
Dayat membersihkan makam ibunya dengan gesit. “Sekarang anak-anak yang bersihin makam udah sepi. Kalau dulu rame, Mas. Aku juga sering nyari tambahan jajan di sini,” kata Dayat.
“Iya. Nyari jajan sampe sini. Memang sekalian nyekar tempat Ibu. Tapi aku nyariin kamu udah kayak orang gila. Pergi ke sini nggak bilang-bilang. Jauh-jauh ke sini,” omel Tini seraya merapikan batu putih di atas makam ibunya.
“Namanya aku kangen, Mbak. Ingatanku sama Ibu cuma inget dibawa jajan ke warung. Aku nungguin Ibu pulang kerja di depan pintu,” ucap Dayat dengan raut muram, memandang pusara ibunya dengan sorot kerinduan.
“Dayat usia berapa waktu Ibu pergi?” tanya Wibisono.
“Delapan tahun, Mas. Mbak Tini SMA kelas 3. Aku umur dua belas,” jawab Evi.
“Puput belum lahir, Mas. Eh, belum ada maksudnya,” kata Dayat, meringis memandang Bapak mereka. “Jaman itu untung aku udah gede, Mas. Coba kalau masih kecil. Bapak yang nyebokin pasti pake kaki. Kena kuku jempolnya, bokongku pedes. Kasar-kasar,” bisik Dayat pada Wibi.
Evi yang berada di sebelah Dayat membelalak saat mendengar cerita adiknya. “Cerita nostalgiamu apa nggak ada yang lebih bagus lagi? Bokong pedes, cebok? Untung Mbak Tini nggak denger,” omel Evi dalam bisikan.
“Aku denger, Vi. Tapi aku diem,” sahut Tini, melirik dua adiknya.
“Bapak juga denger soal jempol kasar itu, Yat.” Pak Joko ikut melirik Dayat yang berjongkok di bagian kaki kuburan.
Wibisono tak tahu harus berkomentar apa. Itu adalah saat mengharukan dan saat menggelikan sekaligus. Baginya keluarga itu sangat lucu. Tapi semuanya berbicara dengan raut serius. Membuat dia sering bingung harus berkomentar apa.
Pak Joko menunduk mengusap pusara istrinya. Mulutnya merapal doa, jemarinya mencabuti rumput-rumput kecil yang tumbuh di sela bebatuan.
“Aku pulang dulu, Ni. Aku duluan bawa Evi dan Dayat menjauh dari sini. Mungkin Tini dan calonnya perlu waktu berdua. Aku harus mengamankan dua anak kita agar nggak merusak suasana,” ucap Pak Joko, bangkit dari posisinya. Dayat dan Evi saling pandang, tapi kemudian ikut berdiri. Bertiga mereka beriringan menuju parkiran mobil. Meninggalkan Tini dan Wibisono yang masih berjongkok bersebelahan.
"Buk, aku nggejaki Mas Wibi rene. Mas Wibi kuwi wis ngelamar aku, Buk. Rong sasi sing meh teko keluargane meh rene nglamar karo resepsi sisan. Aku ora kesuwen to, Buk? Ibuk yo ora kesuwen lek nunggu to? Pethuke lagi saiki, Buk." (Bu, aku bawa Mas Wibi ke sini. Mas Wibi udah ngelamar aku, Bu. Dua bulan lagi keluarganya mau dateng ngelamar sekalian resepsi. Aku nggak kelamaan, kan Bu? Ibu nggak kelamaan nunggu? Ketemunya baru sekarang, Bu.)
Tini bergeser ke dekat pusara ibunya. Ikut menyapu pusara yang tulisannya sudah memudar itu dengan telapak tangannya.
“Aku kangen, Bu. Kata orang, dua belas tahun kepergian Ibu itu nggak terasa. Tapi buatku itu terasa banget.” Tini menunduk menyembunyikan air matanya. Meski para saudara-saudaranya mengatakan bahwa waktu tak terasa bergulir. Tapi bagi Tini, dua belas tahun itu berat dan sulit buatnya.
“Semoga Ibu bisa ngeliat dari sana. Kalau sekarang aku udah ketemu sama Mas Wibi. Besok aku balik ke Jakarta. Aku harus masuk kerja, Mas Wibi juga masih ada urusan. Aku pamit dulu,” ucap Tini dengan suara sangat pelan.
Wibisono mengusap-usap punggung Tini yang menunduk. Dia hanya bisa menghibur Tini dengan mengusap punggung wanita itu. Mengatakan apa pun dirasanya tak cukup untuk mewakili perasaannya. Tapi sentuhan ringan itu, dia harap bisa menenangkan hati Tini, kalau sekarang wanita itu tak sendiri lagi menghadapi hidupnya.
"Pamit wangsul rumiyin Buk,mugi-mugi mangke kulo mriki malih mpun dados mantu." (Permisi pulang Bu, datang sekali lagi, mudah-mudahan udah jadi menantu.)
Tini berdiri memandang makam ibunya. Letak makam itu sangat jauh dari desanya. Andai saja makam itu bisa dipindahkan agar lebih dekat dengan rumah mereka. Andai saja desa mereka memiliki TPU sendiri. Ah, andai saja semudah itu, batin Tini.
