TINI SUKETI

TINI SUKETI
115. Hari Halal Tini Wibi (1)



Seperti halnya pengobat rindu yang hanya bisa disembuhkan oleh temu, begitu pula kegelisahan cinta yang akan reda dengan balasan rasa yang sama.


Saat kebutuhan akan pernikahan tak lagi hanya soal tuntutan lingkungan, tapi lebih kepada mencari sosok yang akan dijadikan teman.


Saling menyempurnakan bagi satu sama lain, dengan tautan sakral yang akan dijalin. Saling menerima segala masa lalu, dengan meyakinkan diri bahwa hati tak ‘kan meragu.


Perpisahan malam itu menjadi perpisahan paling syahdu. Tini dan Wibi berjanji bahwa pertemuan berikutnya mereka sudah menjadi suami istri.


Tiga hari menjelang resepsi Tini dijemput di terminal bagai seorang putri. Dayat dan Evi melambai dari kejauhan dan berebut menyongsongnya untuk membantu membawa barang bawaan. Raut keduanya sangat bahagia seperti menyambut hari raya.


“Kalian naik apa?” tanya Tini, memandang kedua adiknya bergantian.


“Naik mobil, dong. Percuma dikasi fasilitas,” kata Dayat.


“Sombongnya … fasilitas dari siapa?” tanya Tini. Sekarang ia sudah mengcopy-paste semua ucapan Bara.


“Dari Kakak Ipar,” jawab Dayat. “Ayo, Mbak Tini nggak boleh banyak tanya lagi. Sampai beberapa hari ke depan, Mbak Tini harus diam dan manut. Ikuti semua perintah adik-adikmu. Selama ini Mbak Tini udah repot ngurusin soal rumah dan kita berdua. Sekarang giliran Mbak Tini yang terima beres.” Dayat menyeret Tini menuju sebuah Alphard hitam yang diparkir di tepi jalan.


“Sudah naik semua?” tanya pria di depan.


“Sudah, Pakdhe. Calon mantennya sudah dipungut. Sekarang kita ke rumah,” ucap Dayat saat masuk dan duduk di jok sebelah supir yang dipanggilnya Pakdhe.


“Pungut? Das--" Tini tak jadi mengumpat. "Ini siapa? Padhenya siapa? Pakdhe kita nggak ada yang punya mobil,” bisik Tini pada Evi.


“Sodaranya Mas Wibi,” sahut Evi, berbisik di telinga kakaknya.


“Lalu, calon suamiku mana?” tanya Tini kembali berbisik. “Kenapa bukan dia yang jemput aku?”


“Limited edition. Kamu yang sabar. Mas Wibi sedang berada di suatu tempat.” Evi tertawa-tawa dengan misterius.


Tiba di persimpangan jalan besar Desa Cokro, mobil yang ditumpanginya melambat. Tini yang sedang mengetik pesan di ponselnya seketika mendongak dan melihat ke luar kaca mobil. Mulutnya sedikit ternganga.


“Vi … Ini tenda apa? Ada yang pesta? Siapa? Pestaku di belakang ketutup? Tamu-tamuku gimana, Vi?” Tini meremas tangan Evi dengan kalut.


Bentangan tenda pesta berwarna putih menutupi jalan mulai dari simpang dan memanjang sampai seratus meter ke belakang.


“Oh, ini lahan yang aku beli juga ditutup tenda. Siapa?” Tini semakin panik.


“Tenang, Mbak. Ini lokasi pestamu. Lahan yang kamu beli sampai belakang ditebas untuk lokasi pesta, Pak RT sudah mengeluarkan izinnya nutup jalan. Yang sedang kita lewati ini, akan ditutup dengan lantai triplek tebal sehari sebelum acara. Semua mobil akan diparkir di depan. Kendaraan-kendaraan warga yang rumahnya di dalem juga bakal parkir di luar jalan ini.” Evi mengangguk puas saat melintasi lokasi pesta yang diramaikan dengan pekerja.


“Kakek yang punya kebun pisang apa nggak marah? Dia pelit banget. Nanti dia marah-marah waktu aku lagi neng-nang-neng-nong di atas pelaminan, bisa malu aku, Vi.” Tini membuka kaca mobil untuk melihat keluar lebih jelas.


“Kakek pikun udah diamankan. Kamu jangan khawatir, Mbak.” Evi mengusap bahu kakaknya. “Ini pesta terbesar dalam sejarah gadis perantau dari Desa Cokro.”


“Semua udah diamankan secara hukum, Mbak. Aku juga udah memastikannya dengan nanya-nanya ke Pak Santoso. Bahkan waktu ngurus izin nutup jalan warga, Bapak juga ditemeni oleh kuasa hukum dan calon kuasa hukum,” jelas Dayat.


“Calon kuasa hukum?” tanya Tini.


