TINI SUKETI

TINI SUKETI
66. Menyerap Ilmu



Tini sedang menoleh ruang meeting yang baru saja dimasukinya. Mencari tempat paling strategis di mana ia bisa duduk. Ia berpikir untuk mengambil posisi sejauh mungkin dari Dean.


“Kamu dateng lebih awal. Nilai tambah,” ucap Dean, menarik sebuah kursi dan duduk di tengah meja. “Kamu lagi milih kursi yang paling jauh dari saya? Prinsipnya, tenaga pengajar akan meminta seseorang yg duduknya paling jauh untuk menjawab pertanyaan. Untuk mengetes apa pelajaran yang disampaikannya berhasil dicerna dengan baik atau tidak. Yang duduk paling depan selalu dianggap paling menaruh perhatian. Padahal belum tentu,” jelas Dean.


Tini langsung menarik sebuah kursi yang terletak di sisi kanan Dean. Ruang meeting itu memiliki kapasitas hingga 15 orang. Meja-meja diatur berkeliling membentuk huruf U dengan sebuah meja yang terletak di sisi kanan layar proyektor besar. Tini duduk berjarak tak sampai dua meter dari Dean.


“Suketi, kamu satu-satunya lulusan SMA yang datang hari ini,” ucap Dean dengan kedua tangan yang menaut di atas meja.


Jika sebelumnya Tini beranggapan kalau Agus adalah atasan yang paling menyebalkan, ternyata ia salah. Agus sepertinya belum ada seujung kuku pria di depannya dalam soal mengintimidasi.


“Saya nggak tau mau ngomong apa kalau Bapak ngomong seperti itu,” sahut Tini, melirik ke pergelangan tangan kirinya untuk melihat jam. Ke mana semua para calon karyawan yang diminta hadir hari itu? Berapa lama lagi ia harus terjebak dengan pria dingin di depannya?


"Kamu nggak perlu ngomong apa-apa. Cukup dengar saya. Saya meminta HRD menerima pegawai dari berbagai tingkatan untuk membentuk tim marketing baru. Cahaya Mas melakukan perluasan usaha, itu sebabnya kita perlu orang-orang baru yang lebih enerjik. Marketing bisa dikuasai siapa saja. Yang penting gigih. Beda dengan misalnya tenaga … teknik perminyakan. Saya nggak mungkin merekrut orang yang tidak sesuai bidangnya. Sampai di sini, mengerti maksud saya?” Dean memandang Tini dengan raut sangat serius.


Tini mengangguk mantap. Kali ini ia yakin sangat mengerti akan penjelasan sederhana pria itu padanya. “Mengerti, Pak. Penjelasan Bapak sangat sederhana. Mudah dimengerti.”


“Itu karena saya menyesuaikan siapa audiens saya,” sahut Dean.


Tini menelengkan kepalanya. Berpikir dan mencerna maksud ucapan pria di depannya barusan.


“Saya bukan atasan yang nanti akan kamu hadapi setiap harinya. Saya cuma mengisi masa training ini selama seminggu, seminggu itu hanya lima hari di kantor ini. Saya mau kamu bisa menjadi sosok berbeda nantinya. Sikap dan sifat adalah dua hal berbeda. Semua manusia pasti memiliki sifat jelek, yang membedakan adalah sikap kita. Saya mau semua tim marketing mencerminkan bagaimana sikap seorang pegawai perusahaan profesional yang seharusnya. Kamu tau satu hal?” Dean mencondongkan tubuhnya ke depan.


Apa? Apa? Apa satu hal itu? Bagaimana ia bisa tahu satu hal sedangkan ia tidak tahu banyak hal?


Tini menggeleng.


“Ketika seorang pegawai tidak berlaku baik di luar sana, yang menerima cemoohan pertama kali adalah pimpinan perusahaan. Kenapa? Karena seorang pimpinan perusahaan bukan hanya pemimpin, tapi juga wajah dari perusahaan itu sendiri. Sederhananya, jika seorang anak bertingkah tidak baik, siapa yang paling disalahkan? Saya kira, ibunya. Dulu ibu saya sering disalahkan—”


“Berarti Bapak sering berbuat salah,” potong Tini.


“Adam saja berbuat kesalahan, makanya diturunkan ke bumi. Apalagi saya yang cuma manusia biasa. Tapi bukan ke sana fokusnya.” Dean merapatkan mulutnya.


“Oh, baik.” Tini mengangguk.


