TINI SUKETI

TINI SUKETI
52. Hati Nurani Tini (2)



“Kalau gitu kita makan dulu. Mau, kan? Aku nggak mau ketemu agus, kok. Sebelum ke sini aku udah nelfon Agus. Dia sedang ikut meeting di perusahaan asuransi besar.” Wibi ikut bangkit dari kursinya.


“Oh, boleh. Ayo,” jawab Tini, mengambil kertas yang tadi dibawa Tini. “Kalau transaksi Mas Wibi ini masuk ke insentif aku nggak apa-apa, kan? Aku yang prospek soalnya,” ucap Tini tertawa.


Wibi ikut tertawa kemudian menyimpulkan senyumnya. “Enggak apa-apa, kok. Gimana baiknya aja buat kamu,” sahut Wibi.


Sore ke malam itu Tini melupakan soal Pak Hamit dan permasalahan Evi. Ia menikmati ngobrolnya bersama Wibi. Dari obrolan sebelum pulang, Wibi bercerita soal keluarganya yang bukan berasal dari keluarga kaya raya. Semuanya pengusaha.


Dari percakapan itu juga, Wibi mengatakan sekilas soal kekasihnya yang sudah menikah dan memiliki anak. Sepertinya Wibi ditinggal menikah oleh kekasihnya yang merupakan anak konglomerat di Surabaya.


Wibi juga bercerita soal kakak kandung dan abang iparnya yang memiliki usaha tahu baso lumayan sukses. Tini mendengarkan cerita itu dengan tekun. Sampai menjelang pukul sembilan malam Tini tiba kembali di kos-kosan.


“Aku anter ke dalem, ya?” Wibi mematikan mesin mobil. Mereka sudah tiba di depan gang kos-kosan kandang ayam.


“Jangan—jangan, aku nggak enak,” ucap Tini buru-buru melompat turun.


Wibi tak kalah cepat. Ia juga buru-buru turun keluar dari mobil dan bergegas ke depan gang. Menurut cerita Heru, dia dan Bara dulunya sering ke kos-kosan itu. Tapi kenapa saat ia yang mau masuk ke dalam, Tini mati-matian menolak. Penolakan itu membuat Wibi merasa dibeda-bedakan. Kenapa Heru dan Bara boleh?


“Aku ikut, Tin. Nganter sampe dalem. Heru dan Bara dulu sering ke sini, kan? Kenapa aku nggak boleh?” tanya Wibi.


Tini menatap laki-laki itu dengan bingung. “Ini cuma kos-kosan biasa, Mas. Bukan lokasi piknik. Bara ke sini karena pacaran sama Dijah. Heru ke sini, karena ikut Bara ke sini.”


“Kalau gitu, aku ke sini karena Heru ke sini. Agus belum ke sini, kan?” tanya Wibi.


Tini menggeleng.


“Bagus. Kalau gitu aku aja yang ke sini,” ujar Wibi, melangkah masuk ke gang menuju kos-kosan.


Tini sebenarnya tak masalah Wibi ikut mengantarkannya ke dalam. Yang ia khawatirkan adalah … Tini tak mau Wibi disamakan oleh Gatot setan. Laki-laki itu tak boleh mendengar hal-hal tak enak soal kos-kosan kandang ayam. Walau Wibi bukan siapa-siapanya, Tini ingin menjaga nama baiknya.


Dan satu lagi yang dikhawatirkan Tini adalah … musik dangdut dari speaker yang sedang mengalun. Boy sedang stand by dengan speaker-nya. Tini berdebar dengan sepatah dua patah kata sambutan yang akan disampaikan Boy.


“Sampai di sini aja, Mas.” Tini menghentikan langkahnya di dekat pagar. Tubuh Wibi masih terlindung di balik tembok pagar.


Lalu … yang dikhawatirkan Tini pun terjadi. Boy menyadari kehadirannya di depan pagar. Laki-laki itu mulai menyapanya.


“Ngapain berdiri di sana, Bunda? Naik ojek apa? Kok, nggak nyampe ke depan kamar. Ojek gendong?” tanya Boy dengan pengeras suara.


Wibi belum menyadari ucapan dengan pengeras suara itu ditujukan kepada Tini. “Ayo, masuk. Aku haus,” kata Wibi beralasan. Ia melangkah ke halaman seraya menyeret lengan Tini.


Boy yang melihat Tini masuk kembali berteriak, “Cari apa Bunda? Ayo, Bunda. Masuk aja, Bund—" Boy lalu terdiam sedetik saat Wibi menoleh ke arahnya. Ia merasa sedang dipelototi. Pandangan Wibi tak lepas darinya. Boy gugup dan meneruskan ucapannya menjadi ….


Bunda


Tak pernah kau berharap budi balasan


Atas apa yang kau lakukan


Untuk diriku yang kau sayang


Saat diriku dekat dalam sentuhan


Peluk kasihmu dan sayang


Saat ku jauh dari jangkauan


Doa mu kau sertakan


Tini terkikik menutup mulutnya. Ia berjalan melewati Mak Robin, Asti dan Bayu yang sedang duduk di depan jendela dengan santai.


“Selamat malam, Mak Robin. Dik Asti dan Bayu. Sedang santai, ya?” sapa Tini dengan anggun.


Mak Robin yang sedang mengunyah kerupuk, seketika terperangah. Mulutnya ternganga menatap Tini yang mengangguk pelan padanya.


To Be Continued