta, tiga puluh juta. Semuanya bernilai insentif puluhan juta. Itu jumlah yang wajar. Kamu jangan langsung lesu karena mendengar jumlahnya sedikit. Pekerjaannya juga saya rasa tak terlalu sulit. Nah, kamu mau ambil proyek yang mana?” ulang Larasati lagi.


Jangan langsung lesu? Setelah ungkapan cinta dari Wibisono, kata-kata soal insentif itu juga seperti siraman air sumur di pagi hari. Menyegarkan. Semuanya bernilai luar biasa.


Tapi Tini tak tahu seberapa sulit pekerjaan itu. Apa jika dia mengambil semua proyek itu, dia bisa disalahkan jika tak berhasil menjual?


Tini membasahi bibirnya.


“Saya bisa pelajari dulu, kan, Bu?” tanya Tini dengan nada takut-takut. Ia memang sangat khawatir dan berhati-hati sekali di kantor itu. “Dan kalau boleh tau … yang satu lagi itu proposal produk apa?” tanya Tini, menunjuk satu proposal yang dilainkan oleh Larasati.


“Oh, ini produk biodiesel. Insentifnya sangat besar. Kalau kamu berhasil mengikat kontrak dengan perusahaan pemakai produk biodiesel, satu perusahaan saja insentifnya bisa ratusan juta. Tapi ini terlalu berat. Kamu nggak akan bisa,” ucap Larasati seraya menggeleng kecil.


Tini kembali diam. Ratusan juta? Ratusan juta? Apa ia tak salah dengar? Tak ada sanksi apa pun jika tak berhasil menjual. Dan ia sudah memiliki gaji pokok yang lumayan. Tak ada salahnya kalau ia mencoba.


“Bagaimana kalau saya nyoba yang itu aja? Boleh, Bu?” tanya Tini yang merasa tertantang.


Larasati mengerucutkan bibirnya sejenak, raut wajahnya terlihat tak yakin. Tapi kemudian wanita itu mengangguk dan menyerahkan proposal biodiesel pada Tini.


“Baiklah, saya permisi dulu. Kamu bisa pelajari dulu soal biodiesel,” ucap Larasati. Wanita itu lalu pergi meninggalkan Tini dan merogoh ponsel dari saku jasnya.


Sambil berjalan menuju ruangannya, Larasati mengetik pesan pada seseorang.


‘Pak, beres ya. Benar dugaan Bapak. Tini Suketi memang memilih proposal biodiesel.’


To Be Continued