TINI SUKETI

TINI SUKETI
59. Mulai Serius



Biasanya saat Tini berada di dekat orang, ia jarang sekali mendengar suara jangkrik. Itu dikarenakan setiap berhadapan dengan siapa saja, Tini selalu berhasil memulai pembicaraan untuk mencairkan suasana.


Tapi malam itu, Tini kehabisan ide. Pikirannya bercabang dan konsentrasinya terpecah. Raganya di sebelah Wibi dan jiwanya terpecah-pecah ke Desa Cokro, ke Agus, dan ke perusahaan baru yang merekrutnya.


“Pagi tadi aku ke kantor kamu,” ucap Wibi akhirnya.


Tini langsung menarik napas lega karena Wibi memulai pembicaraan lebih dulu.


“Oh, ketemu Pak Agus, ya? Udah tanda tangan MOU?” tanya Tini, menoleh ke belakang menatap curiga pada jendela Boy di seberangnya. Kamar gelap yang jendelanya tertutap kain itu biasanya hanya kamuflase. Boy sering bercerita kalau dirinya mengintip orang dari dalam kamar saat lampu kamarnya padam.


“Iya, ketemu Pak Agus dan aku udah tanda tangan kerja sama.” Wibi menatap Tini sekilas lalu memandang jendela kamar.


“Kok, kayaknya aneh kita duduk berdua ngadepin dinding. Ayo, Mas. Puter kursinya,” ucap Tini bangkit dan menarik kursinya agar merapat ke dinding. Ia lalu memandang jendela kamar Boy seraya berpikir, dari celah mana biasanya Boy mengintip.


“Aku mau pulang ke Surabaya, Tin. Urusanku sementara ini udah selesai,” ucap Wibisono.


“Ha?” Tini terperanjat. Tak menyangka kalau Wibisono bakal meninggalkan Jakarta secepat itu. “Kok, cepet?” tanya Tini, menyentuh pegangan kursi yang ditempati Wibisono.


“Aku mau ngurus cabang yang di Surabaya dulu. Kalau sudah beres, aku ke Jakarta lagi buat memulai kantor baru. Kemarin udah dapet lokasi ruko perkantoran. Rekomendasi dari Heru,” jelas Wibi.


Tini mengangguk-angguk pelan tak tahu harus menanggapi apa. Mau menahan Wibisono lebih lama, tapi ia tak punya alasan. Lagipula, ia juga sedang tak punya banyak waktu untuk memikirkan apakah Wibi punya perasaan khusus untuknya atau tidak. Hingga detik itu, bagi Tini semuanya masih abu-abu.


“Kamu kapan terakhir kali pulang ke kampung?” tanya Wibi menatap Tini. “Kamu keliatan sibuk banget belakangan ini. Orang tua nggak nanyain?” sambung Wibi.


Pertanyaan yang yang begitu meresap ke hati Tini. Ia seketika terdiam. “Aku memang jarang pulang sejak pergi dari kampung. Ibuku udah nggak ada dan aku sering cek-cok dengan bapakku karena kebiasaan buruknya yang aku nggak suka. Jangan tanya apa. Aku malu.” Tini menerawang menatap jendela Boy di seberang halaman.


“Setidaknya kamu pulang untuk nyekar ke makam ibu. Atau buat ngeliat adik-asik kamu,” ucap Wibi.


Mendengar kata ‘nyekar’ Tini tertawa. Wibi menoleh heran padanya.


“Kok, ketawa?” tanya Wibi dengan dahi mengernyit.


“Yang Mas Wibi bilang barusan itu ada benarnya. Aku pernah nyekar ke makam ibuku. Bawa arit untuk bersih-bersih kuburannya, aku bawa bunga, aku ngobrol sendiri cerita ke ibuku, terus doa panjang-panjang … eh, tau-tau salah kuburan.” Tini memandang Wibi yang sedang berusaha keras menahan tawanya.


“Mau ketawa, ya, ketawa aja. Aku nggak apa-apa,” kata Tini. Lalu mereka berdua tertawa terkekeh-kekeh di dalam kegelapan.


Tawa mereka berhenti dan suasana kembali canggung. “Belum punya pacar, Tin?” tanya Wibi tiba-tiba.


“Belum, Mas. Sekarang aku nggak ada pacar. Aku mulai capek. Mau bilang semua laki-laki sama aja, tapi rasanya, kok, nggak etis. Awalnya aku punya target kepingin cepat nikah karena mengingat usiaku. Tapi semakin dikejar, target itu kayanya makin menjauh. Aku cuma nggak mau kecewa lagi. Jadi aku putuskan untuk santai aja. Let it flow,” tutur Tini seraya tersenyum kecut. Dari ekor matanya ia sadar kalau Wibisono sedang menatapnya.


“Aku juga belum. Kalau kamu mau tau. Itu hanya informasi,” tambah Wibisono. “Aku sekarang nggak nyari pacar, Tin. Aku nyarinya istri.” Wibi kembali memandang Tini yang tak mau memandangnya.


