
Hanya Mak Robin yang menumpangi sepeda motor, selebihnya mereka berdempetan dalam sebuah taksi menuju ke gerai bakso yang baru buka di dekat ruko roti bakar Boy.
“Kantor barumu nyaman, Tin?” tanya Boy.
“Pertanyaanmu sama dengan si Agus. Udah aku jawab itu. Kamu tanya jawabannya sama dia aja,” jawab Tini.
“Aku nanya versi jawaban jujur. Kayaknya kamu sibuk banget belakangan ini.” Mereka semua baru saja sampai di tempat makan bakso. Boy dan Tini berjalan paling belakang.
“Nyaman. Semuanya nyaman-nyaman aja. Sekarang gimana kita sendiri yang buat nyaman. Namanya orang di tempat kerja itu macem-macem. Enggak semuanya kita suka, dan nggak semuanya suka kita.” Tini melambatkan langkahnya.
“Iya, sih,” jawab Boy. “Di kantor mana aja pasti ada yang namanya tukang gosip. Termasuk kita salah satunya. Tapi segala gosip di kantor sumbernya tetap anonymous. Meski kita tau orangnya,” tukas Boy.
“Nah, iya. Eh, Boy … aku juga ada berita untuk kamu. Tapi ini bukan gosip dan harus kamu rahasiakan,” ucap Tini dengan wajah serius.
“Apa?” tanya Boy langsung. Apakah ini atmosfer aneh yang belakangan ia tangkap saat berada di tengah-tengah penghuni kos yang penuh kisik-kisik?
“Tapi kamu janji nggak ngomong ke siapa-siapa dulu, ya? Sampe ada pengumuman resmi dari aku. Aku nggak mau malu lagi karena—”
“Iya—iya. Aman pokoknya,” potong Boy tak sabar. Semua rahasia sebenarnya aman. Aman di antara mereka yang seringnya sudah tahu sama tahu. Lama bersama di kos-kosan itu, membuat mereka secara sadar tak sadar memahami tabiat satu sama lain.
“Kamu inget Mas Wibi? Yang kemarin—”
“Yang kemarin nyium kamu di gelap-gelapan? Iya, tau. Kenapa? Ngajak kamu pacaran?” tebak Boy.
“Diajak pacaran? Huh! Udah biasa. Berapa orang laki-laki yang ngajak aku pacaran aku tolak. Yang ini beda,” sahut Tini.
“Terserah. Memangnya kenapa?”
“Dia ngajak aku nemuin orang tuanya, Boy ….” Tini menutup mulutnya dengan ekspresi gemas. “Aku nggak nyangka, Boy.”
“Serius, Tin?” tanya Boy dengan raut wajah yang benar-benar serius. Ia senang mendengarnya. Tapi di kepalanya juga sedang menebak-nebak siapa saja yang sudah tahu akan hal itu.
“Serius, lho. Nanti dia mau jemput aku buat ngajak ke Surabaya. Masalahnya kalau ke Surabaya pasti aku harus libur. Padahal aku, kan, baru masuk ke kantor baru.” Tini mengernyit.
“Itu masalah belakangan. Yang penting bener dijemput. Nanti cari bos kamu yang paling baik. Ilmu kamu biasanya tinggi kalo soal bikin alasan,” kata Boy.
“Di kantor baru ada bos yang kayaknya bisa men-CT Scan isi kepalaku. Sama dia kayaknya aku nggak bisa bohong. Harus jujur. Kayaknya nanti aku ngomong ke dia. Meski diberondong kata-kata menusuk dan tajam, aku cuma perlu diam. Kemungkinan dia bakal ngasi. Aku bilang aja mau praktek ilmu dari dia.” Tini kembali terkikik menutup mulutnya.
“Aku beneran bahagia kalau kamu berkeluarga. Apalagi Mas Wibi itu gagah. Meski wajahnya aku rasa terlalu serius,” ucap Boy.
“Wibi itu suit (sweet/manis), Boy …. Enggak serius banget. Takarannya pas. Enggak menye-menye, enggak kaku banget. Pas pokoknya,” jelas Tini.
“Suit—suit …. Iya. Pokoknya kalo udah suka semuanya pas. Cuma Dijah yang bisa mendebat sampe titik darah penghabisan kalo soal mas-mas. Ayo, makan! Aku laper,” ajak Boy. Tini tertawa mendengar ucapan Boy
Tini dan Boy melangkah ke dalam gerai bakso dan langsung mengambil menu. Saat menghadapi hidangan, semuanya tekun. Sesekali terdengar celetukan dari Dayat dan Evi bergantian memberi usulan atas jawaban tugas Tini.
“Diskon, Mbak! Dikasi potongan harga,” ujar Dayat.
“Dikasi hadiah. Pembelian sekian dapetnya sekian,” tambah Evi.
“Memangnya pertanyaannya apa?” tanya Asti.
“Bagaimana menjual barang yang kurang laku dan stoknya melimpah di gudang,” jawab Tini.
