
Usai makan siang, Evi menyapu dan mengepel seisi rumah sebersih-bersihnya. Pintu depan dibukanya lebar-lebar, namun pemandangan teras masih terhalang dengan tanaman teh-tehan.
“Di depan itu bukit apa, Vi?” tanya Wibi saat duduk di kursi tamu menghadap keluar. Ia menunjuk bukit yang menyembul di belakang rumah tetangga yang berhadapan dengan rumah keluarga Pak Joko.
“Oh, bukit yang kelihatan dari sini itu, ya?” Evi berhenti di ambang pintu menatap keluar.
Wibisono mengangguk.
“Bukit itu yang memisahkan gang buntu ini dan gang buntu sebelah, Mas. Paling keliatan diliat dari sini dan letaknya semakin landai ke depan jalan raya. Pemiliknya sama. Dari dulu mau dijual tapi belum ada yang sanggup belinya. Karena pemiliknya nggak mau menjual sedikit-sedikit. Maunya semua sampai ke batas belakang ruko. Nah, ruko itu juga pemiliknya sama. Tapi belum ada yang beli atau yang sewa ruko itu. Yah, gimana mau laku. Perekonomiannya masih sama rata semua.” Evi melakukan tour singkat sejenak pada calon kakak iparnya. Wibisono mendengarkan hal itu sambil mengangguk-angguk.
Tini keluar dari kamar dengan pakaian kebangsaannya. Daster batik sepanjang betis dengan bungkusan pakaian kotor yang mau direndamnya lebih dulu di kamar mandi.
“Laundry aja, banyak banget itu.” Evi mendekati Tini dan mengambil bungkusan dari tangan kakaknya. “Lagian ini ada baju Dayat juga. Mana dia? Biar dikeplak. Alesan aja baru diomeli dikit sama Bapak langsung ngambek. Lagian salah dia juga. Ngajak main Puput tapi dilepasin. Untung Puput tau pulang sendiri ke rumah,” omel Evi.
“Dayat nggak ngambek. Memang mau main ketemu temennya, pamer baru pulang jalan-jalan. Dia pergi bawa bungkusan sambil senyum-senyum. Pasti ke rumah pacarnya nganter oleh-oleh,” tukas Tini.
“Ya, udah ini aku laundry aja. Kamu temenin Mas Wibi. Sekalian kamu omongin mau nginep di mana. Kalau di sini paling tidur di ruang tamu sama Dayat. Atau dia pergi ke kota cari hotel.” Evi menunjuk Wibisono dengan dagunya. Pria itu masih memandang keluar rumah melalui pintu yang terbuka.
“Ini aku omongin. Kamu santai aja jangan bawel banget,” pesan Tini.
“Gimana nggak bawel. Kita nggak pernah ada tamu cowok bertahun-tahun,” bisik Evi.
“Ya, kamu cari cowok. Bawa ke rumah kenalin sama Bapak.” Tini mencibir.
“Halah. Aku nanti aja. Nanti kalau pacaran-pacaran banyak larangannya. Aku masih banyak rencana. Kamu dulu, Mbak. Aku penasaran dengan anakmu. Apakah anakmu bakal mewarisi ilmu kita atau enggak.” Evi terkikik-kikik seraya pergi meninggalkan Tini.
Tini mendekati Wibisono yang belum berganti pakaian. Wajah pria itu terlihat lelah dan mengantuk. Tapi tak ada ranjang di sana selain ranjang susun mereka di kamar dan ranjang besar milik orang tua mereka yang ditempati Dayat di kamar depan. Sedangkan Bapak mereka tidur di lantai menggunakan kasur tipis di dekat Dayat.
“Mas capek, kan? Mandi dulu. Aku bingung mau nawarin nginep di sini atau enggak. Kalau ke hotel, Mas harus berangkat sekarang. Lumayan jauh dari sini. Kalau nginep di sini, nggak ada kamar. Palingan Mas tidurnya di ruang tamu sini pakai kasur lipat. Aku jadi serba salah,” ucap Tini.
Mengusir Wibisono agar cepat berangkat ke hotel untuk beristirahat, Tini pun tak tega. Lagipula, sejujurnya ia juga masih mau berlama-lama dekat pria itu. Tapi menahannya cukup lama di sana, ia tak bisa menawarkan sesuatu yang pantas untuk Wibisono. Terlebih saat di Surabaya Wibisono memberikan mereka kamar hotel yang sangat bagus untuk ditempati.
“Aku nginep di sini aja nggak apa-apa, Tin. Cuma dua malam, kan? Kamu besok mau ke mana? Biar aku temenin,” ucap Wibisono, menumpukan dua sikunya ke lutut dan memandang Tini di sisi kanannya.
