
Tini termangu-mangu memegang kertas yang di serahkan Dean padanya. Juga masih sedikit syok saat Dean mengatakan soal sesuatu yang ‘tidak sama’. Apa yang tidak sama? Apa laki-laki itu mengetahui apa yang dipikirkannya?
Tini berdiri menyambut uluran tangan istri atasannya. Keluarga besar itu akan berpamitan. Mereka semua akan pergi makan siang. Semua anak kecil yang bermata sipit ikut menyalami Tini satu persatu. Di ruangan itu tak ada siapa-siapa. Pak Wimar masih berada di luar, belum kembali dari makan siang. Tini ikut berjalan menuju pintu keluar. Di depannya, Dean melangkah paling akhir menggiring semua anak-anak, yang tingginya seperti urutan anak tangga. Tapi kesemuanya begitu teratur dan tertib mengikuti arahan orang tua mereka.
“Kok bisa, ya, si cerewet itu nyambung pikiran aku?” gumam Tini. Baru saja dia menunduk untuk memasukkan kertas ke dalam tasnya, Dean yang baru berjalan kembali berbalik ke arahnya.
“Kamu harus informasikan ke saya soal besaran fee asuransi itu. Berapa yang diberikan oleh perusahaan kamu. Semuanya pasti tertera dalam perjanjian saat kamu masuk di perusahaan itu. Kamu harus baca lagi jangan sampai kamu rugi,” tukas Dean dengan nada diplomatis.
“Tapi saya udah menganggap Pak Agus bukan seperti orang lain lagi. Pak Agus teman dekat saya. Sebenernya saya nggak masalah dengan fee ini berapa persen,” ujar Tini
“Kamu salah. Pekerjaan dan persahabatan adalah dua hal yang berbeda. Kalau kamu mau menganggap persahabatan, it's okay. Tapi harus ada nilai profesional di sana. Dan jangan lupa, sahabat yang baik akan menilai pekerjaan kamu secara profesional. Jangan anggap diri kamu baik, karena kamu enggak mengharapkan imbalan. Itu artinya bukan baik, tapi bodoh. Ingat, lho, baik dan bodoh itu bedanya sedikit aja, nyaris nggak kelihatan. Oke, saya permisi dulu. Setelah makan siang, yang mengisi materi bukan saya. Saya mengisi materi pagi aja, karena sore saya tetap harus masuk ke kantor. Selamat belajar Suketi,” tukas Dean, memutar tubuhnya.
“Pak … Pak, ada yang belum jelas,” cegah Tini dengan tangan terulur. Untungnya pria itu seketika berhenti.
“Apa lagi?” Dean melirik jam tangannya.
“Ya, ampun … langsung ngeliat jam,” batin Tini. “Yang Bapak bilang tadi, saya nggak ada maksud apa-apa. Tapi Bapak bilang nggak sama, saya nggak ngerti maksudnya apa.” Tini mencoba berkilah.
Dean membetulkan letak berdirinya, dan memandang Tini dengan raut tak sabar. “Jangan bilang kalo saya salah menebak,” kata Dean.
“Udah kayak dukun aja,” gumam Tini.
Dean menarik napasnya lalu memandang Tini. "Di mana-mana, wanita yang terlalu lama memandang wanita lain, pasti akan membentuk opini sendiri. Lalu membandingkan dirinya dan mencari kesamaan dengan subjek yang dilihat. Sebenarnya nggak cuma wanita aja, sih. Pria juga mungkin begitu. Oh, ya, itu rahasia.”
Tini membuat gerakan meresleting mulutnya untuk menyenangkan hati Dean. Dan seperti dugaannya, Dean tersenyum puas dan melanjutkan bicaranya. “Untuk tau apa yang dipikirkan orang lain itu nggak sulit. Liat gesture tubuhnya, arah tatapan matanya, dan posisikan diri kamu sebagai orang tersebut. Sangat simpel, ilmu dasar. Jadi, saya bukan asal menebak pakai-pakai feeling seperti si …. Ya, udah. Saya pergi dulu. Punya suami setampan apa pun, istri pasti ngambek kalo dibiarin nunggu terlalu lama.” Dean mengibaskan tangannya dan melanjutkan langkah.
“Punya suami setampan apa pun …. Ujung-ujungnya kok, nggak ngenakin. Ngomong sama dia aku berasa diberondong peluru. Banyak luka dan nggak udah-udah.” Tini bersungut-sungut melihat punggung Dean menjauh pergi. Lalu tatapannya kembali pada kertas-kertas yang baru saja ditandatangani oleh Dean.
Kemudian senyum Tini mengembang teringat akan kertas-kertas polis yang sangat berharga baginya saat itu. Membayangkan 25% perbulan yang akan diperolehnya dari pembayaran yang akan disetorkan oleh Dean setiap bulannya selama dua tahun pertama. Dan tiga tahun berikutnya, setiap bulan ia masih akan memperoleh 10% dari nilai yang dibayarkan. Karena itu merupakan asuransi jiwa, fee yang diperoleh Tini hanya sampai pada lima tahun pertama.
