TINI SUKETI

TINI SUKETI
98. Obrolan Dalam Perjalanan



Seperti biasa, dalam perjalanan bentuk apa pun, Tini selalu mabuk. Perjalanan laut, udara, juga darat. Hanya dalam perjalanan hidupnya Tini tak bisa mabuk. Ia harus tetap sadar.


Perjalanan yang ditempuh cukup lama. Hampir delapan jam. Dan seperti kata Dayat sebelumnya, Wibi memang harus menyetir mobil sendirian. Pria itu memutar musik pop dan sesekali ikut bersenandung menyanyikan lagu. Sepertinya Wibi sudah paham betul kalau Tini memang tak sanggup banyak bicara.


“Kamu ada niat memelihara hewan?” tanya Wibi tiba-tiba.


Tini sedikit bingung dengan pertanyaan itu. “Enggak ada. Kenapa, Mas? Kok, nanya itu tiba-tiba,” sahut Tini.


“Enggak apa-apa. Aku juga mau bilang, untungnya aku juga nggak ada niat melihara hewan di rumah. Jadi aku nggak perlu khawatir,” kata Wibi.


Tidak perlu khawatir kenapa? Tini bingung, tapi ia mengangguk kecil menyetujui perkataan Wibi.


Empat jam menyetir, Wibi memasuki kawasan rest area. “Kita berenti sebentar, ya. Aku mau ke toilet. Kamu nggak sekalian?” Wibi melepaskan sabuk pengaman dan meraih ponsel untuk mengeceknya.


Tini mengangguk. “Aku juga mau ke toilet,” sahut Tini. Beriringan mereka turun dari mobil menuju toilet umum rest area. Keluar dari toilet, Wibi menggandeng Tini untuk berkeliling sebentar di rest area itu.


Wibisono berdiri melihat-lihat di toko makanan ringan. Pria itu memilih beberapa kerupuk dan cemilan-cemilan yang jumlahnya lumayan banyak.


“Untuk siapa?” tanya Tini.


“Untuk tetangga kamu di kos-kosan. Kita, kan, nggak ada beli apa-apa dari Surabaya. Jadi beli di sini aku rasa masih bisa disebut oleh-oleh,” jawab Wibi santai.


Tini tak ada mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya ikut ke mana Wibisono memintanya. Saat Wibi menggandengnya kembali ke parkiran mobil, Tini memperhatikan bagaimana sosok pria tenang di sebelahnya.


“Mas berapa hari di Jakarta?” tanya Tini, belum memalingkan pandangannya.


“Paling lama tiga hari. Aku juga banyak urusan yang harus diselesaikan,” jawab Wibi.


“Selama di Jakarta nginep di mana? Jangan lupa hubungi aku, ya.” Tini sudah kembali duduk di sebelah Wibi.


Wibi menoleh pada Tini. Mesin mobil sudah menyala dan mereka duduk berdampingan.


“Aku pasti hubungi kamu. Masa gitu aja aku harus diingetin.” Wibi mencondongkan tubuhnya. Menarik sabuk pengaman Tini dan memasangkannya ke sekeliling tubuh wanita itu.


“Makasi. Mas Wibi baik banget. Buat aku makin sungkan,” ucap Tini. Memang benar. Wibisono sangat baik sampai-sampai sering membuatnya rikuh. Dipertemukan dengan pria baik semakin membuat Tini takut salah bertindak.


“Kalau ngomong aku baik, aku boleh nanya sesuatu nggak?” tanya Wibi seraya melajukan mobilnya meninggalkan rest area.


“Mau nanya apa? Kalau mau tanya, ya tanya aja. Mas minta izin gitu malah bikin aku deg-degan,” sahut Tini.


“Hah? Mbak Tikus? Tikus? Siap—” Tini diam. Sesaat tadi dia bingung dengan siapa yang dimaksudkan Wibi. Setelah menyebut tikus dua kali, akhirnya dia ingat. Cuma ada satu orang yang menyebut Siti Kusmini begitu selain dirinya. Dayat.


“Iya. Namanya Siti Kusmini. Temenku. Yang pernah aku ceritakan tempo hari. Dia hamil sama mantan pacarku. Laki-laki itu banyak kerja sambilannya ternyata,” ujar Tini. Dasar Dayat, kesal Tini dalam hati. Biasanya pemuda itu bakal lancar bicara kalau disogok sesuatu. Tapi tak mungkin Wibisono menyuap Dayat. Pantas saja Wibisono menyinggung soal hewan peliharaan. Semua pasti ada hubungannya dengan cerita soal Puput generasi pertama.


