TINI SUKETI

TINI SUKETI
114. Pengobat Rindu



“Oh, Mbak Suketi. Silakan duduk dulu.” Dean menunjukkan seperangkat sofa di depannya.


Tini duduk di sofa empuk berbalut kulit yang terletak di sisi kiri dari tempat masuknya tadi. Dengan lambat, pandangannya menyapu ke seluruh ruangan. Ekor matanya melihat Dean masih sibuk mengetik di ponselnya dengan sangat cepat. Tini memfokuskan pandangannya ke dinding seberang ruangan. Berbagai pigura piagam penghargaan tergantung sangat rapi. Di atas semua pigura itu tergantung foto keluarga yang sangat besar.


Sepertinya foto itu adalah foto keluarga terbaru. Karena Tini melihat istri pemilik kantor advokat itu memangku seorang bayi yang terakhir kali ditemuinya di ruangan Pak Wimar berada di stroller. Seorang balita perempuan duduk dipangku oleh bapaknya. Sedangkan sepasang anak lainnya, berdiri mengapit orang tuanya di kanan kiri. Wajah semua anak-anak nyaris sama. Semuanya bermata sipit.


Foto keluarga itu terlihat sangat hangat. Wajah pria yang terlihat bangga akan keluarganya. Serta wajah wanita yang terlihat puas dengan kehidupannya. Keluarga yang cukup besar, batin Tini.


“Iya—iya. Nanti Bapak beli. Itu aja?” tanya Dean melalui telepon. “Mbak Dita dan Mas Dirja maksudnya baik. Kamu masih sakit makanya nggak dibolehin berenang. Udah—udah. Nanti cokelatnya Bapak beli yang banyak. Bapak tutup telfon dulu, ya. Jangan ngambek kelamaan. Sisain buat besok,” pesan Dean di telepon lalu meletakkan ponselnya. Dean berdiri menghampiri Tini dan duduk di sofa tunggal yang terletak di tengah.


“Hal apa yang membawa Mbak Suketi ke sini?” tanya Dean, menyilangkan kakinya. Satu tangannya berada di pegangan sofa, dan satu lainnya membuat gesture di bawah dagu.


Tini mengeluarkan kartu undangan dan meletakkannya di atas meja, dan menyorongkannya ke hadapan Dean. “Mau nganter ini, Pak.”


Entah kenapa, Tini selalu merasa harus berhati-hati tiap membuat gerakan apa pun di depan pria itu. Dari letak semua barang di ruangan itu, Tini bahkan takut sepatunya meninggalkan tanah di lantai. Karena semuanya terlihat bersih mengkilap serta diletakkan dengan presisi.


Dean mengambil kartu undangan dan membolak-baliknya dua kali sebelum membuka plastik. “Kira-kira apa hubungan kartu undangan ini dengan lahan yang kamu beli? Waktunya nyaris bersamaan. Pasti ada hubungannya,” gumam Dean sambil membaca tulisan di kartu undangan.


“Hubungannya ada. Tapi sedikit aja, Pak. Kayanya nggak terlalu penting,” sahut Tini, meringis.


“Buat saya memang nggak penting. Tapi buat kamu, saya yakin itu sangat penting,” jawab Dean tanpa menoleh.


“Kalau Bapak ada waktu—”


“Nanti saya ajak istri. Kampung halaman ibu mertua saya di Solo. Tapi keluarganya bermigrasi ke Jambi. Kalau ibu mertua saya mau, saya ajak sekalian ke sana.” Dean meletakkan kartu undangan kembali ke meja.


“Terima kasih, Pak. Bapak udah terlalu baik dengan saya. Sudah bantu saya juga melalui Pak Santoso. Kalau saya ngurus sendiri, mungkin sampai sekarang belum selesai.”


“Kamu itu … mengingatkan saya dengan istri saya.”


Tini memandang Dean dengan mata berbinar.


“Stop, jangan pandang saya kaya gitu. Masih ada kalimat lanjutannya. Kamu itu mengingatkan saya dengan istri yang sama-sama dari desa kecil. Dari desa kecil pergi ke kota dengan cita-cita yang sangat sederhana. Membantu keluarga. Itu aja. Dan … saya bantu kamu juga karena istri saya,” jelas Dean.


Tini terdiam terkesima. Ia memang tidak bisa geer untuk jawaban yang diberikan atasannya. Memang rasanya tak mungkin Dean memujinya yang bukan-bukan. Dean bukan tipe laki-laki yang suka memuji orang lain tanpa alasan.


Tok Tok Tok


Ketukan di pintu terdengar nyaris bersamaan dengan masuknya seorang pria yang ditunggu Dean.


“Ya, Pak? …. Eh, ada Mbak Suketi. Dayat apa kabar?” sapa Santoso langsung mengambil tempat duduk di depan Tini.


“Dayat kabar baik. Katanya dia punya cita-cita jadi pengacara sekarang. Pak Santoso adalah panutan Dayat,” ucap Tini, mengambil kartu undangan dan mengulurkannya pada Santoso. “Kalau sempat, datang ya, Pak. Biar Dayat bisa ketemu Pak Santoso lagi.”


