TINI SUKETI

TINI SUKETI
100. Banyak Rencana



“Opo?” sahut Tini saat menjawab telepon.


“Sudah nyampe to, Mbak? Enggak ada ngasi kabar,” kata Evi di seberang telepon.


“Belum sempet. Mas Wibi baru balik ke hotel. Sekarang aku lagi buka acara talk show setelah sekian lama vakum.”


“Aku lagi nyatet-nyatet. Ada yang mau aku tanya. Sebentar telfonnya aku kasi ke Dayat dulu. Dayat yang ngomong, aku yang nyatet,” ucap Evi. Terdengar suara gemeresik telepon yang berpindah tangan.


“Mau nanya apa?” tanya Tini.


“Kartu undangan, Mbak. Yang kayak gimana?” tanya Dayat.


“Aku baru nyampe udah ditanya itu. Terserah aja yang gimana. Mau kecil, sebesar talenan, atau yang sebesar nampan. Gimana bagusnya di mata kalian,” sahut Tini.


“Oh. Sebesar talenan atau sebesar nampan,” ucap Dayat mengulangi ucapan Tini pada Evi Dwi dekatnya.


“Kata Mbak Evi seragamnya pink, Mbak. Mbak Evi yang belanja. Kata Mbak Evi, dia udah dikasi Mas Wib—aduh! Sakit! Bisa biru pahaku,” sungut Dayat di seberang telepon.


“Apa? Ngomong apa barusan?” tanya Tini. “Jangan dibikin bercandaan, ya. Awas kalian berdua,” ancam Tini pada dua adiknya.


"Enggak apa-apa. Kata Mbak Evi semuanya aman,” ucap Dayat lagi. “Tamu undangannya gimana?”


“Undang semuanya tanpa terkecuali. Barisan partai sakit hati, partai manis di mulut lain di hati, partai pakai uangmu dulu nanti kuganti, undang semuanya.” Tini tertawa terbahak-bahak.


“Undang semua, Mbak.” Suara Dayat kembali terdengar menyampaikan pada Evi. “Apa lagi?” tanya Dayat pada Evi.


“Pelaminannya mau gimana? Pakaiannya?” tanya Dayat.


“Menurut kalian yang gimana? Pengantin wajar di sana gimana? Kalau ngikut mauku, aku mau pelaminan sebesar panggung konser. Pakaianku kayak Nyi Roro Kidul dengan kereta kencana,” seru Tini.


“Udah—udah cukup kata Mbak Evi. Dia mau nelfon Mas Wibi untuk minta saran yang lebih wajar.” Dayat langsung mengakhiri pembicaraan.


“Saran yang lebih wajar? Halo? Halo? Malah ditutup. Yang berdua ini kadang-kadang terlalu aktif,” sungut Tini, memandang ponselnya.


“Siapa, Mbak? Itu Evi dan Dayat?” tanya Asti.


Tini mengangguk. “Evi dan Dayat. Siapa lagi biang kerusuhan dari keluarga Joko Sansoko selain mereka berdua,” ucap Tini.


“Kaulah! Siapa lagi?” sahut Mak Robin. “Jadi, cemana? Jadi kau kawin?" tanya Mak Robin.


“Nikah, Mak. Nikah,” ulang Tini, memperbaiki ucapan Mak Robin.


“Ah, sama aja. Di tempatku kawin namanya,” sahut Mak Robin, membela diri.


“Seragamnya pink, ya, Mak. Katanya nanti Evi yang belanja. Tunggu aja,” kata Tini.


“Aku juga pink, Tin? Bah, maen kalilah aku nanti,” ucap Mak Robin.


“Aku juga pink kalo gitu?” Giliran Boy yang bertanya.


“Tunggu aja kabar dari Evi. Dia pasti tau apa yang mau dilakukannya. Sekarang aku lagi deg-degan mau masuk ke kantor. Ada perasaan nggak enak,” kata Tini.


“Pestanya kapan?” tanya Boy.


“Dua bulan lagi. Dua bulan lagi kamu udah nggak bisa ngintipin aku dari balik jendela. Salah satu nikmat duniamu akan dicabut, Boy.” Tini terkikik-kikik memandang Boy yang langsung melengos. “Malah Mas-ku bilang, dia bakal nyari rumah di dekat rumah Dijah. Saking senengnya aku nggak bisa nyimpen ini sebagai rahasia. Aku bakal tetanggaan sama Dijah,” seru Tini dengan girangnya.


“Dua bulan lagi kau pindah, Tin? Aku juga pindahlah. Bapak si Robin lagi nyari tambahan sikit lagi buat DP rumah. Dijah udah nggak ada, kau pun pindah, nggak ada lagi kawan aku,” ucap Mak Robin.


“Doain aku segera nyusul, Mbak. Biar ikutan pindah. Kita bakal saling mengunjungi nantinya. Jadi punya saudara baru,” cetus Asti antusias.


