
Sudah dari seminggu yang lalu, Tini membuat janji dengan Asti untuk datang ke kantor The Term mengantarkan kartu undangan langsung buat Heru dan Bara. Tentu saja berita itu juga sudah ia sampaikan pada Dijah. Sahabatnya itu setiap hari tak bosan bertanya segala macam kesiapan resepsi yang akan berlangsung kurang lebih dua minggu lagi.
Pukul tiga sore, kantor The Term terlihat sepi. Kendaraan yang terparkir hanya sedikit. Maklum, kantor berita memang karyawannya lebih banyak wartawan yang mengharuskan lebih banyak berada di luar ruangan. Hanya ibu-ibu yang mampu menghimpun berita meski hanya duduk manis di dalam rumah.
“As, aku udah di luar,” ucap Tini melalui ponselnya. “Jemput aja keluar. Biar aku keliatan mahal dan elegan. Kalau langsung masuk keliatan kayak sales alat pijat—iya … aku memang pernah jadi sales juga. Sekarang mau jemput Mbakyu-mu nggak?” Tini masih berdiri membelakangi pintu masuk.
“Mau …,” sahut Asti tertawa merangkul Tini dari belakang. Tini yang sedikit terkejut langsung menepuk paha Asti yang menggelayutinya.
“Enggak ada bawa cemilan?” tanya Asti, melepaskan pelukannya kemudian membuka-buka paper bag yang dipegang Tini.
“Tadi nggak ngomong,” ujar Tini.
“Ayo, masuk. Di dalem ada paket komplit sepupuan ganteng idola wanita seisi bangunan ini. Mau ketemu yang mana duluan? Atau mau ketemu barengan? Biar aku bilang ke Mas Bara. Dia lagi di meja anak desain.” Asti merangkul Tini masuk ke dalam kantor.
“Ketemu satu-satu aja, As. Aku khawatir dengan tatapan Bara. Dia itu nggak ngomong tapi malah bikin nggak konsen,” tutur Tini.
“Masih salting depan Mas Heru, ya?” seloroh Asti.
“Bukan gitu,” cetus Tini seraya kembali memukul lengan Asti yang merangkulnya. “Nanti kalau Bara ngeliatin mukaku, aku jadi nggak bisa serius. Pas ngomong bener terus tiba-tiba ketawa karena liat muka Bara, kan aneh.”
“Enggak aneh, sih, kalo Mbak Tini. Semua yang Mbak Tini lakukan udah nggak aneh lagi buatku, eh, buat kami semua maksudnya.”
“Bayu juga lagi di kantor?” bisik Tini saat tiba di meja kerja Asti. Tatapannya mengarah pada meja di mana Bayu sedang serius di depan komputer.
“Keliatan serius, kan?” tanya Asti, menoleh kekasihnya.
“Iya. Serius banget. Lagi banyak kerjaan, ya? Memangnya ada berita apa? Eh, Bayu sekarang bagian berita ekonomi, kan? Yang ngisi kolom harga pangan? Enggak usah repot-repot survei harga ke pasar. Telepon Mak Robin aja. Dia tiap hari belanja,” saran Tini sembari terkikik.
“Jangan. Kasian Mas Bayu. Nanti ngasi infonya sepuluh menit, ngeluh soal kenaikan harga bisa setengah jam. Masa kamu nggak inget waktu Mak Robin nelfon PLN 123 nanya pemadaman bergilir. Sampe hampir satu jam karena dia wanti-wanti jadwal pemadaman jangan malem-malem pas hari sekolah. Si Robin matanya bisa rabun kalo belajar gelap-gelapan.” Asti terkikik-kikik karena mengingat kejadian lucu itu.
“Enggak usah heran. Kalau punya nomor telfon Menteri Pendidikan, mungkin Mak Robin bakal nelfon minta matematika dihapuskan dari kurikulum karena kepalanya pening tiap ngajarin Robin.”
Tini dan Asti tertawa tertahan saat menggunjingkan tetangga. Mereka berdua sudah duduk bersisian menghadap komputer di meja kerja Asti. Tini meletakkan paper bag-nya di bawah meja dan mengambil dua kartu undangan. Sesaat kemudian keduanya terdiam.
“Sebentar lagi nggak bisa ketemu Mbak Tini tiap hari. Malem-malem kos-kosan pasti makin sepi. Tapi aku happy, Mbak. Hidup memang pasti berubah. Dan syukurnya, perubahan itu ke sesuatu yang lebih baik.” Sekali lagi Asti melingkarkan kedua tangannya memeluk bahu Tini. Beberapa saat mereka diam dan Asti membuat pelukan itu berayun-ayun.
“Aku nggak diajakin berpelukan?” Suara seorang pria tiba-tiba muncul di dekat mereka.
Tini baru saja mengeluarkan air matanya setetes, tapi Heru malah datang membuyarkan momen itu.
“Mas Heru,” ucap Tini seketika berdiri dari duduknya. “Orangnya udah nyampe ke sini. Tadi aku mau ke ruangan.” Sebelum Tini sempat menghampiri Heru ke ruangannya, ternyata pria itu baru saja keluar ruangan.