“Aku kepingin ke makam ibu. Udah lama banget nggak ke sana. Tapi agak jauh, Mas.”
“Yah, sekalian kalau gitu. Mumpung ada mobil. Besok kita sama-sama. Evi dan Dayat kalau mau ikut bisa sekalian,” ujar Wibisono.
“Bapak mau ikut juga kalau besok ke makam ibu,” seru Pak Joko yang baru muncul dari belakang.
“Besok temenin Bapak ke kota juga bisa nggak? Bapak mau ke bank. Temenin, ya, Tin?” tanya Pak Joko memandang wajah putri sulungnya.
Tini menoleh ke arah Wibisono. Menunggu jawaban apa yang diberikan pria itu. Soalnya status mereka semua masih menumpang pada orang yang belum memiliki ikatan dengan keluarga mereka.
“Kok, ngeliat aku kayak gitu? Ya, ayo.” Wibisono tertawa memandang Tini yang kemudian mengangguk pada bapaknya.
“Besok pagi-pagi, ya. Nak Wibi nginep di sini juga nggak apa-apa kalau berkenan. Penginapan jauh dari sini. Tapi kalau mau ke penginapan juga nggak apa-apa,” kata Pak Joko.
“Di sini aja, Pak. Matur nuwun,” kata Wibisono mengangguk cepat-cepat. Beres sudah pikirnya. Sejak tadi ia tahu kalau Tini dan adik-adiknya mengkhawatirkan soal ia akan tidur di mana. Dua kakak adik itu terlalu sibuk menjamunya. Ia bahkan tak dibiarkan berdiri untuk mencuci tangannya ke kamar mandi. Padahal ia ingin kalau mereka memperlakukannya seakrab mungkin. Tidak seperti orang asing.
“Jadi nggak apa-apa tidur di lantai?” tanya Tini lagi.
“Enggak apa-apa. Aku harus meyakinkan kamu pakai apa lagi?” tanya Wibisono seraya tersenyum simpul.
Tini salah tingkah mendengar hal itu. Mau mencondongkan tubuhnya ke arah Wibisono, tapi ingat bapaknya yang baru masuk ke kamar.
“Aku mau mandi dulu. Terus aku mau rebahan sebentar. Boleh?” tanya Wibi, mencondongkan tubuhnya ke depan dan meraih tangan Tini. Ia menggenggam tangan Tini dengan kedua tangannya. “Masakan kamu enak,” ucap Wibisono kemudian.
Ulah Wibisono itu berhasil membuat mata Tini bergerak seperti penari Bali. Melihat Wibisono sedetik, lalu melirik pintu kamar bapaknya. Melihat pintu ruang tamu yang terbuka lebar, lalu melirik pintu belakang. Bola mata Tini sampai pegal demi bisa mengamankan situasi. Meski hanya berpegangan tangan, Tini merasa canggung sekali kalau hal itu dilihat oleh bapaknya.
“Mandi sekarang, Mas. Nanti rebahan di kamarku aja dulu. Aku dan Evi mau bersihin ikan. Tadi Bapak beli ikan laut di pekan. Katanya buat tamu spesial. Bapak nggak mau makan ayam sejak enam tahun belakangan. Trauma,” bisik Tini terkekeh.
Wibi ikut tertawa meski sedikit bingung. Ia lalu menggeser ranselnya ke dekat kaki. Menunduk beberapa saat untuk mengeluarkan handuk dan mengeluarkan pakaian ganti.
Tini menoleh pada ransel yang sedang diaduk Wibisono. Seraya membasahi bibirnya, Tini berharap bisa melihat sekilas pakaian yang bakal dikeluarkan Wibi. Di kepalanya sudah menari-nari soal apa saja yang akan dibawa Wibi ke kamar mandi. Dan darahnya seketika berdesir saat matanya menangkap pemandangan karet pinggang pakaian dalam bertuliskan Calvin Kelen. Untung bukan Crocodile, pikir Tini. Soalnya ia sudah jeleh melihat jajaran Crocodile milik Boy di jemuran kos-kosan.
“Kamar mandinya di mana?” tanya Wibisono bangkit dari kursi.
“Di belakang, mau aku temenin?” Tini menawarkan diri mengantarkan Wibisono ke kamar mandi yang letaknya di sudut dapur.
“Memangnya boleh mandi ditemenin?” goda Wibisono, menyenggol bahu Tini saat jalan bersisian ke dapur.
“Astaga, Mas. Soal itu Mas nggak perlu ragu dengan jawaban aku,” jawab Tini.
Wibisono tergelak dan mengalungkan lengannya di leher Tini. Ia menjepit pelan kepala Tini di bawah ketiaknya.
To Be Continued