Tini sebenarnya ingin langsung menjawab, “Sama dong, Mas.” Tapi ia memilih untuk tetap diam dan misterius. Malam itu ia memasang mode misterius untuk menghadapi Wibisono.


“Aku nggak pede kalau udah ngomongin soal cari suami.”


“Memangnya kenapa?”


“Masa depanku untuk punya rumah tangga baik-baik udah pupus di Desa Cokro. Pacarku dulu nikah dengan sahabatku karena hamil. Mungkin kalau aku yang hamil duluan, aku yang bakalan nikah sama dia. Untungnya enggak. Dulu aku nangis karena dikhianati. Tapi sekarang aku bisa ketawa. Mungkin itu cara Tuhan untuk menyelamatkan aku dari orang yang salah.” Tini tertawa sumbang.


Wibi menunduk beberapa saat. Memandang tangannya yang menaut tergenggam di antara lututnya. Ia lalu kembali menoleh pada Tini yang memandangnya.


“Tin …,” panggil Wibi.


“Aku mau kenalin kamu ke orang tuaku. Gimana?” tanya Wibi, memandang Tini yang terlihat bingung. “Kenapa? Kamu lagi ada deket dengan seseorang?”


Tini menggeleng. “Enggak ada. Bukan soal itu. Aku nggak pede, Mas. Urusan hidupku ini merepotkan. Yang aku ceritakan itu belum ada setengahnya. Mas Wibi nggak akan kuat dengernya—”


“Bara bisa bahagia dengan istri dan anak-anaknya. Aku udah banyak ngobrol sama Bara dan aku kagum dengan keputusannya. Bara hebat. Padahal dia jauh lebih muda dari aku. Tapi dia bisa meyakinkan istrinya. Aku paham keluarga besar Heru itu gimana dari dulu. Makanya aku bisa ngomong kalau Bara itu hebat bisa meyakinkan orang tuanya.” Wibi membasahi bibirnya dan menelan ludah.


“Iya, Mas Bara memang hebat. Dia laki-laki hebat untuk Dijah dan Dul. Awalnya aku juga nggak nyangka kalau Mas Bara yang kesannya anak muda masa kini dengan motor besarnya, bisa serius ngejar Dijah.” Tini kembali tertawa. “Mas Bara itu udah teruji secara fisik maupun mental. Dia cukup capek kami bikin,” tambah Tini masih tertawa.


“Jadi, Tin?”


“Aku pikir-pikir dulu, Mas. Lagian Mas Wibi mau pulang ke Surabaya, kan?” Tini tak mau menjawab apa pun. Masa depan tetap abu-abu. Jangankan sebulan lagi, lima menit usai melangkahkan kaki keluar pagar pun, Wibi bisa saja berubah pikiran.


“Kalau gitu, aku permisi dulu. Udah malem,” ucap Wibi dengan wajah sedikit kecewa. Ia lalu berdiri dari duduknya.


Tini seketika ikut berdiri. Ia bahkan belum masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Wibi pun tak sempat ditawarinya barang segelas air putih.


“Naik apa? Masih bawa mobil Mas Heru, kan? Hati-hat—”


Perkataan Tini terputus. Wibi menariknya mendekat dan menunduk mencium bibirnya. Di dalam kegelapan teras kamar dan halaman kos-kosan yang sepi, serta sayup-sayup alunan musik dangdut penghuni lantai dua yang masih mengalun. Tini yang masih mengenakan sepatu tinggi berwarna hitam harus sedikit berjinjit dan mendongak menerima ciuman Wibi.


Tangan kiri Wibi menekan pinggangnya dan tangan kanan pria itu memegang tengkuknya. Baru kali itu dalam sejarah Tini merasakan ciuman semanis itu. Ciuman tiba-tiba yang sedikit dipaksakan kepadanya.


Mereka berdiri berhimpitan merapatkan tubuh. Kedua tangan Wibi kini menangkup wajahnya.


Tini memejamkan matanya. Ia bernostalgia dengan rasa yang sudah hampir ia lupakan. Kedua tangannya yang tadi menggantung canggung di kedua sisi tubuhnya, perlahan terangkat dan memegang kedua lengan Wibi.


Entah berapa lama, Tini tak bisa menghitung waktunya. Wibi lalu melepaskan ciuman itu dan tersenyum padanya.


“Aku permisi pulang. Besok aku naik pesawat pertama ke Surabaya. Kamu jaga kesehatan. Jangan terlalu capek dan … aku harap kamu pikirkan soal ajakan aku.”


Tini belum sempat berbasa-basi mengiyakan. Wibi sudah berjalan menjauhinya dan hilang di balik tembok pagar.


To Be Continued


Maafkan lama updatenya, ya, boeboooo ….


Enjus sedang sibuk luar biasa.


Hari ini dua part cukup, yaa …. Hehehe


Jangan lupa likenya.