
Ibu Wibi masuk ke dalam rumah, lalu meninggalkan mereka sejenak. Evi dan Dayat mendekati kakak mereka.
Evi berbisik, "Suarane kok ndredeg ngunu to, Mbak. Ono vibrane.” (Suaramu kok kayak gemetaran gitu, Mbak. Ada vibranya.)
"Iyo e, aku yo krungune ngunu. Nek agek nyanyi dangdut nganggo mic iso lancar." (Iya. Aku juga dengernya gitu. Padahal kalau nyanyi dangdut pakai mic bisa lancar.) Dayat ikut berbisik di telinga kakaknya.
"Opo aku yo kudu nggowo mic? Ora ngedem-ngedemi, malah do nambahi grogi wae.” (Apa aku perlu pakai mic? Bukannya bikin tenang. Kalian nambahin grogi aku aja!)
Wibisono yang melihat aksi tiga bersaudara itu, ikut merapatkan diri di dekat mereka. “Enggak popo. Sante wae. Ora ono sing galak nang kene." (Enggak apa-apa. Santai aja. Enggak ada yang galak di rumah ini.)
Tini dan adik-adiknya yang sesaat tadi lupa akan kehadiran Wibisono di belakang mereka, seketika hening. Wibi lalu menggiring mereka menempati hamparan kursi di ruang tamu. Mereka bertiga bertukar pandang, lalu menatap gawang pemisah ruangan tempat Ibu Wibi muncul kembali dengan seorang pria dan wanita muda.
"Wah, kadingaren to. Wis suwi banget." (Wah, kejutan ini. Sudah lama banget.) Ibu Wibisono melirik anaknya sambil tersenyum-senyum.
"Ibuk'e Wibi. Niki Bapak ... niki mbakyune. Tini umahe ngendi Nduk?" (Saya ibunya Wibi. Ini Bapak ... ini mbaknya. Tini tinggal di mana?)
Ibu Wibi kembali mengulangi perkenalannya seraya menyeret tangan sang suami untuk duduk di sofa panjang yang menghadapi Wibi dan Tini.
"Lek taken setunggal-setunggal, Buk. Bene mboten bingung piyambak'e lek nyauri ingkang pundi riyin." (Nanyanya satu-satu. Biar orangnya nggak bingung mau jawab yang mana.)
Wibi melirik Tini demi memberi isyarat pada ibunya agar tak terlalu memberondong Tini dengan pertanyaan-pertanyaan panjang seperti wartawan.
“Sanes suprise meleh, Buk. Wibi mpun nate sanjang menawi badhe mbekto cewek. Terose badhe ditepangaken kalih Ibuk. Niku jenenge lak badhe rabi to, Buk.” (Buatku nggak kejutan lagi. Wibi udah pernah ngomong kalau bawa wanita mau dikenalin ke ibu. Itu artinya dia mau nikah, Bu.)
Kakak perempuan Wibi tertawa. Ia lalu mendekat ke arah Tini dan mengulurkan tangannya. “Aku Vita. Panggil Mbak Vita aja. Anakku tiga orang laki-laki semua. Yang paling besar SMP kelas tiga. Yang nomor dua kelas tiga SD dan yang bungsu kelas satu.” Tangan Vita berpindah menyalami Evi dan Dayat yang sejak tadi memasang wajah penuh senyuman yang belum surut.
“Ini adik-adiknya Tini, ya? Bener-bener tamu jauh ini,” ucap Vita lagi.
“Iya, Mbak Vita. Ini adik-adikku. Evi dan Dayat. Kami semua baru pertama kali ke Surabaya,” sahut Tini seraya menoleh ke arah adik-adiknya.
“Do maem awan kene to, Bi? Tak cepak'ane sek yo. Ben do maem bareng karo Mas Angga. Sediluk ngkas teko wonge." (Makan siang di sini kan, Bi? Mbak siapin dulu ya. Sekalian makan bareng Mas Angga. Sebentar lagi pulang.)
“Nggeh, Mbak. Do maem kene." (Iya, Mbak. Makan bareng.)
Wibisono menyetujui hal yang sebenarnya sudah mereka semua bicarakan sebelum tiba di sana. Ibu Wibisono kembali menghilang ke arah ruang makan bersama kakaknya untuk menyiapkan makan siang.
