
“Nanti kalau mau ke depan lagi, kabari Pakdhe aja, ya, Bi.” Pakdhe Wibi yang mengemudikan mobil Alphard, turun dari mobil dan berjalan menuju pos ronda kecil di sudut gang. Ternyata beberapa saat di sana, Pakdhe Wibi sudah menemukan teman mengobrol.
“Nanti aku panggil. Pakdhe santai aja,” kata Wibi setibanya di luar mobil dan mengulurkan tangannya pada Tini.
“Mau diganti sekarang, kan, pakaiannya?” Seorang asisten bidan pengantin, ikut membantu Tini turun dari mobil.
“Iyo, wis sumuk, (sudah gerah,)” sahut Tini.
“Kalau mau ke depan lagi biar digantiin pakai kebaya santai. Atau mau makan dulu biar ganti pakai piyama sebentar,” saran asisten bidan pengantin itu lagi.
“Kalau bisa aku malah kepinginnya mandi dan buka sanggul. Kulit kepalaku kayanya udah mati rasa. Rambutku masih ada, kan, Mas?” tanya Tini pada Wibisono.
“Syukurnya masih ada,” sahut Wibisono. “Aku laper, Tin. Tadi di pelaminan makan dikit udah kenyang. Sekarang baru kerasa lapernya,” ucap Wibisono.
“Sebentar aku bilang,” kata Tini setibanya di depan pintu kamar. Kepalanya menoleh mencari seseorang yang bisa dimintainya tolong. “Semuanya ke mana?” gumam Tini.
“Kalau nggak ada orang, nanti aja nggak apa-apa, Tin.” Wibi langsung mencabut keris dari belakang punggungnya dan meletakkannya di meja rias.
“Jangan Mbak Tini yang panggil. Biar saya aja. Mbak dan Mas-nya di kamar, ganti pakaian dulu. Nanti makeupnya saya benerin biar langsung bisa saya tinggal. Bos saya kalau udah sore pulang duluan. Saya tinggal beres-beres dan merapikan makeup pakaian penutup.” Asisten bidan pengantin pergi memanggil seseorang untuk menyediakan makan.
Asisten bidan pengantin itu keluar kamar meninggalkan Tini dan Wibi berdua saja. Tini duduk di depan meja rias untuk mengecek penampilannya setelah hampir seharian bersanding di pelaminan. Dalam hati, ia memuji betapa bidan pengantin yang direkomendasikan oleh sahabat Evi benar-benar bagus. Makeup yang dikenakannya dari pagi tak ada sedikit pun luruh meski terkena air mata beberapa kali.
“Ganti baju dulu, habis makan kita ganti pakaian katanya. Ternyata resepsi begini aja capeknya luar biasa,” kata Wibisono, membuka kancing pakaiannya dan meletakkan atasan hitam baldu di dekat kepala ranjang.
Tini melirik Wibisono dari pantulan cermin. Tapi karena cermin itu letaknya tak lurus mengarah pada Wibi, Tini harus menggeser sedikit badannya menyerong. Ia melirik Wibisono yang kini hanya mengenakan kaus dalaman dan kain batik penutup bagian bawah tubuhnya.
Tubuh Tini terasa menegang saking canggungnya. Ia masih berpakaian lengkap dan tak tahu apa harus berganti pakaian saat itu juga. Ketika sedang sibuk mempertimbangkan hal itu, ekor matanya kembali melirik cermin dan melihat Wibisono melepas kainnya. Tini nyaris memekik karena terkejut. Tak ada teman untuk mengatakan astaga atau ‘ohmaigat’ saat itu. Dilihat sekilas tadi, sesuatu yang membuat jantung Tini berdegup lebih cepat sepertinya tak akan mengecewakan. Otot-otot lengan dan dada Wibisono menggambarkan dengan jelas akan hal itu.
“Sini aku bantu buka kancing baju kamu. Sebentar lagi makanan kita pasti dateng,” kata Wibisono, berjalan mendekat ke arah Tini.
“Baju ganti Mas ada di situ, kan?” tanya Tini sedikit gugup.
“Pasti ada. Nanti aku ambil,” sahut Wibi, memegang kedua lengan Tini dan mengajaknya berdiri untuk berputar ke arahnya.
Wibisono berdiri di hadapannya dengan selembar boxer ketat yang membuat dengkul Tini lemas seketika. Sedetik yang lama, Tini tak tahu harus mengarahkan pandangannya ke mana. Jaraknya begitu dekat dengan bagian bawah tubuh Wibi yang membuatnya gelisah.
“Jangan terlalu dipandangi. Kita perlu makan malam untuk tenaga,” cetus Wibisono seraya terkekeh.
