
Beberapa hari sebelumnya, saat Heru mengantarkan mobil yang akan dipinjam Wibisono ke hotel bersama Bara, mereka bertiga sempat mengobrol di lounge hotel.
“Maaf aku ngerepotin, lho, Her!” seru Wibisono saat melihat Heru dan Bara datang sebelum berangkat ke kantor.
“Bukan ngerepotin aku, kok. Ngerepotin Bara. Dia yang bawa mobilnya. Dia jadi nebeng aku nanti,” jawab Heru, terkekeh seraya menepuk lengan Wibisono.
“Aku, sih, nggak apa-apa asal jelas.” Bara ikut tertawa.
“Jelas pokoknya,” sahut Wibi. “Kita minum dulu. Enggak buru-buru balik, kan?” Wibi memandang Heru dan Bara yang sedang bertukar pandang.
Heru dan Bara bertukar pandang. Mereka memang tidak ada keperluan mendesak pagi itu. Tapi tetap saja mereka belum meletakkan jari di mesin absen. Walau tak ada istilah potong gaji karena keterlambatan bagi mereka, tetap saja mereka harus adil.
“Ayolah, aku ke sini nggak setiap hari,” kata Wibi, menyeret lengan Heru ke sekumpulan sofa di lounge. Ia langsung melambai ke arah pegawai hotel yang mengenakan rompi hitam. “Ayo—ayo, pesen dulu. Minum, Ra.” Wibi mengangsurkan menu pada Bara.
Bara mulai membalik-balik buku menu. “Minum apa, ya …. Aku udah sarapan kenyang banget. Baru minum juga,” gumam Bara.
“Enak, ya, yang istrinya di rumah 24 jam. Pamer dia,” kata Heru, mencibir pada Bara.
Wibisono tertawa. “Kamu juga masih mending. Yang penting tidur malem nggak sendirian, kan?” canda Wibi.
“Kalo itu wajib, Wib. Bara ini yang termasuk pengantin baru,” kata Heru.
Giliran Bara yang tertawa. “Dibahas, ya.” Bara memukul pelan lengan Heru dengan buku menunya. “Aku pesen caffee latte aja,” ucap Bara.
“Bara pengantin baru? Berarti anak laki-laki kemarin—”
“Anak Dijah,” potong Bara. “Anakku juga sekarang. Sama dengan Mima,” sambung Bara.
Wibisono membulatkan matanya. Benar-benar tak menyangka kalau Bara menikah dengan seorang janda yang telah memiliki seorang anak.
“Kok langsung diem? Pasti bingung mau menanggapi apa,” ucap Heru tertawa kecil memandang Wibisono. “Pesananku samain dengan Bara aja,” ujar Heru, mengembalikan menu ke atas meja.
Saat Heru meletakkan menu, pegawai lounge kembali mendekat dan kembali mendengar rincian pesanan dari Wibi.
“Tapi istrinya Bara memang temennya Mbak Tini itu, kan? Memang satu kos-kosan?” Wibi tertarik dengan cerita asal muasal Bara mengenal istrinya. Bukan usil atau semacamnya, tapi ia mengenal Heru dan Bara berasal dari keluarga yang sedikit merasa akan didikan dalam pergaulan.
“Iya. Tini memang temannya Dijah. Dulu kamarnya bersebelahan. Kayaknya lebih enak Bara yang cerita. Aku juga tau kandang ayam dari Bara. Asli itu orangnya semua unik-unik. Kamu nggak bakal inget soal gaji karyawan kalau seharian dengan mereka. Masalah kita rasanya nggak ada apa-apanya kalau udah denger cerita mereka. Makanya aku suka ke sana. Maaf, ya, Ra ….” Heru menepuk lengan Bara terkekeh-kekeh.
“Kandang ayam apa? Maksudnya kandang ayam beneran?” Wajah Wibi benar-benar terlihat penasaran. Terlebih melihat Heru yang tersenyum-senyum.
“Itu nama kos-kosannya, Mas. Mau tau bagian yang mana? Soal kos kandang ayam atau Tini? Kalau soal Tini biar aku jelasin langsung, nih.” Bara terkekeh melihat perubahan di wajah Wibisono.
“Kenalnya gimana? Aku, kok, jadi penasaran soal kos-kosan-nya.” Wibi menggaruk dagunya lalu menyandarkan tubuh memberi ruang di meja untuk pelayan meletakkan minuman.
“Jangan penasaran sama kos-kosan-nya. Nanti malah betah enggak mau pulang,” sahut Bara, tertawa sambil mengangkat gelasnya.
“Ra, maaf ini nggak ada maksud apa-apa. Tapi aku penasaran dengan cara kamu ngomong ke keluarga. Yah, semacam itulah.” Wibisono sedikit mengangkat bahunya.
