TINI SUKETI

TINI SUKETI
97. Perpisahan Sementara



“Rencananya sendirian. Semuanya sendirian, Mas. Dengan emosi yang membubung tinggi, Mbak Tini makin mahir pakai parang. Prang! Prang! Batang-batang pohon pisang bergelimpangan. Dengan kekuatannya, Mbak Tini menyeret pohon pisang itu ke tengah jalan. Bayangkan, Mas! Bayangkan! Dengan badannya yang kayak buntelan itu, dia bisa menyabotase hampir seluruh desa. Pestanya Coki, sepi! Hahaha! Eh, Pak Paijo itu ikut bantu bawain tas Mbak Tini dan nganterin sampe ke terminal bus,” jelas Dayat.


“Ceritanya bagus. Tapi jangan pakai kata-kata, ‘dengan badannya yang kayak buntelan’. Gitu-gitu calon istri Mas. Agak nggak enak dengernya,” ucap Wibisono melemparkan tatapan berpura-pura tersinggung.


“Sorry—sorry, itu memang mbakku juga,” ralat Dayat. “Tapi dia juga jadi legenda desa ini karena papan iklan kampanye menyusui di posyandu. Pakai foto Mbak Tini. Coki dan Mbak Tikus ribut besar di sana. Karena Coki mandangin papan iklan itu.” Dayat tertawa terbahak-bahak.


“Eh, tunggu-tunggu. Papan iklannya masih ada?” tanya Wibisono.


“Enggak ada lagi. Udah rusak dan diganti dengan model yang lebih muda. Masa keemasan Mbak Tini sudah berakhir, Mas. Kenapa? Mas penasaran mau liat?” tanya Dayat dengan antusias.


“Bukan, bukan itu. Bagus kalau bukan Mbak kamu lagi modelnya,” ujar Wibisono.


“Oh, nggak ada lagi, kok.” Dayat mengangguk meyakinkan calon kakak iparnya.


“Tapi kalau ada fotonya, Mas pengen liat juga. Penasaran. Kalau masih ada. Kalau nggak, ya, enggak apa-apa.” Wibisono tersenyum canggung menepuk-nepuk lutut Dayat.


“Hmmm, itu maksud aku. Mas pasti penasaran. Ini sejarah dalam hidup Mbak Tini. Mas harus tau. Jangan malu-malu,” kata Dayat, bangkit dari duduknya. Wibisono meringis.


Dayat kemudian membuka laci di dekat televisi dan berkutat di sana sejenak. “Aku dan Mbak Evi masih nyimpen selebarannya dari posyandu. Nih,” kata Dayat, menyodorkan selebaran posyandu yang memuat foto Tini tengah tersenyum sambil menyusui bayi.


Wibisono memandang selebaran itu dengan alis terangkat dan mulut mencebik. "Ini boleh Mas Ambil?" tanya Wibisono, mengangkat selebaran di tangannya.


Dayat mengangguk. "Boleh, ambil aja," sahut Dayat.


Wibi melipat selebaran itu dan cepat-cepat menyelipkannya ke dalam saku ransel. "Jadi Mbak kamu menyabotase jalan ...," gumam Wibisono menggaruk dagunya.


"Bener," jawab Dayat.


"Mbak kamu ada ketemu lagi dengan mantan pacarnya?" tanya Wibisono lagi.


Dayat menggeleng. "Belum ada, Mas. Tapi yang jelas Mbak Tikus sekeluarga marah sama Mbak Tini. Memang nggak pernah bikin apa-apa, sih. Tapi kalau aku ke warung, masih ada yang nanya Mbak Tini ke mana? apa takut pulang ke rumah? Apa malu karena kalah dari Siti? Apa secinta itu sama Coki? Ah, aku aja suka kesel dan marah." Dayat mengungkapkan segala unek-uneknya selama ini.


"Bapak tau soal itu?" tanya Wibisono dengan raut serius.


