
Tini merasa badannya pegal seperti dipukuli orang sekampung. Ia ingin segera tiba di kamar dan merebahkan diri. Bekerja dari Senin sampai Jumat, lalu berangkat ke Surabaya dan dihajar oleh mabuk perjalanan cukup membuat seorang Tini berubah menjadi kalem.
“Ini hotel paling dekat dengan Tugu Pahlawan. Jalan kaki bisa, naik kendaraan juga bisa. Besok kalau ke sana, biar Mas temenin.” Wibisono menghentikan mobilnya di depan teras hotel berbintang empat.
“Hotel besar gini. Pasti mahal,” kata Tini, menahan lengan Wibi saat pria itu mau membuka pintu mobil.
“Ini enggak mahal. Cuma bintang empat. Yang mahal itu hotel bintang lima. Apalagi bintang tujuh,” kata Wibi, membuka pintu mobil dan turun memutari bagian depan mobil.
Tini menoleh sisi kirinya saat Wibi membukakan pintu dan membantunya turun. “Ah, masa, sih. Memangnya ada hotel bintang tujuh? Setauku itu puyer,” ucap Tini, memandang wajah Wibi yang menyimpulkan senyumnya.
“Udah, ayo. Muka kamu udah capek banget. Evi sama Dayat juga udah lesu. Kalian istirahat, besok Mas jemput buat jalan-jalan sebentar di sekitar sini. Lusa udah balik ke kampung, kan? Makanya hari ini harus istirahat.” Wibi melangkah ke lobi hotel dengan satu tangan menenteng tas pakaian Tini dan satunya menggandeng tangan wanita itu.
Evi dan Dayat masuk ke lobi hotel dan memandang berkeliling sepuasnya. Melihat lantai granit yang mengkilap, lampu hias besar yang menggantung di langit-langit, sambil sesekali mengernyitkan hidung menghirup aroma wangi yang memenuhi lobi hotel.
“Aromanya mewah, ya,” bisik Dayat pada Evi.
“Aroma mewah gimana? Aroma mewah yang paling aku ingat cuma aroma duit kertas,” jawab Evi.
“Aroma duit kertas kalau pecahan dua ribu, ya, nggak mewah juga.” Dayat meringis. Langkah kaki mereka mengikuti Wibisono yang menuju kumpulan sofa kosong di sisi kanan lobi.
“Tunggu di sini, Mas ngambil kunci kamar dulu. Enggak akan lama,” ucap Wibi, mengusap punggung Tini dan pergi meninggalkan mereka.
“Enggak akan lama, Mbak. Mas Wibi nggak mau kamu nunggu terlalu lama,” kata Evi terkikik.
“Mbak Tini sekarang beruntung. Dulu ngantri minyak tanah sampe setengah hari kering di bawah matahari, nggak ada yang peduli. Sekarang di ruang ber-AC gini, tapi nggak dibiarkan menunggu lama.” Dayat ikut menimpali sambil manggut-manggut.
“Apa nggak ada kenangan yang lebih indah lagi yang bisa diceritakan?” tanya Tini, menendang ujung sandal adiknya.
“Kenangan-kenangan kayak gitu yang sulit dilupakan,” ucap Evi.
“Lha, iya. Pokoknya aku fans baru Mas Wibi. Santai, tenang, nggak banyak omong. Aku mau kayak dia,” cetus Dayat.
“Santai, tenang, nggak banyak omong? Kayanya sulit, Yat. Mending istrimu aja nanti cari yang kalem. Soal mulutmu kayaknya nggak bisa diselamatkan.” Tini mencibir memandang adiknya.
“Mas Wibi udah jalan ke arah sini. Jangan ngomong macem-macem,” bisik Evi yang melihat Wibi berjalan ke arah mereka.
“Mas ambil dua kamar. Dayat tidur sendiri, ya, Yat. Mas malem ini nginep di rumah orang tua. Mau lanjut ngobrol lagi. Besok jam sarapan pagi, Mas udah ke sini.” Wibi kembali mengangkat tas pakaian Tini dan menggamit lengan Tini untuk bangkit dari sofa.
“Aman, Mas—aman. Aku malah seneng tidur sendiri. Itung-itung me time,” sahut Dayat yang memang terlihat senang mendapat kamar sendiri. Biasanya ia harus menutup wajahnya dengan bantal saat bertelepon di kamar untuk meredam suara ngorok bapak mereka.
Wibi dan Tini berjalan lebih dulu menuju lift. Kamar yang mereka pesan terletak di lantai tujuh dan letaknya bersebelahan. Ketika berjalan di lorong, Wibi menyerahkan satu kunci pada Dayat. Sedangkan ia sendiri berniat mengantarkan Tini hingga tiba di kamarnya.
“Ini kamarku!” pekik Dayat saat menoleh ke sisi kiri dan melihat nomor kamar yang sama dengan tulisan di amplop kunci akses berbentuk kartu putih.
“Kamarku? Gayamu itu! Aku mau liat juga,” kata Evi ikut menerobos kamar yang baru saja dibuka oleh Dayat.
Wibisono tertawa melihat tingkah dua calon adik iparnya. Menjadi anak bungsu selama hidupnya, ternyata membuat Wibisono merasa cukup terhibur dengan kehadiran Evi dan Dayat yang dinilainya sangat meriah.
“Ini kamarnya. Udah malem, kamu langsung istirahat, ya. Training di kantor baru selama seminggu pasti bikin kamu lebih capek,” ucap Wibisono mendorong pintu kamar dengan bahunya setelah indikator handle berwarna hijau setelah ditempelkan kartu.