Ponsel Heru yang berada di atas meja lalu bergetar dan laki-laki itu bangkit. “Lanjut dulu. Aku ngomong sama yang mau ngiklan kemarin. Ini ribet banget,” ucap Heru pada Bara seraya menunjuk ponselnya.
“Tadi maksudnya gimana aku ngomong ke keluarga mau nikah sama Dijah? Gitu?” tanya Bara pada Wibi. Yang ditanya terlihat salah tingkah merasa tak enak.
“Kepingin tau aja, Ra. Restu orang tua itu selalu menjadi hal sederhana yang nggak pernah sederhana buatku. Bukan dari keluargaku aja, tapi juga keluarga …. Yah, tau sendiri,” kata Wibi.
“Hubungan kami memang agak berat, Mas. Buatku berat meyakinkan ibu, juga meyakinkan Dijah. Aku ditolak terus, Mas. Kayanya deketin Dijah, malah lebih sulit ketimbang deketin gadis. Akhirnya mau, berkat bantuan Ayah. Sekarang udah ada Mima, Ibu juga sayang banget. Cucu perempuan satu-satunya.” Bara tertawa bahagia saat mengucapkan nama Mima.
“Udah bahagia banget, ya, sekarang?” Wibi menonjok pelan lengan Bara.
“Bahagia, Mas. Harus bahagia karena aku yang milih Dijah. Aku harus bisa bahagiain Dijah lebih dari sebelum-sebelumnya. Soal masa lalu, buatku nggak penting. Yang penting itu, masa di mana kami udah sama-sama. Apalagi Dijah itu kedua orang tuanya udah nggak ada. Dia cuma punya aku. Aku ngerasa jadi makin penting buat hidupnya. Dan itu bikin aku bahagia,” tutur Bara dengan senyum menghias wajahnya.
Wibisono mengangguk, lalu kembali menepuk lengan Bara. “Keren kamu,” ucapnya.
“Siapa keren?” tanya Heru yang baru saja kembali duduk. “Aku?” Heru tertawa mengangkat gelasnya.
“Bara—Bara yang keren,” sahut Wibi tertawa.
“Bara bukan keren aja, tapi luar biasa. Luar biasa bikin capek dulunya,” sambung Heru.
“Kayak yang ngomong enggak aja,” gerutu Bara.
Heru tertawa. “Enggak apa-apa, Ra. Namanya laki-laki, ya, memang harus punya sikap dan jiwa pejuang.”
Wibisono pagi itu menjadi saksi bagaimana dua orang saudara sepupu begitu kompak dan memberinya sedikit rasa iri akan kehidupan mereka.
Benar seperti yang dikatakan kedua laki-laki itu, pikirnya. Masa lalu itu tidak penting, yang penting itu masa di mana ketika sudah bersama. Wibisono iri dengan keberanian Bara dalam bersikap. Andai saja dulu dia punya keberanian seperti itu, mungkin dia tak akan banyak membuang waktu.
Percakapan itulah yang membuat Wibisono penasaran dengan kandang ayam. Namanya aneh sekali. Bagaimana sekelas Heru dan Bara yang sejak dulu hidup bagai di lingkungan keraton bisa tersasar ke kos-kosan itu.
Malam itu Wibisono berhasil memaksa Tini untuk mengantarkan wanita itu sampai ke halaman kos-kosan. Awalnya Tini mengusirnya saat tiba di depan pagar. Tapi pengusiran yang dilakukan oleh Tini malah membuatnya semakin penasaran. Apalagi tadi Heru mengatakan kalau penghuni kos-kosan itu semuanya unik.
Apakah itu termasuk Tini dan istri Bara juga?
Sebegitu menginjak halaman kos-kosan Tini, ia disambut dengan lantunan musik dangdut yang keluar dari speaker portabel yang diletakkan di tengah halaman. Seorang laki-laki terus-menerus meneriakkan kata ‘ Bunda’ yang mungkin ditujukan untuk Tini. Tapi saat ia memperhatikan laki-laki itu, teriakan ‘Bunda’ seketika berhenti dan berubah menjadi alunan lagu.
Melihat Tini yang cuek-cuek saja, Wibi kembali ragu apa memang teriakan ‘Bunda’ tadi ditujukan untuk wanita itu.
Wibi berdiri di belakang Tini saat wanita itu sedang membuka pintu kamarnya. Tini menyapa seorang wanita yang sejak tadi sedang mengunyah.
Saat mendapat sapaan lembut dari Tini, wanita itu sontak terdiam dan menganga. Sepasang muda-mudi di sebelah wanita yang dipanggil Mak Robin itu pun ikut terdiam melihat Tini. Sampai di situ, Wibisono masih bingung. Kenapa semua tetangga Tini begitu terheran-heran melihat kedatangannya? Namun, saat itu ia juga membenarkan soal apa yang disebut Heru.
Penghuni kos-kosan kandang ayam memang unik seperti nama tempatnya.
To Be Continued
Update satu-satu ya ….
Biar ebo-ebo nggak kelewatan likenya.