TINI SUKETI

TINI SUKETI
136. Sekilas Kehidupan Baru Dayat



Pak Joko menginap di rumah Tini selama tiga hari. Dan selama itu, Pak Joko mempergunakan waktunya untuk pergi bersama Dayat. Karena Tini dan Wibi masing-masing memiliki pekerjaan, Pak Joko dan Dayat benar benar menghabiskan quality time berdua saja. Mereka mendatangi bakal kampus Dayat dan selebihnya pergi ke pusat perbelanjaan.


“Bapak ....” Dayat memeluk Pak Joko sesaat sebelum pria itu naik ke kereta. “Dayat pasti kangen sama Bapak,” kata Dayat.


Pak Joko menepuk-nepuk punggung putra bungsunya. “Kamu belajar yang bener. Jangan main terus, jangan begadang, makan yang teratur dan jangan merepotkan mbakmu. Apalagi mas Wibi. Hormati Mas Wibi karena dia suami mbakmu,” pesan Pak Joko saat itu.


Pak Joko pun kembali ke Desa Cokro dengan perasaan dan dompet yang kosong.


Dayat menghampiri Tini dan Wibi yang berdiri beberapa meter darinya.


“Kok, tumben kamu meluk Bapak lama banget. Ngomongin apa?” tanya Tini.


“Nggak ada ngomongin apa-apa, kok. Lagian masa pembicaraan sesama pria dibocorkan ke wanita,” jawab Dayat santai.


Tini mengernyitkan dahinya. Merasa semakin curiga. Tumben-tumbennya Dayat bisa memperlihatkan perasaannya. Biasanya Dayat adalah tipe pemuda yang acuh tak acuh.


Sekembalinya ke rumah, Dayat langsung menuju kamarnya di lantai dua. Pemuda itu bersiul-siul saat menaiki tangga. Lagi-lagi Tini mengernyit curiga. Ketika di stasiun kereta tadi, Dayat memperlihatkan wajah yang sangat memelas saat ditinggalkan oleh Bapak mereka. Tapi di rumah, Dayat terlihat riang. Kemurungannya tidak berlangsung lama.


“Kira-kira Dayat kenapa, ya, Mas? Kayaknya agak beda,” ucap Tini, memandang punggung Dayat yang menghilang ke belokan tangga.


“Kamu ini bawaannya curiga terus. Enggak boleh kayak gitu. Memangnya Dayat ngapain? Apa yang bisa dicurigai dari Dayat?” Wibisono malah balik bertanya.


“Ya, banyak. Mas aja yang belum tau," jawab Tini. Ia kembali menatap tangga dengan rasa tak puas.


Sepeninggal Wibisono masuk ke dalam kamar, Tini kembali ke ruang makan dan menatap tangga. Kepalanya sedikit melongok ke pintu kamarnya, memastikan kalau Wibisono tak keluar lagi. Sedikit berjingkat-jingkat, Tini menaiki tangga untuk menuju kamar Dayat.


“Waaaah, kereeeen,” ucap Dayat dari dalam kamar. “Aku bakal pakai ini hari pertama kuliah. Cewek-cewek kampus akan terpukau dengan mahasiswa baru dari daerah. Semua akan melupakan cowok kota dan mulai berlomba-lomba mengejar cinta Dayat. Sampai suatu hari, ketenaran Dayat akan sampai di telinga Asih. Gadis misterius itu mulai penasaran dan mencari Dayat. Lalu … Asih bakal terkejut dan ngomong terbata-bata. ‘Ka-kamu Dayat?’ terus aku bakal jawab, ‘Ternyata kita nggak perlu dengan sumur di ladang.’ Hahaha.” Dayat tertawa terbahak-bahak sendirian.


Tini bertepuk tangan, lalu membuka pintu kamar adiknya yang tadi sedikit renggang. “Udah selesai mendongeng untuk diri sendiri? Mau kuliah yang dipikirin pertama kali malah urusan cewek-cewek,” omel Tini, melangkah masuk ke kamar Dayat.


Mendapat kejutan itu, Dayat gelagapan. Buru-buru ia membereskan karton belanjaan dan plastik-plastik yang berhamburan.


“Jangan bergerak,” sergah Tini, menahan sebuah paper bag dengan tangan kanannya dan kedua kakinya menginjak plastik bertuliskan outlet pakaian.


