
Sesuai dengan janji sebelumnya mereka semua akan makan siang bersama untuk merayakan kelulusan Evi. Sebuah restoran yang menyajikan makanan laut menjadi pilihan mereka.
Tempat makan yang terdiri dari pondok-pondok itu ternyata cukup padat. Terlihat beberapa keluarga yang juga datang dengan salah seorangnya memakai kebaya. Ternyata, rencana mereka juga sama dengan sebagian orang. Merayakan kelulusan dengan makan siang bersama keluarga.
“Aku udah selesai kuliah, Yat. Tinggal kamu. Jadi masuk universitas di Jakarta?” tanya Evi pada Dayat.
“Jadi, kalau ada uangnya. Aku juga nggak mau jadi beban,” kata Dayat.
“Kenapa baru ngomong sekarang? Kan udah dari dulu,” sahut Tini, tersenyum jahil bermaksud membalas Dayat.
“Yah, gimana. Anak sekarang itu serba salah. Bergerak mencurigakan, diam jadi beban,” jawab Dayat.
“Alesanmu,” kata Evi. “Kalau di Jakarta kamu tinggal di mana? Ngekos juga?” tanya Evi.
“Kos aja,” jawab Dayat.
“Jangan. Di rumah ada banyak kamar kosong. Di lantai satu ada. Di lantai dua ada satu kamar,” jelas Wibi.
“Sebaiknya aku kos aja, Mas. Aku mau mandiri. Karena kehidupan lelaki dewasa itu sesungguhnya udah dimulai sejak bangku kuliah.” Dayat tersenyum bijaksana memandang Tini dan Wibi bergantian.
“Apa yang sedang kamu rencanakan?” tanya Tini, melirik Dayat penuh kecurigaan.
“Ya, biar kalau kelayapan nggak dicariin. Mau pulang jam berapa aja, bebas,” celetuk Evi.
“Namanya juga pria single,” kata Dayat.
“Pria—pria, kamu kira hidup nggak ada yang nyariin itu enak? Mau latihan dulu selama sebulan?” Tini sudah menggenggam sendok di tangannya. “Pak, Vi, enggak usah cari Dayat selama sebulan. Abaikan aja. Mau pulang nggak pulang, dianggap nggak ada di rumah. Kita coba selama satu bulan,” kata Tini.
“Ya, enggak gitu juga,” sungut Dayat.
“Keluarga masih ada yang peduli dan sayang, kok, kepinginnya bebas. Nanti itu ada masanya. Masih muda gini, kamu harusnya manfaatin waktu bisa ngobrol dengan orang tua dan keluarga. Nanti kalau kamu udah bener-bener kerja, mandiri sendiri, waktu juga makin sempit. Waktu ngobrol itu jadi terasa mahal. Kamu bakal kepingin lagi ngulang masa-masa bisa curhat gratis. Temenku di kantor, bayar psikolog mahal-mahal, hanya untuk didengerin. Makanya … kamu yang bisa dapet gratis, harusnya bersyukur.” Sebelum menikmati makan siang, tampaknya Dayat harus kenyang duluan mendengar ceramah Tini.
“Maksudnya bukan gitu … aku juga enggak enak kalau mesti ngerepotin Mbak Tini terus. Dari dulu aku ngerepotin aja,” kata Dayat, setengah cemberut.
“Aku juga nggak mau direpoti. Kalau kamu terasa ngerepotin aku, pasti aku bilang. Aku kakakmu. Kamu, kan, tau aku bukan tipe orang yang nahan-nahan perasaan. Enggak aku banget. Setidaknya kalau tinggal dengan kami, aku bisa mencegahmu supaya nggak kena penyakit tipes karena makan sembarangan.”
Wibi mengambil air putih dan menyodorkannya pada Tini. “Ya, udah. Gitu aja, Yat. Mbakmu juga pasti tau yang baik karena udah menjalani duluan hidup di kota besar itu seperti apa,” sambung Wibi.
“Iya—iya, Mas.” Dayat menoleh pada bapaknya yang sejak tadi menunduk. “Bapak, kok, nunduk aja? Ikutan sedih karena bakal tinggal sendiri di rumah? Dayat juga sebenarnya nggak enak hati ninggalin Bapak.”
Pak Joko tetap asyik menunduk.
“Pak,” panggil Dayat.
“Pak.” Tini ikut memanggil.
“Bapak lagi ngapain?” tanya Dayat, ikut menunduk melihat hal apa yang sejak tadi dilakukan bapaknya.
