TINI SUKETI

TINI SUKETI
118. Tamu Yang Ditunggu



“Oke … satu buah lagu saya persembahkan buat sahabat perantauan rasa saudara. Gejolak Asmara dari Nassar. Pesan buat Mas Wibi, hati-hati malam nanti. Semua harus diantisipasi,” ucap Boy dengan mic dari atas pentas.


Tini merapatkan giginya memandang Boy. Semua penghuni kos tersenyum-senyum. Sedangkan Heru dan Bara saling pandang, lalu tertawa-tawa. Agus sepertinya tidak mendapati hal itu sebagai sebuah kelucuan. Karena Agus hanya menyunggingkan senyum sekilas dari sebelah Ayu.


Di pelaminan, Wibi menggoda Tini karena hal itu. “Temen kamu bilang aku harus hati-hati. Kayanya aku memang harus antisipasi. Antisipasinya pake apa, ya?” Wibi menyenggol bahu Tini yang tak menoleh.


“Antisipasi apa, sih? Boy kok, didengerin. Dia biasa ngomong ngaco. Aku sering nasehatin dia supaya jangan ngomong sembarangan. Tapi kalau mau antisipasi beneran ya, nggak apa-apa,” kata Tini.


Wibisono tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Tini. “Nanti aku pikirkan lagi antisipasinya sedarurat apa,” sahut Wibisono.


Tini melayangkan pandangannya ke pintu masuk, tamu-tamu yang tempat tinggalnya jauh dan tak disangka-sangkanya akan datang, ternyata muncul satu persatu.


Pak Selamet muncul bersama istrinya. Pak Riyadi terdengar mengatakan, “Terimakasih—terimakasih—terimaksih.” Saat seorang kru wedding organizer menunjukkan tempat kosong buat ia dan keluarganya.


Seorang wanita naik ke pelaminan sambil menggandeng pasangannya. Wanita itu memandang Tini sambil tersenyum-senyum.


“Warni!” pekik Tini. “Udah sehat?” Tini mengirimkan undangannya dalam bentuk aplikasi pesan dan tak mendapat balasan dari wanita itu. Karena dulunya mereka berpisah saat Warni sedang sakit, Tini sudah mempunyai pikiran macam-macam.


“Aku ngirimin kamu pesan nggak dibales. Aku kira ….”


“Kamu kira aku wis modhar (sudah meninggal)?” Warni tertawa-tawa. “Hapeku lagi dipake anakku yang kecil. Aku baca pesanmu aku diemin aja karena mau ngasi kejutan,” sambung Warni.


“Bukan gitu …,” sahut Tini, mengusap lengan Warni berkali-kali karena takjub melihat keadaan wanita yang mewarisinya Pak Alie saat bekerja di karaoke dulu.


“Aku turun dulu, Tin. Untung dateng ke sini pakai mobil. Kalau enggak, mesti bingung bawa pisang itu gimana. Kalau nggak dibawa ngerasa rugi.” Warni tertawa.


“Buat menu masak seminggu. Pakein pisang semuanya." Tini tertawa. "Anakmu mana?” tanya Tini.


“Di mobil sama mertuaku. Tadi ngamuk karena baru tidur sebentar trus dibangunin. Baru dua tahun, Tin. Masih satu, makanya manja. Aku turun dulu. Itu ada yang mau ngasi kejutan lainnya,” ujar Warni, menunjuk seseorang yang berjalan di belakangnya.


Warni lalu bergeser ke sebelah Tini, kemudian menarik lengan kawan lamanya untuk berbisik. “Nemu di mana? Ganteng pol! Biar lambat asal nikmat, yo?”


Tini mau tertawa, tapi menahan diri. Warni berlalu dan Tini segera menoleh ke sisi panggung lainnya. Seorang wanita menggandeng pria muda mendekatinya. Mata Tini seketika berbinar memandang tamu yang baru datang.


“Tini …!” seru wanita itu.


“Mbak Saroooh …. Ya, ampun. Ini Ardi anakmu, kok udah gede aja? Sekarang sekolah kelas berapa?” Tini memandang heran pemuda yang berdiri di sisi Maisaroh.


“Udah SMA. Dia 16 tahun, Tin. Dulu ketemu kamu dia masih sepuluh tahun,” jelas Maisaroh.


“Liat, Mas. Temenku anaknya udah SMA. Aku baru duduk di pelaminan. Ketinggalan jauh aku,” kata Tini dengan manja pada Wibisono.


“Nanti langsung bikin yang banyak. Kalau enggak bisa ngejar soal usianya, kita kejar dari soal jumlahnya,” jawab Wibi tersenyum.


Maisaroh merapatkan tubuhnya pada Tini untuk berbicara. “Mantep banget, Tin. Aku seneng liat kamu,” kata Saroh.


