TINI SUKETI

TINI SUKETI
88. Desa Cokro (2)



Saat menyadari siapa yang menyapanya. Pak Paijo membelalak dan tertawa keras. "Tin! Mantep tenan joss! Aku ngasi pangling. Tak kiro ki sopo. Manglingi tenan. Pacakane wis dadi wong kutho.” (Tin! Mantap! Aku sampe nggak tanda tadi. Aku kira siapa. Manglingi. Dandanannya udah kota banget.)


Suara Pak Paijo sangat keras hingga membuat tetangga Tini yang tadi menumpangi ojek Pak Paijo ikut berbalik dan menatap Tini dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Tini ikut tertawa karena mendengar tawa Pak Paijo. Namun, kali ini tawa Tini lain dari biasanya. Tawanya lebih elegan dan tak terlalu keras. Tini harus menahan rahangnya untuk tak terbuka terlalu lebar. Ia khawatir akan mengejutkan Wibisono.


"Maturnuwun sanget, lho, mpun ngewangi njagani adhi - adhine kulo." (Makasi udah bantu jaga adik-adikku selama ini.) Tini mengguncangkan jabat tangannya dengan Pak Paijo.


Kedatangan mobil dan keributan suara sapaan yang sangat keras itu, membuat para tetangga Tini lainnya terpancing untuk keluar. Penumpang ojek tadi yang merupakan ibu muda yang usianya sepantaran dengan Evi, sudah masuk ke dalam rumah dan memanggil orang tuanya.


“Aku masuk dulu, bawa tamu dari Surabaya buat ketemu Bapak,” ucap Tini pada Pak Paijo. “Nanti kita ngobrol lagi.” Tini melihat ponsel Pak Paijo menyala di dalam kantongnya. Pria itu pasti sedang dipanggil oleh pelanggannya yang lain.


“Iya—iya. Nanti kita harus ngobrol lagi yang panjang. Kamu harus bagi-bagi cerita,” tukas Pak Paijo kembali tertawa.


Tini tersenyum dan melambai saat Pak Paijo memutar motornya. Pria itu semakin tua. Enam tahun yang lalu, bahu Pak Paijo masih terlihat tegap saat membantunya melarikan diri, mengangkat tas pakaian dan menyimpan parang besar miliknya. Tapi meski tubuhnya terlihat renta, semangat mencari nafkah yang dimiliki pria itu masih sama.


Tini melangkah mendekati mobil. Wibisono sedang berdiri di sisi kanan yang bersebelahan dengan tanaman pagar. Tubuh pria itu terlindung dari penglihatan para tetangga mereka yang sedang menjulurkan lehernya dari pagar rumah masing-masing. Tak menyangka, Wibi sedang merapikan pakaiannya di balik mobil. Pria itu terlihat mematut dirinya sejenak di kaca jendela mobil.


Tak sabar melihat dari pekarangan rumah, tiga orang ibu-ibu keluar pagar dan memanggil Evi yang sedang menurunkan bawaan.


"Ayo, Mas. Kita ke teras aja," ajak Tini, menggamit lengan Wibisono yang langsung menuruti langkahnya.


Saat Tini berjalan ke balik tanaman pagar sambil memegang lengan Wibisono, seorang tetangganya semakin tak sabar.


“Ndi to, Vi? Sing jare calone Tini melu teko yo?" (Mana Vi? Katanya calon Tini ikut dateng ya?)


"Minggir dhisik everybody. Kangmasku kuwi ekslusif, gak enthuk didelok'i ngasi hari H." (Minggir dulu everybody. Kangmasku eksklusif. Enggak boleh diliat sampe hari H) Evi mengangkat bawaannya menuju halaman belakang rumah mereka.


Evi dan Dayat tertawa-tawa karena melihat ekspresi melengos tetangga mereka yang nyaris serentak. Evi senang karena berhasil membuat tetangganya sedikit kesal.


Dulu, usai Tini melarikan diri ke kota karena Coki menikahi Siti Kusmini, Tini sempat menjadi buah bibir para tetangganya. Tini dikatakan tidak lebih cantik dari Siti Kusmini sahabatnya. Hal itu yang membuat Coki berselingkuh.


Setelah Tini di kota bertahun-tahun dan tidak juga kembali, Tini dikatakan sudah menjadi gadis tua yang trauma karena ditinggal kawin oleh kekasihnya. Raga Tini tak ada di sana, tapi omongan orang di sekitar tempat tinggalnya tak surut begitu saja.


