
“Kamu semakin bijak, Tin.” Agus tersenyum seraya membuka lacinya. “Ini ... saya kasi dalam bentuk cash. Sengaja biar lebih keliatan,” kata Agus tertawa.
“Oh, iya. Saya juga mau ngasi ini.” Tini mengeluarkan kertas-kertas polis nasabahnya yang baru. “Asuransi jiwa untuk enam orang sekaligus. Dengan nilai yang lumayan, Pak.” Tini berbinar menyodorkan map kepada Agus.
Agus mengulurkan amplop pada Tini, kemudian tangannya berpindah pada map yang diberikan padanya. Sesaat lamanya ia membalik-balik kertas di hadapannya.
“Luar biasa ini, Tin. Dalam waktu singkat kami dapet nasabah seroyal ini. Kemampuan kamu memang luar biasa,” kata Agus. “Kalau kamu masih bekerja di sini, saya bisa angkat kamu jadi kepala penjualan,” tambah Agus lagi.
Tini tersenyum. Membenarkan apa yang pernah dikatakan Pak Dean si pemilik saham. Sekejap saja Agus langsung menawarinya posisi baru yang tak pernah ditawarkan padanya.
“Kamu bekerja di Grup Cahaya Mas, kan?” tanya Agus. Tini mengangguk. “Itu grup perusahaan besar, Tin. Minyak gorengnya dipakai di berbagai hotel besar. Berarti potensi kamu dinilai nggak sembarangan sama mereka. Aku jadi insecure sama kamu,” ucap Agus tersenyum.
“Bisa saja, deh. Sekarang Pak Agus jadi lebih pinter muji, ya ...,” sindir Tini. “Untung yang nangis kemarin belum dateng.” Tini mengambil amplopnya dan menekan amplop itu sedikit untuk merasakan ketebalan lembaran uang di dalamnya. Mulut dan matanya sedang menghadapi Agus, tapi pikirannya sedang menebak lembaran pecahan berapa yang diberikan pria itu.
“Ayu belum dateng. Mungkin sebentar lagi. Kemarin dia janji mau masakin aku nasi goreng untuk sarapan. Jadi nggak apa-apa kalau sedikit terlambat,” tukas Agus.
Mau nasi goreng, nasi rebus, ia sebenarnya tak peduli. Tidak harus diucapkan di depannya. Tini sedikit kesal dan merasa ingin membalas pria itu.
Perlahan tangan Tini masuk ke saku jasnya meraih ponsel. Sedikit menundukkan kepala, Tini langsung mencari nama Wibisono di daftar panggilan masuk. Ia langsung menekan tombol ‘panggil’.
“Halo?” Terdengar sahutan dari ponsel yang masih digenggam Tini di atas pangkuan.
Tini langsung mengangkat ponsel itu ke telinganya. “Maaf, Pak Agus. Saya terima telfon sebentar,” ucap Tini sedikit mengangguk pada Agus.
“Oh, ya—ya, silakan.” Agus membalas dengan anggukan yang canggung. Tak biasanya Tini menyela pembicaraan mereka berdua dengan telepon orang lain.
“Halo? Mas?” sapa Tini dengan nada sedikit manja. Ia menyerongkan tubuhnya sedikit memunggungi Agus. Bekas atasannya itu semakin mengernyit.
“Ya .... Lagi di mana kamu? Udah nyampe kantor baru? Ini, kan, masih pagi banget.” Suara Wibisono di seberang terdengar sedikit heran.
“Aku lagi di kantor Pak Agus. Terima insentif selama dua tahun kerja,” ucap Tini tertawa renyah seraya menutup mulutnya.
“Insentif dua tahun? Berarti tahun kemarin nggak dapet insentif. Kasian ...,” sahut Wibisono setengah tertawa.
“Jangan kelamaan ke sini ya,” ucap Tini.
“Kenapa? Bukannya jarak bagus untuk memupuk rindu?” tanya Wibisono dengan nada bercanda.