“Kamu nggak kawin lagi?” tanya Tini, memandang wajah sahabatku.


“Males, Tin. Kapok punya suami. Aku udah enak sendirian. Usaha laundry-ku lancar. Ardi bisa sekolah, hidupku udah tenang. Malah aku makin gemuk sekarang. Subur, Tin. Enggak ada mikirin suami yang nggak pulang-pulang entah ke mana.”


“Ibuku udah meninggal nggak lama aku pulang ke kampung. Tapi aku udah puas merawatnya, Tin. Sekarang aku udah enak ke sana kemari sendiri. Kumpul sama ibu-ibu tetangga rumahku. Ardi udah besar. Pengalaman buruk punya suami malah bikin aku males kenal laki-laki lain. Gini aja udah seneng. Sekarang giliran kamu,” ujar Maisaroh.


“Iya. Aku kepingin ada alasan buat sering-sering ganti seprai. Kepingin buru-buru pulang ngantor di hari Kamis, karena mau persiapan malem Jumat.” Tini terkikik-kikik.


Tangan Tini yang masih bergandengan dengan Wibi ikut meremaas tangan suaminya itu. Sedangkan Wibi berdiri anteng, tapi tetap membalas remaasan tangan Tini.


“Udah ratus, kan? Harus diuap,” canda Maisaroh.


“Udah aku uap sampai meleleh. Tinggal penggunaannya aja,” sahut Tini tertawa.


Maisaroh berlalu dan Tini kembali duduk di kursi pengantinnya sambil memandang ke pintu masuk.


“Ternyata itu beneran orang kantorku, Mas.” Tini menunjuk ke pintu masuk.


"Itu siapa aja?” tanya Wibisono ikut memandang ke pintu masuk.


“Itu yang berdiri deket gawang bunga pintu masuk, namanya Dayat. Yang kemarin bikin tiga wanita menangis karena diputusin dengan alasan mau fokus mengejar karier. Itu adekku, Mas kenal, kan?” Tini memandang Wibi dengan serius.


“Itu kenal, Tin. Adik ipar sendiri masa nggak kenal,” jawab Wibisono spontan.


“Aku bercanda, Mas Wibi sayang,” ucap Tini terkikik. “Biar Mas nggak terlalu kaku,” kata Tini.


“Aku kakunya nggak sekarang, Dik Tini sayang …,” sahut Wibisono.


“Astaga, ya, ampun …. Apa semua tamu ini nggak bisa disuruh pulang sekarang aja?” Tini tertawa seraya bersandar pada suaminya. Tak sengaja tatapannya kembali bertumbuk dengan Dijah. Seperti dugaannya, Dijah dan Bara langsung berbisik-bisik sambil tertawa-tawa.


Tini menebak kalau Bara pasti mewawancarai istrinya sepanjang duduk di sana. Ia mencibir memandang pasangan suami istri yang pasti sedang membicarakannya.


“Itu namanya Reza, asisten Pak Wimar direkturnya Grup Cahaya Mas. Pak Wimar-nya yang pakai batik warna silver. Nah, di belakangnya itu … yang jabat tangan sama Dayat, itu Pak Santoso. Pengacara yang bantu aku beli bukit belakang itu, Mas,” jelas Tini.


“Aku kalah cepat soal bukit, ya, Tin? Untung Evi ngasi infonya cepet,” ujar Wibi.


"Makasi, ya, Mas. Aku nggak nyangka banget Mas Wibi beliin aku kebun pisang itu buat maskawin. Pasti mahal," kata Tini.


"Uangnya udah sejak lama aku siapin untuk menikahi seorang wanita. Dan wanita itu ternyata kamu." Wibi tersenyum memandang wajah Tini yang hari itu sangat cantik di matanya. "Mau dibuat apa?" tanya Wibi.


"Dibiarin aja dulu. Biar orang-orang kalau mau ambil daun pisang nggak perlu dimarah-marahin. Nanti selebihnya aku minta Bapak yang urus. Biar ada kerjanya," kata Tini.


"Tapi Evi bilang yang punya lahan bukit itu Mbah yang suka plin-plan. Sebentar mau jual, sebentar enggak Harganya juga turun naik, jarang ada kepastiannya."


Tini tertawa. “Karena Pak Santoso itu makanya Mbah Cantik nan plin-plan bisa luluh. Tapi sebenernya yang berjasa itu bukan cuma Pak Santoso. Itu yang disebelahnya istrinya. Wanita muda yang di sebelah istrinya mungkin kerabat mereka. Pak Santoso bilang memang mau bawa kerabat lain,” jelas Tini.


Dayat masih berbincang dengan Santoso dan dari kejauhan terlihat Santoso mengenalkan dua wanita yang dibawanya pada Dayat.


“Siapa?” tanya Wibi kembali memandang ke pintu masuk.


To Be Continued