“Bener, sih, kata Dayat. Diskon. Mbak Tini tambahin soal pembelian dalam jumlah besar akan semakin besar diskonnya. Ini secara eceran atau grosir, Mbak? Jawabannya Mbak bedain aja,” usul Asti.
“Oke—oke, kalian pelan-pelan. Aku sambil nyatet.” Mereka sudah selesai makan, tapi masih duduk. Tini mengeluarkan ponselnya dan mencatat usul jawaban yang dilontarkan teman-temannya.
“Aku selalu mencatat selai yang kurang diminati atau yang lambat penjualannya. Seminggu sekali aku catat. Jadi aku mendeteksi produk nggak laku itu dari awal, supaya aku juga bisa mengurangi belanja itu.”
“Oke—oke … aku tulis nanti ‘’mendeteksi produk tidak laku secepat mungkin agar tidak memproduksi terlalu banyak’ gitu, kan?” tanya Tini. Ia segera mencatat perkataan Boy.
“Ayolah, sekalian jalan keluar. Kau bayar dulu ini, Tini! Udah kenyang, nguap si Robin udah lebar kali kutengok,” tukas Mak Robin.
Tini segera memanggil pelayan dan membayar semua tagihan mereka. Tak mahal-mahal, tapi makan bersama di luar sesekali terasa sangat istimewa bagi mereka.
“Tini udah kaya, ya?” sindir Boy saat Tini mengangsurkan dua lembaran merah pada pelayan.
“Seperti yang Dijah bilang, kalau cuma traktir segini aja, nggak mesti nunggu kaya dulu, Boy.” Tini mencibir.
Dari gerai bakso, Mak Robin pulang lebih dulu dengan mengendarai motornya. Sedangkan sisanya kembali menumpangi taksi sampai depan gang. Tini turun lebih dulu dengan pakaiannya yang ajaib. Daster batik cokelat dan sepatu olahraga putih serta tas kerjanya jelas bukan perpaduan yang serasi.
Evi dan Asti berjalan di depan. Dayat dan Boy menyusul di belakang mereka. Sedangkan Tini, berjalan paling belakang sambil berdendang.
Tiba-tiba dari belakang Tini ….
“Tini!” Suara seorang pria membuat langkah mereka terhenti.
Sisi kiri gang itu adalah bangunan rumah lama yang tertutupi rimbunan pepohonan dan tanaman menjalar yang terkesan menyeramkan di malam hari. Sedangkan sisi kanannya merupakan tembok tinggi dari belakang komplek pertokoan.
Di gang yang gelap dan aroma tak sedap dari tembok yang sering ditempeli para pengendara ojek, Wibisono berdiri menatap Tini.
Evi yang terperanjat seketika mendekati kakaknya. Begitu pula dengan Dayat yang tadi kembali melanjutkan gombalan pada seorang wanita di telepon, langsung mengakhiri pembicaraannya. Asti dan Boy terdiam ikut menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Itu siapa?” bisik Evi pada Asti.
“Mas-nya Mbak Tini,” jawab Evi juga dalam bisikan.
"Aku ora nyongko, mbakku di senengi karo wong ko iki. Mripate gak siwer to? (Aku nggak nyangka mbakku bisa disukai sama orang kayak gini. Apa matanya sehat?)” Evi kembali berbisik.
Dayat hanya mengangguk setuju dengan perkataan Evi.
"Lambemu, Vi. Sik iki mudheng karo omonganmu, bahasa Inggris yo mudheng. Mending awakmu meneng wae. (Mulutmu, Vi. Yang ini ngerti sama omonganku. Bahasa Inggris juga ngerti. Jadi mending kamu diem aja.)” Tini menjawab perkataan Evi dengan mulut nyaris tak terbuka.
Wibisono datang. Tini sangat bahagia. Tapi Tini meringis. Kenapa pria itu datang di saat ia berdandan sangat aneh. Daster dengan sepatu olahraga. Sebuah tas kantornya, rambut terjepit di belakang kepala, dan alis sedang gundul-gundulnya.
To Be Continued
Para pembaca tersayang ....
Mengingat selama ini juskelapa tidak pernah libur update lebih dari sehari secara berturut-turut, harap dimaklumi kalau juskelapa sesekali libur, ya.
Kemarin juskelapa meriang, Boeboo. Sekarang juga masih nggak enak badan. Besok juskelapa mau PCR untuk berangkat ke Medan hari Sabtu. Doakan hasil PCR bagus agar bisa berangkat menjenguk Ibunda.
Jadi, mohon dimaklumi, ya. Juskelapa itu nggak perlu ditagih-tagih, lho. Pasti up kalau memang bisa. Cerita soal Wibi dan Tini juga nggak diulur-ulur seperti dugaan pembaca. Semua ada outline ceritanya. Semua sudah ada takarannya. Mari berbaik sangka :)
Terima kasih sudah menunggu Tini.
Terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan, semangat dan motivasi boebo selama ini.
many hugs and kisses 🤗😘