TINI SUKETI

TINI SUKETI
38. Peran Budhe Tini



Ketika mereka beriringan keluar dari restoran, langkah Tini tertinggal di belakang. Bara kesempatan menjajari langkah wanita itu untuk menanyakan hal yang sejak tadi membuatnya penasaran.


“Tin,” panggil Bara.


Tini menghentikan langkahnya. “Ada apa suaminya Dijah? Ayah Dul dan Mima ....” Tini menatap Bara dengan senyum mode profesional.


“Jangan gitu banget. Udah nggak ada yang ngeliat,” tukas Bara, memandang tiga pria yang sudah mendahului mereka.


“Oh, iya. Opo, Mas?” tanya Tini. Nada suaranya langsung berubah.


“Memangnya kapan Dijah minta diajari makeup? Kok, di rumah nggak ada ngomong?” Bara memandang Tini dengan wajah sangat serius.


Tini tertawa terkikik-kikik sambil memukul lengan marah berkali-kali. “Ya, enggak ada. Masa, sih, kayak gitu aja masih ditanya lagi. Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah.” Tini berdendang, lalu kembali tertawa.


Bara menatapnya dengan sengit.


“Sabar. Jangan mudah emosi. Denger-denger orang yang emosian itu, kuburannya bisa seukuran kertas A4. Ya, udah. Aku naik mobilnya Pak Agus. Sekalian aku mampir ke rumah kalian.” Tini melanjutkan langkahnya.


“Enggak ikut sekalian ke rumah Mas Heru?” tanya Bara.


“Ya, enggak. Aku menyayangi diriku sendiri. Kesehatan mental itu sangat penting. Aku tunggu di rumah kalian aja. Sambil main sama Mima,” jawab Tini.


“Ternyata aku memang nggak pernah salah menilai kamu,” gumam Bara.


“Memangnya Mas Bara selama ini menilai aku kayak gimana?” Mereka berjalan beriringan menuju valet parking. “Aku naik mobilnya Pak Agus. See you there (Ketemu di sana, ya)” ucap Tini, melenggang meninggalkan Bara yang melangkah ke arah berlawanan.


Langit sudah nyaris gelap ketika mobil yang dikendarai Agus tiba di depan rumah Bara. “Jadi kamu nggak ikut ke rumah Heru? Ayo sekalian aja. Kan, nggak apa-apa. Kita ngobrol di sana soal pekerjaan,” ajak Agus.


Membayangkan soal apa yang akan dilihatnya di rumah Heru, Tini dengan mantap menggeleng. “Nggak usah, Pak. Saya memang seharusnya ketemu Dijah hari ini. Sudah ada janji. Apalagi ini udah di luar jam kerja. Artinya saya bebas.” Tini nyengir. “Baiklah. Saya turun dulu. Nanti saya tunggu di rumah Mas Bara aja. Semuanya pada mampir, kan? Apalagi tadi katanya Mas Wibi mau ketemu anak-anaknya Mas Bara.” Tini membuka pintu mobil dan melompat keluar.


Cuma mobil sedan yang bisa membuat Tini turun anggun dengan kaki satu demi satu. Jika mobil yang ditumpanginya itu sejenis SUV, sudah bisa dipastikan kalau dia akan melompat. Kakinya terlalu pendek untuk bertingkah anggun.


“Dijaaah!” panggil Tini. “Diiii—”


“Hus! Cangkemmu!” omel Dijah dari pintu depan. Pagar setinggi leher orang dewasa itu hanya menampakkan puncak kepala Tini. “Dari mana? Naik apa?” Dijah menuju pagar dan membukanya untuk Tini.


“Mima ... sini Budhe gendong. Tadi Budhe jualan nama Mima,” ucap Tini, mengambil Mima dari gendongan Dijah. “Mas-mu di rumah Heru, Jah. Tadi dari mall langsung ke sana sama Pak Agus dan temen mereka yang baru dateng ke Jakarta.”


