TINI SUKETI

TINI SUKETI
109. Harap-harap Cemas



Evi dan Dayat pergi dari rumah wanita tua pemilik bukit dengan wajah menyiratkan setengah kelegaan. Hanya setengah kelegaan. Karena setengahnya mereka tidak tahu keputusan apalagi yang akan dibuat oleh wanita tua yang terkenal plin-plan itu.


Bukan tanpa alasan bukit itu belum terjual hingga sekarang. Pikiran dan hati janda tua pemiliknya masih sering berubah seperti cuaca. Namun mengantongi kata-kata ‘harga masih sama seperti delapan tahun yang lalu’ membuat kedua kakak beradik itu sedikit terhibur.


“Yang penting sebelum Mbak Tini mau kasi panjar, kita tanya sekali lagi kepastiannya sama si Mbah. Nanti aku yang tanyain,” kata Dayat saat mereka tiba di rumah.


“Sekarang ada satu lagi ganjalan,” sahut Evi.


“Apa?” tanya Dayat.


“Aku harus nelfon Mas Wibi,” gumam Evi, berjalan masuk ke rumah dan bergegas ke kamar. Gadis itu langsung mengambil ponselnya.


“Ya, kenapa?” tanya Dayat lagi, menjajari langkah kakaknya masuk ke dalam rumah.


“Kamu anak kecil belum ngerti,” jawab Evi.


“Tadi pas ngerayu si Mbah itu aku nggak dibilang anak kecil,” sungut Dayat. Tapi perkataannya tak dipedulikan oleh Evi.


Evi terdiam beberapa saat mendengarkan nada panggil. Tak lama kemudian terdengar sahutan Wibisono dari seberang telepon.


“Mas! Mas! Wonten sek dirubah rencanane." (Mas! Mas! Ada perubahan rencana.)


***


Senin jam makan siang kantor, perut Tini terasa tak lapar. Tini duduk di salah satu sofa lobi gedung Grup Cahaya Mas. Rasa antusias dan bahagianya membuat kenyang. Pagi tadi mereka sudah meeting soal hasil pencapaian masing-masing pegawai training. Dan Tini tertegun karena ternyata apa yang didengarnya kemarin memang benar. Dua pabrik membuat perjanjian kerja sama dengan Grup Cahaya Mas.


Namun, kebahagiaan Tini masih terhambat. Pencairan bonus tak bisa langsung dilakukan. Paling lama bonus itu baru bisa diterimanya tiga bulan mendatang.


Tini mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan untuk Evi. Beberapa kali ia mengetik dan menghapus pesan yang akan dikirimnya. Tini lalu membuka aplikasi kalkulator dan menghitung berapa total uang yang akan diterimanya tiga bulan mendatang. Ia lalu menghela napas panjang.


“Seandainya bonus itu bisa langsung cair, pasti rencanaku berjalan mulus. Dan si nenek itu nggak akan berubah pikiran lagi,” gumam Tini.


Saat ia tengah termenung menatap sepasang kakinya, sepasang sepatu laki-laki berkilap berhenti di depannya. Tini mendongak ke atas. Seorang pria tampan bermata sipit berdiri memandangnya dengan dahi mengernyit. Dua tangan pria itu berada di saku dan seorang pria lainnya berdiri di sebelah pria itu.


“Pak?” sapa Tini, menegakkan tubuh dan menetralkan wajahnya.


“Kamu kenapa? Harusnya wajah kamu nggak gitu setelah dapat kabar soal dua pabrik. Ada masalah lain?” tanya Dean.


“Enggak, Pak. Enggak ada masalah lain. Semua saran Bapak soal kunjungan ….” Tini melirik pria di sebelah Dean, saat pria itu mengambil ponsel dan mulai mengotak-atiknya, Tini melanjutkan “soal rumah calon mertua, semuanya aman.”


“Jadi soal lain? Apa? Saya nggak suka kalau pegawai saya wajahnya … ehem, maaf. Saya nggak suka kalau pegawai saya wajahnya penuh derita seperti itu." Dean menunjuk wajah Tini. "Apalagi dengan kabar baik yang kamu terima dari hasil kerja keras. Harusnya kamu bisa keliatan lebih bahagia,” sambung Dean.


“Enggak ada apa-apa, Pak.” Tini kembali melirik pria di dekat Dean.


Dean menoleh ke sisi kanannya. “Oh, sebentar …,” ucap Dean pada Tini. “Lo duduk di sana sebentar. Pastikan jarak pendengaran aman. Gue mau ngomong sebentar sama Mbak ini,” pinta Dean pada pegawai prianya.


“Siap, Pak,” sahut pegawai pria itu, lalu menoleh Tini. “Mbak, kecantikan seorang wanita itu selalu terpancar melalui matanya lebih dulu. Mulut bisa berkata ‘tidak’, tapi mata sudah lebih dulu berkata ‘iya’. Tumpahkan segala—”


Dean menarik napas memandang pegawainya. Pegawai pria itu seketika berhenti bicara.


“Saya tunggu di sebelah sana, Pak,” kata pegawai pria itu kemudian pergi menuju barisan sofa kosong.


Dean lalu duduk di sebelah Tini dengan jarak setengah meter. Pria itu menyilangkan kakinya dengan elegan dan menyatukan kedua tangannya di lutut. “Oke, saya punya waktu dua puluh menit untuk mendengar penyebab wajah kamu yang menderita itu,” ucap Dean.


“Saya nggak mau ngeluh, Pak. Kalau saya ngeluh, kesannya saya nggak bersyukur. Sebenarnya nggak apa-apa. Mungkin memang waktunya aja yang belum tepat,” tutur Tini.