“Kebanyakan pupuk malah bisa bikin mati tanaman,” balas Tini ikut tertawa.
“Bisa aja. Kamu lucu,” jawab Wibisono. “Ya, sudah. Diselesaikan dulu urusannya sama Agus. Jangan kelamaan nelfon. Aku selesaikan urusanku secepatnya. Aku pasti dateng,” janji Wibisono.
“Jaga kesehatan, Mas.” Hanya itu yang bisa diucapkan Tini. Mau mengucapkan rindu atau hal yang lebih romantis, tapi ia masih sangat canggung. Belum ada kata-kata seperti itu dalam percakapan mereka selama ini.
“Jaga hati, Tin.” Wibisono kembali tertawa kecil di seberang.
“Dari siapa, Tin? Ada sebut-sebut namaku. Aku kenal?” tanya Agus.
“Ya, kenal. Siapa, sih, yang nggak kenal Pak Agus?” Tini balik bertanya. “Ya, udah. Semuanya udah selesai, kan, Pak? Saya mau pamit dulu. Khawatir terlambat.” Tini memasukkan amplop uangnya ke dalam tas.
“Buru-buru banget,” kata Agus.
“Khawatir terlambat, lho, Pak ....” Tini bangkit dan melangkah menuju pintu.
“Hati-hati bawa tasnya. Kamu lagi bawa uang,” kata Agus.
“Terima kasih,” jawab Tini, mengangguk di bawah gawang pintu.
Pagi itu Tini melangkah keluar diiringi tatapan Agus. Tasnya semakin berat, namun langkahnya semakin ringan. Setibanya di luar kantor. Tini berjingkat melihat apa Agus masih mengamatinya. Setelah memastikan keadaan aman, ia membuka resleting tasnya dan meraba amplop tebal. Jemarinya dengan lincah langsung membuka amplop dan melihat lembaran uang di dalamnya.
“Oh, my God!” pekik Tini. “Aku semakin mencintai Para Proklamator ini,” ucap Tini, memandang segepok uang pecahan seratus ribu berwarna merah yang terlihat begitu tebal. “Aku harus naik taksi. Ya, ampun. Aku belum pernah punya uang sebanyak ini di dalam dompet. Apa mulai sekarang aku pakai keresek aja?” Tini terkikik-kikik sendirian. Pagi itu ia merasa menjadi orang paling kaya.
Saat sedang mencari penampakan taksi di sekitar sana, Tini kembali merasakan ponselnya bergetar. Dari notifikasi, Tini melihat nama Wibisono. Mulutnya langsung mengatup.
‘Cinta dudu perkoro sepiro kerepe kowe ngucapke, tapi sepiro akehe seng mbok buktike.'
(Cinta bukan perkara seberapa sering kamu mengucapkannya, tapi seberapa banyak kamu membuktikannya.)
"Ya, ampun. Dijah … mulutku udah gatel mau cerita," gumam Tini membekap mulutnya. "Ya, Gusti … aku harus balas apa ini?" Tini sibuk mengetik dan menghapus lagi kata-kata balasan untuk Wibisono.
'Aku nggak sabar nunggu Mas Wibi.'
Tini lalu mencemplungkan ponselnya ke dalam tas cepat-cepat. Ia merasa sedikit malu usai mengirimkan pesan itu pada Wibisono. Tumben-tumbennya ia merasa malu.
Tak sadar, Tini mengentak-entakkan kedua kakinya karena rasa bahagia. Ia lalu berdendang seraya menoleh taksi yang melintas.
Hari ini kugembira
Pak Pos melayang di udara
Sambil membawa berita
Dari yang kudamba
Tini terdiam. “Kayaknya liriknya nggak gitu …,” gumam Tini.
To Be Continued
Minggu ini sedang musim UAS anak-anak. Jadi up akan diusahakan sedapatnya aja, ya. Terima kasih atas pengertiannya, Boeboooo.