
Tini kembali masuk ke ruangannya usai melihat Agus bertingkah kekanakan tadi.
“Dasar! Aku nggak masalah dia mau sama Ayu atau bukan. Tapi ini kantor. Aku udah nggak enak mau ninggalin dia pindah ke perusahaan lain. Tau-tau dia lagi sibuk dengan dunianya sendiri. Sekarang aku nggak heran kenapa dia belum nikah. Bener kata Wibi, sebaiknya aku memang ambil tawaran dari Pak Wimar,” omel Tini sambil membuka lacinya dan mengeluarkan semua benda milik pribadi yang ia letakkan di sana.
Tengah asyik menunduk membongkar laci, Tini menghentikan aktifitasnya. “Eh, Wibi? Dia hari ini bilang mau balik ke Surabaya.” Tini merogoh kantong jasnya mencari ponsel. Setelah membuka aplikasi pesan, Tini kembali tercenung.
“Harus ngomong apa, ya? ‘Hati-hati, Mas … selamat jalan.’? Kok, kayak mau ke mana aja. Bikin merinding,” gumam Tini.
Tini mengetik, lalu menghapus lagi pesannya. Ia bimbang. Mau menyanggupi ajakan Wibisono, tapi apa tidak terlalu terburu-buru? Walau berpacaran sama Coki sampai kebablasan, ia belum pernah bertemu orang tua pria itu secara resmi. Bertemu ibu Coki paling-paling saat berada di warung, atau berpapasan saat ia mengambil daun pisang ke kebun tepi jalan.
Tini menunduk di atas ponselnya. Kenapa ia tidak mau mencoba? Ia memang belum menanamkan harapan yang begitu besar pada Wibisono. Bukannya ia menolak. Ia hanya tak mau memanen kekecewaan saat sudah terlalu berharap pada seorang laki-laki. Andai keluarga Wibisono merestui dan ia menikah dengan pria itu, ia berencana naik motor keluar-masuk desa, berboncengan sambil memeluk pinggang pria itu untuk memamerkannya.
Dan andai ia ditolak orang tua Wibi, tak akan ada yang mengetahui hal itu. Ia berjanji tak akan memberitahukan ajakan Wibi ke Surabaya kepada siapa pun. Termasuk pada penghuni kos-kosan. Ia sudah lelah menahan malu.
“Baiklah … aku akan menjalankan mode anggun elegan untuk kamu, Mas ….” Tini mengetik sebaris pesan untuk Wibisono.
‘Kapan ke Jakarta lagi? Jemput aku kalau mau ngajak ke Surabaya.’
“Apa lagi di jalan? Di pesawat harus matiin hape kayanya. Mustahil langsung dibales. Dia pasti kesel ke ak—ohmaigat! Jah—Dijah! Aku sekarang juga punya ‘Mas’ bukan cuma kamu aja,” lirih Tini memandang balasan pesan dari Wibisono yang langsung diterimanya.
‘Tunggu aku. Tiga bulan lagi. Pesawatku mau take off. Nanti aku telfon kalau sudah sampai.’
Karena balasan Wibisono itu, Tini seketika bersenandung di balik mejanya. Ia kembali membuka laci meja, mengeluarkan semua benda dan menaburkannya ke atas meja dengan semena-mena.
Hatiku gembira, riang tak terkira
Mendengar berita, kabar yang bahagia
Ayahku 'kan tiba, datang dari India
Membawa boneka yang indah jelita
Oh, sayang
Boneka cantik, kumimpi-mimpi
Menjadi idaman sepanjang hari
Kini ku dapat boneka baru
Untuk hadiah ulang tahunku
Bonekanya indah, pandai main mata
Hatiku gembira, riang tak terkira
Oh, sayang
“Mbak, Mbak Tini …,” panggil Dwi. Rupanya yang sedang dipanggil terhanyut dengan nyanyian dan aktifitasnya menunduk di bawah meja. “Mbak Tini!” jerit Dwi.
Tini tersentak dan kepalanya membentur meja. Ia menegakkan tubuhnya sambil meringis.
“Aku mau cerita soal Pak Agus—”
“Aku serius, Mbak ….” Dwi cemberut.
“Makanya jangan ngagetin. Kepalaku sakit,” kata Tini, mengusap sisi kiri kepalanya.
“Aku mau cerita soal Pak Agus. Maaf kalo nanti Mbak Tini kecewa atau malah patah hati setelah denger cerita soal beliau. Aku cuma nggak mau Mbak Tini menaruh hati atau terbawa perasaan. Aku ngomong gini nggak maksud mencampuri urusan—”
“Kelamaan!” sergah Tini. “Kamu sampaikan berita apa pun soal Pak Agus, udah nggak ada pengaruhnya buat aku. Dia mau menikahi empat perempuan sekaligus, mau nggak nikah seumur hidup, mau kawin di restoran atau kawin di bioskop, terserah dia. Kamu mau ngomong apa?” Tini menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Jangan keras-keras … nanti Pak Agus atau Ayu denger,” bisik Dwi, menoleh ke arah pintu ruangan yang terbuka. “Tutup pintu aja kali, ya …?” Dwi menoleh pada Tini.
“Itu cuma sekat, Dwi … atasnya nggak ada penutup. Suaramu aja yang diturunkan volumenya. Ayo, kamu tarik kursi itu. Duduknya deket ke aku. Aku paling suka gosip dengan bisik-bisik. Biasanya, semakin pelan suara bisiknya, semakin sensitif topik pembicaraannya.” Tini terkikik-kikik bahagia.
