
Tini tiba di kantor tepat waktu. Wajahnya lesu seperti tak makan berhari-hari. Moodnya sedang tak baik, dan ia memilih menunda briefing yang biasa dilakukannya bersama tim.
“Mbak Tini sakit?” tanya Dwi saat menghampiri meja Tini.
Tini membaringkan kepalanya di meja hanya mengangkat tangan dan melambai. Ia bahkan tak ada menoleh kepada Dwi. Anggota timnya itu menyerah dan pergi dari mejanya.
“Mbak, aku keluar mau prospek calon nasabah. Kayaknya sampe sore,” tukas Bowo selanjutnya. Tini kembali mengangkat tangannya mengusir Bowo.
“Makasih, Mbak!” Bowo kegirangan. Biasanya ia memang sering berlama-lama di luar mencuri waktu jam kerja.
BRAKK
Tini memukul meja dengan seperempat kekuatan normalnya. “Tapi jangan mail kamu!” Tini mengingatkan, tanpa menoleh pada Bowo.
“Itu mail,” ujar Bowo, menunjuk Mail yang masih duduk di kursinya. Tini masih membaringkan kepalanya di meja.
“Itu surat. Mail itu main ilmu. Jangan main ilmu licik di luar. Awas kamu,” ancam Tini, masih tanpa menoleh.
“Baik, Mbak.” Bowo pamit dari depan meja Tini.
Baru saja Bowo keluar, Mail ikut berdiri dari kursinya menghampiri Tini.
“Kamu mau apa, Surat? Jangan lupa tutup pintu,” pinta Tini tanpa menoleh.
“Padahal aku belum ngomong apa-apa,” gumam Mail.
Tini hanya membaringkan kepalanya di atas meja. Belum beranjak sedikit pun dari posisi itu sejak pagi. Ia hanya berkali-kali meminum air hangat sampai perutnya kembung.
“Mbak Tini, ayo makan. Ada resto baru buka. Sayang kuponnya kalo nggak dipake. Di seberang jalan aja,” ajak Dwi pada Tini.
“Aku nggak selera makan,” ucap Tini, mengangkat wajahnya memandang Dwi.
“Mbak Tini kenapa, sih?” tanya Dwi.
“Hidupku sedang krisis. Aku ngambang kayak nggak jejak ke bumi. Tubuhku ini rasanya kayak diombang-ambing,” ujar Tini.
“Kok bisa gitu? Ya, udah. Ayo, makan. Biar seger,” cetus Dwi.
Tini bangkit dari kursinya. Menyeret langkah dalam gandengan tangan Dwi menuju keluar kantor. Di depan meja satpam, langkah Tini yang terseok-seok, terhenti karena seruan seorang wanita.
“Mbak, mau tanya. Pak Agusnya masuk hari ini?” tanya wanita itu.
Tini dan Dwi saling pandang. Tini bahkan tak tahu apakah atasannya itu ada atau tidak di kantor. Ia sedang sibuk tenggelam dengan kesedihan perpisahannya dengan rokok. Tini memandang Dwi, dan gadis itu menggeleng.
“Enggak tau. Kayaknya nggak ada. Soalnya nggak ada yang manggil kita bolak-balik ke ruangan,” jawab Dwi.
Tini melirik meja satpam yang kosong. Kalau sedang dibutuhkan, pasti tak ada. Kalau tak dibutuhkan mereka sering hilir mudik di depan mejanya.
“Mbak siapa?” tanya Tini dengan tatapan penuh selidik. Harusnya kalau wanita itu mengenal Agus secara dekat, pasti tak perlu repot-repot bertanya pada mereka. Wanita itu pasti dengan mudah menghubungi Agus dan membuat janji langsung.
Memberikan nomor ponsel seseorang tanpa izin bukanlah hal yang sopan. Terlebih Tini tidak mengetahui siapa dan apa keperluan wanita itu mencari Agus. “Mbak siapa namanya? Kalau boleh tau?” tanya Tini dengan wajah serius dalam mode profesional yang sedang dipasangnya.
“Saya Mira ….”
Jedeeer ….
Bagaikan petir di siang hari.
Bagaikan layang putus tali benangnya.
Bagaikan langit … tertutup awan.
Lagu dangdut itu seketika terngiang-ngiang di telinga Tini. Segera ia tersadar soal siapa wanita di depannya. Wanita cantik berusia tiga puluhan. Tampilannya seperti wanita kantoran. Itu adalah mantan pacar Agus yang disebut-sebut Heru tempo hari.
Ada apa wanita itu sampai berani mencari Agus ke kantor itu? Apa Agus menghindar? Apa memang belum memiliki nomor ponselnya?
“Saya tadi kebetulan lewat di sini,” ucap Mira. “Saya baru inget kalo kantor Agus di sekitar sini,” sambung wanita itu lagi.
Tini hampir mendengus.
Hilih … hilih … babak sandiwara usang mana yang kamu mainkan, Mbak? Aku udah hapal tiap adegannya. Habis ini kamu pasti nanya ‘Kalo Pak Agus keluar, balik ke kantor jam berapa?’.
Tini tersenyum. “Oh, begitu …,” ucap Tini. “Tergantung, Mbak,” sambung Tini.
“Hah? Maksudnya?” Mira sedikit membulatkan matanya. “Eh, iya. Kalo Pak Agus keluar, biasa balik ke kantor jam berapa ya?”
“Itu udah saya jawab. Tergantung, Mbak,” ulang Tini lagi.
Mira melontarkan tatapan curiga pada Tini. “Kamu pacarnya, ya? Atau Agus udah berkeluarga? Aku denger kata-katanya belum,” ucap Mira.
Tini menyipitkan matanya.
Perempuan edan. Denger belum berkeluarga langsung disosor ke sini. Apa wanita ini yang bikin si Agus nggak mau nikah dan hampir membuat anunya jadi prasasti?
Seorang wanita muda yang usianya di awal dua puluhan datang mendekati meja satpam. Gadis itu menggenggam sebuah amplop cokelat besar yang dikenali Tini sebagai lamaran pekerjaan. Wajahnya manis, dan kulitnya putih. Dengan rambut lurus dan diikat rapi di belakang kepala, tampilan gadis itu tampak sederhana, tapi berkesan manis. Sepertinya lulusan baru dari sebuah universitas yang sedang mencari pekerjaan.
“Permisi Mbak—”
“Kok lama banget, Mbak? Udah ditungguin, lho, dari tadi.” Tini berbicara pada wanita muda yang memegang amplop. Beberapa saat Tini mengabaikan Mira yang menunggu jawabannya.
Wanita itu terlihat bingung memandang Tini. Setengah tak yakin mau menyodorkan amplop cokelat yang berada di tangannya.
“Dwi, bawa Mbak-nya ke dalem. Tadi, kan, udah dititipin ke kita. Ayo, sana.” Tini menggerakkan dagunya meminta Dwi membawa pelamar baru itu masuk ke dalam kantor.
To Be Continued
Dibagi dua, jangan lupa dilike bab yang ini ya ebooo-ebooo .... Yang gak lupa like semoga selalu dilimpahi kehangatan setiap paginya.