Yang cukup mengherankan adalah semua omongan itu dari para wanita yang mengecilkan wanita lainnya. Orang-orang itu tidak mengingat mungkin saja lain waktu anak atau sanak saudara mereka bisa memiliki nasib yang sama dengan Tini.


Evi dan Dayat tak membiarkan Wibisono mengangkat barang bawaan mereka dari mobil. Seperti yang mereka katakan, Wibisono eksklusif sampai dengan hari H pernikahan kakak mereka. Mereka tidak akan membiarkan Wibisono berkeliaran di luar rumah, karena pria itu bisa digarap oleh para tetangganya untuk mampir dan berbagi cerita.


Tini berada di depan pintu rumah dengan tangannya yang tak sadar masih melingkari lengan Wibisono.


“Kok, nggak diketuk?” tanya Wibisono sedikit bingung. Bapak ada, kan?” tanya Wibisono lagi.


“Tunggu, Mas. Biar Dayat yang muter dari pintu belakang. Dayat aja yang buka dari dalem. Kalau diliat dari luar, rumah kami kayak nggak ada yang nempatin. Bapak juga nggak tau ada atau enggak di rumah.” Tini tertawa canggung.


Mereka sedang menghadap pintu papan tipis yang berlubang-lubang karena rayap. Cat jerjak jendela juga masih sama kusamnya sejak ia tinggalkan dua tahun yang lalu. Tak banyak perubahan pada rumah itu. Bagian samping rumah masih ada tumpukan kayu yang ditutup spanduk obat sakit kepala oskadin yang warnanya sudah tak jelas.


Tak berapa lama, suara pengait pintu terdengar dibuka dari dalam. Pintu mengayun terbuka dan wajah Dayat serta merta muncul dengan senyum lebar.


“Eh, Mbak Tini, Mas Wibi, udah lama nyampe?” sapa Dayat dari dalam rumah, mengambil ransel dari tangan Wibisono dan membawanya ke dalam.


Wibisono tertawa, sedangkan Tini mendengus. “Kamu udah lama?” tanya Tini pada Dayat.


“Apanya?” Dayat balik bertanya.


“Gemblungnya,” sahut Tini. Dayat langsung memukul lengan kakaknya dengan tinju pelan. Wibisono kembali tertawa melihat hal itu.


Evi muncul dari dalam kamar dengan wajah tegang. Rambutnya sudah digulung dan dijepit di belakang kepala. Gerakannya sibuk merapikan kain rajutan sandaran kursi dan taplak meja. Evi juga meluruskan letak kursi kayu dan menyambar vas dari atas speaker dan meletakkannya ke atas meja. Kali ini, Evi yang menyerupai ibu mereka.


Evi lalu menarik lengan Tini agar posisi mereka sedikit menjauh dari Wibisono. “Bapak di belakang. Mbak Tini langsung ke belakang aja ngomong sama Bapak lebih dulu. Biar aku bikinin teh buat Mas Wibi. Dia udah nyetir non-stop dari Surabaya. Kayak nggak ada capeknya. Aku jadi kasian,” kata Evi.


Tini merasa sedikit bangga saat Evi mengucapkan hal itu. Menyetir mobil non-stop selama lima jam tentu saja melelahkan. Tapi dari hal itu, Tini mengambil hal yang sangat positif. Bahwa malam pengantinnya nanti pasti tak akan mengecewakan. Dia yakin Wibisono tak akan begadang demi menghitung isi amplop di malam pertama seperti gosip yang didengarnya soal malam pertama Coki dan Siti.


Hal yang dikhawatirkan mereka soal keheranan Wibisono dengan tempat tinggal mereka, ternyata tidak terlalu beralasan. Tini melirik calon suaminya itu sedang duduk meluruskan kaki di kursi kayu. Mata pria itu tertuju pada tiga buah foto yang berjajar di dinding. Foto keluarga saat ibu mereka masih ada. Tini masih SMA kelas satu dan adik-adiknya masih kecil. Itu adalah foto keluarga terakhir di hari raya saat ibu mereka sudah mulai sakit.


“Mas, Bapak di belakang. Aku nemuin Bapak dulu, ya. Mas di sini dulu ditemenin Dayat. Evi juga lagi bikin teh. Aku nggak akan lama. Aku juga nggak mau Mas nunggu lama,” ucap Tini, memegang bahu Wibi yang terasa sangat berisi di balik kemeja flanelnya.


Wibisono mendongak menatap Tini dan tersenyum. Pria itu lalu mengangguk. “Iya. Kamu temuin Bapak dulu.” Wibisono meraih tangan Tini dari atas bahu, lalu meletakkan punggung tangan itu ke pipinya.


To Be Continued