TINI SUKETI

TINI SUKETI
111. Kartu Undangan



“Tin … ada paket buat kau,” kata Mak Robin menyerahkan kotak besar dan berat pada Tini.


“Ini mungkin kartu undangan yang udah selesai dicetak,” ucap Tini, bangkit dari duduknya dan mengambil kotak dari tangan Mak Robin. “Aduh, berat banget ternyata. Kamu, kok, bisa ngangkatnya dengan satu tangan, Mak? Udah kayak Samson aja,” sambung Tini, meletakkan kotak itu di lantai.


“Ah, biasa aja. Udah biasa dengan beban hidup yang berat. Kalo kotak segitu aja, masih gelenglah (gampang). Dari bahan apa rupanya kartu undangan kau? Granite?” tanya Mak Robin dengan raut serius.


“Granite …,” sungut Tini. “Kamu kira bikin batu nisan?” Tini baru saja tiba di kos-kosan pukul tujuh malam. Ia meletakkan tas dan clear holder-nya di kursi plastik lain.


“Paketnya pake kardus air mineral. Apa jangan-jangan isinya memang air mineral?” Tini membuka kotak kardus yang bertuliskan air mineral sambil terkekeh-kekeh.


“Ikutan … ikutan,” seru Asti, Boy dan Dara bersamaan. Tiga orang itu baru muncul di dekat pagar.


Tini menoleh pada tiga orang yang sedang berjalan menuju ke teras. “Dari mana kalian?” tanya Tini.


“Kita semua baru pulang makan bakso,” jawab Asti.


“Wah, nggak ngajak-ngajak. Padahal aku laper,” kata Tini.


“Kamu belum pulang. Mak Robin tadi lagi pidato kenegaraan soal matematika sama Robin. Kita nggak mau ganggu. Jadi kita bungkusin aja,” ujar Boy, menyodorkan bungkusan plastik pada Tini. Ia lalu mengambil kursi plastik lain dan menyodorkannya pada Dara dan Asti.


“Tengkyu, Boy.” Tini nyengir. “Kalau gitu mari kita buka kardus air mineral ini.” Tini kembali melanjutkan merobek selotip kardus dengan antusias.


Saat kardus itu dibuka, di atasnya ada secarik kertas. Tini langsung meraihnya dan membaca tulisan di sana. Surat dari Dayat.


‘Taraaaa … ini kartu undangan sebesar nampan. Orang percetakan nanya soal ukurannya mau sebesar nampan apa. Setelah aku pertimbangkan, ternyata lebih wajar kalau sebesar nampan dua cangkir teh. Karena kalau sebesar nampan orang selametan, rasa-rasanya enggak praktis. Tamu di kampung, aku yang membereskan. Yang ini bagian Mbak Tini. Selamat menyebar undangan.’


PS. Undangan Coki dan Mbak Tikus aku dan Mbak Evi yang anter. Tunggu kejutan dari kami. Hihihi


“Dari siapa, Tin?” tanya Boy.


Tini menyerahkan kertas itu pada Boy. “Dari Dayat. Gayanya itu pake kejutan hihihi. Padahal sebentar lagi dua puluh tahun. Tapi rasa-rasanya Dayat ini nggak besar-besar buatku. Pecicilannya itu, lho,” kata Tini.


“Biasa, Tin. Buat orang tua juga gitu. Anaknya selalu nampak kayak anak-anak walau udah beruban,” kata Mak Robin.


Tini mengangkat segepok kartu undangan yang sudah berplastik sambil mengangguk membenarkan ucapan Mak Robin.


“Cantik nggak?” tanya Tini, membagikan kartu undangan seorang satu pada teman-temannya.


“Cantik, Mbak Tin,” sahut Asti, membalik-balik kartu undangan Tini di depan wajahnya.


“Ini buatku?” tanya Mak Robin.


Tini mengangguk. “Aku bagi punya kalian sekarang aja, ya. Liat tanggalnya itu tanggal cantik. Agar tiap tahun kalian selalu inget eniperseri (anniversary/peringatan tahunan) pernikahanku.”



“Kalau orang-orang dekat harusnya nggak perlu dibagiin kartu undangan. Biar menghemat,” kata Boy.


“Tinggal nerima aja kamu berisik, ya, Boy. Ambil, terus diem. Rugi banget rasanya nggak protes. Kartu undangan itu aku berikan agar tidak menggugurkan kewajiban ngamplop kalian,” cetus Tini.


“Eeeeh, si bagudung ini!” umpat Mak Robin, memukul lutut Tini.


“Apa arti bagudung? Aku belum pernah denger,” kata Tini.


“Tikus,” jawab Mak Robin.


“Ih, enak aja kamu bilang aku tikus. Udah ada yang pake julukan itu. Istri mantanku itu,” ucap Tini terkekeh.


“Ya, udah. Kau latteung aja kalo gitu,” kata Mak Robin ikut terkekeh.


“Memangnya itu apa?” Boy ikut-ikutan penasaran.


“Buah yang cantik, bulat dan enak dipandang mata,” jawab Mak Robin.


“Jadi kenapa dijadikan umpatan? Katanya cantik dan bulat? Memang bener, sih, aku cantik dan bulat.” Tini mengangguk-angguk.


“Karena buah itu enggak ada gunanya,” jawab Mak Robin santai.