Santoso langsung membuka kartu undangan dan membaca. “Oh, ini calon suami Mbak Suketi juga anak hukum. Profesinya apa?” tanya Santoso.


“Punya usaha travel kecil-kecilan, Pak.” Tini tersenyum dengan anggun.


“Sesuatu yang kecil jika dikerjakan dengan kesungguhan yang besar, maka hasilnya akan luar biasa besar. Calonnya Mbak Tini pengusaha. Ciri laki-laki sejati,” ucap Santoso.


“Ehem.” Dean berdeham.


“Dan para pengacara di Danawira's ini laki-laki jantan yang berjuang untuk kliennya,” tambah Santoso cepat-cepat.


Dean membenarkan letak dasinya dengan elegan.


“Saya bakal datang ke Desa Cokro. Saya mau liat kejutan yang dimaksud Dayat kemarin. Sepertinya istri saya bakal bawa seorang teman ke sana. Akhir-akhir ini mereka sangat dekat. Intinya …. Saya akan datang.” Santoso mengangguk kecil pada Tini.


“Saya digaji oleh perusahaan. Jadi saya akan melakukan hal terbaik yang diminta oleh atasan saya.” Santoso memandang Dean. Atasannya itu sekarang sedang menyentil debu dari ujung lututnya.


Langit sudah gelap saat Tini melangkah keluar gedung. Langkah kakinya enteng seiring dengan paper bag-nya yang telah kosong, tugasnya mengantar semua kartu undangan telah selesai. Ia hanya tinggal menunggu waktu sepuluh hari lagi untuk kembali ke kampung halamannya untuk menunggu hari H.


Karena kakinya terasa sangat pegal, Tini menumpangi taksi online untuk kembali ke kos-kosannya. Jalanan menjelang malam sangat macet. Tini menyandarkan tubuhnya dan menghela napas panjang menatap keluar jendela. Teringat akan Wibisono, ia mengeluarkan ponsel dan mengirimi pria itu pesan.


‘Semua kartu undangan bagianku, udah habis aku bagiin. Mas Wibi, gimana?’


Tini menunggu beberapa saat, dan tak lama Wibisono membalas pesannya.


‘Kartu undanganku juga sudah habis. Tapi rinduku kayanya makin banyak.’


Tini mencibir dan tersipu-sipu saat membaca balasan Wibi. Ia lalu kembali mengetikkan jawaban.


‘Sepuluh hari lagi udah bisa ketemu di Desa Cokro.’


Selang semenit, Wibisono kembali membalas.


‘Aku nggak sabar pakai keris di belakang punggung.’


Tini hampir saja tertawa terbahak-bahak saat membaca balasan pesan Wibisono. Andai saja ada Dijah, mereka berdua pasti saling pukul dan dorong karena pesan pendek itu. Tini kembali membalas.


‘Boleh latihan dipakai mulai dari sekarang.’


“Ya, ampun. Apa boleh aku bilang, kalau aku nggak peduli dengan keris yang di belakang punggung?” Tini membekap mulutnya sendiri karena tertawa tertahan seperti orang gila.


Jalanan yang macet membuat Tini tiba di kos-kosan pukul delapan malam. Wajahnya menyiratkan keletihan karena setengah hari berkeliling ke sana kemari.


Halaman kos-kosan sangat gelap. Jumat malam dan rata-rata penghuni kos belum tiba di kamarnya. Sebagian juga mungkin sudah kembali pergi keluar bermalam Sabtu. Langkah kaki Tini terhenti di pagar. Ia melihat sosok pria sedang duduk di dalam kegelapan.


“Mas?” panggil Tini.


Wibisono mendongak. Tini terdiam beberapa langkah dari depan pria itu. Sejenak mereka diam bertukar tatapan.


“Bawa kerisnya, kan?” tanya Tini, menahan tawa.


Wibisono tergelak seraya mengulurkan tangannya. Meminta Tini mendekatinya ke kursi.


“Aku kangen, Tin,” ucap Wibi. Pria itu menarik Tini hingga terhempas ke pangkuannya.


Tini tersentak dan seketika menoleh sekelilingnya. Sepi. Situasi halaman kos-kosan dan penghuni lantai satu cukup aman.


“Aku baru nyampe sore tadi buat ngurus kantor baru sebentar. Aku bahkan belum ngambil mobil di rumah baru. Tadi ke sini pakai taksi.” Wibisono melingkarkan tangannya ke sekeliling tubuh Tini. Ia menyandarkan kepalanya di punggung Tini yang duduk membelakangi di pangkuannya.


KREEEK


Suara pintu kamar Mak Robin terbuka. Tini tak sempat berpindah tempat. Wanita itu keluar membawa gelas dan menyiramkan airnya ke halaman. Saat menoleh, Mak Robin memegang dadanya karena terkejut. “Oih, makjang!” pekik Mak Robin tertahan. Namun, ternyata wanita itu dengan cepat menguasai situasi.


“Aman—aman. Anggap aja kelen duduk di bangku tempel angkot penuh. Aku masuk lagi ke dalam. Aku nggak liat apa-apa.”


(*Bangku tempel : bangku kecil tambahan di dalam angkot)


Tini dan Wibi meringis saling pandang.


To Be Continued