
Tini menyimpan ponselnya dan kembali melihat catatan yang tadi dicoret-coretnya bersama Wibi. “Duh,aku kok dadi mumet dewe to meh nggenahke iki. Gak iso mikir blas. Hawane kudu nesu wae, opo kuwi si Boy? Ra sah serik, masalahku wis dudu ngono'an meneh kethok'e. (Aduh, aku kok mumet sendiri jelasin ini. Gak konsentrasi. Bawaanku mau marah aja. Apa itu si Boy? Jangan baper—jangan baper. Masalahku udah bukan baper lagi kayaknya.)" Tini menumpukan dagunya di atas meja.
Pikiran Tini sedang berputar mencari nama-nama nasabah yang kemungkinan besar akan bisa diprospek dan menghasilkan insentif buat menambah biaya wisuda Evi.
"Meh nesu-nesu ngopo? Ramang mumet, mengko tak woco dewe. Nek Mbak Tini gak sehat, bene tak anterke mulih. (Mau marah-marah kenapa? Jangan mumet, nanti aku baca sendiri. Kalau Mbak Tini kurang sehat, biar saya anter pulang.)” Wibi meletakkan mangkok ronde dan kembali duduk di hadapan Tini.
Tini segera menegakkan duduknya dan merapikan rambut. Rautnya semakin terlihat tak sehat. Sebenarnya saat mengatakan pada Evi soal melihat tabungan, uang yang disimpannya pun sudah kandas. Hanya tersisa untuk kebutuhannya sehari-hari.
Matanya menatap Wibi dengan pandangan muram. Saat itu, ia tiba-tiba ingin segera cepat kembali ke kos-kosan. Ia ingin melihat nama nasabah yang bisa diprospeknya segera esok hari.
Sejak dulu, sedang seasyik apa pun ia di luar bersama teman-temannya, pikirannya tetap akan sulit berkonsentrasi kalau ada kabar dari salah satu adiknya.
"Nek gek kesel, ngaso sek, urip kuwi mestine kudu ngaso,tapi yo ojo suwe-suwe,mengko ndak kerinan, mergo wektu kuwi tetep mlaku. (Kalau memang lagi capek, istirahat dulu. Hidup itu boleh istirahat, tapi jangan lama-lama. Nanti kita ketinggalan banyak. Karena waktu tetap jalan.)” Wibi mengatakan hal itu seraya menyodorkan semangkuk wedang ronde ke hadapan Tini.
“Bukannya tadi yang pesan minuman ini Mas Wibi?” tanya Tini, memandang mangkuk yang berada di depannya.
“Aku pesenin untuk Mbak Tini, biar batuknya cepat sembuh,” jawab Wibi.
“Makasi kalau gitu. Aku cobain dulu, ya.” Tini meraih sendok dan menunduk menikmati menu yang dipesan Wibi. Minuman itu enak sekali. Terlebih itu adalah menu yang dipilihkan Wibi untuknya. Walau tenggorokannya seakan terbakar, Tini menikmatinya perlahan. Meski tak akan menjadi siapa-siapanya Wibisono, setidaknya ia kembali bertemu orang baik.
“Mbak Tini tinggal di sini sama siapa?” tanya Wibi.
“Aku di sini ngekos. Dulunya aku tetangga sebelahan kamar dengan istrinya Bara. Dijah nikah dengan Bara, terus pindah. Aku udah empat tahun di sana. Tempatnya biasa aja, sangat sederhana. Dulu aku pernah punya pikiran mau pindah ke kos-kosan yang lebih bagus. Tapi teman teman di sana rasanya udah melebihi saudara. Akhir-akhir ini aku makin sadar. Nyari tempat yang bagus itu gampang asal ada uangnya. Nyari temen yang bagus itu sulit, meski punya uang banyak. Malah makin banyak uang, kayaknya makin sulit ketemu orang tulus. Tetanggaku di kandang ayam udah teruji. Kami semua kompak di kala susah. Kalau kompak di kala kaya raya, belum tau. Karena belum ada yang kaya raya.” Tini tertawa sumbang usai mengatakan hal itu.
Wibi ikut tertawa. “Berapa bersaudara?” tanya Wibi.
“Siapa?” Tini balik bertanya. Tersadar telah menanyakan hal bodoh, Tini langsung melanjutkan, “Oh, aku, ya? Enggak mungkin nanya Elvi Sukaesih. Hihihi ….” Tini terkikik sendirian.
Usai tertawa sejenak, Tini diam. “Oke, ehem! Aku tiga bersaudara. Adikku yang perempuan lagi menyelesaikan kuliahnya. Yang satu lagi sedang berjuang mau masuk universitas negeri. Yang bungsu laki-laki, aku anak sulung. Kalau Mas Wibi?” Tini balik bertanya. Ia agak merasa tak enak kalau topik pembicaraan sore itu berputar soal dia saja.
“Aku dua bersaudara. Kakakku perempuan dan aku anak bungsu. Mbak Tini pasti udah tau sebagian dari cerita kita waktu di rumah Bara,” jawab Wibi. “Orang tuaku masih lengkap. Orang tuanya Mbak Tini?” Wibi kembali melontarkan pertanyaan.
“Ibuku meninggal waktu aku masih sekolah. Aku membesarkan adik-adikku sendirian. Bapak kami belum menikah lagi sampai sekarang,” ucap Tini.
“Laki-laki yang setia mencintai istrinya. Mungkin beliau belum menemukan pengganti yang tepat untuk menggantikan ibu Mbak Tini,” tutur Wibisono dengan suara yang melankolis. Tatapannya sedikit menerawang ke arah mangkok ronde.
