
“Mas Boy! Tikernya di kamar Mas Boy,” teriak Asti dari depan pintu kamarnya.
“Oh, iya. Makan-makan terakhir aku yang nyimpen.” Boy berdiri menuju kamarnya. Ia buru-buru mengeluarkan kunci kamar dari kantong dan membuka pintu. “Piringnya biar aku aja yang angkat,” seru Boy seraya menenteng tikar keluar kamar.
“Enggak apa-apa, sekalian aja." Asti berjalan mendekati kumpulan teman-temannya.
Semua orang yang sedang duduk, sontak berdiri. Tini masih menyanyi dan Wibisono menggendong Mima berjalan mengitari halaman. Saat semua sedang sibuk mengangkat kursi, Robin melongok keluar.
“Ada makan-makan, Mak?” tanya Robin.
“Itu pula’ yang kau tanya duluan. Masuk sana, nanti kalo udah mau makan, baru kupanggil,” kata Mak Robin.
“Oke. Jangan lupa kalo pake ayam, aku pahanya,” ujar Robin.
“Udah, masuk kau sana. Macam gak pernah pula’ kau makan paha ayam,” sungut Mak Robin.
“Eh, itu Mas-ku udah dateng.” Dijah melihat Bara yang baru melintasi pagar. Wajahnya berbinar melihat kedatangan pria itu.
“Anak Ayah digendong siapa?” sapa Bara, menghampiri Wibi di dekat pohon jambu.
Mendengar suara ayahnya, Mima yang tadi digendong membelakangi, seketika berbalik. Batita itu sontak mengulurkan tangannya minta digendong.
“Sebentar—sebentar, ayahnya belum bisa gendong,” kata Wibi tertawa. Ia melihat tangan Bara penuh dengan tentengan.
Bara tertawa, “Sebentar, ya. Ayah kasi ini ke Ibu dulu.” Bara berjalan mendekati Dijah dan Wibi menjajarinya sambil menggendong Mima yang menatap Bara dengan wajah memelas.
“Buat cemilan anak-anak, Jah,” kata Bara, menyerahkan dua plastik jajanan pada Dijah yang dibelinya di mini market simpang jalan.
“Sebentar aku kasi ke anak-anak.” Dijah bangkit dari tikar.
“Jangan sekarang, Jah. Belum makan nasi si Robin. Nanti dia hari raya dikasi jajanan segitu banyaknya. Simpan aja. Makan nasi dulu,” kata Mak Robin.
“Oh, ya, udah. Aku simpan dulu. Letak di sini,” kata Dijah, meletakkan dua plastik bungkusan di salah satu kursi plastik.
“Yang ini apa?” tanya Dijah saat disodori plastik ketiga yang tak begitu besar.
“Cemilan manis untuk yang paling manis,” seloroh Bara, tersenyum menggoda istrinya.
Dijah langsung tanggap dengan hal itu. Bara membawakannya berbagai merek cokelat yang ada di mini market untuknya. Dijah membuka plastik dan melongok isinya.
“Makasi, Mas.” Dijah nyengir.
“Sama-sama,” sahut Bara, memegang kepala istrinya.
“Mima jangan sedih gitu,” tukas Tini, melihat Mima yang menggeliat di gendongan Wibi.
“Oh, iya. Anak Ayah mana? Hampir kelupaan.” Bara berbalik untuk mengambil Mima dari tangan Wibi. Gadis kecil itu langsung melingkarkan tangan di sekeliling leher ayahnya dan menyembunyikan wajah.
“Mmmm … Mima baperan, ya.” Tini mencibir memandang Mima yang masih menyembunyikan wajahnya.
“Enggak apa-apa, Budhe. Biar Mima lebih ekspresif ketimbang ibunya.” Bara terkekeh sambil memegang kepala Dijah yang mencibir.
“Sinikan kecap itu! Nanti kau main-mainkan kayak semalam,” omel Mak Robin, melihat Robin mengetuk-ngetukkan botol kecap ke dinding.
“Ngomel aja dari tadi. Baru aja selesai makan,” sergah Tini dalam bisikan.
“Palak kali (kesal sekali) aku sama dia. Kemarin udah kutunggingkan botol kecap setengah hari, maksudnya untuk makan malam. Malah dibuatnya main-main. Rasakan dialah. Pucat telor mata sapinya tak bekecap,” jawab Mak Robin.
Tini meringis memandang Mak Robin dan berpindah memandang Wibi yang ternyata juga meringis. “Udah mulai terbiasa, kan, Mas? Ini hanya perkara kecap. Bayangkan kalau Mak Robin jadi Menteri Pertahanan, enggak ada penyelesaian dengan asas kekeluargaan. Semua bakal diajak perang,” ujar Tini terkekeh.