“Kemarin … ada perempuan dateng nyari Pak Agus. Yang pernah ketemu Mbak Tini. Yang namanya Mira itu. Pak Agus sedang pergi ke luar. Itu kayaknya udah lewat jam makan siang. Karena, aku, Bowo, dan Mail baru nyampe kantor. Kami bertiga masih ngobrol di depan pintu, wanita itu dateng dan langsung minta kami manggil Pak Agus. Padahal Pak Agus memang lagi di luar. Dia langsung ngomong kalo kami bohong. Katanya kami pasti diminta bohong sama pacarnya Pak Agus. Terus … Ayu keluar. Nah, yang dateng itu langsung narik tangannya Ayu. Mira itu langsung ngomong ke Ayu, ‘Jangan sementang kamu pacaran sama dia, kamu bola-bolain aku kayak gini. Aku memang ada kepentingan sama Agus. Belum nikah tapi kamu udah sok memiliki’.” Dwi menarik napas panjang.
Tini yang sedikit terkejut tapi menikmati sandiwara yang sedang dituturkan Dwi, terkikik-kikik sambil menutup mulutnya. Siapa yang tak ingat soal Mira? Mantannya Agus yang datang dan berhasil dikelabuinya beberapa waktu yang lalu. Jelas saja Ayu yang menjadi sasaran empuk kemarahan Mira. Tapi ….
“Eh, tapi tadi di ruangannya Agus, si Ayu nangis. Pak Agus kayanya sibuk menghibur dia. Kalau memang nggak ada hubungan, Pak Agus nggak mesti repot. Kalau meminta pertanggungjawaban kayaknya juga nggak mungkin. Belum sebulan …. Apa mungkin ….” Mata tini membulat, tapi ia tak mengatakan apa pun pada Dwi.
“Nah. Lanjutannya … Pak Agus dateng dan melerai. Tapi melerai dan memegang bahunya Mira. Bukannya Ayu. Wah, lucu Mbak. Malah Mail yang sempet narik tangan Ayu buat menjauhi wanita itu. Pak Agus ngajak wanita itu ke dalem. Ayu nangis. Dan Ayu ngomong gini ….” Dwi menoleh ke arah pintu.
“Apa?” bisik Tini. “Kamu ini pinter banget membangun suasana mencekam,” lanjut Tini dalam bisikan.
“Ayu ngomong gini, ‘Awas aja kalau Mas nggak nepatin janji’.” Usai membisikkan hal itu, Dwi mencibir puas dan menyilangkan tangannya di depan dada. “Nah, menurutmu Mbak, ada apa? Ini merupakan misteri besar, kan? Mbak Tini nggak boleh keluar sampai misteri ini terpecahkan.” Dwi memandang ketua timnya dengan raut puas. Ia merasa sudah melemparkan misteri yang bisa menahan Tini di kantor itu.
“Misteri besar? Misteri besar yang mana? Itu bukan misteri bagi aku. Ini hanya soal mic si Agus. Untung aku belum ada mengganggu gugat mic laki-laki plin-plan itu. Laki-laki setua itu, kalau normal, nggak mungkin nggak kepingin ngerasain. Ayu itu gadis polos putih mulus. Kita tunggu aja, paling-paling bulan depan kalian sekantor dateng ke resepsinya Agus. Ketemu pagar bagus dan pagar ayu. Kalau nggak gitu, mungkin nggak akan nikah-nikah sampe kapan pun. Ayu kayaknya cocok tinggal sama ibunya Agus,” tukas Tini.
“Jadi? Ini bukan misteri?” tanya Dwi lagi memandang lesu ke arah Tini yang kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Bukan. Yang masih misteri itu adalah siapa pria beruntung yang akan mendampingiku,” sahut Tini tertawa.
Dwi mendengus. “Ngomong-ngomong Mbak Tini bakal kerja di mana?” tanya Dwi.
“Kamu mau tau?” Tini balik bertanya.
Dwi mengangguk.
“Ambil hapemu. Ketik ‘Pemilik Grup Cahaya Mas’ di pencarian,” pinta Tini.
Dwi mengikuti apa yang diperintahkan Tini. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan kata kunci yang barusan disebutkan. Laman internet terbuka dan menampilkan profil perusahaan yang sedang mereka cari.
“Wah, perusahaan besar, Mbak. Aku juga mau kalo ada lowongan,” ucap Dwi.
“Coba ke bagian profil pemegang saham. Dan liat foto para pemegang saham yang bisa membuat kudukmu meremang,” pinta Tini lagi. Ia menunggu dwi yang sedang menggulir layar ponsel.
Dwi melakukan perintah Tini, matanya menelusuri tiap foto profil yang menimbulkan perasaan berbeda di dirinya. “Ini, Mbak?” Dwi menyodorkan ponselnya kepada Tini. Menunjukkan pasfoto yang menampilkan sosok ganteng dengan setelan jas rangkap tiga berwarna krem. “Yang ini kesannya dingin, angkuh, bikin aku takut.” Dwi menunggu jawaban Tini.
Tini mengangguk. “Itulah yang bakal memimpin training tim marketing baru. Doakan aku panjang umur dan sehat-sehat selama training di sana, ya. Seumur hidup, aku selalu bisa dengan mudah mencairkan suasana tiap ketemu orang baru. Tapi kayaknya ilmuku bagi bapak yang kamu pandangi fotonya itu, nggak ampuh. Aku membayangkan nasib istrinya. Pasti bablas manut sama dia.” Tini menerawang menatap pasfoto pria ganteng berwajah datar yang di bawahnya bertuliskan, ‘Dean Danawira Hartono, LLM’.
To Be Continued