
Semua wajah para penghuni kos yang tadi muram karena kenaikan biaya sewa kamar, menjadi semakin serius dengan kedatangan Wibisono ke tempat itu.
“Kamu ambil kursi yang lain,” pinta Tini, menarik kursi yang tadinya mau ditempati Dara.
“Kamu ke mana aja seharian?” tanya Wibi saat mengenyakkan tubuhnya di kursi plastik di sisi kanan Tini. “Aku ada telfon dan ngirimin kamu pesan,” tambah Wibi, menunjuk ponselnya ke arah Tini.
“Oh, ada, ya?” Tini buru-buru merogoh tas yang masih dipangkunya. Dengan perasaan sedikit tak enak, Tini membuka ponsel yang memang lupa ia aktifkan kembali ke mode suara.
Tini menggulir layar ponselnya dan melihat beberapa panggilan masuk. Ada dari Wibisono, Agus juga Jono. Pria itu memang sudah beberapa waktu diabaikan Tini panggilannya.
“Oh, iya. Ada pesen dari Mas Wibi. Ya, udah. Sebagai permintaan maaf agar nggak mengecewakan, aku bales sekarang aja.” Tini lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Tak lama kemudian ponsel Wibisono berbunyi. Pesan Tini langsung sampai dan Wibisono tertawa. Walau begitu, pria itu tetap membuka ponselnya untuk melihat balasan Tini.
‘Maaf, Mas …. Hari ini aku terlalu biasa untuk seseorang yang spesial.’
Raut wajah Tini biasa saja. Namun Wibi terlihat menyimpulkan senyum tipis di bibirnya.
“Kamu jadi dateng ke kantor yang nelfon kemarin?” tanya Wibi penasaran. Mengingat Tini yang bersedih karena dilecehkan oleh salah satu nasabahnya kemarin, ia jadi penasaran soal apa yang terjadi hari itu.
“Oh, jadi. Tawarannya bagus. Aku ngerasa dapet durian runtuh,” ucap Tini seraya mengedarkan pandangannya ke semua orang yang duduk di teras.
“Memangnya gimana, Mbak?” tanya Asti, memajukan letak duduknya.
“Aku ditawari masuk ke tim marketing perusahaan itu. Namanya Grup Cahaya Mas. Tadi di kantor aku sempet baca-baca di internet kalau perusahaan itu punya salah satu pengusaha asal Kalimantan yang pernah menjabat menteri. Pak Hartono. Pernah denger, kan?” Tini menepuk lutut Wibisono ketika pandangannya berhenti pada pria itu. Tangannya berdiam sesaat di lutut pria itu.
Wibisono seketika mengangguk.
“Terus, Tin? Lama banget ceritanya,” sungut Boy.
“Enggak ngenakin aja kamu. Mbok, ya, paham situasi.” Tini merapatkan giginya memandang Boy. “Terus tadi aku ketemu direkturnya. Plus ketemu anak yang punya. Anak mantan menteri itu. Dia juga pemilik sahamnya. Dia malah bilang, kalau aku masuk jadi tim marketing mereka, dia bakal tanda tangan polis untuk istri dan empat anaknya. Bayangkan ….” Tini kembali mengedarkan pandangannya ke arah semua orang. Lalu kembali tiba memandang Wibi di sisi kanannya dan menyentuh lutut pria itu.
Pandangan Tini berdiam beberapa saat di wajah Wibisono yang sepertinya asyik-asyik saja menikmati cerita dan sentuhan halus dari Tini.
“Terus, Mbak?” tanya Dara yang duduk di belakang Boy.
Tini mendengus dan menghela napas pendek. “Kalian berdua duduknya ngapain kayak gitu? Udah kayak naik motor aja,” omel Tini. Sesaat ia lupa kalau Wibisono sedang duduk di sebelahnya. “Enggak peka,” tambah Tini lagi.
“Udah, cepat! Aku penasaran!” seru Mak Robin tiba-tiba.
“Terus, ya, gitu. Aku galau mau terima atau enggak.” Tini memandang Mak Robin, lalu kembali memandang Wibi. “Aku galau, Mas.” Tini kembali menyentuh lutut Wibisono.
“Kenapa galau? Kamu ikutin aja apa kata hati kamu. Lagipula itu perusahaan besar. Mereka nggak buka lowongan kerja setiap saat. Tawaran kerja langsung dari pejabat perusahaan itu jarang-jarang, Tin.” Wibi melontarkan tatapan tulus pada Tini.
Asti masih mau membuka mulutnya, tapi Tini langsung memotong. “Aku terusin dulu,” kata Tini. Asti lalu kembali bersandar.