Tim yang dimiliki Tini pun, bukan tim besar. Ia mendengar dari cerita Agus kalau ada istilah yang bernama overriding. Hasil yang diperoleh dari agen-agen yang direkrut oleh Tini. Tapi karena Tini tidak ada merekrut, ia hanya memperoleh penghasilan dari para nasabahnya.
Kalau Tini tak salah hitung, dua tahun ke depan, ia akan memperoleh perbulannya lima belas juta rupiah. Hanya dengan duduk diam, uang itu akan mengalir ke rekeningnya. “Si cerewet itu memang luar biasa,” gumam Tini.
Tini sedikit terhibur saat mengetahui usia wanita itu empat tahun di atasnya. “Empat tahun di atasku, tapi udah jadi Kepala Divisi.” Tini membatin dan merasa air liurnya keluar menetes.
Di akhir sesi training, wanita itu memberikan sepotong cerita yang berisi motivasi kepada para tim marketing baru. Mereka tidak memiliki target penjualan seperti sales asuransi. Ada atau tidak ada produk yang terjual, mereka akan tetap menerima gaji. Mereka bukan hanya bertindak menjual, tetapi memperkenalkan produk-produk perusahaan, manfaat serta fungsinya.
Tini melipat tangan dan mendengarkan cerita wanita itu dengan sangat tekun. “Wangi banget, pasti bukan Splash Cologne,” batin Tini. Lagi-lagi Tini mengamati seorang wanita lainnya hari itu, dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Sederhana, elegan, wangi, rambutnya digulung rapi dan jas yang dipakai pasti jas mahal. Sangat cekatan dan efisien.” Tini menyimpan memori penglihatan dan kesan itu sebaik-baiknya. Juga saat mengamati cara berbicara dan cara tersenyum wanita itu.
Di penutup training hari pertama, Larasati mengatakan mereka bertiga diberi tugas oleh Bapak Dean Danawira untuk menguraikan dalam selembar kertas menjawab pertanyaan, “Bagaimana caramu memasarkan suatu produk yang stoknya berlimpah dan produk itu kurang diminati." Tiga hari ke depan diserahkan langsung kepada Pak Dean. Kuduk Tini pun meremang.
Sepanjang perjalanan pulang, Tini terus memikirkan soal tugasnya. Terdengar mudah, tapi ia belum bisa merangkai kata. “Memangnya apa aja yang harus dilakukan buat menjual barang nggak laku. Stoknya melimpah … apa nggak sebaiknya disedekahkan aja?” gumam Tini saat menyusuri gang menuju kos-kosan.
Namun, kebingungan Tini itu tidak berlangsung lama, sedetik kemudian ia juga tenggelam dalam euforia mendapatkan 15 juta setiap bulan selama dua tahun pertama. “Baru kali ini aku jual asuransi nggak sibuk ngoceh. Biasanya aku yang ngoceh, kali ini aku cukup denger calon nasabahnya yang ngoceh.” Tini terkikik-kikik. Lalu, ia terdiam teringat sesuatu.
Tini mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Agus. Dua kali nada panggil, suara laki-laki itu terdengar di seberang. “Halo? Kamu, Tin?”
“Iya, Pak. Ini masih nomor hape saya. Besok jam berapa masuk ke kantor? Saya mau mengantarkan berkas polis yang udah ditandatangani. Jumlahnya fantastis. Saya training di kantor baru pukul sembilan pagi. Kalau bisa—”
“Saya bisa ke tempat kamu malam ini kalau memang sangat mendesak,” sahut Agus.
“Tidak semendesak itu, besok pagi aja jam tujuh saya tunggu di kantor, ya, Pak ….”
“Oh, gitu. Saya tunggu besok. Saya juga mau ngasi sesuatu ke kamu. Insentif kamu, Tin. Kerja kamu bagus dua tahun ini. Rencana memang dua bulan lagi saya mau mengeluarkan insentif karyawan. Punya kamu saya dahulukan,” kata Agus. Nada suaranya terdengar sedikit kecewa mendengar penolakan Tini.
“Saya akan dengan senang hati menunggu. Terima kasih, Pak!” seru Tini. Tubuhnya terasa ringan sekali. Senyumnya sumringah menatap ponsel. “Dulu ada hujan badai petir halilintar menyambar-nyambar, kamu nggak pernah kepikiran mau ke rumahku, Gus. Sekarang cuma karena beberapa lembar polis, mau dateng ke kandang ayam. Untungnya bukan kamu yang kena kutukan kandang ayam. Sekali datang, nggak mau pulang.” Kali ini Tini tertawa terbahak-bahak sendirian seperti orang gila.
Tawanya itu terus berlangsung sampai di depan pintu pagar. Sedetik kemudian, tawa Tini terhenti dan mulutnya ternganga.
“Mbak Tini …! Kejutaaaan …,” jerit Evi. Tini masih terperangah. Dayat menghambur ke arah Tini dan mengguncang-guncang bahu kakaknya yang masih membisu.
To Be Continued