
Tini membereskan kertas-kertas yang baru saja diprintnya secepat mungkin. Memasukkannya ke dalam map setelah sebelumnya mengelompokkan kertas-kertas itu berdasar jenis polisnya.
“Aku udah ngasi yang terbaik. Selanjutnya terserah Bapak itu mau yang mana. Sesuai kebutuhannya. Kurasa asuransi dia juga udah selusin di rumah.” Tini kembali mengintip pintu ruangan Pak Wimar yang baru saja ditutup.
Sebelum meninggalkan ruangan kaca, Tini kembali merapikan pakaiannya. Perutnya lapar, tapi dia tak sedang ingin makan. Kabar baik soal closing-an nasabah selalu membuat perutnya kenyang.
Apalagi membayangkan si pemilik saham menyetujui untuk menandatangani polis asuransi untuk enam orang sekaligus. Meski awalnya mendengar pria itu sudah menikah dan memiliki empat orang anak, Tini sedikit tak percaya. Sedikit mustahil karena melihat tampilan pria itu yang terbilang sangat modern, namun memiliki anak sebanyak itu. Ditambah informasi yang dibacanya bahwa pria adalah lulusan luar negeri.
“Wateper—wateper (whatever/terserah), sing penting tanda tangan. Dia ini bukan jenis sedikit bicara banyak bekerja. Tapi dua-duanya. Banyak bicara banyak bekerja.” Tini terkikik seraya merapikan pakaiannya. Ia lalu menyampirkan tasnya dan membawa map keluar ruang kaca.
“Mas Reza, saya mau ketemu Pak Dean, apa bisa langsung ke dalam?” tanya Tini pada Reza yang duduk mengetik sambil mengemil dimsum dari kotak bekalnya yang terlihat enak sekali. Tini menelan ludah. Ternyata ia lapar juga.
“Bisa. Udah ditunggu, Mbak. Ayo, saya temenin.” Reza yang usianya terlihat jauh lebih muda dari Tini, meletakkan sumpitnya dan bangkit menuju pintu. “Silakan, Mbak.” Reza membukakan pintu ruangan Pak Wimar.
Tini membasahi bibirnya kemudian melangkah ke dalam ruangan. Ia sedikit berdebar bertemu keluarga besar atasannya yang baru.
“Ini Suketi udah dateng. Kok, lama? Duduk di sebelah sana,” pinta Dean menunjukkan kursi tunggal yang berada di sisi kanannya.
Dean duduk berdampingan dengan istrinya sambil memangku seorang balita perempuan.
“Terima kasih, Pak.” Tini tak berani tersenyum sedikit pun. Ia menyetel wajahnya seserius mungkin.
“Sebelumnya perkenalkan, ini istri saya. Ibu dari empat orang anak.” Dean memegang punggung istrinya. Tini seketika mengulurkan tangan kepada wanita yang duduk di sisi kirinya.
“Saya Tini Suketi, Bu.” Tini merasakan balasan jabat tangan yang begitu mantap dari wanita itu. Anggun, tapi tegas. Tini menyimpulkan hal itu.
“Saya Winarsih, Mbak Tini.” Istri atasannya tersenyum. Bukan senyum berlebihan, tapi senyum tipis yang sangat hangat.
“Manggilnya Suketi aja, Win. Lebih unik, aneh dan janggal. Setiap kamu menyebutkan nama Suketi, nama itu akan terpatri dalam ingatan. Biasanya kamu dipanggil apa?” tanya Dean.
“Tini, Pak.”
“Yang lain—yang lain. Nama panggung,” kata Dean lagi.
“Tini Su?”
“Nah, tanggalkan itu. Lain kali perkenalkan diri dengan menyebut Suketi, tim marketing dari Grup Cahaya Mas. Saya yakin orang bakal lebih cepat mengenal kamu. Unik itu perlu, biar mudah diingat,” saran Dean.
“Oh, gitu … akan saya pertimbangkan—“
“Jangan dipertimbangkan. Langsung putuskan sekarang. Nah, mari kita lanjut. Yang di sisi kanan kamu, berurutan, Dirja anak sulung saya, lalu Dita anak kedua, yang saya pangku ini, namanya Mey Ling. Hobinya ngambek.” Dean menatap wajah putri ketiganya yang bernama Widi.
“Bukan Mey Ling,” sahut Widi cemberut.
“Jadi siapa?” tanya Dean berpura-pura melontarkan tatapan bingung pada anaknya. “Kalo hobinya ngambek, namanya Mey Ling, bukan Widi.”
“Ibu—“ panggil Widi, memutar setengah tubuhnya untuk menatap sang ibu.
“Widi, namanya Widi. Siapa itu Mey Ling?” Winarsih mengusap pipi anak perempuannya. PLAKK. Wanita yang bernama Winarsih itu memukul pelan paha suaminya. “Anaknya digodain terus. Katanya tadi mau cepet,” omel Wanita itu.
Bukannya meringis, Dean terkekeh lalu mencubit pipi istrinya dengan ekspresi gemas. “Ini nggak bakal lama,” ucap Dean.
Karena hal yang dilakukan oleh Dean barusan, Tini spontan memegang pipinya. Merasa seakan dialah yang baru saja di cubit gemas oleh suaminya. Tini lalu tersenyum sendiri.
“Pipi kamu kenapa, Suketi?” tanya Dean, memandang Tini yang sedang mengelus-elus pipinya. Dahinya mengernyit, seakan mencoba membaca apa yang ada di dalam pikiran Tini.