“Oh, ini ….” Pak Joko menunjukkan ponselnya pada Dayat. “Grup chatting perkumpulan pemilik ayam jago. Baru dibentuk dan Bapak diangkat jadi ketuanya. Rencananya, kalau kamu berangkat ke Jakarta nanti, rumah kita mau Bapak jadikan kantor sekretariatnya. Gimana? Bagus, kan? Bapak juga jadi ada kegiatan sekarang,” ujar Pak Joko berseri-seri.
Evi tergelak dan menepuk-nepuk punggung Dayat. “Bapak sedih banget kayaknya. Besok udah mulai bisa beres-beres baju, Yat.”
“Memanfaatkan waktu mumpung punya teman cerita yang gratis. Yang gratis kayak gini. Aku enggak apa-apa bayar,” sungut Dayat dengan wajah cemberutnya.
Tini ikut menepuk-nepuk punggung Dayat. “Cerita denganku olwes friii, enitaim, eniwer.” (always free, anytime, anywhere/ selalu gratis, kapan pun, di mana pun.)
***
Bulan berikutnya sudah masuk masa penerimaan mahasiswa baru. Dayat telah menyelesaikan segala urusan administrasinya ditemani oleh Wibi. Namun, pemuda itu belum tiba di Jakarta. Katanya, ia mau pamit berlama-lama dengan teman-temannya yang tersebar hampir di semua desa.
Tini sudah mengomeli adiknya karena hal itu. “Bukannya mau cepet ke sini biar bisa beres-beres barangnya. Kerjanya main terus. Pamitan dari seminggu yang lalu, kok, enggak udah-udah. Memangnya semua rumah dia datangi satu persatu? Dia mau pamit apa mau sensus? Ada-ada aja,” omel Tini di rumah.
“Udah. Biarin aja. Dia masih muda. Jangan terlalu sering diomeli. Kasian, Tin. Makin ke sini aku makin kagum sama Dayat,” kata Wibisono.
Tini yang sedang melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran, menoleh pada suaminya. “Kagum sama Dayat? Memangnya kenapa? Aku baru pertama kali denger ada laki-laki yang kagum sama Dayat. Biasanya cuma cewek-cewek Desa Cokro dan sekitarnya yang ngomong gitu,” ujar Tini.
“Aku kagum dengan cara Dayat bertahan di tengah gempuran kamu dan Evi.” Wibi menutup mulutnya dengan bantal usai mengatakan hal itu.
Tini mencampakkan pakaian yang sedang dilipatnya dan menerjang Wibi di atas ranjang. Berkali-kali tangannya mencoba meraih pinggang Wibi untuk dicubit, namun ia tak berhasil. Wibi lalu memegangi kedua tangannya dan mulai menciumi wajahnya.
“Jangan macem-macem. Aku lagi itu, Mas. Bayinya belum jadi. Aku sedih dan minta maaf, Mas,” kata Tini tiba-tiba dengan raut menyesal, seakan telah berbuat kesalahan.
Wibisono berhenti mencium dan menatap wajah Tini. Ia lalu menghela napas panjang dan merapikan rambut istrinya.
“Kamu sedih sedikit enggak apa-apa. Itu wajar. Tapi kenapa harus minta maaf? Kalau kamu mau kita periksa sama-sama ke dokter, aku mau. Senyamannya kamu aja, Tin. Jangan dijadikan beban. Bayinya malah sulit jadi kalau kamu stres,” hibur Wibi pada istrinya.
Tini tersenyum tipis dan mengangguk. “Aku udah minum vitamin, Mas. Aku takut ngecewain Mas Wibi,” jelas Tini.
“Kamu nggak boleh ngomong gitu. Gimana kalau aku yang ngecewain kamu nantinya? Mikirnya nggak usah macem-macem. Kita masih tergolong pengantin baru.” Wibi memeluk Tini dan mengusap-usap punggungnya.
Jreeeng Jreeeeng Jreeeeng
Terdengar suara petikan gitar di luar pagar. “Di Minggu siang ini, saya Bung Daaaayat, satria bergitar dari Desa Cokro akan menyanyikan satu lagu berjudul, Buu-jaaa-ngan!”
Jreeeeng Jreeeeng Jreeeeng
“Ya, ampun! Dayat itu Mas!” seru Tini. “Ada-ada aja kerjaannya,” sungut Tini, bangkit dari ranjang dan merapikan rambutnya.
To Be Continued