Tini duduk manis di tepi ranjang dan melepaskan sepatunya. Ia menunduk memandang jari kakinya yang baru saja mendapat kebebasan.
“Gimana? Kamarnya bagus?” tanya Wibisono seraya mengecek teko air dan perlengkapan mini bar yang terletak di sebelah lemari. Lemari itu berhadapan dengan kamar mandi.
“Bagus, Mas. Terlalu bagus malah. Padahal cuma untuk nginep dua malem aja,” kata Tini.
“Karena dua malem harusnya lebih bagus. Kalau nginepnya sebulan, aku cariin kos-kosan aja,” canda Wibi.
Tini ikut tertawa. Ternyata semakin lama Wibi tak sekaku yang dipikirkannya selama ini. Lalu teringat akan sesuatu, Tini turun dari ranjang menghampiri mini bar. “Kalau mau manasin air, tinggal dicolokin aja, kan?” tanya Tini, mengangkat teko pemasak air dan berpura-pura mengamatinya. Sebenarnya itu adalah pertanyaan yang bodoh sekali. Jelas saja tinggal dicolokkan ke stop kontak barulah air di teko itu akan panas.
“Sini aku ajarin biar makin jelas,” kata Wibi, menarik tangan Tini dan membawa tubuh calon istrinya itu menghadap mini bar. Ia berdiri di belakang Tini dan merapatkan tubuhnya untuk mendemonstrasikan cara memasak air. Puncak kepala Tini masih bisa dilihatnya dengan jelas dari sudut tempatnya berdiri.
Sebenarnya itu adalah pelajaran tak penting. Ia tahu pasti Tini paham cara memakai pemanas air itu. Tapi demi bisa berdekatan sejenak dengan wanita itu, ia harus membuat alasan kecil yang kemungkinan besar akan dimaklumi oleh mereka berdua di dalam hati.
“Sudah jelas, kan?” tanya Wibi, mengusap kedua lengan Tini dari belakang. Tubuh mereka tak berjarak dan Tini menjadi lebih pendiam saat mereka berdua. “Aku pulang dulu. Udah malem,” ucap Wibi menunduk, setengah berbisik di telinga Tini.
“Iya, Mas Wibi juga harus istirahat.” Tini memutar tubuhnya. Dan kepalanya harus mendongak untuk melihat wajah Wibisono dengan jelas.
“Aku pulang dulu,” ulang Wibisono. “Sebentar lagi Evi pasti nyusul ke sini. Mungkin sekarang mereka sedang menikmati me time,” tukas Wibisono. Ia menggandeng Tini ke arah pintu dan menekan handle. Wajahnya terlihat sedikit ragu. Satu tangannya masih menggandeng Tini dan satu tangan lainnya sudah membuka pintu.
Wibisono membasahi bibirnya, lalu menarik pengait pintu untuk mengganjal pintu itu agar sedikit renggang.
“Aku pulang,” ulang Wibisono untuk ketiga kalinya.
Tini spontan membasahi bibirnya. Jantungnya terasa sudah tak berada di tempat saat Wibisono memutar tubuhnya membelakangi pintu dan merapatkan tubuh mereka.
Wibisono menunduk mencium bibirnya. Dengan keadaan pintu yang sedikit renggang, Tini bisa mendengar suara-suara yang berasal dari lorong. Tangan Wibisono mencengkeram kedua sisi lengannya. Dengan jarak sedekat itu, kedua tangan Tini menganggur begitu saja. Wibisono menciumnya dengan lembut. Bibir pria itu terasa sangat hangat saat menyentuh bibirnya. Usapan kedua tangan Wibisono di lengannya, membuat kedua tangan Tini seperti dibujuk untuk terangkat dan mencengkeram bagian depan kemeja pria itu.
Tini memejamkan matanya. Telinganya tuli sesaat. Semua inderanya bertumpu dan terpusat pada usapan lembut tangan Wibisono. Mengusap lengannya dan perlahan berpindah mengusap punggungnya. Terus turun seinci demi seinci dan tiba di pinggangnya. Ciuman itu semakin dalam. Dalam sentuhan mesra yang diberikan Wibisono padanya saat itu, Tini seakan menemukan sisi baru dari pria itu.
Tangan Wibisono kini berada di pinggangnya. Memijat lembut bagian itu dan naik perlahan menyusuri tulang rusuknya. Tini setengah berjinjit di balik pintu. Seakan tak ingin ciuman itu terlepas sedikit pun. Lalu ….
BRAKK
Pintu tiba-tiba didorong dari luar. Dan tubuh mereka juga tergeser paksa dari balik pintu. Punggung Wibisono merapat ke dinding dan pria itu seketika memeluk Tini dalam dekapannya.
“Mbak!” seru Evi.
Tini mengempaskan tangan Wibisono secepat mungkin. Ia langsung berbalik ke arah pintu dan seketika beradu pandang dengan Evi yang melongokkan kepalanya ke dalam kamar.
“Kamu ngapain di balik pintu?” tanya Evi spontan.
“Mempelajari peta pintu darurat!” seru Tini dengan sangat tegas. “Letak kamar ini di sini ini. Terus ini ada belokan … oh, pintu daruratnya yang sebelah sini. Petunjuk pemakaian alat pemadamnya juga ada di sini, Mas.” Tini menelusuri papan akrilik berisi petunjuk gempa dan kebakaran yang menempel di pintu. Dengan mengabaikan tatapan heran Evi, Tini menarik ujung lengan kemeja Wibisono agar ikut melihat petunjuk di balik pintu.
To Be Continued