Senyum Tini seketika sirna. “Gatel, Pak.” Tini lalu segera membuka map dan menjajarkan kertas-kertas itu di depan Dean. “Ya, udah kita langsung aja. Bapak bisa kembali teliti apa yang dimuat oleh polis ini. Jumlah dan jenisnya udah saya variasikan. Pilih mana yang sesuai dengan kebutuhan Bapak sekeluarga.”
Hal pertama yang diperhatikan Tini sejak tadi adalah sikap Winarsih yang tenang. Duduk memangku tasnya sambil melempar tatapan pada sebuah stroller yang sedang ditunggui babysitter tak jauh dari mereka duduk. Melihat hal itu, Tini teringat akan sesuatu.
“Nama yang bungsu siapa, Bu?” tanya Tini mencoba memulai pembicaraan dengan Winarsih.
“Yang bungsu dan sedang tidur itu, namanya Handaru. Panggilannya Daru. Usianya hampir setahun.” Winarsih kembali menatap stroller.
“Namanya bagus,” sambut Tini.
“Terima kasih, Mbak.” Winarsih tersenyum dan mengangguk begitu anggun.
Tini seketika merasa aneh dan meleleh. Padahal ia juga seorang wanita, tapi memandang istri atasannya, Tini seperti jatuh hati.
“Suketi … saya ambil yang ini.” Dean memisahkan kertas-kertas yang isinya paling sesuai dan cocok. “Ini jumlahnya sangat lumayan. Kalo ketetapan fee belum berubah, persenan kamu juga lumayan. Bisa saya tanda tangani sekarang?” Dean mengangkat kertas di tangannya, mengisyaratkan agar Tini memberinya pena.
“Bapak ternyata berhitung juga,” ucap Tini, menyodorkan pena kepada Dean.
“Perhitungan itu harus. Royal itu pilihan,” sahut Dean, menunduk di atas kertas untuk membubuhkan tanda tangan. “Lagian, saya nggak suka hidup terlalu hemat.”
Tini mencibir tipis, tapi istri atasannya terlihat biasa saja saat mendengar suaminya mengatakan hal itu. Lalu Tini melanjutkan pengamatannya.
Mata Tini tak lepas memandang bagaimana sepasang suami istri itu berinteraksi. Matanya berpindah-pindah memandang wajah ke tiga anak yang sedang duduk tenang di dekat orang tuanya. Setelah meneliti cukup lama, akhirnya Tini mengambil kesimpulan bahwa tak ada satu pun dari ketiga anak yang mirip dengan ibunya.
“Yang bungsu mirip ibunya pasti,” ujar Tini pada Winarsih.
Kali ini wanita itu meringis. “Enggak, Mbak. Mirip bapaknya juga,” jawab Winarsih.
Tini ber-o-o panjang saat mendengar hal itu. Ternyata si cerewet ini mendominasi dalam hal membuat keturunan ternyata. Tini terkikik di dalam hati.
Nama istri atasannya sangat melokal, sama seperti namanya sendiri. Usia Winarsih pun pasti masih jauh lebih muda dibanding dengannya.
Satu hal yang sejak tadi diperhatikan Tini paling menonjol dari wanita itu adalah sikapnya saat mendengar Dean berbicara. Wanita itu tak lepas memandang suaminya. Seakan mencerna setiap kata yang diucapkan suaminya dengan tekun. Tatapannya menyiratkan cinta yang mendalam. Itu bukan tatapan seorang istri yang teraniaya di rumah, pikir Tini.
Walau sikapnya lemah lembut, jabatan tangan Winarsih yang mantap, berkesan sangat tegas. Tini kagum dengan wanita itu. Di mana kira-kira Dean berkenalan dengan istrinya? Atau … di mana istrinya menemukan Dean?
Apakah sama seperti teman-temannya di kampung dulu? Mencari calon suami dengan profesi tertentu dengan sering-sering makan di warteg depan kantor sesuai profesi yang diinginkan.
Dean masih menandatangani kertas untuk kesemuanya anaknya. Winarsih menunduk memandang suaminya. Sedari tadi tangannya membelai rambut balita yang diletakkan bapaknya di sofa.
Tini memandang tampilan Winarsih lekat-lekat. Jadi yang begini seleranya si cerewet, batin Tini. Memandang kulit Winarsih yang mulus dan bentuk tubuhnya yang berisi dan dadanya yang penuh. Tini lalu tersenyum. Merasa memiliki kesamaan dengan wanita yang sedang diperhatikannya.
Dean tiba-tiba mengangkat wajahnya. Semua kertas sudah ia tanda tangani dan tatapannya langsung tertuju pada Tini yang tengah tersenyum. Dean lalu menyadari apa yang sedang dipandangi oleh Tini.
“Suketi …,” panggil Dean.
“Ha? Ya, Pak?” Tini memandang Dean. Ia mengerjap-ngerjap, baru keluar dari pikirannya.
“Lupakan soal yang barusan kamu pikirkan. Beda. Tidak sama. Jelas? Ti-dak-sa-ma.” Dean meraup kertas yang baru saja ditandatanganinya dan menyerahkan pada Tini.
To Be Continued
Hari ini satu, ya ....
seharian hujan terus dan asyik bergulung bersama anak-anak. Sehat-sehat selalu semuanya :*