TINI SUKETI

TINI SUKETI
71. Kumpul Keluarga Kandang Ayam



“Luar biasa,” sahut Boy tiba-tiba.


“Aku masih mau bilang gitu,” kata Asti.


“Pande-pande kali orang ini semua. Jadi penasaran aku dengan kecerdasan si Dayat. Kau panggil dulu si Dayat ke sini, Tin. Ceritakan dulu soal kejeniusannya di Desa Cokro.” Mak Robin tampaknya benar-benar kagum pada Evi.


“Enggak ada Bu …. Itu masih biasa buat kami. Ilmu Dayat masih seputar pura-pura mogok di rumah cewe yang lagi diincernya. Busi motornya dilepas-pasang tiap hari.” Evi mencibir menatap Dayat.


Dayat terkekeh-kekeh karena dijadikan bahan pembicaraan.


“Tinggi-tinggi kali ilmu kelen. Kalo si Tini, aku udah nggak heran lagi. Ilmunya semakin berkembang akhir-akhir ini. Eh, Evi, Dayat, kelen panggil aku Mak Robin aja. Jangan Ibu. Kok agak geli aku membayangkan jadi pendamping Bapak kelen dan ayam jagonya,” tukas Mak Robin.


Evi nyengir mendengar hal itu. “Siap, Mak!" sahut Evi. "Aku ke dalam dulu masak nasi. Malam nanti bisa makan sama-sama.”


Dayat dan Evi sibuk dengan bawaan mereka di dalam kamar. Meninggalkan para penghuni kos-kosan yang terkesima melihat mereka. Kakak beradik itu mondar-mandir keluar kamar. Dayat menyapu kamar kakaknya sampai ke teras. Evi baru saja membawa beras yang akan dicucinya ke belakang.


“Semuanya cekatan banget, ya, Mbak.” Asti memandang Dayat yang membersihkan dasar tas yang telah kosong di halaman.


“Iya. Kuperhatikan juga itu,” sahut Mak Robin.


“Ya, udah biasa. Namanya juga udah lama nggak ada ibu. Bapak kayak gitu. Hidup pas-pasan. Kalau nggak cekatan, mau jadi apa? Bisa mati kelaparan kami semua,” jawab Tini.


“Gimana training hari pertamamu? Bakal betah nggak?” tanya Boy.


“Training-nya mantep. Aku merasa tingkat kecerdasanku naik dua level hari ini. Bosnya ganteng, tapi nyentrik. Bawaannya mau marah aja kayaknya. Tapi nggak pelit. Enggak pelit duit, nggak pelit ilmu. Dia tanda tangan polis asuransi banyak. Wah … karena dia aku jadi punya pendapatan tetap sampai lima taon ke depan.” Tini seketika berbinar menjawab pertanyaan Boy.


“Baik banget. Orang Jawa?” tanya Boy.


“Embuh. Matanya sipit, kulitnya putih, namanya Jawa tenan. Istrinya Jawa. Anak-anaknya sipit semua. Kalau dia ngomong, nggak pernah satu kalimat. Puanjaaaang …,” ujar Tini.


“Mirip kayak Mbak Tini,” tukas Asti.


“Ah, masa, sih? Jangan ngarang kamu.” Tini mencibir ke arah Asti.


“Ya, mirip Mbak Tini kalo ngomong. Panjang lebar. Trus ngegas. Mau marah aja,” sambung Asti tertawa.


“Budhe … Pakle, Bule, Opuuuung ….” Suara wanita menjerit dari pagar membuat mereka semua terdiam.


Evi yang baru selesai memasukkan berasnya ke dalam penanak, juga keluar melihat asal suara jeritan itu. Dijah muncul sambil menggandeng Dul.


“Dijaaaah,” sahut Tini. “Udah lama banget nggak ketemu. Aku banyak rahasia,” ucap Tini. Asti, Mak Robin dan Boy memandang sinis pada Tini. Banyak rahasia, tapi diteriakkan hingga semua orang penasaran.


"Kurang ajar juga si Dijah ini. Opung aku dipanggilnya," sungut Mak Robin. Dijah tertawa-tawa menjawil pipi Mak Robin.


“Eh, ini siapa, Tin?” tanya Dijah memandang Evi dan Dayat yang berdiri di dekat pintu kamar.


Dijah menyalami Evi dan Dayat sambil melontarkan senyum manis.


“Bara mana?” tanya Tini.


Dijah memandang pagar. “Tadi aku turun duluan. Mima sama ayahnya kayak biasa. Kalau udah ketemu ayahnya, aku nggak laku, Tin. Padahal aku yang nyusuin,” jawab Dijah.


“Enggak apa-apa, kan, susunya masih sama.” Tini terkikik.


"Dadi iki koncomu, Mbak? Sek mbok omongke kae?" Tonggomu Mbiyen? (Jadi ini temenmu yang kamu ceritakan selama ini? Tetanggamu dulu?)” Evi memandang Dijah dengan raut santai.


"Lambemu ... lambemu, Vi. (Mulutmu … mulutmu, Vi.)” sergah Tini untuk mencegah Evi melontarkan hal lain soal Dijah.


“Bojone ndi? (Suaminya mana?)” tanya Evi. Tini melengos melihat Evi. Sedangkan Dijah tertawa tertahan. Ia sudah paham kebiasaan Evi itu mirip dengan siapa. Bara kemudian muncul sambil menggendong Mima.


“Budhe Tini …,” sapa Bara.


“Yat, geser kursi yang sebelah sana. Mas ini mau duduk,” pinta Tini pada Dayat. Pemuda itu dengan cekatan mengambil sebuah kursi kosong dan menyodorkannya pada Bara.


Ternyata ocehan Evi tak selesai sampai di situ. “Oh, iki to .... Bagus tenan, njenengan, yo, urung enthuk to, Mbak? (Oh ini …. Bener-bener ganteng. Kamu belum dapet juga, ya, Mbak?)


Tini mendengus menatap Evi. “Hajar, Jah!” pinta Tini, menendang kaki kursi yang diduduki Dijah.


"Sek ora mudheng, yo, mung bojoku tok. Aku, yo, mudheng lho, Vi. (Yang nggak ngerti cuma suamiku aja. Aku ngerti lho, Vi.)” Dijah tertawa tertahan seraya memandang Bara.


"Oalah, untunge ora mudheng loro2 ne. (Oalah, Untung nggak dua2nya ngerti.)” Evi menutup mulutnya.


“Tuman,” omel Tini pada adiknya.


“Ada gurunya,” jawab Evi.


“Tambah masak nasinya. Mereka harus ikut makan juga,” pinta Tini pada Evi.


“Nanti aku tambah,” sahut Evi.


Bara yang sejak tadi diam, hanya memandang Dijah, Tini dan adiknya bergantian.


“Aman, Mas Bara. Yang dibicarakan bukan soal persengkokolan. Adikku cuma bilang, suaminya Dijah ganteng banget. Terus aku jawab, suaminya nggak cuma ganteng, tapi juga kebapakan. Sama temen-temennya Dijah baik banget. Kalau kami semua main ke rumahnya pasti disuguhi makanan enak-enak. Makanya malam ini harus makan di sini juga. Itu aja,” jelas Tini pada Bara.


Bara mengernyit memandang Tini. “Ah, tadi nggak sepanjang itu. Aku nggak percaya,” kata Bara.


Tini tertawa. Meski tidak mengatakan hal itu pada Evi, tapi ia mengatakan hal yang sebenarnya. Yang diucapkannya barusan memang sebuah kejujuran.


To Be Continued