“Nang hotel, Pak.” (Di hotel, Pak) Wibisono mewakili Tini menjawab hal itu.
“Lha, kok, ora nginep kene wae? Akeh kamar kosong." (Kok, nggak nginep di sini? Banyak kamar kosong.) Bapak Wibisono memandang heran pada anaknya.
“Sampun kulho jak'i mboten purun, Pak. Terose rikuh. Mbekto sederek'e, kuatir ngrepoti." (Udah Wibi ajakin tapi nggak mau. Sungkan katanya, Pak. Bawa adik-adiknya juga, jadi khawatir ngerepotin.)
“Perkoro ngono wae kok ora iso nggenahke. Payah kowe iki." (Urusan gitu aja kamu nggak bisa meyakinkan biar mereka mau. Payah kamu ini.)
Bapak Wibi setengah mengomel saat mengatakan hal itu. Sedangkan Wibisono meringis seraya memandang Tini. Ia lalu memijat pelan bahu Tini yang sedang melemparkan tatapan rasa bersalah. Wibisono baru saja diomeli bapaknya karena keputusan Tini menginap di hotel.
"Ayo Nduk, Evi, Hidayat do maem sek. Iki sing masak Ibuk karo mbakyune Wibi. Wibi kuwi wis suwe ora ngejak'i tamu spesial. Dadi Ibuk kuwi penasaran Wibi meh omong opo sak bare maem. (Ayo, Nak Tini, Evi, Hidayat, kita makan dulu. Ini ibu yang masak sama Mbaknya Wibi. Wibi udah lama banget nggak bawa tamu spesial. Jadi penasaran Wibi mau ngomong apa habis makan siang.)
Ibu Wibi menghampiri sofa di bagian Tini dan adik-adiknya duduk. Mengulurkan tangannya pada ketiga bersaudara itu agar segera bangkit mengikutinya ke ruang makan.
“Penasaran .... Sakmeniko kulo mpun sanjang lho. Mangke ngertose Tini kulo dereng sanjang nopo-nopo." (Penasaran .... Padahal udah diomongin. Nanti Tini kira aku belum ada ngomong apa-apa.)
Wibi mengomel dengan suara pelan di belakang ibunya. Ibunya yang sedang berjalan menuju ruang makan, menoleh ke belakang dan tergelak.
“Ealah ... guyon, Le. (panggilan utk anak laki-laki) Bene Tini yo krungu awakmu kuwi omong sing tenanan karo Bapak Ibuk. Ngunu wae kok protes." (Cuma bercanda. Biar Tini denger kamu ngomong resmi ke ibu bapak. Gitu aja protes.)
Wibisono tersenyum dan mencibir bersamaan di balik tubuh ibunya. Tak lama kemudian, mereka semua sudah duduk mengitari meja makan. Mas Angga suaminya Vita muncul tak lama kemudian. Makan siang itu berjalan lancar sesuai dengan harapan Wibisono. Pembicaraan soal keluarga Tini tak berlangsung lama. Hanya percakapan santai bertanya soal keluarga Tini di desa.
Selebihnya, percakapan siang itu menghasilkan satu keputusan. Dua bulan lagi, keluarga besar Wibisono akan datang ke Desa Cokro. Acara lamaran resmi, pernikahan dan resepsi akan dilakukan sekaligus.
Evi dan Dayat sudah saling cubit dan tendang di bawah meja karena rasa bahagia mendengar perkataan bapak Wibisono. Sekarang yang mereka pikirkan tinggal mengamankan situasi bapak mereka dan Puput VI.
To Be Continued
Catatan :
Ayo, Boebooo yang mau ikut hadir di acara resepsi online pernikahan Tini, bisa ikut hadir dengan mengirimkan foto memakai baju pink ke DM Instagram @juskelapa_ atau mengirimkan lewat GC atau chat pribadi aplikasi ke Miss Tukiyem (admin GC) bisa cari nama penulis Prameswari (novel judul Hidayah) dan kirim melalui chat pribadi. Ditunggu paling lama hari Sabtu, ya (tanggal 11 Desember 2021)