“Kapan apa, Mas? Nyusul Mbak Tini? Secepatnya, Mas,” ujar Asti ikut tertawa.


“Jadi? Aku gimana?” Boy memandang semua penghuni kos satu persatu.


“Yah, gimana? Kamu maunya gimana? Kan, nggak mungkin kita sampe tua di sini. Kamu cepat-cepat lamar Dara. Kita berangkat dari sini semua. Terus kita bumi hanguskan tempat ini,” cetus Tini dengan tawa melengking.


PLAKK


Mak Robin menepuk paha Tini sampai wanita itu langsung terdiam. Mak Robin menunjuk Boy yang terlihat muram. Tini menoleh pada Boy. Baru menyadari kalau ada yang bersedih dengan rencana pindahnya mereka semua.


“Aku sedih. Sebentar lagi semuanya bakal bener-bener berpisah. Kita tinggal jauh-jauhan. Enggak ada lagi hiburan malam-malam galau. Kayanya cuma aku aja yang belum punya rencana apa-apa,” ucap Boy.


“Enggak mungkin hidup kayak gitu terus, Boy. Kita juga harus berkembang biak. Sayang bakat-bakat kita di dunia tarik suara kalau nggak ada penerusnya. Kamu juga harus cepat memutuskan mau jadi suami atau istri,” jelas Tini, menasehati.


“Mulutmu—” PLAKK! Boy mendaratkan sebuah pukulan di lutut Tini.


“Andai Mas-ku ngeliat kalau aku disiksa oleh orang-orang yang kusebut sahabat. Pasti dia bakal marah,” gumam Tini, mengusap lututnya.


“Andai Mas-mu denger omonganmu yang sebenarnya dan ngeliat tingkahmu, mungkin dia bakal nyesel,” tukas Boy.


“Aku dilamar oleh seorang pria, Boy. Bukan seorang pemuda. Pria yang sebenarnya itu tindakannya terukur. Karena rumah tangga bukan untuk coba-coba. Kayaknya kamu harus pergi ke Surabaya biar pulangnya bisa bijak kayak aku,” kata Tini.


“Ngapain aja memangnya kau di Surabaya? Kok, makin bijak?” tanya Mak Robin.


“Ngeliat monumen-monumen perjuangan, Mak. Dari sana aku paham, kalau yang namanya hidup memang harus berjuang dulu kalau mau enak. Itu makanya tugu-tugu itu dibangun. Agar kita bisa bersyukur karena kita nggak perlu perang dulu buat tidur nyenyak. Kita tinggal berusaha untuk—Eh, sebentar. Hapeku masuk pesan. Mungkin dari Mas-ku,” kata Tini kembali melihat ponselnya.


“Sukur hapenya bunyi. Udah pening kepalaku dengar si Tini jadi tukang ceramah sekarang. Diceritakannya pula sejarah semua monumen itu,” bisik Mak Robin pada Asti.


Boy masih merenung. Asti sibuk membuka cemilannya. Mak Robin juga sedang membagi cemilan ke tangan Robin. Sedangkan Tini, membelalak menatap ponselnya.


“Merinding aku. Merinding ….” Tini menutup mulutnya dengan wajah puas.


“Pesan dari siapa?” tanya Boy penasaran.


“Liat ini,” ucap Tini, mengangsurkan ponselnya ke tengah agar semua penghuni bisa melihatnya.


Mbak Tini, berikut adalah pesan yang saya teruskan dari Pak Dean.


‘Suketi, besok pasti sudah masuk kerja, kan? Temui Larasati dan ambil bagian pekerjaan kamu. Lakukan sebaik-baiknya. Ingat, izin dua hari itu tidak gratis.’


Terima kasih, Mbak Tini.


“Itu dari siapa? Pimpinan perusahaan yang baru?” tanya Asti.


“Ini sekretaris pimpinan. Pesan ini dari pria pemilik saham itu. Pesan aja mesti diteruskan dari sekretaris. Enggak mau ngirim pesan langsung. Memang beda laki-laki yang satu itu. Aku jadi deg-degan dengan tugas yang ditinggalkannya. Kira-kira sesulit apa, ya.”


“Sombong banget bos kamu itu,” sungut Boy.


“Iya. Memang sombong banget, Boy. Tapi entah kenapa aku maklum kalau dia sombong. Sesudah Heru, aku juga ngefans sama dia,” ucap Tini, menutup pesan di ponselnya.


“Abis bos kau yang itu? Laki-laki mana yang kau jadikan idola?” tanya Mak Robin, mencibir.


“Mas-ku, Mak. Kang Mas Hapsoro Wibisono. Siapa lagi? Enggak mungkin Boy, kan?”


Boy langsung menendang kaki kursi yang ditempati Tini.


To Be Continued