“Jangan mikir macem-macem, ya. Aku cuma nanya aja. Kamu nggak ada mau nanya apa-apa ke aku?” Wibi meraih tangan Tini dan menggenggamnya.


“Enggak, Mas. Buatku apa yang Mas Wibi lakukan sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan siapa Mas Wibi. Aku nggak mau tau yang lain. Karena kalau aku tanya, aku khawatir nggak tahan denger jawabannya. Karena masa laluku cuma bisa diambil sebagai pelajaran, aku nggak mau ngorek-ngorek masa lalu orang.” Tini menatap tangannya yang berada dalam genggaman Wibisono.


“Untuk spesifiknya aku nggak usah cerita. Tapi waktu ngobrol di kos-kosan kamu, aku pernah ngomong sekilas kalau aku gagal mempersunting pacarku karena dia dijodohkan oleh orang tuanya. Padahal, kami pacaran sudah enam tahun. Waktu itu aku umur 28 tahun. Dan waktu kami pisah, usiaku 34 tahun. Jadi udah dua tahun sejak kejadian itu. Sekarang dia juga udah punya keluarga kecil. Aku memang belum ada ketemu, tapi cerita itu aku denger dari teman-teman.” Wibi meremaas tangan Tini seolah ingin menyadarkan Tini dari lamunan.


“Kenapa Mas Wibi nggak usaha meyakinkan orang tuanya? Maaf kalau lancang,” kata Tini.


“Mmmm, apa ya? Singkatnya, sih, aku mau dihargai sebagai seorang pria, Tin. Usahaku memang belum besar waktu itu. Tapi aku sudah berdiri sendiri tanpa bantuan orang tua. Keluargaku juga bukan keluarga kaya-raya. Kamu bisa liat gimana Bapak, Ibu dan Mbak Vita. Jadi aku mau hidup dengan wanita yang menghargai usahaku sebagai laki-laki. Juga keluarga istri yang menghargaiku. Aku mau dianggap mampu menafkahi keluargaku nantinya. Mertuaku jangan meragukan hal itu. Itu aja.” Wibisono tertawa kecil. “Aku tiba-tiba jadi serius banget, ya?”


Hampir saja Tini mengatakan kalau semakin Wibisono serius, pria itu malah terlihat semakin ganteng.


“Dua tahun belakangan menjomblo aja kalau gitu,” gumam Tini.


“Untuk hubungan serius nggak ada. Untuk sekedar jalan dan dekat, pasti ada. Agak aneh kalau aku ngomong nggak ada. Aku juga laki-laki normal seperti yang kamu tau,” ucap Wibi, kembali tertawa saat mengatakan itu.


“Kok, nggak ada yang jadi? Dua tahun lumayan lama,” ucap Tini.


“Karena banyak deketnya sama yang muda-muda banget. Ada yang baru selesai kuliah masih mau kerja. Ada yang masih suka nongkrong ke sana kemari. Aku udah capek. Aku mau cari istri, bukan mau pacaran berduaan ke sana kemari terus. Aku cari seorang wanita. Bukan gadis.”


Pembicaraan itu cukup membekas di hati Tini. Menenangka hatinya dan membuat sisa perjalanan itu terasa semakin singkat. Tini tidur memeluk jaket Wibi. Dan pria itu membangunkannya saat mereka sudah tiba di depan gang kos-kosan.


Hari Selasa pukul empat sore, Tini memutar kunci kamar kosnya. Tak ada satu pun orang terlihat di halaman itu. Pintu kamar Asti dan Boy tertutup rapat. Besar kemungkinan mereka belum pulang dari tempat kerja masing-masing. Sedangkan Mak Robin … tak ada suara sama sekali dan pintunya juga tertutup rapat. Kamar Dara juga tertutup.


“Aku rebahan dulu, ya. Capek,” kata Wibi, meletakkan belanjaan mereka dan langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang Tini. “Yang lain pada ke mana? Kok, sepi?”


“Semua belum pulang dari rutinitasnya. Kecuali Mak Robin. Mungkin suaminya dateng. Jadi mereka jalan-jalan,” jawab Tini, mulai berjongkok membongkar tasnya.


“Tin … kalau udah nikah. Kamu masih kerja?” tanya Wibi, memeluk guling dan berbaring menghadap Tini yang sedang berjongkok di depan tas pakaian.


To Be Continued