TINI SUKETI

TINI SUKETI
130. Perpisahan Selalu Ada



“Bener dianter sampai sini aja?” tanya Wibi, mematikan mesin mobil saat mereka tiba di depan gang kos-kosan.


“Udah, enggak apa-apa.” Tini membuka pintu dan melompat turun dari mobil.


Wibisono tak mengindahkan perkataan Tini. Ia ikut keluar dan memutari mobil menghampiri istrinya. “Aku ikut ke dalem, Tin. Buat nganter kamu aja. Nanti aku langsung berangkat,” kata Wibi, menggandeng lengan istrinya. Bersama mereka menyusuri gang kos-kosan.


“Mak Robiiin!” teriak Tini dari pagar kos-kosan.


Mak Robin yang sedang duduk menyuapi Robin makan siang, tersentak dan seketika menoleh.


Wibi berhenti di pagar dan terlihat mengatakan sesuatu pada Tini, kemudian pergi berlalu.


“Halo … halo … apa kabar si Robin dan mamaknya?” sapa Tini, mendekati Mak Robin dan menarik kursi plastik.


“Dari jauh kukira siapa yang datang. Kecil kali kau di sebelah si Wibi. Dah kayak Ayah Ojak gandeng si Bilqis,” kata Mak Robin tertawa lebar.


“Mmmm, kurang ajar, ya.” Tini duduk memangku tasnya dengan santai. Pandangannya lalu berpindah ke depan pintu Mak Robin yang terdapat dua kardus besar. “Itu kardus apa?” tanya Tini, memandang kardus.


“Barang-barangku. Kau kira kau aja yang bisa pindah. Aku pun bisa,” kata Mak Robin.


“Serius? Bapak Robin udah beli rumah? Di mana?” tanya Tini, memajukan letak duduknya.


“Rumah sesuai kantong kami, Tin. Agak jauh dari sini. Rumahnya juga belom siap semua. Dindingnya masih bata dan dapurnya masih tanah. Bapak Robin kebagian jadi mandor perumahan subsidi itu. Dapat harga diskon,” jelas Mak Robin.


“Itu juga udah kemajuan, Mak. Setidaknya tiap bulan kamu nggak perlu setor uang ke orang lain. Bulanan bisa ditabung buat renovasi sedikit-sedikit. Dulu rumahku di kampung, ya, gitu. Kalau ujan deres semua hewan dari hutan belakang, tamasya ke rumahku. Belum lagi kalau angin kenceng, mau tidur juga cemas kalau tengah malam jadi beratapkan langit.”


“Kok, jadi ngeri aku denger cerita kau,” kata Mak Robin.


Tini terkekeh. "Rumah yang dibangun Pak Robin untuk anak istrinya pasti kokoh. Jangan takut, Mak. Semua udah Tuhan yang ngatur. Enggak usah coba-coba ngatur sendiri. Nanti malah kacau,” ujar Tini.


“Makin bijak dan makin bercahaya muka kau kutengok sejak kawin,” cetus Mak Robin.


“Dulu mukaku gelap karena beli token listrik sendiri. Sekarang ada yang beliin,” jawab Tini. “Aku beresin barang-barangku dulu, ya. Nanti kalau Boy, Asti, apalagi Dijah dateng, bisa nggak udah-udah ngobrolnya.” Tini bangkit dari kursi dan merogoh tas mencari kunci.


“Dijah mau ke sini?” tanya Mak Robin.


“Iya. Doain semoga Mas Bara nggak berubah pikiran. Tadi pagi aku ke rumah dia buat ngomong langsung,” seru Tini dari dalam kamarnya.


Mak Robin merasa ada yang salah dengan pendengarannya. Ia bangkit memegang piring dan menghampiri pintu kamar Tini. “Eh, cemana? Kau ke rumah Dijah pagi tadi cuma buat ngajak dia ke sini?” tanya Mak Robin.


“Iya … kan Dijah sekarang tetanggaku,” kata Tini. “Aku udah pernah bilang, lho, Mak. Padahal baru nggak ketemu sebentar, tapi kamu udah pikun aja. Jangan-jangan itu tanda mau menopause,” ucap Tini.


“Ah, iyanya? Keknya nggak ada kau bilang gitu,” kata Mak Robin, menggaruk-garuk puncak kepalanya.


“Pokoknya aku udah bilang. Perkara kamu nggak inget itu, bukan tanggung jawabku. Kamu kapan pindahnya? Jadi, tersisa Asti, Boy dan Dara?” Tini bertanya sambil membuka lemari dan mengeluarkan sisa pakaiannya.


“Iya. Kasian juga si Boy,” kata Mak Robin. “Katanya kalo Asti nikah dan pindah, dia juga bakal pindah ke rukonya. Dia di sini karena kita, tapi malah dia yang ditinggal,” jelas Mak Robin.


“Namanya juga hidup. Kalau rindu mau ketemu masih bisa. Rindu yang paling menyakitkan itu rindu sama yang udah nggak ada. Kayak sama ibuku.” Tini membuka lipatan pakaian satu persatu.