“Iya, aku tau. Bara tadi nelfon. Temennya siapa, Tin?” tanya Dijah, berjalan beriringan bersama Tini masuknke rumah.


“Dul mana?” tanya Tini.


“Di kamarnya, nyusun puzzle baru.”


“Mbok Jum?”


“Di kamarnya juga mungkin. Ini udah malem. Kenapa?” tanya Dijah.


“Aman kalau gitu. Ayo, ngobrol di depan televisi aja. Enggak usah diambilin minum. Aku masih kenyang dan nggak haus. Aku lagi kepingin cerita.” Tini langsung menuju ruang keluarga dengan Mima berada di gendongannya.


“Pasti soal temen Mas Heru,” tebak Dijah. Mereka sudah menempati sofa di depan televisi.


“Jah, kamu pernah enggak ngerasa ditimpa durian runtuh?” tanya Tini.


“Ya, enggak, Tin. Jangan sampe. Pasti mati,” cetus Dijah.


“Itu perumpamaan, Dijah. Majas!” kesal Tini.


Dijah tertawa terkekeh-kekeh. “Iya, tau. Aku udah tau apa yang mau kamu omongi. Pasti temen Heru ini ganteng, toh? Ada cambangnya? Kharismatik?” tanya Dijah dengan wajah meyakinkan.


“Kamu memang sahabat tiada lawan, tiada banding.” Tini mencium kepala Mima yang menggeliat di pangkuannya.


“Sini, Tin. Kayaknya Mima nggak betah sama kamu.” Dijah mengulurkan tangannya pada Mima.


“Jangan, Jah. Sebentar lagi. Aku harus latihan. Sebentar lagi para lelaki itu bakal ke sini,” ucap Tini, mengangkat Mima dan memandang wajahnya. “Mima, hari ini harus dukung Budhe. Cuma kamu satu-satunya harapan Budhe hari ini. Kayaknya si Wibi itu suka sama anak-anak, Jah.” Tini menoleh pada Dijah.


“Mas Heru udah kalah pesonanya? Gantengan siapa?” tanya Dijah.


“Yang tampan gagah, tapi sudah punya istri. Akan kalah dengan yang gagah kharismatik, tapi single. Kamu camkan itu,” tukas Tini.


“Orangnya gimana, Tin? Apa udah ada sinyal-sinyal ke kamu?” tanya Dijah.


“Sini, Tin! Kaget anakku,” kata Dijah, mengambil Mima dan mengusap-usap kepala bayi itu.


Tini kembali melanjutkan. “Doain, ya, Jah. Semoga adikku yang satu bisa lulus kuliah dengan lancar. Dayat bisa masuk kampus negeri. Biar aku lega,” kata Tini.


“Capek, ya, Tin. Jadi tulang punggung keluarga terus-menerus.” Dijah menatap muram ke arah Tini.


“Capek, Jah. Gimana mau jadi tulang punggung keluarga. Tulang punggungku aja masih sering sakit,” sahut Tini.


Dijah mencibir. “Orang kaya, Tin?” tanya Dijah.


“Mas Wibi itu?” tanya Tini. Dijah mengangguk. “Ya, aku nggak tau, Jah. Masa aku langsung ngecek rekeningnya. Tapi kata Pak Agus dia mau buka usaha travel di Jakarta. Dianya asli Surabaya. Enggak apa-apa nggak sugih. Yang penting mau kerja dan usahanya jelas.” Tini berbicara dengan mode bijaksana.


“Kayak kamu sekarang, ya, Tin. Kerja keras makanya bisa kaya,” cetus Dijah.


“Kaya matamu. Kamu kira aku temenan sama jin rokok?” sengit Tini.


Dijah sudah bisa menebak apa jawaban sahabatnya. Ia tertawa terbahak-bahak sambil memeluk Mima.


“Jadi sama Agus gimana? Kamu bilang dia masih deketin kamu. Gimana perasaan dia kalau tau kamu deketin temennya. Apa nggak sakit hati?” tanya Dijah.


