TINI SUKETI

TINI SUKETI
89. Desa Cokro (3)



Tini meninggalkan Wibisono dan masuk ke kamarnya sebentar. Ia meletakkan tas dan menyisir rambutnya di depan kaca bundar lemari cokelat mereka yang usianya sebaya dengan Evi. Lemari itu dari jati asli dan berukir-ukir di tiap sudutnya. Tini sedikit berlama-lama menyisir dan menjepit rambutnya. Entah kenapa dia merasa perlu menyusun kata sebelum berbicara serius pada Bapak mereka.


Itu adalah kali pertama dia akan menyapa bapaknya lebih dulu. Dayat dan Evi pasti belum mengabarkan pada bapak mereka bahwa mereka pulang membawa tamu. Kedua adiknya menyerahkan tugas itu padanya.


Setelah menjepit rambutnya, Tini merapikan pakaian dan melewati pintu tengah. Di gawang pintu, ia bertemu Evi yang membawa nampan berisi teh manis hangat seteko kecil dan dua pasang cangkir keramik yang baru dikeluarkan dari lemari.


Cangkir itu selama ini hanya sebagai pajangan karena tak pernah ada tamu yang dirasa mereka perlu menggunakannya. Cangkir keramik itu dulunya dicicil ibu mereka semasa hidup dengan harga cukup mahal.


Tini menyeberangi dapur dan langsung ke halaman belakang. Seperti biasanya, Bapak mereka berada di sana. Duduk di atas dingklik dengan kaleng bekas susu; tempat jagung kering makanan ayam jagonya berada di sebelah.


Itu kali pertama Tini bertemu dengan Puput VI, ayam jago Pak Joko. Kalau diingat-ingat, keranjingan Pak Joko akan ayam jago semakin parah sejak ditinggal mati oleh istrinya.


“Pak,” sapa Tini, mendekati bapaknya. Sapaan Tini itu tak membuat bapaknya terkejut. Pria itu pasti sudah tahu kepulangannya dan pasti senang anak sulungnya pulang. Tapi keluarga mereka tidak sentimentil dan bisa mengungkapkan perasaan. Apalagi, Bapak mereka memang sangat menjaga jarak dengan anak-anak perempuannya.


Pak Joko mendongak memandang anaknya. Tini berjalan ke sisi kanannya dan menarik potongan kayu sebagai alas duduk di sebelah Pak Joko.


Anak-bapak itu duduk membelakangi pintu dapur dan menghadap lembah dangkal di hadapan mereka. Puput VI sedang berada di kerangkengnya yang mirip tudung saji. Ayam jago itu sedang mematuk-matuk biji jagung yang tersebar di tanah.


Tini tak memandang bapaknya. Ia ikut merogoh kaleng jagung dan kembali menaburi pecahan jagung itu kepada Puput. Ayam jago itu malah berhenti makan dan menoleh pada Tini. Seakan mata Puput VI menyorotkan kecurigaan terhadap kebaikan tiba-tiba yang diperolehnya.


“Nesu piye to? Ndi wonge? Melu rene po ora? Lha kowe kok tekon Bapak, nesu po ora? Bapak kuwi wis ngenteni suwe, lho. Pengen koyo liyane sing anak'e do ngantenan. Lha wong ono sing gawe gampang kok nesu-nesu? Piye to kowe ki, ono - ono wae." (Marah apa? Mana orangnya? Ikut ke sini? Kamu kok nanya bapak marah atau enggak? Bapak udah nunggu lama. Kepingin kayak orang-orang yang anaknya pesta bersanding di pelaminan. Ada yang memudahkan trus Bapak marah-marah? Ada-ada aja kamu ini.)


Pak Joko menegakkan tubuhnya memandang Tini. Sedikit tak menyangka kalau anak sulungnya akan berkata seperti itu. Tini hanya diam tak menjawab. Kepalanya masih tertunduk dan beradu pandang dengan Puput yang melangkah menjauhinya.


"Ndi? Wes teko po?” (Mana? Udah nyampe?) Pak Joko menoleh ke arah pintu dapur.


"Sampun, kae nang ngarepan,iki lagek pisanan yo aku nggowo wong lanang kenalan karo Bapak. Pengenku Bapak kuwi mengko nek omong sing luwes sing bijaksana ukoro awakku. Nganggo pakean sing bener. Awakke dewe iki gur wong biasa wong ora nduwe. Sing iso mbok pamerke yo mung keluargo sing akur lan nduwe unggah ungguh." (Udah di depan. Ini pertama kali aku bawa laki-laki ke rumah yang mau kenalan sama Bapak. Aku mau Bapak ngomong yang bijaksana dan sepantasnya soal aku. Pakai pakaian yg bagus. Kita keluarga biasa-biasa aja. Yang bisa kita banggakan cuma keharmonisan dan tata krama.)


Kali ini Tini menegakkan tubuh dan berbicara memandang bapaknya. Beberapa saat anak-bapak itu terdiam saling pandang.


"Kowe ora usah omong ngunu to Tin. Bapak yo wis suwe nunggu wong lanang sing teko meh nglamar kowe. Bapak kuwi meneng ora mergo leleh luweh. Mergane Bapak yo ngerti, Bapak kuwi dudu wong sing iso dibanggak'ke. Yo nek memang wong lanang kuwi tenanan. Bene Bapak sing ngurusi acarane ngasi rampung. Bapak tak ngrampungke opo sing dadi kewajibane Bapak. Ngrabi' ke anak wedhoke. Karang nang uripmu, Bapak kuwi gak nduweni peran. Mung yo awakmu kuwi tetep anakke Bapak, Evi karo Dayat.” (Kamu jangan ngomong gitu, Tin. Bapak juga udah lama nunggu ada laki-laki yang datang ngelamar kamu. Bapak diem bukan karena nggak peduli. Tapi karena Bapak tau, Bapak bukan orang yang bisa dibanggakan. Kalau memang laki-laki itu serius, Bapak urusi acara kamu sampai selesai. Bapak tunaikan yang memang udah jadi kewajiban Bapak. Menikahkan anak perempuannya. Meski dalam hidup kamu, Bapak nggak cukup andil. Tapi ya kamu tetep anak Bapak. Evi, Dayat juga.)


To Be Continued