
Tini masih tak percaya melihat Wibi berdiri di bawah bingkai pintu ruangannya yang memang tak tertutup. Hari itu Wibi memakai kemeja batik lengan pendek berwarna biru dengan bawahan jeans warna senada.
“Udah lama nyampe? Mau ketemu Pak Agus, ya?” Tini cepat-cepat berdiri. Ia merasa seperti tertangkap basah sedang melakukan kejahatan. Padahal ia hanya menangis.
“Aku memang mau ketemu kamu. Aku dari tadi udah kirim pesan nanyain kamu lagi di mana. Coba liat hapenya,” pinta Wibi, berjalan masuk ke ruangan dan menarik kursi di seberang meja Tini.
Tini kembali duduk dan merogoh ponsel di dalam tasnya. Pikirannya yang sejak tadi fokus pada pertemuannya dengan Pak Hamit, mengabaikan pesan masuk lain yang tidak menjadi prioritasnya hari itu.
“Maaf, Mas. Aku memang belum ada cek hapeku,” jawab Tini. Jarinya menggulir ponsel dan melihat rentetan pesan Wibi yang isinya senada. ‘Kamu ada di kantor? Aku mau ke sana.’
“Udah dibaca?” Wibi meletakkan kertas yang sejak tadi dipegangnya ke atas meja Tini.
“Ehem!” Tini menelan ludah memandang wajah Wibi yang sore itu sangat ceria. Berbanding terbalik dengan wajahnya yang muram. “Jadi gimana? Mas Wibi udah memutuskan ngambil asuransi dari perusahaan yang mana?”
“Udah—udah, kayanya itu gampang. Hari ini nggak usah ngomongin itu dulu. Kamu ada mau cerita sesuatu ke aku?” Wibi memandang raut Tini dengan teliti. Wajah Tini terlihat berbeda. Awal pertemuan mereka, Tini terlihat sangat ceria.
“Enggak ada , Mas.” Tini menunduk memandang ponselnya. Jemarinya sibuk menggulir pesan yang semuanya sudah ia buka. “Aku hari ini cuma keluar prospek dua nasabah. Dua-duanya nggak ada harapan," sahut Tini datar.
“Maaf, Tin …. Aku nggak bermaksud lancang. Mungkin kamu belum nyaman ngomong sama aku. Tapi tadi kamu nangis, kamu kenapa?” Wibi menarik kursinya lebih mendekat ke meja.
Tini menunduk, mendengar apa yang diucapkan Wibi tanpa menjawab apa pun. Pikirannya sedang mengingat wajah Pak Hamit yang tertawa mengejek padanya. Matanya kembali memanas.
“Aku nggak apa-apa, Mas Wibi.” Tini menunduk menelan ludahnya pelan-pelan agar tak didengar oleh Wibi. “Hari ini aku cuma lagi capek aja,” sambung Tini, masih menunduk.
Wibi yang tadi sedikit memajukan tubuhnya kembali menegakkan diri. Ternyata Tini yang dikiranya mau bercerita masih saja bungkam.
“Kalau hari ini ada yang menyakiti hati kamu, dimaafin. Biar kamu lebih lega,” kata Wibi sambil mengamati reaksi Tini.
“Hah? Dimaafin? Oh, belum bisa. Aku tadi lagi capek dan males aja mau manjang-manjangin. Lain kali kalau ketemu lagi, bisa habis dia. Laki-laki kurang ajar! Merendahkan perempuan! Dia kira dengan modal masukin polis dua milyar, bisa dapet bonus tidur sama agennya? Kalau tadi yang ngomong gitu preman, aku masih bisa maklum. Lingkungannya mendukung dengan omongannya. Tapi sekelas pengusaha ngomong, kok, nggak disaring. Itu mulutnya perlu dikasi ijuk, batu kali sama pasir buat nyaring omongannya. Kalau Dijah belum nikah, aku ajak dia buat nempeleng si Hamit. Kurang ajar!!”
Kedua tangan Tini tergenggam menggebrak meja. Napasnya terengah-engah. Wibi yang tadi hanya menegakkan tubuh, kini bersandar sepenuhnya. Perkataan Wibi soal memaafkan orang yang menyakiti hari itu bukan berniat menggurui Tini. Ia sengaja ingin mendengar tanggapan Tini yang sejujurnya. Dan sekarang Tini sedang menumpahkan kekesalannya.
Yang barusan dilihatnya adalah Tini yang sesungguhnya. Tini yang pendiam malah terlihat seperti orang sakit. Wibi lebih menyukai Tini yang salah tingkah setiap berada di dekatnya. Tini yang banyak tertawa karena hal-hal tak penting.
Hari itu Wibi menyadari satu hal, bahwa orang yang paling sering bercanda bisa jadi yang paling sulit menceritakan soal dirinya. Mereka menutupi luka hati dan kekhawatiran mereka dalam bentuk candaan. Berusaha menganggap kesusahan hidup hanya sebagai guyonan, karena Tuhan sedang menempa mereka menjadi sosok yang lebih kuat.
“Aku lebih suka kamu yang bersemangat kayak gini,” ucap Wibi.
Tini menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia baru sadar telah kelepasan bicara.
“Maaf, Mas Wibi. Aku nggak maksud jelek-jelekin Pak Hamit. Dia juga kenalan Pak Agus. Aku jadi nggak enak. Karena aku yang inisiatif prospek Pak Hamit. Aku nggak—”
“Enggak apa-apa, Tini …,” potong Wibi. “Sebelumnya aku minta maaf lagi. Aku mau menawarkan bantuan kalau kamu nggak keberatan. Kamu tiba-tiba sibuk nyari nasabah besar pasti karena lagi butuh uang. Aku mau bantu, Tin.” Wibi kembali memajukan letak duduknya. Ia memang mau membantu Tini. Tapi untuk mengatakan bahwa ia kemarin sempat mendengar pembicaraan Tini dan adiknya, Wibi tak sampai hati. Ia juga khawatir dianggap terlalu lancang.
“Enggak, kok, Mas. Aku nggak apa-apa.” Tini merapikan rambutnya. “Udah sore, Mas Wibi mau ketemu Pak Agus atau gimana? Soal asuransi perjalanan yang mau dipakai aku bawa dulu boleh? Kalau semua oke, tanda tangannya besok aja, ya?” Tini bangkit dari duduknya memandang Wibi. Pria baik yang mau menolongnya. Tapi ia tak suka kalau harus dikasihani. Ia suka Wibi perhatian padanya. Namun untuk diperhatikan karena dikasihani soal masalah keuangan membantu adiknya, Tini tak mau.
“Jadi … kamu menolak?” tanya Wibi dengan nada kecewa.
Tini tertawa. “Menolak bantuan iya. Kalau menolak Mas Wibi, ya, nggak mungkin.” Tini melirik wajah Wibi yang berubah salah tingkah. “Bercanda, Mas Wibi …,” sambung Tini. Ia lalu menyampirkan tasnya ke bahu.
To Be Continued
Scroll dikit lagi ebo-eboooo ....
Jangan lupa dipilin like-mya