“Oh, ya? Ada perlu apa? Duduk aja, Mbak Tini. Aku juga duduk di sini. Boleh, As?” tanya Heru memandang Asti.
“Ya, boleh,” sahut Asti tertawa.
“Mau ngasi ini, Mas.” Tini menyodorkan satu kartu undangan ke tangan Heru.
“Surprise banget ini,” ucap Heru santai. Pria itu langsung membuka kartu undangan dan membacanya dengan seksama. “Ternyata dengan Wibi. Lebih surprise lagi. Surprise karena nggak pernah keliatan bareng selama ini.” Heru memandang Tini dan tersenyum.
“Disempatkan dateng dengan keluarga, ya, Mas ….” Tini membalas senyuman Heru.
“Gagahnya cari perumpamaan yang lain aja,” sahut Tini.
Heru tergelak sejenak, lalu diam dan menghela napas. “Akhirnya …. Aku ikut bahagia untuk Wibi. Bahagia untuk Mbak Tini juga,” ucap Heru, mengalihkan tatapannya dari kartu undangan kembali ke Tini di seberangnya.
“Astaga …. Udah lama dateng? Enggak nyapa aku. Aku didiemin aja. Sombongnya … yang mau jadi pengantin.” Bara mendekat dengan gulungan kertas di tangannya.
“Nah, ini orangnya dateng. Kasi langsung aja,” kata Asti yang sejak tadi diam. Asti mencolek paha Tini dan menunjuk Bara dengan dagunya.
“Bukannya sombong. Aku nggak mau ganggu Mas Bara lagi sibuk sama anak-anak magang itu,” goda Tini, melirik wanita-wanita muda yang memakai seragam hitam-putih.
“Jangan jadi wartawan di kantor wartawan, Budhe.” Bara menggulung kertas di tangannya seakan bakal memukul Tini memakai itu. Tini malah tertawa karena melihat Bara yang langsung senewen karena ucapannya.
“Bara udah tau soal ini lebih dulu, ya? Aku ngukur bikin seragam pesta Mbak Tini, sambil nebak-nebak terus siapa calonnya. Akhirnya terjawab,” ujar Heru.
“Akhirnya terjawab, jadi bisa menyesuaikan kadonya, ya, Mas.” Tini bercanda dan langsung melihat wajah Bara.
“Jangan pandangi aku kaya gitu, Budhe. Seragam untuk ke pesta Budhe Tini pokoknya udah ready. Mima juga pakai seragam.” Bara berdiri di sebelah Heru dengan kartu undangan di tangannya. Pria itu tak membaca undangan itu lagi. Baginya sama saja. Yang penting ia sudah diundang dan undangan itu harus dibuka oleh Dijah lebih dulu. Itu pesan Dijah dari rumah.
Tini berdiri dari kursinya. “Baiklah. Semua orang-orang hebat udah aku temui dan kubagiin kartu undangan. Tersisa dua kartu undangan yang juga penting. Aku pamit dulu mau langsung ke sana.”
“Ke mana? Buru-buru banget. Jarang-jarang Budhe Tini main ke sini,” ujar Bara.
“Ke kantor advokat di dekat SCBD,” jawab Tini.
“Oh, itu deket tempat makan yang pernah kita datengin. Masih inget?" tanya Heru pada adik sepupunya.
“Oh, iya. Beer Garden. Tempat bapak-bapak ngumpul tiap pulang kerja. Kecuali aku,” kata Bara.
“Karena nggak ada yang ngajakin. Coba ada temen yang ngajakin. Pasti jadinya sering,” cetus Heru, mencibir. Bara tertawa terbahak-bahak mengalungkan lengannya di leher Heru.
Tini berhasil keluar dari kantor The Term setelah menolak ajakan Asti untuk bersantai sejenak di kantornya. Tini sungkan karena semua orang di kantor itu terlihat sibuk. Tak mungkin ia dan Asti duduk berhaha-hihi di depan direkturnya.
Tini sudah menghubungi Santoso sebelum mendatangi Danawira's Law Firm. Pria itu mengatakan kalau sang pemilik kantor masih berada di ruangannya.
“Permisi, Pak. Saya mau bertemu dengan Bapak Dean Danawira. Kata security, saya diminta tanya ke Bapak lebih dulu,” ucap Tini.
Pria di depan Tini menoleh jam tangannya sekilas. “Dengan Mbak siapa?” tanyanya.
“Saya Tini … Eh, bilang aja Suketi.” Tini spontan mengatakan hal itu karena mengingat Dean yang tak pernah memanggilnya dengan nama depan.
“Sebentar,” ucap pria itu mengangkat telepon ekstensi. “Pak De, ada tamu. Mbak Suketi namanya. Panggil Santoso? Oke—oke,” jawab pria itu lalu meletakkan telepon.
“Silakan masuk, Mbak.”
Tini mengangguk dengan senyuman.
Tok Tok Tok
To Be Continued