
Tini menarik napas panjang. Tak sangka bapaknya bisa berbicara begitu bijaksana padanya. Sedikit simpul di hatinya mulai terurai. "Nggeh, Pak. Matur nuwun. Saiki Bapak salin sek." (Iya, Pak. Makasi. Ganti pakaian, Pak.)
"Nganggo klambi ndi iki, Tin? Jare awakmu ndi sek pantes? Ben Bapak ndang ganti klambine,mesakke calone kowe selak nunggoni.” (Pakai baju yang mana tin? Yang mana paling pantes menurut kamu? Biar bapak ganti pakaian. Jangan sampe calon kamu lama nungguin Bapak.)
Pak Joko bergegas berdiri menepuk-nepuk sarungnya. Wajahnya terlihat antusias dan polos sekaligus. Raut wajah seorang Bapak yang bahagia tergambar jelas. Setelah sekian lama melihat bapaknya hidup tanpa semangat, siang itu Tini menahan air mata karena reaksi bapaknya menyambut Wibisono.
Tini mendahului langkah bapaknya menuju ke ruang tamu. Dengan cepat ia berbelok masuk ke kamar bapaknya dan membuka lemari. Dayat yang melihat kedatangan bapak mereka, cepat-cepat mengajak Wibisono berbicara agar tak menoleh dan melihat Bapak mereka yang berlari kecil masuk ke kamar sambil memegangi sarung. Pemandangan itu sama sekali bukan pemandangan yang mereka idamkan.
“Pakai yang ini, ya.” Tini meletakkan sepasang kemeja dan celana panjang di atas tempat tidur. Pak Joko mengangguk patuh dan Tini keluar kamar sambil menyeka sudut matanya. Ia terharu. Bertahun-tahun tak ada kejadian dalam keluarga mereka yang bisa membuatnya bicara sangat serius dan baik-baik dengan bapaknya.
Tini kembali menghampiri Wibisono dan duduk di kursi tunggal sebelah pria itu. “Bapak lagi ganti baju, Mas. Mas udah minum?” tanya Tini, melirik cangkir Wibisono yang isinya sudah kandas. Ia kembali menuangkan teh ke dalam cangkir pria itu.
“Udah minum. Udah abis juga. Bapak sehat, kan?" tanya Wibisono. Ia khawatir karena melihat bagian bawah mata Tini yang basah.
Tini mengangguk. "Sehat, Mas." Kalau makan tidur saja bisa tak sehat, maka ia dan adik-adiknya akan sangat heran.
Tak lama, percakapan mereka terhenti. Pintu kamar depan terbuka dan Pak Joko muncul ke ruang tamu mendekati mereka.
“Pak, ini Mas Wibisono. Mas Wibi, ini Bapak kami. Namanya Pak Joko.” Tini berdiri dari kursi yang ditempatinya. Memberi tempat pada Pak Joko yang keluar kamar dengan kemeja lengan panjang dan celana bahan yang dibelikan Tini untuk hari raya dua tahun yang lalu.
Bagi mereka semua, saat itu penampilan Pak Joko memang sangat berbeda. Tanpa kain sarung dan kaos lusuh, Bapak mereka benar-benar terlihat seperti Bapak pada umumnya.
"Pak, kulo Wibisono. Dateng kulo mriki ingkang sepindah badhe mundhut Tini dados estrine kulo. Saking piyambak'e nggih mpun purun. Kantun restu saking Bapak. Bilih Bapak kerso, mangke kalih sasi melih kulo mriki kaliyan keluargi, badhe nepaki ingkang dados kekarepan." (Pak, saya Wibisono. Saya datang ke sini dengan niat mau melamar Tini untuk jadi istri saya. Dari Tini sendiri sudah setuju. Sekarang tinggal izin dari Bapak. Kalau Bapak setuju, dua bulan lagi saya dan keluarga besar bakal datang untuk langsung menunaikan hajat."
Tanpa basa-basi Wibisono menyampaikan maksud kedatangannya. Ia tahu kalau Tini sudah berbicara panjang lebar dengan bapaknya di belakang rumah. Sekarang giliran dia yang menyampaikan maksudnya tanpa bertele-tele. Ia tak sabar mendengar jawaban langsung dari calon bapak mertuanya itu.
"Tini kuwi wis gedhe. Tini kuwi blas ora tau nggowo sopo-sopo sing meh dikenalke marang Bapakke. Dadi Bapak kuwi wis nganggep Tini kuwi wis mantep karo Nak Wibi. Bapak setuju. Tini kuwi anak mbarep sek ora tau gawe repot wong tuwo. Teneh Bapakke. Tini kuwi bocah sek mandiri lan ngrumati adi -adine. Ora tau nduweni pamrih. Bapak urung iso menehi Tini semabarang. Sek dadi kekarepane saiki Bapak yo mung iso nuruti, selama Bapak iki ijeh mampu." (Tini sudah dewasa. Tini nggak pernah bawa siapa-siapa buat dikenalkan ke Bapak. Jadi, Bapak anggap Tini memang sudah yakin sama Nak Wibi. Bapak setuju. Tini ini anak sulung yang nggak pernah ngerepotin kami orang tuanya. Terutama Bapak. Tini anak yang mandiri dan peduli pada adik-adiknya. Tini anak yang nggak pernah pamrih. Bapak belum pernah ngasi Tini apa-apa. Jadi apa pun yang Tini minta skrg, Bapak bakal turuti selama Bapak mampu.)
Di dalam hati Pak Joko melanjutkan, “Opo wae, sing penting ora mbeleh Puput titik.” (Apa aja, kecuali menyembelih Puput.)
Mendengar kata-kata bijaksana yang barusan dilontarkan oleh Bapak mereka, Tini, Evi dan Dayat saling pandang. Di dalam hati mereka juga berkata, “Opo wae, sing penting ora mbeleh Puput titik.” (Apa aja, kecuali menyembelih Puput.)
To Be Continued
PS.
Juskelapa sekarang sedang liburan bertemu keluarga di Medan. Bertemu ibu yang hanya bisa ditemui setahun dua kali. Demi menghargai beliau dan menghabiskan waktu berkualitas bersama orang tua, juskelapa jarang sekali memegang gadget. Jadi, menulis benar-benar di waktu senggang. Terima kasih sudah menunggu Tini.