“Apa, sih,” ucap Tini, memukul manja lengan Wibisono yang sedang membuka bros besar di depan dadanya. “Kalau mau makan dulu, baju Mas dipakai langsung. Jangan kayak gi … ni,” gumam Tini dengan pandangan sayu dan terpaku ke depannya.
“Ini teaser, cuplikan kayak di film-film biar penonton penasaran,” sahut Wibisono santai.
Tini terhenyak. Dia memang penasaran.
Semua kancing pakaian Tini sudah terbuka dan ia setengah berputar saat melepaskan atasannya.
“Kalau udah diliat dari luar, bentuknya, ya pasti begitu. Kan, enggak mungkin selama ini aku sumpel-sumpel pake kain. Ada-ada aja,” sungut Tini, memegang dadanya dan celingak-celinguk mencari gaun tidur merah jambu yang dibelikan Evi untuknya. Gerakannya penuh kecanggungan.
Wibisono tertawa lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya dengan cekatan membuka pengikat kain batik yang dipakai Tini. Perlahan tapi pasti, ia berhasil membuka seluruh balutan pakaian yang dikenakan istrinya saat itu.
“Udah kebuka semua,” Wibi menumpuk pakaian mereka di satu sudut. “Itu ngapain dipegangin?” tanya Wibi, menunjuk satu tangan Tini yang menutup kedua dadanya sekaligus. Satu tangan Tini lainnya menggeser hanger mencari gaun tidurnya.
“Ditutup biar nggak tumpah,” jawab Tini tanpa menoleh. “Aku deg-degan, lho, Mas. Apa getaran jantungku nggak kerasa sampe di sana?” tanya Tini. Ia tahu Wibisono masih duduk di tepi ranjang dan memandang bagian belakang tubuhnya. Saat itu ia hanya mengenakan pakaian dalam anyar yang dibelinya khusus untuk hari resepsi.
"Berasa, kok. Aku suka kalau kamu deg-degan. Memang udah seharusnya," jawab Wibisono.
Tini menarik dua hanger berisi pakaian ganti mereka. “Ini, Mas. Pakai ini dulu baru makan. Jangan sampe ada yang liat Mas kayak gitu selain aku,” ujar Tini, meletakkan hanger di sebelah Wibisono. Ia cepat-cepat mengambil hanger yang berisi gaun tidur dan ingin segera mengenakannya. Tini merasa wajahnya sudah memerah dan panas karena tahu sejak tadi Wibi terus memandang dadanya.
“Makanannya belum dateng. Mending duduk di sini dulu,” kata Wibisono, menarik lengan Tini hingga terduduk di pangkuannya.
“Astaga,” pekik Tini seketika. Tangan Wibisono seketika melingkar di perutnya dan pria itu membenarkan letak duduk mereka. “Oh, ya, ampun.” Tini menggeser bokongnya. Ia baru saja menyenggol keris lain yang biasa dibawa-bawa suaminya.
Telapak tangan Wibisono terasa hangat menyentuh kulit punggungnya. Satu telapak tangan lain menyusuri perutnya dan berhenti untuk meremaas lembut pinggangnya.
“Sebentar lagi musiknya berhenti dan yang bawa makan malam pasti dateng,” bisik Tini.
“Ciuman melepas rindu enggak akan lama,” lirih Wibisono di telinga Tini. Ia lalu sedikit mendongak dan menekan tubuh Tini agar mendekat padanya.
Itu adalah ciuman mesra pertama mereka saat menjadi suami istri. Saat kedua-duanya hanya mengenakan pakaian dalam dan posisi berpangkuan. Ciuman itu sangat lembut dan dalam.
Tangan Wibisono yang tadi hanya mengusap pinggang dan perut Tini mulai menjalar naik dan berpindah ke bagian dada. Memijat pelan dan membuat Tini ikut mengalungkan kedua tangannya di leher Wibisono.
Ciuman yang saling menyambut perlahan mulai cepat dan terburu-buru. Tini memejamkan mata karena sudah terhanyut dan tuli akan sekelilingnya. Desaahan lembut keluar pelan dari bibir Wibisono.
“Mbak Tini! Ini nampan makan malamnya,” seru suara seorang wanita dari luar.
Ciuman itu seketika terhenti dan mata mereka terbuka saling memandang.
“Ehem, makan malamnya udah dateng,” kata Tini. “Makan dulu,” sambungnya.
“Oh, iya,” sahut Wibisono, menggeser letak tangannya di leher Tini. Dan satu tangan lainnya menutup dada Tini yang sudah disingkapnya.
Tini menunduk memandangnya. Ia baru menyadari bahwa ibu jari Wibisono sudah mengusap puncak dadanya sejak tadi.
To Be Continued
Sambungannya sabar, ya.
Terima kasih yang sudah dukung Tini Suketi tanpa juskelapa harus memohon didukung. Terima kasih yang sudah like meski tidak diingatkan. Mauliate 😘