“Sembilan belas menit lagi,” sahut Dean tanpa menoleh.


“Kamu sedang mengeluh, tapi akan saya dengar. By the way, enam belas menit lagi,” ucap Dean, melirik jam di pergelangan tangan kirinya.


“Saya ada masalah rumit yang sulit dijelaskan, Pak. Singkatnya … saya mau beli sebidang tanah di kampung. Saya perlu secepatnya. Ada beberapa hal yang mengharuskan saya membeli tanah itu secepatnya. Apalagi pemilik tanah itu sangat labil. Suka berubah tiba-tiba. Tapi … maaf sebelumnya, Pak. Saya mengharapkan bonus itu. Tapi ternyata tidak langsung keluar. Tapi—tapi itu nggak masalah. Saya nggak mau ngeluh. Bapak nanya, saya jawab. Itu aja. Jangan kira saya mengeluh. Saya—”


“Hush—hush—Suketi …. Kamu berisik banget. Terlalu banyak tapi. Ada masalah rumit yang sulit dijelaskan tapi kamu berhasil menjelaskannya. Intinya, perlu uang tapi bonus belum bisa langsung cair? Itu aja, kan?” Kali ini Dean sedikit memutar tubuhnya memandang Tini. Pria itu menggoyangkan ujung sepatunya dengan santai.


“Karena pemilik tanah itu janda tua yang sering mengubah harga. Yang itu jangan lupa,” sambung Tini.


“Udah kaya harga saham aja berubah tiap saat,” gumam Dean.


“Mungkin terinspirasi dari hal itu, Pak,” sambut Tini, meringis.


Dean mencibir. “Oke, sisa sepuluh menit lagi. So!” Dean memanggil pegawai pria yang seketika menoleh saat diserukan namanya.


“Siap, Pak.” Tak sampai semenit, pegawai pria itu sudah berdiri di hadapan atasannya.


“Hitung,” pinta Dean.


Pegawai pria itu mengeluarkan ponsel dan memencet-mencetnya sebentar. “Oke, silakan, Pak.”


Dean mengusap layar ponselnya dan menggulir ke bagian email. Beberapa saat dahinya mengernyit sedang berhitung. Ia lalu mengangkat pandangan tertuju pada pegawainya. “Hitung pajak jual beli tanah. Harga tanah tanyakan pada Mbak Suketi. Dapatkan berapa total uang yang harus dikeluarkan oleh Mbak Suketi. Gue tunggu tiga menit,” pinta Dean.


“Oke, Mbak, mari kita mulai. Sebelumnya perkenalkan nama saya Santoso Thahir. Saya salah satu pengacara yang cukup senior di Danawira’s Law Firm. Saya—”


“Udah satu menit, So,” ujar Dean mengingatkan.


“Siap—siap, mari kita mulai, Mbak.” Santoso kembali tersadar dan mengerjakan apa yang diminta oleh atasannya. Santoso segera duduk d sebelah Tini dan mulai bicara dengan sangat serius.


Genap tiga menit bicara dengan Tini, Santoso langsung mendongak dari ponselnya. “Selesai, Pak. Total keseluruhan sudah didapat. Silakan dilihat,” lapor Santoso, menyodorkan selembar kertas yang dicoret-coretnya saat berbicara dengan Tini.


Dean menghabiskan waktu satu menit tepat untuk membaca tulisan itu. Ia lalu mengangguk. “Ini masih masuk ke budget kamu, Suketi. Kamu sebenarnya cuma perlu bersabar, maka lahan itu bisa jadi milik kamu. Tapi, karena kamu nggak sabar, dan kamu mengkategorikan itu sebagai hal mendesak, saya bantu kamu. Saya akan meminta manajemen mengeluarkan bonus kamu di awal. Tapi … demi memastikan kalau bonus itu benar-benar dipergunakan untuk membeli lahan, saya akan mengirim staf saya yang paling kompeten untuk menangani transaksinya. Pak Santoso,” tutur Dean, memandang Santoso.


Pria yang bernama Santoso itu pun mengangguk ke arah Tini dengan elegan.


"Bapak nggak percaya kalau saya memang mau beli tanah?” Tini memutar tubuhnya memandang Dean.


Dean berdiri dari duduknya dan menarik napas panjang. “Saya hanya melindungi hak kamu agar tidak disalahgunakan oleh orang lain. Itu uang besar … setidaknya bagi kamu. Dan kamu bilang kalau janda tua pemiliknya sangat labil? Serahkan urusan itu pada Pak Santoso. Kamu bisa duduk dengan tenang bekerja sambil menunggu urusan itu diselesaikan.” Dean melirik jam di pergelangan tangannya. “Sudah dua puluh menit lewat beberapa detik. Waktu kita selesai. Nanti kamu akan dihubungi Pak Santoso secepatnya,” kata Dean, memutar tubuhnya dan meninggalkan Tini yang terperangah.


“Masalahku selesai hanya dalam waktu dua puluh menit,” gumam Tini, menatap punggung si pria bermata sipit.


To Be Continued


Peta Desa Cokro


Sebelum ada keluhan, mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau belum bisa menggambar sempurna. Kalau bingung banget, mungkin imajinasi kita belum bisa sama. Jadi jangan dipaksa. Gambar ini sudah saya usahakan sejelas mungkin. Terima kasih sudah mendukung Tini Suketi sejauh ini.


Keterangan :


A. Bukit landai milik Mbah Cantik


B. Juga tanah milik Mbah Cantik


C. Kebun pisang milik Pak tua pikun yang terpincang-pincang.