“Enggak ada yang bener,” sergah Tini, memukul paha Mak Robin. “Aku ini cantik, bulat dan berguna. Yuspul (useful/berguna),” lanjut Tini.


“Itu apa, Mbak Tin?” Asti mengangkat clear holder dari tas Tini yang di sebelahnya.


“Aku berhasil beli lahan di kampungku. Itu kuitansinya," jawab Tini, memandang benda yang dipegang Asti dengan tatapan teduh.


“Serius, Tin?” Boy nyaris memekik.


“Paten kali kau,” kata Mak Robin.


“Jadi dibikin makam?” tanya Asti.


Lagi-lagi Tini mengangguk dramatis.


“Eh, serius, Mbak?” Dara yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. “Mbak Tini dapet uangnya susah. Bener-bener mau dibikin makam?” tanya Dara.


Lagi-lagi Tini mengangguk dramatis.


“Masih dendam kau sama si Coki itu?” tanya Mak Robin dengan raut sangat serius.


“Enggak banget, deh, Mak. Kenapa, ya, orang-orang selalu memandangku sebelah mata? Apa nggak capek? Mata itu diciptakan sepasang biar kita bisa ngeliat lebih luas dan lebih banyak. Desaku itu memang nggak ada TPU yang deket. Makam ibuku jauh, Mak. Aku bener-bener kepingin mindahin makam ibuku. Aku juga bakal siapin makam untuk bapakku di sebelahnya biar bapakku nggak ngadu ayam lagi.” Tini meringis.


“Mulia banget hati, Mbak Tini,” kata Asti.


“Mulia, As. Sayang bukan logam,” jawab Tini. “Jadi bagian yang tidak rata itu bakal aku serahkan buat dikelola jadi TPU. Aku mau minta pengacara panutannya Dayat buat bantu urus surat-suratnya.”


“Keren, Mbak Tini.” Dara kembali bersuara.


“Sebenarnya aku udah dari dulu kerennya. Tapi orang lebih tau soal genitnya aku,” sahut Tini terkikik-kikik.


“Makin sombong kurasa si Tini sejak kerja di tempat yang baru ini,” gumam Mak Robin dengan tatapan sebal.


***


Tiga minggu sebelum resepsi, Tini membawa paper bag berisi kartu undangan ke kantornya. Ia berencana akan mulai membagi-bagikan kartu undangan itu pada teman-temannya.


Tini beranggapan kalau tiga Minggu waktu yang tepat untuk memulai. Tidak terlalu cepat karena dia membagikan kartu itu sendirian. Ia masih harus berkeliling mengunjungi teman-temannya yang lain.


Hati yang bahagia, membuat Tini dengan mudah bersenandung di mana saja. Ia berada di depan lift saat tiba-tiba senandungnya terhenti. Seseorang yang muncul saat pintu lift terbuka, membuat Tini terdiam.


“Tini?” sapa seorang pria tampan.


“Jono? Eh, Mr. Omaar? How are you? (Apa kabar?),” sapa Tini, matanya membulat.


“Fine, I am fine (Baik-baik aja),” jawab Jono.


“Ngapain?” tanya Tini, menunjuk lift lalu menunjuk ke atas.


“Masa tugas saya di negara ini sudah selesai. Saya bakal kembali ke Dubai. Saya baru saja bertemu dengan sahabat saya di lantai dua untuk mengatakan soal itu. Kamu bekerja di gedung ini juga? Perusahaan apa?” tanya Jono.


Tini mengabaikan pertanyaan Jono. “Mau kembali ke Dubai? Enggak tinggal di Indonesia lagi?”


“Masa tugas di sini cuma dua tahun. Mungkin sementara saya kembali ke cabang di Dubai. Kamu punya waktu? Kita bisa minum kopi pagi di sudut sana.” Jono menunjuk café di sudut lantai satu.


Tini sebenarnya belum absen pagi. Tapi ia merasa tidak sopan meninggalkan Jono begitu saja setelah sekian lama tidak bertemu. Ia ingin berbasa-basi sebentar dengan pria itu.


Akhirnya Tini menyetujui ajakan Jono. Beberapa saat kemudian ia dan Jono sudah duduk berhadap-hadapan di sudut café.


“Itu apa?” tanya Jono menunjuk paper bag yang dipangku Tini.


Tini melongok ke dalam paper bag sejenak, lalu mengeluarkan sebuah kartu undangan.


“Ini, Pak ….” Tini menyodorkan sebuah undangan pada Jono. “Tiga Minggu lagi saya akan menikah. Ini undangan resmi dari saya. Kalau tidak bisa datang, tidak apa-apa," ucap Tini dengan nada sangat resmi. Rasanya tidak mungkin Jono sempat datang ke Desa Cokro yang sangat jauh dari Jakarta. Terlebih pria itu pasti sangat sibuk.


"Are you getting married? (Kamu akan menikah?)” tanya Jono dengan nada tak percaya.


Tini mengangguk.


“Kita baru tidak bertemu sebentar, tiba-tiba kamu akan menikah. What a surprise.” (Benar-benar kejutan)


“Kalau ada waktu—”


“I will come,” potong Jono. (Aku akan datang)


To Be Continued


Jus ... kok tanggal nikahannya Tini udah lewat?


Iya, Boebooo. Njuss mau tanggal cantik. Biar mudah ingetnya kalo mau eniperseri.