
Tok Tok Tok
Tini dan Dwi tengah terkikik sambil menutup mulut mereka saat pintu ruangan yang terbuka diketuk oleh Agus.
Untung saja pintu itu terbuka. Kalau pintu itu setengah tertutup, Agus mungkin akan datang tanpa mereka sadari. Itulah kenapa orang selalu mengatakan ‘jangan menusuk dari belakang’, karena musuh yang datang dari depan, lebih mudah menghadapinya.
“Enggak ganggu, kan?” tanya Agus dengan bahasa yang agak resmi dan kaku.
“Enggak—enggak. Dwi kamu salin yang tadi aku minta. Aku mau ngobrol dengan Pak Agus,” pinta Tini pada Dwi.
“Salin yang mana, Mbak?” tanya Dwi tak mengerti.
Tini yang memang tidak ada meminta Dwi mengerjakan apa pun, hanya berniat mengusir bawahannya itu. “Kamu salin apa yang mau kamu salin. Kalau nggak ada, surat kabar juga boleh. Udah, sana!” usir Tini.
Dwi mengangguk masih dengan wajah sedikit bingung. “Surat kabar yang mana?” gumam wanita itu.
Agus mendekat dan menempati kursi di depan Tini. “Kapan kamu mulai berhenti kerja?” tanya Agus langsung.
“Mulai besok, Pak. Saya udah menyelesaikan semuanya. Enggak ada yang tertinggal. Sementara ini saya ngasi semua tanggung jawab ke Dwi. Kalau Bapak mau memilih ketua tim yang baru, saya juga nggak apa-apa. Nanti koordinasi dengan Dwi aja. Yang penting saya nggak ada ninggalin hutang di kantor ini, Pak.”
“Maaf soal tadi,” kata Agus.
“Ini kantor Pak Agus, bukan hak saya melarang.” Tini menarik senyumnya yang paling manis kepada Agus. Memang benar. Itu adalah kantor milik Agus. Mau dijual atau dibakarnya, Tini tak peduli lagi.
“Aku pacaran sama Ayu, Tin.” Agus menautkan kedua tangannya di atas meja Tini. Perkataannya sangat halus hingga Tini nyaris tak mendengarnya.
“Selamat kalau gitu,” sahut Tini. “Semoga sakinah dan langgeng, Pak.”
“Pacaran, Tin. Ini pacaran. Kami belum menikah,” sahut Agus.
“Saya rapel sekarang aja ucapannya,” tukas Tini.
“Kamu … nggak ngerasa kecewa denganku?” tanya Agus, rautnya sangat serius.
Tini tersenyum, “Sedikit.”
Memang benar. Ia kecewa pada Agus kenapa harus terjebak dalam hubungan dan situasi seperti itu. Tapi itu adalah hidup Agus. Tini tak berhak mencampurinya. Yang terpenting ia meninggalkan kantor itu dengan kepala tegak. Ia layak menyombongkan diri karena berhasil berlaku profesional pada pekerjaan pertamanya di dunia perkantoran.
“Sebelum saya pamit, saya mau ngasi kabar. Ini sebenarnya belum pasti. Tapi Bapak pemilik saham bilang, kalau saya menerima tawarannya untuk bekerja di sana, dia bakal beli polis untuk keluarganya. Saya ngomong begini, karena yakin kalau dia nggak mungkin bohong. Walau saya kurang suka dengan orangnya, tapi dia pasti profesional.” Tini berdiri dari kursinya.
“Tini,” panggil Agus seketika ikut berdiri. “Kamu bener kerja di tempat lain, kan? Kamu keluar dari sini bukan karena patah hati aku sama—”
Tini mengibaskan tangannya.
“Jangan lupa berkabar, Tin. Jaga diri baik-baik di tempat kerja yang baru.” Agus menyodorkan uluran tangan.
Tini menyambut uluran tangan Agus. “Terima kasih, Pak Agus. Terima kasih atas segala ilmu dan motivasi yang saya dapat selama bekerja di sini. Perusahaan ini akan selalu menjadi kenangan. Tempat di mana saya memulai dunia pekerjaan yang sebenarnya. Jangan lupa undang saya kalau ada resepsi. Feeling saya, resepsinya nggak lama lagi.” Tini tersenyum lebar.
Agus membalas senyuman Tini dengan canggung. Namun laki-laki itu tak menampik atau menjawab ucapan Tini.
Sore hari, Tini kembali berpamitan pada anggota timnya. Mata Dwi berkaca-kaca menahan tangis.
“Mbak Tini, aku sedih. Enggak ada Mbak Tini pasti sepi,” kata Dwi.
“Pasti ada orang baru yang bikin rame, Dwi. Aku nggak mau geer menganggap diriku itu nggak tergantikan. Bahkan ditinggal mati pun ada masa berdukanya. Enggak mungkin sedih terus. Semua cuma perkara waktu.” Tini lalu tertawa.
“Mbak Tini malah ketawa,” ujar Bowo.
“Aku cuma ngerasa lucu. Ternyata lama-kelamaan aku makin bijaksana dan pinter ngomong. Dan aku baru sadar, aku udah tiga puluh tahun. Wis tuek.”
“Jangan lupa sama kita-kita, Mbak.” Mail membantu Tini mengangkat tentengan Tini ke luar pintu kantor. Sore itu Tini kembali ke kos-nya dengan menumpangi taksi, karena bawaannya cukup banyak.
Tini menarik napas panjang saat mengenyakkan tubuhnya di kursi tengah taksi. Ia masih melambai pada tiga anggota timnya yang mengantarkannya pulang hari itu.
Siapa bilang Tini tak sedih? Di dalam taksi ia menghapus air matanya yang turun, saat perlahan taksi itu meninggalkan halaman kantor yang terakhir kali ia datangi sebagai pegawai.
Hampir dua tahun Tini bekerja di sana. Membiayai adik-adiknya dari hasil insentif dan gaji pokok menjual polis asuransi ke sana kemari. Agus mengajarinya banyak hal. Dari mulai yang paling sederhana seperti menyalakan komputer, sampai dengan yang baginya cukup sulit, seperti membuat laporan penjualan dalam bentuk neraca. Ia tak pernah mempelajari hal itu sebelum Agus yang hobi mengomel, mengajarinya dengan telaten. Agus adalah panutannya dalam soal keuletan bekerja.
Tini mengusap air matanya lagi. Di dalam hidup, beberapa orang memang hanya mampir untuk meninggalkan beberapa pelajaran dan menambah pengalaman. Tanpa sengaja, Agus menjadi salah satu orang terpenting dalam hidupnya.
Agus, Heru, Bara, Dijah. Semua ia mulai dari persahabatan yang sederhana namun tulus.
Di tangannya tergenggam sebuah flashdisk yang pernah diberikan oleh Agus. Saat itu Agus mengatakan, “Kalau kamu bingung gimana ngerjain laporan keuangan sederhana, kamu liat lagi di sini. Ini aku kasi ke kamu. Aku urutkan mulai dari cara yang paling sederhana. Kerja di mana pun, kamu pasti akan membuat laporan keuangan yang paling sederhana.”
“Makasih, Pak. Semoga kamu bahagia selalu,” gumam Tini tersenyum.
To Be Continued
Ayo, jangan lupa di-like dulu sebelum lanjut scroll. Juskelapa cuma minta like dan komentar-komentar menghibur dari pembaca.
Terima kasih pada pembaca yang sudah ikut mendukung Tini sejauh ini.
Balasan paling setimpal, hanya dari yang Maha Kuasa. Mmuuaaahhh