"Ya, tau. Bapak jadi jarang nongkrong di warung. Bukan malu karena Mbak Tini. Tapi marah dengan omongan orang. Cuma, ya, gitu ... nggak bisa bales. Bapak jadi lebih banyak diem aja. Karena itu juga waktunya makin banyak habis buat Puput VI," terang Dayat.


"Karena kepergiaan Puput I yang sangat tragis, Mas. Bapak mau mengenangnya lebih lama," jawab Dayat.


"Dicuri orang?" tebak Wibisono.


"Bukan, Mas. Disembelih Mbak Tini subuh-subuh. Dikari dengan sangat lezat dan kami sekeluarga makan dengan lahap. Termasuk Bapak. Bapak sampe nambah tiga kali. Pakai sambel terasi juga. Memang enak, Mas. Aku jadi laper inget kari ayam," ucap Dayat, mengusap-usap perutnya.


"Benar-benar legenda ternyata. Calon istri Mas agak aneh, ya, Yat? Kayanya hidup Mas akan lebih berwarna," ujar Wibisono tertawa kecil.


"Dijamin, Mas. Tak ada kata bosan dalam hidup Mas Wibi. Meski agak aneh, Mbak Tini itu setia, Mas. Kesetiaannya itu kadang sampe menjurus ke bodoh. Kali ini Mas jangan marah aku sebut mbakku agak bodoh. Aku ini laki-laki. Mbak Tini itu terlalu baik dan mudah percaya orang lain dulunya. Mungkin sekarang agak berubah karena udah tinggal di Jakarta bertahun-tahun. Tapi sifatnya masih sama. Dia itu setia. Menuruni sifat setia itu dari Bapak. Syukurnya cuma sifat itu yang diturunkan dengan jelas. Jadi ...."


"Jadi kamu harap, Mas bakal setia dan memperlakukan mbakmu dengan baik? Gitu, kan?" tebak Wibi seraya tersenyum menepuk lutut Dayat.


Dayat mengangguk.


"Aman, Yat. Mas akan melakukan yang terbaik," jawab Wibisono.


Dayat mengangguk, tapi rautnya kembali seperti berpikir-pikir.


"Apa lagi?" tanya Wibi.


"Aku mau denger soal mantan pacar Mas Wibi? Boleh? Pasti lebih cantik dari mbakku. Ya, kan?" Dayat sedikit mendesak agar Wibi mau sedikit bercerita soal kekasihnya terdahulu.


Wibisono menggeleng. "Enggak boleh, Yat. Sudah lewat. Yang cantik banyak di mana-mana. Gampang nyarinya. Nyari yang kayak mbakmu ini yang sulit. Kamu juga harus merasa beruntung punya Mbak kayak calon istri Mas." Wibisono tersenyum lebar penuh kemenangan saat melihat mulut Dayat mengerucut.


Malam penuh cerita seru itu ditutup dengan Dayat yang tidur ternganga karena kelelahan menggunjingkan kakaknya. Meninggalkan Wibisono yang menggaruk-garuk dagu sedang berpikir keras merencanakan sesuatu.


Esok harinya, dengan bekal dua kotak nasi goreng yang baru dimasaknya, serta botol minuman berisi teh manis hangat, Tini berpamitan pada keluarganya. Wibisono menjabat tangan calon bapak mertuanya dengan kata-kata menenangkan.


"Kalih sasi malih kulo lan keluwargi badhe dugi mriki. Kulo lan Tini badhe sanjang ingkang detil malih.” (Dua bulan lagi saya dan keluarga besar akan datang. Saya dan Tini bakal ngomong lebih detil lagi.)


Pak Joko mengangguk puas dengan perkataan Wibi. Tini dan Wibi meninggalkan Desa Cokro saat matahari belum benar-benar terbit. Meninggalkan Evi dan Dayat yang melepas mereka dengan genangan air mata.


To Be Continued