Mak Robin mendengus seraya melirik Tini yang mengedipkan mata padanya. “Soklah kau sementang ada Mas-mu,” bisik Mak Robin.
Usai makan malam mereka semua masih duduk mengelilingi cemilan yang tersisa di tengah-tengah lingkaran. Bara dan Dijah duduk bersandar ke dinding kamar Mak Robin, dekat dengan pintu kamar Tini.
Di depan Bara dan Dijah, duduk Asti dan Boy. Dara yang sejak sore ditunggu-tunggu ternyata belum juga menampakkan batang hidungnya.
Robin dan Dul duduk bersandar di dinding kamar Mak Robin, persis di bawah jendela yang tertutup. Mak Robin duduk di sebelah anaknya, dan Tini duduk menghadap para bocah laki-laki yang sedang bergurau.
“Bu, aku ke kamar Robin lagi buat main game. Boleh?” Dul berdiri menatap ibunya.
Dijah baru membuka mulutnya sedikit untuk memberi izin, sekaligus memberi ceramah singkat. Namun, Bara dengan cepat mengangguk pada putranya. “Ya, udah enggak apa-apa,” ucap Bara. Dijah seketika bungkam.
Pembicaraan usai makan malam mengalir begitu saja. Hal-hal yang dibahas pun berbagai macam sesuai dengan apa yang terlintas.
Bersama-sama mereka kembali mengenang kebersamaan di kos-kosan kandang ayam. Kejadian-kejadian lucu, sedih, atau yang membuat emosi. Semua dikupas tuntas setelah melalui badan sensor berupa tatapan dari oknum yang sedang dibicarakan.
“Pertama kenal Tini dulu, aku disuruh-suruh terus, Mas. Baru duduk sebentar, disuruh nampung air buat dia nyuci malem. Baru nyampe rumah, aku diminta nemenin beli pulsa ke depan. Mana kalau ditanya yang jual pulsa, jawaban Tini suka aneh-aneh,” sungut Boy, memandang Wibi.
Tini memandang Boy sambil mengingat-ingat cerita mana yang akan diceritakan temannya.
“Memangnya Tini jawab apa?” tanya Wibisono antusias.
“Hmmm … Boy …,” panggil Tini.
“Gini, Mas,” lanjut Boy yang malam itu sedang bersemangat ingin berakrab-akrab dengan Wibi. “Tini mau beli pulsa dua puluh ribu. Mas yang dagang ngomong, ‘Nomor HP-nya berapa, Mbak?’ Tini malah ngomel bilang ke yang dagang, ‘Baru kenal udah minta nomer. Genit banget.’ Aku syok, Mas. Aku baru kenal sama Tini seminggu udah harus ngadepin yang kayak gitu. Bikin heboh aja,” kata Boy.
Semua orang tertawa kecuali Tini.
“Halah, kayak kamu nggak pernah bikin heboh aja. Pernah juga, tuh, Mas. Boy lagi galau mau resign dari kantornya. Siang-siang ngajak aku ke kebun binatang. Ngomongnya hang out. Aku kira nongkrong di café atau restoran. Taunya ke kebun binatang. Katanya lebih hemat. Siang bolong ke kebun binatang di hari kerja. Ya, sepi. Sampai sana heboh karena nyium bau hewan Sugeng itu,” beber Tini.
Tak ada yang tertawa. Semuanya mengernyit. Wibi tak tega melihat wajah bingung semua orang. “Binatang yang bau?” tanya Wibi, memegang punggung istrinya. Tini mengangguk. “Itu namanya sigung, Sayang. Bukan Sugeng,” ucap Wibi, tersenyum.
Setelah mendengar perkataan Tini, suara tawa Bara terdengar paling keras. “Budhe … siapa Sugeng itu? Hati-hati Mas-nya cemburu, lho.” Bara terkekeh-kekeh memeluk Mima.
Boy diam sesaat, lalu tiba-tiba tawanya meledak. “Aku jadi keinget waktu kita makan bakso dan liat berita gunung meletus. Tini dengan pedenya nyeletuk, ‘gunungnya erekksi’.”
Lagi-lagi Bara tertawa terbahak-bahak. “Astaga, Budhe … erupsi, Budhe. Erupsi … untung kita nggak ikut makan bakso, ya, Mas.” Bara terkekeh memandang Wibisono.
Wibisono tertawa dan mengangguk setuju.
To Be Continued