Usai dari makam, mereka semua menemani Pak Joko pergi ke bank pemerintah. Mereka semua penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Bapak mereka.
“Yang turun kita bertiga aja. Mbak Tini dan Mas Wibi tunggu di mobil. Enggak apa-apa, kan?” tanya Evi sesaat sebelum turun dari mobil.
“Enggak apa-apa, kok,” jawab Wibi.
Tini mengernyit sedikit penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Bapak mereka di bank. Uang pria itu tak banyak. Tabungannya hanya dalam bentuk buku yang dicetaknya enam bulan sekali. Pria itu membelanjai anaknya dengan membeli kebutuhan pokok perbulan dengan mengeluarkan uang yang sangat dihematnya. Pendapatan Pak Joko hanya sesekali jika ikut mengambil upahan menyadap karet.
“Ya, mau ngambil uang. Ini buku tabungannya. Jadi ke bank mau ngapain? Berobat?” Pak Joko memandang wajah Evi.
“Memangnya ada uangnya?” tanya Evi lagi.
“Ya, ada. Jadi ke sini mau ngambil uang siapa? Uang orang? Ada-ada aja,” sungut Pak Joko lagi.
“Heran aja gitu, lho, Pak. Bapak uang dari mana. Kerja cuma sesekali pas dapat wangsit. Selebihnya di rumah memanjakan Puput. Uangnya dari mana? Itu maksud Mbak Evi.” Dayat meringis usai mengatakan itu. Tangan bapaknya baru saja berpindah ke pahanya dan mencubit pahanya lumayan keras.
“Padahal Bapak ada uang. Kenapa nggak buat nikah lagi? Jadi kami semua bisa tenang meninggalkan Bapak ada yang urus. Nyarinya yang seumuran Bapak. Jangan yang seumuran aku. Aku nggak nyangka Bapak sesetia ini sama Ibu,” sambung Evi pula.
“Masalahnya kalau Bapak nikah lagi, Bapak malah nggak ada uang. Uang pensiun dari kantor ibu kalian bakal berenti. Kalian pikir uang yang mau Bapak ambil ini dari mana? Ya, uang dari pensiun guru Ibu kalian. Bapak kumpulkan untuk modal kalian semua menikah. Ini mau Bapak ambil sebagian buat Tini. Ngerti sekarang?" Pak Joko memandang Evi dan Dayat bergantian.
“Ternyata Ibu udah PNS. Aku kira belum,” gumam Evi.
“Enam bulan sebelum meninggal, Ibu pengangkatan. Udah guru PNS. Ya, uangnya buat kebutuhan kita sedikit-sedikit. Enggak banyak, tapi ada. Bayangin kalau Bapak nikah lagi. Lagipula, perempuan mana yang mau sama Bapak selain ibumu,” ucap Pak Joko, menunduk memandang buku tabungannya.
“Banyak, Pak. Bapak ganteng kayak aku. Kalau Bapak nggak ganteng, nggak mungkin Ibu mau sama Bapak. Modal Bapak, ya cuma itu,” tukas Dayat, nyengir memandang bapaknya. Kemudian, Dayat kembali meringis karena pahanya dicubit Pak Joko.
“Memangnya ada wanita yang mau kalau Bapak namai Suparni juga? Suparni II, gitu? Pasti nggak ada yang mau,” kata Pak Joko dengan tatapan menerawang.
“Oalah, untung Mbak Tini nggak denger,” sahut Evi.
Sementara itu di parkiran mobil, Tini sudah memastikan kalau Bapak dan adik-adiknya menghilang ke dalam pintu bank kecil di tepi jalan raya. Wibisono memarkirkan kendaraannya di sudut halaman bank itu. Dan sejak tadi Tini melihat kalau tak ada tukang parkir di sekitar mereka.
Wibisono sedang mengecek ponselnya. Sesekali ia melirik ke belakang. Melihat kalau Tini sedikit gelisah menoleh ke sekeliling mereka.
“Gelisah banget. Ngeliat apa?” Wibi kembali meletakkan ponselnya di laci dasbor tengah, memutar tubuhnya memandang Tini di belakang
“Enggak ngeliat apa-apa,” jawab Tini.
Terbiasa bercanda tapi tak terbiasa berbohong. Itulah Tini, pikirnya. Tinggal di kota besar bertahun-tahun, tapi belum menanggalkan kepolosan berpikirnya saat hidup di desa. Salah tingkahnya terlalu kentara.
“Kamu geser duduk ke belakang aku,” pinta Wibi saat menoleh ke jok belakang. Satu tangannya terjulur meminta Tini bergeser ke belakangnya.
Tini sedikit bingung tapi juga penasaran. Ia menuruti Wibi menggeser letak duduknya hingga tiba di belakang jok Wibi.
“Terus? Mau apa?” tanya Tini yang memang bingung dengan maksud pria itu.
“Terus maju, peluk aku dari belakang. Aku pengen disun di sini,” ucap Wibi, menunjuk pipi kiri yang seketika melengkungkan lesung pipi seiring senyumannya.
To Be Continued