“Baik, saya teruskan. Hal yang baru saya katakan tadi membentuk satu rantai. Jika sikap seorang istri tidak baik di luar, siapa yang disalahkan? Suaminya. Kalau seorang wanita tidak bersuami, siapa yang disalahkan? Orang tuanya. Tapi kemudian muncul pertanyaan, bukannya manusia dewasa itu punya pikiran dan bisa mengambil keputusannya sendiri? Berangkat dari sini, seorang manusia pasti belajar dan bertumbuh. Meski seorang wanita dewasa belum menikah dan dia bisa dengan mudah mengambil keputusan sendiri, manusia dewasa yang sesungguhnya, pasti bisa menjadikan keluarga dan sekitarnya menjadi bahan pertimbangan. Saya yakin kalau kamu duduk di belakang sana saat saya menjelaskan hal ini, bisa-bisa kamu tertidur.” Dean menyandarkan punggungnya di kursi dan menyilangkan tangan di dada.


Tini langsung menegakkan duduknya.


“Saya mau tanya, Pak ….”


“Silakan—silakan. Bagus kalau kamu mau bertanya,” jawab Dean dengan antusias.


“Sebenarnya calon tim marketing yang baru hadirnya jam berapa kalau boleh tau?” tanya Tini sehalus mungkin. Ia mulai merasa gelisah berduaan dengan pria itu sambil diceramahi. Rasanya ia kembali ke belasan tahun yang lalu saat menunduk di ruang BK mendengar omelan gurunya.


“Sudah cemas kamu?” tanya Dean. “Mereka semua diminta datang pukul 10.00 pagi,” jawab Dean.


“Kenapa saya sendirian yang diminta datang pukul sembilan?” tanya Tini seketika mengangkat sikunya dari atas meja dan bersandar ke kursinya.


“Pak Wimar. Pak Wimar yang meminta saya untuk memanggil kamu lebih dulu dan memberi obrolan singkat.”


“Apa karena saya—”


“Stop!” Dean mengibas tangannya. “Saya sudah bisa tebak kamu mau ngomong apa? ‘apa karena saya sendiri yang lulusan SMA, makanya saya harus belajar lebih lama satu jam dibanding yang lain?’ pasti begitu. Otak kamu sedang menilai sisi negatif. Mudah, ya?” Dean mengangkat alisnya memandang Tini.


“Maksudnya, Pak?” Tini kembali memajukan letak duduknya lebih ke depan.


“Maksud saya, lebih mudah mengira hal-hal negatif terhadap suatu hal. Manusia jarang yang berpikir positif lebih dulu. Padahal bisa saja kamu berpikir, bahwa kamu yang paling istimewa. Dipanggil untuk bekerja di sini padahal kamu sendiri yang lulusan SMA. Lalu atasan kamu memberikan pelatihan yang lebih intensif untuk kamu. Begitu? Tapi kamu memilih untuk tidak berpikir dari sudut pandang itu. Kamu tenggelam dalam pikiran yang sudah kamu bentuk bertahun-tahun. Saya harap seminggu ke depan, kamu jadi sosok yang lebih positif.” Dean menarik senyum tipis yang sangat samar-samar.


“Tapi saya memang minder, Pak. Saya cuma lulusan SMA. Saya pasti ketinggalan banyak hal dibanding yang lulusan sarjana.” Kali ini wajah Tini sangat serius. Walau sekarang di hatinya muncul sebersit kebanggaan, karena Pak Wimar yang langsung merekrutnya.


Dean menarik napas panjang. “Bagus kalo kamu masih ada perasaan minder, ketimbang terlalu percaya diri. Tapi perasaan minder itu, sebaiknya jangan ditunjukkan, karena orang bisa melihatnya sebagai kelemahan kamu. Arahkan perasaan minder menjadi sesuatu yang lebih positif. Belajar lebih giat lagi, gimana?” Dean menunggu jawaban Tini dengan mengatupkan mulutnya.


Tini menunduk memandang tangannya yang saling menaut di atas meja. Entah kenapa perbincangan itu membawanya pada satu pemikiran. Ia butuh pandangan dan saran dari seseorang yang berpengalaman. Ia lalu melirik jam-nya. Masih ada kurang lebih setengah jam lagi sebelum calon pegawai lainnya datang.


“Pak ... kali ini saya mau benar-benar bertanya. Selama ini belum ada orang yang bisa memberi pencerahan ke saya. Siapa tau dengan pendidikan dan jam terbang Bapak yang sudah tinggi, Bapak bisa memberi gambaran jelas.” Tini tersenyum anggun saat mengatakan itu. Mengeluarkan pujian tidak akan merugikannya, dan lawan bicaranya pasti lebih semangat menjawab pertanyaannya.


“Oh, tentu aja kalo itu. Kamu mau minta pendapat soal apa, Suketi?” tanya Dean.


“Saya mau tau, apa yang dinilai oleh seorang laki-laki ketika memutuskan untuk menikahi seorang wanita?”


To Be Continued