“Aku nggak enak sama Pak Agus,” ucap Tini, menunduk lesu. “Aku banyak belajar dari dia. Pak Agus itu memberiku banyak masukan soal ilmu marketing dan teknik menjual produk. Membujuk calon pembeli dan menguasai produk dengan cepat. Aku sedikit khawatir meninggalkan Pak Agus,” ucap Tini. Kali ini ucapannya tanpa aksi menyentuh lutut Wibisono.
Mendengar hal itu, Wibisono mendadak lebih serius. Pria itu ikut menyandarkan punggungnya di kursi plastik. Padahal tadi ia terlihat bersemangat mendengar cerita Tini.
“Memangnya Agus kenapa?” tanya Wibisono, memandang Tini.
“Iya. Memangnya Pak Agus kenapa?” tanya Boy juga memandang Tini.
“Aku pun bingung. Kenapa rupanya si Agus? Kau kayak mau ninggalkan anak pigi* belanja ke kede**,” sergah Mak Robin.
(pigi* \= pergi , kede** \= kedai, warung)
“Iya, tuh, Mbak. Memangnya kenapa Pak Agus?” Asti ikut-ikutan menimpali.
“Ikut kata hati aja. Kamu condongnya mau ke mana,” ucap Wibisono.
“Kalau ikut kata hati, aku condongnya ikut Mas Wibi aja, sih,” sahut Tini terkikik seraya menutup mulutnya.
Semua penghuni kos menyipitkan matanya memandang Tini.
“Bercanda—aku bercanda. Kalian semua jangan liat aku kayak mau nyabut paku di kepalaku,” tukas Tini terkekeh.
“Ya, kamu tinggal ngomong ke Pak Agus aja apa susahnya? Baru kemarin kamu ngeluh—“ Boy terdiam. Ia hampir keceplosan soal Tini yang mengeluh bayaran kuliah Evi.
“Tapi ada masalah lain,” tambah Tini.
“Apa?!” tanya semua orang nyaris serentak. Termasuk Wibisono. Tini sampai tertawa karena melihat laki-laki itu ternyata sama penasarannya.
“Aku cemas sama anak yang punya perusahaan. Yang janji bakal beli polis itu … kayaknya orangnya serem. Kaku banget. Enggak ada basa-basinya. Aku denger dia yang bakal training tim marketing yang baru,” jelas Tini.
“Dengaren* kau takut sama orang,” ujar Mak Robin.
(Dengaren* \= tumben)
“Anggap tantangan aja. Enggak ada yang nggak bisa. Yang ada itu mau atau enggak. Itu aja,” ucap Wibi memandang Tini.
“Aku juga nggak pede dengan pendidikanku. Aku tamat SMA. Mau kuliah lagi Uda ketuaan dan males. Bayangin belajar megang buku dan dengerin dosen, aku merinding.” Tini bergidik.
“Udah mantaplah itu tamat SMA. Banyak orang sukses nggak tamat kuliahnya. Tapi karena pintar otaknya berbisnis, makanya bisa kaya.” Mak Robin memberi semangat. “Yang penting SMA itu juga dijalani betul-betul,” tambah Mak Robin lagi.
“Nah, itu juga masalahnya. SMA aku juga nggak bener kayaknya. Jaman sekolah sering ada bazar buku, temen-temenku beli buku pelajaran dan novel. Aku malah tergoda beli buku ‘Trik-Trik Sulap’.” Tini menghela napas pendek.
“Tapi aku khawatir, Mas …,” rengek Tini, memegang lutut Wibi.
Mak Robin mendengus. “Dahlah, masuklah aku ke kamar. Daripada naik darah tinggi kurus duduk di sini.” Mak Robin bangkit dari kursinya.
Tini tak menggubris hal itu. Ia masih mencebikkan bibirnya seraya mengguncang lutut Wibisono dengan manjanya.
“Ayo, Dara! Anak-anak masuk ke kamar. Besok kamu kuliah, kan?” pinta Boy juga berdiri dari kursinya.
“Kamu mau ke mana, Boy?” Tini menengadah memandang Boy.
“Aku mau nyiapin daftar lagu. Besok ada panggilan konser dangdut Pantura,” jawab Boy asal. “Mas Wibi, silakan dilanjut. Maklumi kalo makin malam obrolannya nanti akan semakin janggal.” Boy mengangguk pada Wibi yang langsung membalas anggukan itu.
Tini hanya mencibir memandang semua penghuni kos pamit satu persatu dari dekat mereka.
Pukul sembilan malam dan Tini hanya berdua dengan Wibisono duduk di teras kos-kosan yang gelap. Tak ada satu pun manusia yang mau menyalakan lampu teras karena isu kenaikan harga sewa turut meningkatkan jiwa ekonomis mereka dalam memangkas pengeluaran token listrik.
To Be Continued
Scroll ke bawah, tapi jangan lupa like, ya boebooo ….