
Malam itu sungguh riuh. Boy mengeluarkan tikar anyam dan membentangnya di teras antara kamar Tini dan Mak Robin. Evi membawa dua baskom nasi dan meletakkannya ke tengah tikar. Dayat menyusun piring dan gelas. Asti yang hanya bisa menyumbangkan tenaga, membantu mengangkat piring-piring lauk keluar kamar. Bara masih duduk di kursi plastik sambil memangku Mima yang tertidur.
“Aku duduk di mana?” tanya Mak Robin yang baru keluar dari kamarnya dengan mangkuk di tangan.
“Duduk di tengah aja. Biar mirip sesajen,” sahut Tini.
“Awas kau,” kata Mak Robin, menyingkirkan tubuh Tini untuk duduk bersandar ke tembok kamarnya.
“Makan pake apa, Mak? Enggak mau opor enthok?” tanya Asti, melepaskan sandalnya untuk duduk di atas tikar.
“Aku makan laukku sendiri ajalah. Enthoknya, kan, cuma seekor. Nanti nggak cukup pula dibagi banyak orang,” kata Mak Robin.
“Aku janji lain kali bakal lebih rajin menyelamatkan ternak tetangga,” sahut Evi.
“Ikut Coki menyelamatkan sapi aja, Mbak,” tukas Dayat.
“Jangan sebut-sebut nama itu di tempat suci ini,” ujar Tini. PLAKK! Tini memukul kepala Dayat. Pemuda itu hanya cengengesan sambil memegang kepalanya.
“Ini masih banyak, Mak. Kecuali kamu makannya sebaskom, ya, nggak bakal cukup. Mana piringmu?” Tini mengulurkan tangannya meminta piring Mak Robin. Setelah mengisi piring Mak Robin, Tini mengembalikannya. “Jangan lupa anakmu dikasi makan,” kata Tini.
“Si Robin tak pala kali harus disuruh makan. Kalo lapar, pasti bunyi mulutnya. (Si Robin nggak mesti banget harus diminta makan. Kalau lapar, pasti ngomong).”
Boy, Asti, Dayat dan Evi sudah memeluk piringnya masing-masing. Menunggu Tini dan Dijah yang berjongkok menyendok nasi.
“Ini untuk Mas-ku,” ucap Dijah, menyodorkan piring pada Bara.
“Mima masih tidur. Mas nanti aja juga nggak apa-apa,” ucap Bara.
“Aku siapin aja sekalian, ya? Sepiring berdua biar lebih romantis,” ujar Dijah.
"Jah, aku yo nduwe rahasia, tapi yo percuma nek omong saiki, ono tuyul loro iki, dadi mengko-mengko wae wes. (Jah, aku punya rahasia. Tapi percuma aku ngomong skrg. Ada dua tuyul ini. Jadi nanti-nanti aja.)” Tini melirik Evi dan Dayat yang seketika melemparkan tatapan curiga padanya.
“Halah, rahasia-rahasia. Paling lama sejam,” sahut Evi. Dayat yang mendengar hal itu tertawa terbahak-bahak sambil mengangguk.
“Iyo. Bener,” sahut Dayat.
“Pasti soal per-mas-mas-an,” bisik Dijah.
“Mantep kamu. Bisa tau,” sahut Tini juga dalam bisikan.
“Apa lagi, Tin? Apa lagi yang bikin wajahmu berbinar secantik itu, selain duit dan lanang? Enggak mungkin soal lain,” jawab Dijah.
Tini meringis tapi kemudian merogoh ponsel dalam kantongnya. “Aku mau kasi liat—“ Tini terdiam. Tangannya yang sedang menggulir layar ponselnya seketika terdiam saat menyadari Evi dan Dayat menjulurkan kepala mau melihatnya. Termasuk juga Boy yang belum tahu akan hal yang dimaksud. Sedangkan Asti dan Mak Robin saling bertukar pandang penuh kecurigaan.
“Mengko-mengko wae, Jah. (Nanti-nanti aja, Jah.)” Tini kembali menyimpan ponselnya.
Malam itu penghuni kos-kosan menyalakan lampu teras. Mengabaikan soal harga token listrik yang biasa selalu berusaha mereka hemat.