Pria yang mengemudi mobil tertawa mendengar perkataan Dayat.


“Maafkan kericuhan kami di dalam mobil, Pakdhe. Semoga Pakdhe nggak terganggu. Pertemuan antar saudara memang selalu membawa kerinduan. Rindu untuk bercanda, juga rindu untuk bertengkar,” kata Dayat.


Pria yang dipanggil Pakdhe kembali tertawa karena perkataan Dayat. Sedangkan Tini mengernyitkan hidung memandang Dayat dari belakang. Kenapa gaya bicara Dayat mengingatkannya pada seseorang.


“Itu tendanya besar banget, Vi. Terus jarak rumah ke tempat pesta lumayan jauh. Kamar pengantinku di mana? Abis pakai baju, cantik-cantik dan ganteng-ganteng, aku sama Wibi jalan kaki ke depan? Sampai depan udah lemes duluan nggak ada tenaga sisa buat malem,” bisik Tini saat turun dari mobil.


“Kamu ini suka nggak percayaan kalau disuruh tenang aja. Sekali-kali percayai adikmu,” kata Evi.


“Terakhir kali percaya sama Dayat, aku harus ngirim duit buat ganti Puput III dan Puput IV yang hilang, karena ayam-ayam itu disuruh pulang sendiri dari simpang jalan sana,” omel Tini.


Evi terkikik. “Kali ini kamu boleh percayai kami. Kami udah gede, Mbak. Nanti hari H kamu dan Mas Wibi naik mobil ini. Mobilnya bakal dihias. Pengantin mana di desa Cokro yang pakai mobil pengantin Alphard? Kamu bakal menorehkan sejarah,” kata Evi.


“Ya, ampun.” Tini memekik kecil saat melihat rumahnya yang terlihat sangat indah dan terang. Seluruh rumah dicat putih sehingga terlihat bersih. Dinding-dinding kayu yang mengelupas diganti dengan yang baru. Pintu dan jendela juga terlihat baru. Tini terpukau dan berdiri sesaat untuk memandangi rumahnya.


“Ini belum apa-apa. Ayo, liat kamar pengantinmu.” Evi menyeret tangan Tini menuju kamar Bapak mereka yang sekarang disulap menjadi kamar pengantin. “Bagus, kaaaan?” Evi mengibaskan tangannya seraya membuka pintu.


Tini melangkah ke dalam dan mengedarkan pandangannya berkeliling. Seluruh furniture ibu mereka terlihat baru. Kasur juga diganti dan semua dinding ditutup tirai satin putih.


“Bagus banget, Vi. Aku yakin ini bukan bidan manten dari desa sekitar sini,” ucap Tini, melangkah masuk dan membelai tirai putih.


“Semuanya dari kota, Mbak. Aku cuma menjalankan pesan Mas Wibi. Nanti semua kamar ini bakal dipenuhi bunga segar. Bakal wangi. Tapi ingat, kamar ini nggak kedap suara. Jadi jaga tingkahmu,” kata Evi kembali tertawa.


Menjelang hari pernikahannya, Tini benar-benar diperlakukan istimewa. Bahkan dia tak diizinkan untuk menjengukkan kepalanya keluar rumah. Tini hanya telentang-telengkup di dalam kamar pengantinnya dibantu sepoi sejuk dari standing AC di sudut kamar.


Di malam menjelang pernikahannya, Tini berbaring memandang kamar pengantinnya yang sudah dipenuhi bunga. Aroma wangi memenuhi kamar itu. Sudah lewat tengah malam tapi Tini tak bisa tidur. Ia mengambil ponselnya untuk mengirimi Wibisono pesan.


‘Mas, sampai ketemu besok.’


Pesannya itu tak lama kemudian langsung berbalas.


‘Sampai ketemu besok, Tin. Ayo, tidur sekarang biar pagi cepat datang.’


Dan pagi itu seperti mimpi nyata bagi Tini. Pukul lima pagi kamarnya sudah diketuk dan seorang wanita paruh baya cantik mengenakan sanggul. Tersenyum di ambang pintu sambil menyeret koper kecil berisi perlengkapannya.


Tini duduk di depan meja rias ibunya yang sudah dicat ulang seperti baru. Wanita perias pengantin dan dua orang asistennya mendandani Tini dengan sangat luwes dan cekatan. Memakaikan Tini kebaya putih sebagai pakaian pertamanya menemui Wibi pagi itu.


Dadanya berdebar dan bergemuruh karena rasa bahagia yang penuh sesak. Saat selesai berdandan, beberapa saat ia menatap pantulannya yang sangat cantik. Tini nyaris tak mempercayai bahwa ia bisa secantik itu.


Di depan meja rias dia berkata, “Bu … pagi ini aku izin menikah.” Matanya memerah dan bibirnya bergetar menahan tangis.


To Be Continued