TINI SUKETI

TINI SUKETI
49. Tini Baik-baik Saja



Tini memang memutuskan untuk menunggu Pak Wimar ketimbang pergi makan siang. Sudah tanggung, pikirnya. Meninggalkan tempat itu malah bisa membuat ia semakin sulit membuat janji dengan pengusaha sibuk itu.


Perutnya sudah mulai mengeluh. Kakinya juga pegal karena sejak tadi ke sana kemari membantu para orang tua yang kesulitan menemukan petunjuk gedung. Tini tak heran kalau orang-orang sering salah mengenalinya. Di suatu resepsi, Bahu Tini pernah ditepuk oleh seorang wanita yang mengatakan, “Orang catering ya? Piringnya habis.”


Atau saat dia berada di supermarket, seseorang sering bertanya letak rak suatu barang. Tini sudah terbiasa. Sudah hampir sejam ia sibuk mengurusi orang lain, dan kini ia menunduk memandang sepasang sepatunya yang sepertinya sudah layak diganti.


Tiba-tiba sapaan seorang pria mengalihkan pandangannya. Pak Wimar baru saja tiba usai dari makan siang di luar.


“Sudah lama, Mbak?” tanya pria paruh baya itu.


“Belum, Pak. Bertepatan jam makan siang, jadi nanggung kalau mau balik ke kantor,” sahut Tini berusaha mengimbangi langkah kaki pengusaha itu.


“Mau menawarkan asuransi jiwa ke saya, ya?” tanya Pak Wimar.


“Cuma menawarkan seperti janji saya kemarin. Bapak bisa lihat dulu ilustrasi yang saya buatkan. Kalau memang cocok, Bapak bisa hubungi saya.” Tini menoleh sekilas pada Pak Wimar.


Mereka telah tiba di lantai tujuan. Dan langkah Pak Wimar langsung menyusuri lorong yang kanan kirinya dipenuhi deretan meja pegawai.


“Duduk dulu, Mbak,” pinta Pak Wimar menunjuk seperangkat sofa kulit berwarna cokelat. “Reza, tolong suguhi Mbak Tini minuman dan cemilan. Saya mau ngobrol sedikit dengan Mbak Tini,” ucap Pak Wimar pada sekretarisnya.


“Enggak usah repot-repot, Pak. Penjelasan soal asuransi yang saya tawarkan sudah tertera semuanya di sini.” Tini mengeluarkan lembaran kertas yang dijepit dari sebuah map dan meletakkannya ke atas meja.


Pak Wimar mengambil kertas itu dan melihatnya sekilas. “Sudah lama kerja sebagai agen asuransi?” tanya Pak Wimar.


“Lumayan lama, Pak. Agen asuransi ini pekerjaan kantoran saya yang pertama. Saya cuma lulusan SMA,” jawab Tini.


“Saya juga dulu awalnya cuma perusahaan kecil. Semua hal besar, berasal dari yang kecil. Saya hari ini memang agak sibuk. Perusahaan saya awalnya juga kecil, tapi kakak kelas saya datang menawarkan akuisisi yang menguntungkan. Saya suka Mbak Tini yang gigih. Dari jauh tadi saya lihat Mbak Tini telaten jawab pertanyaan orang-orang. Saya bisa minta kartu namanya?” Saat Pak Wimar mengatakan itu, asistennya yang bernama Reza datang dengan sebuah nampan berisi dua cangkir teh dan dua piring cake disertai sendok kecil.


Reza meletakkan nampan dan mengatur letaknya di meja. Tini mengamati bagaimana Reza mengatur isi meja seraya merogoh isi tasnya mengeluarkan kartu nama.


“Ini kartu nama saya, Pak.” Tini mengangsurkan selembar kartu nama dengan kedua tangannya.


“Baik, saya simpan, ya. Silakan diminum dulu Mbak Tini. Ilustrasi asuransi ini akan saya pelajari dulu. Maaf kalau saya agak buru-buru. Silakan diminum dan dinikmati cemilannya. Saya permisi dulu, boleh?” Pak Wimar tertawa.


Tak disangka kedua orang penting yang ditemuinya tak seorang pun memberikan titik terang soal hasil hari itu. Tini kembali ke kantornya dengan wajah lesu.


Baru mendudukkan dirinya di kursi, Tini bahkan belum makan siang. Satu-satunya yang sempat masuk ke perutnya hanya the dan sepotong cake yang disajikan di kantor Pak Wimar. Telepon genggam Tini berbunyi.


“Pak Hamit,” gumam Tini. Ia langsung menggeser layar. “Sore, Pak—ya? Sekarang? Di mana? Restoran Hotel Descent? Baik, Pak …. Dua milyar, ya? Oke, terima kasih, Pak. Langsung saya buat,” sahut Tini.


Mendengar kabar dari Pak Hamit yang akan langsung membeli polis bernilai fantastis, Tini langsung menyalakan komputernya dan mencetak berkas untuk ditandatangani Pak Hamit.


“Mau berangkat lagi, Mbak?” Dwi mendekati meja Tini. “Tadi Pak Agus ke sini nyari Mbak. Aku bilang lagi keluar,” ucap Dwi.


“Bagus. Jawaban kamu udah tepat. Kalau nggak ada di sini pasti lagi keluar. Oke, aku udah selesai ….” Tini belum menoleh pada dwi. Ia sibuk memasukkan kertas-kertas ke dalam map. “Dwi, aku keluar lagi. Aku bakal dapet nasabah besar. Fee-nya pasti lumayan. Doain aku, ya ….” Tini menyandang tasnya dan menepuk bahu Dwi.


Pak Hamit meminta Tini menemuinya di hotel Descent. Pengusaha itu baru saja usai makan siang bisnis. Tini rela menaiki sebuah taksi menuju ke hotel itu agar tiba di sana dalam keadaan yang masih segar. Angkot dan ojek yang sudah ditumpangi berkali-kali membuat tampilannya sedikit kusut.


Pak Hamit ternyata sudah menunggu Tini di restoran. Saat Tini tiba, pria itu langsung tersenyum sumringah.


“Naik apa ke sini?” tanya Pak Hamit dengan ramah.


“Naik taksi, Pak.” Tini menarik sebuah kursi dan duduk di depan Pak Hamit. Ia meletakkan map dan mengeluarkan berkas ke hadapan Pak Hamit. “Ini, Pak. Semua sudah saya susun sesuai ilustrasi tadi. Bapak bisa baca kembali dan kalau sudah jelas, bisa ditandatangani.” Tini meletakkan berkas dan sebuah pena di dekatnya.


“Jangan buru-buru banget, Mbak. Mbak Tini udah makan? Gimana kalau ke kamar yang saya pesan dan kita ngobrol di sana aja?” Pak Hamit kembali memasukkan berkas yang disodorkan Tini dan tersenyum.


“Sudah, Pak. Saya udah makan. Kenapa harus ke kamar? Di sini juga bisa,” sahut Tini.


“Mbak Tini pasti sudah biasa dengan transaksi begini. Ini transaksi besar, lho. Enggak mungkin saya nggak dapet bonus. Kita santai-santai di kamar, nanti saya tandatangani berkasnya. Aman pokoknya,” ucap Pak Hamit, mengedipkan sebelah matanya pada Tini.


“Oh, maksudnya saya harus kasi service dulu baru Bapak mau tandatangani?” tanya Tini langsung.


To Be Continued


Scroll jangan lupa like yang ini, ya ebo-eboooo :*