Ketika membuka-buka lipatan pakaiannya, Tini menoleh pada Mak Robin. “Kalau aku mau menyumbangkan baju-baju ini, menurutmu ke mana?” tanya Tini, mengangkat sebagian tank top, rok pendek dan baju-baju seksinya.


“Mau menyumbangkan ke mana? Ke karaoke tempat kau kerja dululah cocoknya. Kalau kau sumbangkan ke kampungmu, enggak mungkin orang itu beladang atau bertani pake tank top dan rok pendek. Atau kau sumbangkan samaku aja, biar kujadikan kain lap.” Mak Robin menatap Tini dengan raut serius.


Selesai merapikan pakaiannya, Tini keluar kamar dan melihat Mak Robin sudah duduk kembali di kursi teras.


“Udah siap?” tanya Mak Robin.


Tini mengangguk. “Udah. Seprai-seprai semua udah aku buka. Nanti mau aku laundry aja dan aku letak di lemari. Buat penghuni berikutnya siapa tau dia pindahan nggak ada bawa apa-apa.”


“Kalo udah siap kerjaan kau, carikanlah uban aku, Tin. Terakhir kali. Besok-besok aku dah pindah jauh. Kau pun pasti sibuk sama keluargamu,” kata Mak Robin, menyodorkan pinset.


Tini menghela napas perlahan. Perkataan Mak Robin sebenarnya cukup membuatnya sedih. Tapi ia tersenyum dan meraih pinset itu, lalu menepuk lengan Mak Robin agar berpindah posisi.


“Mau aku cabut sama rambut itemnya pun nggak apa-apa. Sore ini aku membaktikan diri sama kepalamu, Mak.” Tini mengambil sisir dari tangan Mak Robin.


“Udah seneng kau, Tin? Makin bahagia kutengok sejak kawin,” cetus Mak Robin.


“Untuk saat ini aku seneng, Mak. Aku bahagia. Tapi aku tau dalam hidup pasti nggak mungkin seneng terus.”


“Tapi kau memang udah waktunya bahagia, Tin. Udah kelamaan susahnya. Tuhan udah sering dengar keluhanmu,” sahut Mak Robin.


“Mengeluh itu wajar, Mak. Aku ini manusia biasa. Mengeluh itu bukan berarti aku nggak bersyukur. Tapi memang ada hal-hal yang perlu kita keluarkan demi menjaga kewarasan.”


“Pantaslah dah makin waras kau sekarang,” jawab Mak Robin.


“Itu Boy sama Asti,” seru Tini, melambai ke arah pagar. “Kok, bisa bareng-bareng?” tanya Tini pada dua temannya yang baru datang.


“Aku ke ruko Mas Boy, Mbak. Beli titipan Mas Bara untuk Dul dan kita.” Asti mengangkat bungkusan berisi roti bakar.


“Bara yang minta? Berarti Dijah dateng. Kita disponsori Bara lagi,” kata Tini.


Asti mengangguk. "Mungkin biar anak istrinya ke sini ada cemilan," kata Asti.


“Bagus. Komplit. Khotbah akan dimulai setelah kedatangan Dijah,” ujar Tini.


Asti tertawa kecil dan duduk di sisi kiri Tini. Sedangkan Boy menarik kursi dan duduk di depan Tini.


“Kamu udah tau, kan, kalau Mak Robin pindah?” tanya Boy pada Tini.


“Tau. Memangnya kenapa?” Tini balik bertanya.


“Temenku makin sedikit,” sungut Boy dengan wajah muram.


Tini mendongak dan kembali menghela napas. Ia lalu mencondongkan tubuh untuk menepuk lutut Boy. “Tenang, Boy. Teman sedikit itu nggak apa-apa, yang penting berkualitas. Ingat, Lamborghini itu kursinya dua, bus kursinya rame.”


To Be Continued.


PS.


Boebooo tersayang, juskelapa mau kasi info bahwasanya saat ini hanya menulis aktif di dua plalform. NT dan satunya apk berkoin. Kalau salah satunya tidak up, mungkin ada sesuatu yang harus saya dahulukan. Dan selang up sehari, bukan berarti saya pindah platform meninggalkan Tini Suketi yang belum selesai seperti prasangka sebagian pembaca. Iklan-iklan novel di apk sebelah, saya gencarkan karena saya mencari pembaca baru. Ada obsesi pribadi saya di platform itu. Selama saya menulis, saya akan tetap menulis di NT. Kalau berhenti di NT, artinya saya berhenti menulis di semua platform. Dan itu mungkin karena saya sudah mencapai titik bosan dan perlu istirahat.


Sepertinya banyak pembaca yang trauma ditinggalkan penulis dengan karya yang belum selesai. Dalam hal ini, mohon percaya saya, ya.


Terima kasih atas segala motivasi dan dukungannya. Btw, harusnya ini up kemarin malam. Tapi karena saya lagi nggak enak hati, saya memilih menundanya biar lebih enak dibaca.