“Tini sekarang udah royal,” ujar Boy.
“Biasa nggak nyala?” tanya Dayat.
“Pake belut listrik, Mbak,” jawab Dayat.
“Aku nggak ada kenal belut yang ada listriknya di sini!” PLAKK! “Kamu bikin aku ngomong sembarangan aja. Jangan sampai keluar kata ‘astaga’. Hari ini udah termasuk memecahkan rekor. Dua jam belum ada yang ngomong ‘astaga’.” Tini melirik Bara yang tengah menatapnya. Dijah terkekeh seraya mengusap-usap pipi suaminya.
“Sayang, Dara pulang kampung. Kalo nggak dia bisa ikut makan,” kata Boy.
“Kapan balik ke sini, Mas?” tanya Asti.
“Minggu depan katanya,” jawab Boy.
“Besok aku bakal pergi lebih pagi, kalau kalian mau keluar, jangan jauh-jauh. Di kota ini masih banyak kasus penculikan. Penculik kota bisa menilai raut wajah,” ujar Tini pada adik-adiknya.
"Menilai raut wajah gimana?" tanya Evi.
"Ya, nilai aja raut wajah kalian." Tini terkekeh memandang Evi.
“Mau ke mana?” tanya Dijah.
"Pagi-pagi bener aku mau nemuin si soang. Mau masukin data polis baru. Terus katanya dia mau ngasi aku insentif dua tahun ini. Besok aku bisa meratakan mall, Jah. Duitku banyak,” jelas Tini.
“Ckckck, sombongnya ...,” gumam Bara. “Nama Mas Agus diganti semena-mena,” tambah Bara.
“Kalau Pak Agus sampe tau, kita tahu siapa pelakunya.” Tini memandang Dijah dan Bara bergantian. “Dul, Mima, sebentar lagi Budhe akan mengenalkan Pakde ke kalian. Mohon bersabar,” ucap Tini, membelai rambut ikal Mima yang memanjang sebatas telinganya.
“Pakde yang mana?” tanya Bara penasaran.
“Suamimu ini, Jah ... astaganya seratus kali, tapi tetep mau tau,” cibir Tini. Bara seketika mengatupkan mulutnya.
Dijah dan keluarganya pamit pulang pukul sembilan malam. Bara mengajak Tini membawa adik-adiknya ke rumah. Sebelum berpisah di pagar, Dijah mewanti-wanti Tini untuk datang ke rumahnya dan menceritakan soal rahasia yang sempat dikatakan Tini sekilas tadi.
Seperti janji Boy sore tadi, Dayat tidur di kamarnya dengan beralaskan tikar anyam dan selimut tebal yang diberi oleh Tini. Awalnya Boy sempat mengkhawatirkan kalau Dayat tak nyaman di lantai, tapi benar yang dikatakan Tini. Adiknya itu tetap akan tidur meski perang teluk berlangsung di dekatnya.
Tini berangkat menuju bekas kantornya saat langit masih gelap. Ia sudah menerima pujian karena datang awal di masa trainingnya, hingga tak mau bos cerewet kantor barunya mencabut pujian itu. Melihat watak atasannya itu, sepertinya kalimat pujian merupakan hal langka.
Tok Tok Tok
Tini mengetuk pintu ruangan Agus yang terbuka. AC ruangan itu bahkan belum dinyalakan.
“Maaf, Pak. Jadi dateng kepagian karena saya,” ucap Tini.
“Enggak apa-apa,” jawab Agus. “Aku juga nggak mau terlambat di kantor baru. Gimana suasana kerja di sana? Nyaman?” tanya Agus.
“Secara keseluruhan suasana kantornya nyaman ... banget. Tapi menurut saya, semuanya berawal dari suasana hati. Di mana aja nyaman, kalau suasana hati kita baik. Di sini saya juga nyaman, Pak. Saya keluar bukan karena nggak nyaman,” tukas Tini bijaksana. Ia tak mau membuat Agus berkecil hati dengan memuji kantor barunya lebih baik. Hari-hari ke depan tak ada yang pernah tahu.
To Be Continued
Boeboooo jangan lupa likenya sebelum scroll ya ....
Kalau sayang Tini, bantu dengan likenya lebih dulu :*