“Kok, mikirin hati dia. Aku juga punya hati. Dia itu udah salah dari awal. Sok kejam, sok ketus sama aku. Aku udah keburu kesel. Mau kenaikan tingkat di kantor aja, dia ngasi kerjaan kayak ujian mau naik sabuk karate. Capek, Jah! Cara dia menarik hati perempuan itu salah. Maksudnya mau menunjukkan kalau dia anak berbakti. Tapi di mataku dia jadi kayak anak bunda yang nggak bisa jauh-jauh. Bosen, ah.” Tini duduk menyilangkan kakinya.


“Jadi kamu cuekin?” tanya Dijah.


“Aku cuekin. Dulu aku nunggu dia baca chat-ku bisa sampe setengah hari. Cucianku udah kering, dia baru baca chat. Nunggu balesannya kayak nunggu Asti jalan kaki ke simpang. Lama!” ujar Tini.


“Keren kamu,” sahut Dijah bangga. Ia ikut merasa bangga dengan sahabatnya.


“Dulu aku selalu penasaran dengan orang-orang cantik yang cuma baca chat aja. Ternyata aku sekarang bisa ngerasain. Kalau kamu udah pernah, Jah. Jaman Bara mau nangis, Cuma minta kamu ngangkat telfon,” tutur Tini.


“Iya, ya, Tin? Aku udah lupa,” kata Dijah tertawa. “Waktu itu malah nggak ada mikir apa-apa,” ucap Dijah.


“Semoga aku nggak dilangkahi Asti, ya, Jah. Cukup kamu aja yang ngelangkahi aku. Asti jangan,” kata Tini.


“Pasti kamu duluan, Tin,” sahut Dijah optimis. “Mak Robin apa kabar? Kalau kabar Asti aku sering denger dari Bara.”


“Mak Robin? Jangan ditanya. Sejak punya motor, jarang banget sore ada di rumah. Isi bensin dua puluh ribu, dia udah bisa nyampe Inggris.” Tini kembali tertawa terbahak-bahak.


“Mima ...!” panggil Bara dari pintu depan. “Anak ayah mana?” panggil Bara lagi.


“Jah, sini, Jah. Pinjem Mima. Itu pria-pria gagah udah dateng,” pinta Tini meminta Mima.


“Mima ketemu ayahnya dulu,” sahut Dijah.


“Penasaran liat gadis kecilnya Bara.” Suara seorang lelaki terdengar mendekati ruang keluarga.


“Itu, Jah! Itu ...! Ya, ampun. Dudukku gayanya gimana ini?” Tini sibuk merapikan duduknya di sofa yang sebenarnya sudah benar. Ia berkali-kali bangkit merapikan roknya.


“Gayanya gitu aja. Mau gimana lagi?” bisik Dijah.


“Ini Mas, anakku yang perempuan. Dul mana, Jah?” tanya Bara. Ia mengambil Mima dari gendongan Dijah dan mencium pipi balita itu berkali-kali.


“Di kamar, Mas. Ini siapa?” tanya Dijah, menoleh pada Wibisono yang berdiri di sebelah Bara.


Bara mendengus tipis. Melihat wajah Tini dan Dijah bergantian. Tak mungkin rasanya Dijah belum mengetahui soal Wibi dari Tini. Dua wanita itu sudah sejak tadi bertemu.


“Ini Mas Wibi, Jah. Temennya Mas Heru dan Mas Agus. Mima ... kenalin ini Pak De Wibisono. Yang duduk manis itu Budhe Tini Su,” ujar Bara. Akhirnya dia ikut memainkan peran tambahan bersama Tini dan Dijah.


Tepat seperti dugaan Bara, reaksi Tini luar biasa manisnya.


“Ayo, sini Mima. Sama Budhe lagi. Dari tadi nemplok terus ini,” ucap Tini, mengulurkan tangannya pada Mima. Sayangnya, Mima semakin mengeratkan pelukannya di leher Bara.


To Be Continued


Visual