Melihat hal itu pikiran Tini seketika terbang mengingat bapaknya. Terbayang olehnya jenis kesetiaan yang dimiliki bapaknya. Lalu ia terbayang bapaknya bersanding dengan Puput II di pelaminan. Tini menggeleng. Khawatir kalau Wibisono melihat apa yang sedang dibayangkannya saat itu.
“Oke. Secara garis besar dan keseluruhan yang Mbak Tini jelasin tadi, aku udah ngerti. Malam ini aku baca-baca lagi. Besok aku bakal ngasi keputusannya. Gimana?” tanya Wibisono.
Tini mengangguk.
“Aku anter sekarang? Atau Mbak Tini mau mampir ke mana dulu?” tanya Wibi.
Tini menggeleng. “Enggak, Mas. Aku langsung ke kos-kosan aja.” Mendengar permintaan Evi tadi, membuat rasa letih di tubuhnya semakin berlipat ganda. Biasanya kalau ada hal yang mengganjal pikirannya, ia bisa duduk di depan kamar sambil meminum secangkir teh dan mengisap sebatang rokok.
Dalam perjalanan kembali ke kos-kosan, Tini lebih banyak diam. Ia menanggapi ucapan-ucapan Wibi sekenanya saja.
“Gangnya ini, ya?” Wibi sedikit menundukkan kepalanya memandang gang kecil saat Tini meminta berhenti.
“Iya, Mas. Aku duluan, ya. Besok kalau ada perubahan atau keputusan apa pun, kabari aku.” Tini membuka pintu mobil.
“Mbak Tin—“
“Ya?” Tini langsung berbalik menatap Wibi. Pria itu kelihatannya sedikit terkejut karena langsung memundurkan tubuhnya. “Ada apa?” tanya Tini.
“Aku boleh manggil Tini aja? Kayaknya lebih nyaman kalo manggil nama aja. Boleh, kan?” tanya Wibi diiringi dengan senyuman.
“Aku kira tadi entah mau apa. Mau sun pipi kanan-kiri atau setidaknya salim cium tangan.” Tini menghela napas panjang. “Gayamu, Tiiiiin .... Tin! Itu pikirin Evi dulu,” ucap Tini. Ia berbicara sendirian sepanjang berjalan menyusuri gang.
Dari kejauhan terdengar lantunan musik dangdut dari speaker. Boy sedang mengadakan konser tunggal di halaman. Pasti laki-laki itu sedang menghibur Mak Robin, Asti dan Dara yang sekarang sedang dekat dengannya.
“Cari apa Bunda? Masuk sini Bunda .... Megang-megang aja nggak bayar, Bunda ....” Boy memanggil Tini dengan mic-nya.
Tini melengos langsung menuju pintu kamarnya. Tujuannya pertama kali adalah ingin melihat daftar nasabah besar yang akan ia prospek besok.
“Tini! Ayo, nyanyi!” ajak Boy, menyodorkan sebuah mic dari depan kamarnya.
“Tunggu,” sahut tini, membuka pintu kamarnya dan mencampakkan tas ke atas ranjang.
Tini membuka laci meja riasnya dan mengeluarkan sebuah agenda daftar nasabah besar yang sangat berpotensi untuk diprospek.
“Enggak mungkin Jono lagi. Dia pasti mau. Tapi aku jadi nggak enak. Orang baik bukan untuk dimanfaatin, Tin ...,” gumam tini, membalik-balik agendanya. Lalu matanya menemukan nama dua orang pengusaha yang dirasanya berpotensi. “Oke, besok seharian aku kejar mereka.” Tini menutup agenda itu dengan wajah optimis.
Saat menggenggam agenda itu dan berjalan ke depan pintu untuk melihat Boy di teras seberang, Tini kembali merasakan ponselnya bergetar.
Tertulis di layar, Mas Wibi.
“Tin, besok siang kita ketemuan lagi, ya. Aku udah punya keputusan. Besok bantu aku buat perhitungannya. Bisa, kan?” tanya Wibi dari pesawat telepon.
“Mas, aku besok nggak bisa. Aku ada keperluan urjen (urgent/penting). Lusa atau kapan asal jangan besok. Atau mau dengan Pak Agus aja. Gimana?” tanya Tini.
“Aku tunggu kabar dari kamu aja bisanya kapan,” sahut Wibi di seberang.
Tini menutup telepon dengan wajah lesu. Ia melangkah keluar kamar dan menghempaskan tubuhnya di kursi plastik depan jendela. “Boy! Mic!" teriak Tini.
“Mic? Oke, Bunda .... Tolong kasi mic ini ke Bunda yang sedang murung di seberang. Lagunya bisa langsung disebutkan Bunda ....” Boy berbicara dengan mic sambil melihat-lihat channel Yutub untuk memilih lagu karaoke.
Dara mengangsurkan mic pada Tini lalu gadis itu kembali duduk di sebelah Boy di teras seberang.
“Oke, tolong operator puter Sengsara-nya Mansyur S,” pinta Tini. Musik pun mulai mengalun. “Lagu ini untuk pasangan di seberang. Pakle Boy dan Bule Dara. Semoga cepet jadian. Celana dalemnya jangan ketuker. Pakle Boy jangan pake merek apel lagi. Bule Dara sudah bisa lepas crocodile-nya,” tukas Tini dari seberang.
Boy mengambil sebuah sandal dan melemparkannya pada Tini. Mak Robin dan Asti tertawa terbahak-bahak dan Tini yang berhasil menghindar melanjutkan nyanyiannya.
Sengsara Aku Sengsara
Oh Karena Dia
Sengsara..Sengsara..
Sengsara Dalam Cinta
Rupanya Sudah Biasa
Kau Bersandiwara
Berdusta..Berdusta..
Berdusta Dalam Cinta
To Be Continued
Likenya jangan lupa ya ebo-eboooooo