Dayat terdiam. Mundur selangkah, lalu melepaskan sepatu dan kemeja yang sedang dicobanya. Ia kembali memasang wajah dengan setelan ‘merana ditinggal Bapak’.


“Dari mana semua belanjaan ini? Uang dari mana kamu?” tanya Tini, membuka kantong belanjaan satu persatu.


Dayat bungkam tak menjawab.


“Enggak mau ngaku? Kamu dikasi cewe? Ah—kayaknya nggak mungkin. Enggak ada alasan cewek ngasi-ngasi kamu. Pacar-pacar kamu di kampung juga masih anak sekolah. Ngasi kaset rekaman lagu-lagu udah paling keren,” ucap Tini sendirian.


Dayat mendengkus sedikit kesal karena ucapan Tini. Tapi pemuda itu tetap bungkam.


“Atau kamu sekarang udah jalan sama tante-tante? Iya? Udah ngapain aja kamu?” tuduh Tini pada adiknya.


“Dibelanjain Bapak—dibelanjain Bapak. Waaaah … aku diem karena Bapak bilang jangan tau Mbak Tini dan Mbak Evi. Aku cuma menjaga keekslusifan cerita dengan membatasi pertukaran berita. Tapi didiemin pikirannya malah ke mana-mana,” omel Dayat, mengambil kantong belanjaan dari tangan Tini dan plastik-plastiknya dari lantai. Ia mulai mengeluarkan semua pakaian yang dibelikan Pak Joko untuk disusun ke lemari.


Gantian Tini yang terbengong. “Kenapa aku dan Evi nggak boleh tau? Memangnya kenapa?” tanya Tini penasaran.


“Katanya jangan bilang-bilang, karena Bapak nggak pernah beliin Mbak Tini dan Mbak Evi pakaian sebanyak ini.”


Tini ikut duduk di tepi ranjang dan mengeluarkan barang belanjaan Dayat. “Bapak, kok, bisa royal? Biasanya pelit minta ampun.”


“Katanya biar aku nggak bandel dan nggak macem-macem selama kuliah. Ini modal dari Bapak,” jelas Dayat.


“Bukan uang hasil dari menang ngadu Puput, kan?” tanya Tini hati-hati.


Tini takut menyinggung Dayat yang merupakan sekutu bapak mereka yang paling setia. Mereka adalah teman berbagi kamar selama bertahun-tahun. Tak heran kalau Pak Joko lebih mengistimewakan Dayat dalam hal mengeluarkan uangnya.


“Uang menang ngadu Puput? Enak aja. Kalau bener aku malah seneng. Tapi kenyataannya enggak gitu. Jangankan ngadu Puput buat berantem, Puput mau berkokok aja nggak dibolehin sama Bapak. Bapak bilang, ayam lain udah berkokok duluan, Puput nggak perlu capek-capek,” jelas Dayat.


“Oalaaah … kalau kugoreng, Bapak pasti masuk rumah sakit,” cetus Tini.


“Hush, nggak boleh gitu. Bapakku itu,” kata Dayat. “Sana—sana keluar. Enggak boleh di kamar bujangan lama-lama. Aku perlu waktu sendiri.” Dayat menyeret lengan Tini dan mengeluarkan kakaknya dari kamar.


Sebulan berada di rumah Tini, membuat Dayat memiliki pekerjaan rutin yang dilimpahkan kakaknya.


Seperti pesan Tini pada adiknya itu, “Yat, aku belum pakai jasa orang bantu-bantu karena aku belum punya anak. Aku baru bisa masak pulang kerja. Biar Mas Wibi makan makanan hangat. Sisa lauk sore, untuk makan siang kamu. Biar Mas Wibi ngeliatnya juga enak, kamu nyapu halaman dan siram tanaman tiap pagi. Ada mesin cuci di ruang cuci. Kamu nyuci dan seterika baju sendiri. Enggak repot, kan? Yang penting kamu bergerak. Jangan tiduran aja. Kalau tiduran aja, nanti aku tutup kain panjang,” ancam Tini.


Dayat melaksanakan perkataan kakaknya itu sebaik-baiknya dan cukup tahu diri karena dia tinggal di rumah ipar. Dayat pergi kuliah dengan menumpangi mobil Wibi sampai di halte besar dan pulangnya menumpangi angkutan umum.


Jika Wibisono sedang ke Surabaya dengan pesawat, Tini dan Dayat hanya bisa memandang mobil di garasi dengan tatapan nanar. Keduanya tak bisa membawa kendaraan itu, hingga kakak beradik itu menumpangi angkutan kota bersama-sama.


Sesekali Dayat pernah menumpang pada Bara jika kebetulan pria itu sedang melintas. Selebihnya, kantor Bara adalah milik keluarga. Jam berangkat pria itu tidak bisa dijadikan acuan Dayat untuk menumpang. Dalam hal itu, Dayat harus mandiri.


Suatu pagi, pukul tujuh lewat, Dayat ada mata kuliah pagi dan sedang terburu-buru berjalan ke luar komplek. Wibi sedang berada di Surabaya, dan Tini sedang tak kerja karena sakit perut. Ketika sedang menyandang ranselnya dan berjalan menyusuri tepi jalan komplek, Dayat diklakson.


Tiiiin Tiiiin


Dayat menghentikan langkah dan menoleh pada mobil yang berhenti di sisi kanannya. Kaca jendela mobil turun dan seorang gadis berambut sebahu membuka kacamata hitam yang ia kenakan.


“Hai … kamu yang tinggal di Blok B No. 10? Yang sering main gitar di balkon?” tanya gadis itu langsung.


Dayat mengangguk seraya tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya.


“Kuliah di mana? Yuk, bareng aja,” ajak gadis itu.


“Uhuk.” Dayat terbatuk kecil. “Enggak seharusnya seorang pria menjadi tanggungan seorang wanita. Aku lebih suka kesulitan sendirian dari pada memanfaatkan kebaikan orang lain,” sahut Dayat.


“Aku sedang mau dimanfaatin. Ayo, naik! Kita tetanggaan. Kamarku persis di seberang kamar kamu. Di balkon juga,” kata gadis itu.


“Artinya kamu memaksa aku ikut. Baiklah,” ujar Dayat, membuka pintu mobil dan masuk. “Namaku Hidayat. Cukup panggil aku Dayat.” Dayat mengulurkan tangannya.


Gadis itu langsung menyambut uluran tangan Dayat. “Panggilanku Tina,” ujar gadis itu.


Dayat sedikit ternganga. “Ada nama panggilan lain? Nama lengkap kamu?” tanya Dayat dengan mimik sungkan.


“Apa, ya …. Nama lengkapku Agustina. Enggak mungkin kamu panggil aku Agus. Apalagi Gusti ….” Gadis itu mulai melajukan mobilnya.


“Tin …,” panggil Dayat.


“Ya?” sahut Tina.


“Waaah ... panggilan itu benar-benar bawa efek luar biasa. Perasaanku langsung nggak enak,” gumam Dayat.


To Be Continued


PS.


Boeboo, beberapa part ke depan, cerita Tini Suketi akan selesai, ya. Tini Suketi adalah spin off terpanjang yang pernah ditulis. Sebelumnya Genk Duda Akut hanya 121 part.


"Jangan tamat dulu, Kak. Belum bosen dengan cerita Tini."


Jawabannya : Karena belum bosan makanya harus diselesaikan. Sebelum ditinggal karena pembaca jenuh. Hehehee


Seperti biasa pengumuman Giveaway akan dilakukan akhir atau awal bulan. Buat Giveaway random, akan juskelapa follow dan chat melalui PC aplikasi. Ditunggu aja :*


Setamat cerita Tini, juskelapa akan melanjutkan novel RUN bergenre thriller-romance. Setamat RUN, juskelapa akan mengeluarkan cerita baru bergenre Romantis Komedi dengan tokoh yang baru.


Buat yang minta cerita tentang keluarga dan keturunan-keturunan tokoh cerita sebelumnya, harap bersabar. Karena, jujur saja, kalau cerita berputar-putar di keturunan atau anak-anaknya, juskelapa kurang suka. Ada rasa jenuh menulisnya. Meski tidak menutup kemungkinan suatu saat bisa dibuat. Namun, untuk sekarang rasanya lebih segar kalau ada cerita baru yang karakter dan tempatnya berbeda.


Terima kasih dukungannya buat Tini Suketi.


Salam sayang selalu buat Boeboo.


Mmmuaaahhh :*